Bismillahirohmanirrohim

Just another WordPress.com weblog

Dewi Dung Beetle

HOW TO CITE THIS PAPER FOR YOUR REFERENCE?
BAGAIMANA MENULISKAN PAPER INI DALAM
REFERENSI DAFTAR PUSTAKA ANDA?

Dewi, B.S. 2010. Biological Resources for Secondary Seed Disperser’Role in Pahmungan Village Krui West Lampung Indonesia. Prosiding
Seminar Nasional III SATEK 18-19 Oktober 2010.
Universitas Lampung. Lampung Indonesia.

Biological Resources for Secondary Seed Disperser’Role in
Pahmungan Village
Krui West Lampung Indonesia

Bainah Sari Dewi

Forestry Department Faculty of Agriculture Lampung University
Soemantri Brojonegoro No 1 Bandar Lampung Indonesia

bainahsariwicaksono@yahoo.com

ABSTRACT

The important of biological conservation of dung beetles as the secondary seed disperser was investigated in Pahmungan village, Krui, West Lampung, Indonesia 2010. Pahmungan village as Repong Damar area is forest management base on the community, and it is the important habitat for seed disperser.

Research had been done in permanent plot of Repong Damar. Traps method for capture the beetles and literature study method were used as comparative data from Nikko National Park in Japan for growth up the data.

It was found out that the characteristic of dung beetles as the secondary seed disperser in Repong Damar. Dung beetles were investigated as generalist beetles. And from three type of dung beetles, Repong Damar area has tunneller type of beetles, and as Scarabaeid, there were not yet clearly about the species name of beetles in this area.

Key words : Secondary seed disperser, Dung beetle, Repong Damar, Krui Lampung

Peran Secondary Seed Disperser sebagai sumberdaya biologi
di Pekon Pahmungan Krui Lampung Barat Indonesia
(Biological Resources for Secondary Seed Disperser’Role in
Pahmungan Village Krui West Lampung Indonesia)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Indonesia merupakan negara mega biodiversity, dengan hutan tropis seluas 120.353.104 hektar (Badan Pusat Statistik 2006; Departemen Kehutanan dan Perkebunan 1999) memiliki potensi hasil hutan nonkayu yang melimpah. Hutan tropis merupakan hutan dengan keanekaragaman hayati yang tinggi, hal ini ditandai dengan pemenuhan kebutuhan manusia mulai dari kayu bakar, sumber pakan, obat-obatan, getah-getahan, sampai penggunaan untuk konstruksi bangunan.
Provinsi Lampung memiliki berbagai komoditas andalan hasil hutan non kayu dan Damar merupakan komoditi hasil hutan non kayu yang penting dalam dunia perdagangan khususnya di Provinsi Lampung dan industri luas pada umumnya.
Pohon penghasil getah Damar ini dibudidayakan dengan sistem Agroforestry (de Foresta dan Michon 1994; 2000). Kumpulan pohon Damar yang sudah berdiameter lebih dari duapuluh centimeter tersebut pada areal yang luas telah dianggap masyarakat setempat sebagai Hutan Damar. Hutan Damar yang dimaksudkan oleh masyarakat tersebut sebenarnya berupa kebun damar (Shorea javanica) di Krui Lampung Barat. Hutan Damar ini merupakan model pengelolaan hutan oleh masyarakat dengan sangat besarnya peran masyarakat dalam pengelolaan ekosistem hutan telah mampu berkembang dan menjadi sumber pendapatan masyarakat sekitarnya dalam beberapa generasi (Dinas Kehutanan Propinsi Lampung 2000).
Masyarakat Krui lebih sering mengatakan hutan Damar ini dengan istilah Repong Damar. Repong dalam terminologi Krui adalah sebidang lahan kering yang ditumbuhi beraneka-ragam jenis tanaman produktif, dengan dominansi pohon tua (perennial crops), dan beragam jenis kayu yang bernilai ekonomis serta beragam jenis tumbuhan liar yang dibiarkan hidup. Repong Damar menjadi sebutan masyarakat terhadap hutan milik mereka dikarenakan pohon Damar merupakan tegakan yang dominan jumlahnya pada setiap bidang repong (Lubis 1997).
Repong Damar yang telah memberikan kehidupan bergenerasi pada masyarakat sekitar hutan tersebut menjadi habitat yang penting untuk tumbuh dan berkembangnya satwaliar dan seed bank dari hampir semua biji Damar di areal tersebut.
Keberadaan Repong Damar menjadi penting untuk habitat satwaliar. Peran utama satwaliar primata yang berada di Repong Damar seperti monyet ekor panjang menjadi penting dalam siklus sebagai penyebar biji. Dalam proses penyebaran biji oleh satwaliar yang berfungsi sebagai penyebar biji tingkat pertama dilakukan oleh satwa-satwa yang memiliki kemampuan daya tampung yang besar dalam perutnya, dan sistem memakan biji swallow type. Hal ini menyebabkan biji-biji yang telah dimakan oleh penyebar biji pertama tersebut dalam keadaan utuh dan baik setelah dikeluarkan oleh satwa tersebut dalam bentuk feces.
Peran lanjutan dilakukan oleh hewan-hewan kecil yang bekerja sebagai penyebar biji tingkat kedua dengan cara memakan feces (Estrada and Estrada 1991, Hanski and Krikken 1991, Estrada et al. 1999, Davis 2000, Roslin 2000, Vulinec 2000, Wenny 2000, Andresen 2003, Verdu et al., 2007, Andresen 2008, Dewi 2009) yang telah disebarkan oleh satwaliar yang besar seperti primata. Peran sebagai secondary seed dispersal ini belum banyak diteliti di Indonesia dan untuk di Krui Lampung Barat terutama Pekon Pahmungan, hal ini merupakan penelitian pertama kali. Sebagai pioner penelitian mengenai peran secondary seed disperser khususnya dung beetle maka penelitian ini menjadi penting untuk dilaksanakan.

B. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Mengetahui berbagai jenis dung beetle pada Repong Damar.
2. Mengetahui jumlah dung beetle sebagai secondary seed disperser di Repong Damar.

C. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini adalah :
1. Sebagai bahan informasi dan masukan berharga bagi masyarakat serta pemerintah dalam upaya biologi konservasi masa yang akan datang.
2. Sebagai informasi bagi penelitian sejenis pada masa yang akan datang.

II. METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan adalah metode studi kasus pada Pekon Pahmungan Krui Lampung Barat. Menurut Nazir (1988), studi kasus adalah penelitian tentang suatu subjek penelitian yang berkenaan dengan suatu fase spesifik atau khas dari keseluruhan personalitas.

Data yang dikumpulkan meliputi data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui traps method. Menurut Furubayashi et al. (2004), traps method adalah metode dengan pembuatan perangkap untuk hewan kecil, sehingga dengan perangkap tersebut diperoleh hasil yang nyata berkenaan dengan biodiversitas, kelimpahan, jenis dan tipe hewan yang menyukai dari umpan yang diberikan.
Data sekunder diperoleh melalui pencatatan dari berbagai kepustakaan, instansi atau lembaga yang terkait dalam penelitian ini.
Penelitian ini dilaksanakan di Pekon Pahmungan Krui Lampung Barat pada bulan Agustus 2010. Lokasi penelitian dipilih secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan daerah ini merupakan Repong Damar terkenal di Provinsi Lampung yang memproduksi damar dalam jumlah yang cukup besar dan belum pernah dilakukan penelitian tentang secondary seed disperser.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat dung beetle yang memakan feces satwaliar di Repong Damar Krui Lampung Barat. Dung beetle yang berhasil diperoleh dari trap di lapangan menunjukkan dung beetle tipe tunneller dan termasuk dalam Scarabaeid.
Penamaan dari spesies yang telah berhasil ditemukan di Pekon Pahmungan Krui Lampung Barat, belum dapat dilakukan karena peneliti harus melaksanakan tahapan identifikasi pada Museum Zoologi Bogor.
Hanski dan Krikken (1991) mengklasifikasikan dung beetle menjadi tiga tipe di dunia, yaitu tipe roller, tipe tunneller dan tipe dweller. Klasifikasi ini berlaku di seluruh dunia untuk membedakan tipe dung beetle berdasarkan caranya memperlakukan feces. Pada Taman Nasional Nikko di Jepang, telah berhasil diketahui dua tipe dung beetle saja yaitu roller dan tunneller (Dewi, 2009). Dan pada riset yang dilakukan peneliti di Krui Lampung Barat, diperoleh tipe tunneller.
Tipe tunneller beetle yang ditemukan di Pekon Pahmungan, membawa feces ke dalam lubang dengan terlebih dahulu mengguling-gulingkan feces dan membuatnya seperti bola, lalu tipe ini akan menggali lubang dengan kedalaman tertentu. Tipe tunneller ini akan menggali lubang lalu memasukkan bola feces yang di dalamnya dapat ya atau tidak, terkandung biji dari pohon-pohon yang telah dimakan oleh first seed disperser.
Penggalian lubang ini menjadikan tempat bertelurnya anakan dari dung beetle dan tanpa sengaja satwaliar kecil ini telah berhasil menyelamatkan biji yang berada di feces tersebut. Peran ini menyebabkan biji selamat dari predator seperti tikus. Biji apabila tetap berada di atas permukaan tanaha maka dimungkinkan biji akan mengalami kerusakan akibat sinar matahari, cuaca dan sebagainya. Biji apabila terlindung di dalam permukaan tanah dengan kedalaman tersimpan biji yang ideal versi dung beetle, membuat biji aman, dan menjadikan seed bank di hutan. Kumpulan seed bank dengan peran aktif dung beetle ini merupakan peran sangat penting dalam proses penyelamatan biji untuk melewati masa dormansinya dan setelah mendapatkan waktu yang tepat, maka biji-biji tersebut akan tumbuh ke permukaan sebagai seedling, kemudian menjadi sapling, pole dan terakhir menjadi pohon.
Pohon-pohon yang tumbuh tersebut menjadi sangat beragam struktur, jenis dan komposisinya di Hutan Damar akibat dari penyebar biji tingkat pertama oleh satwaliar besar dan peran sangat penting dung beetle sebagai penyelamat biji dalam prosesnya untuk berada di posisi seed bank. Dengan tumbuhnya pohon-pohon tersebut di dalam hutan, harapannya adalah terjadi keanekaragaman hayati di hutan. Dengan tingkat keanekaragaman yang tinggi menyebabkan ekosistem hutan makin kuat dan stabil sehingga berdampak sangat positif dalam kekuatan hutan sebagai penyeimbang kehidupan, mencegah erosi, penyimpan air tanah dan secara global menyelamatkan manusia dari kekeringan, kebanjiran, tanah longsor dan bencana alam lainnya.
Ekosistem yang stabil menyebabkan siklus alami berjalan dengan baik, keseimbangan alam berjalan dengan baik dan semua kebaikan ini terjadi hanya dikarenakan adanya peran kecil dari dung beetle.

IV. KESIMPULAN

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pada lokasi penelitian di Repong Damar Krui Lampung Barat terdapat dung beetle. Perannya sangat penting sebagai secondary seed disperser dengan memakan feces satwaliar, membuat bola feces sekaligus menyelamatkan biji-biji yang terdapat dalam feces menjadi seed bank di dalam hutan.
Dung beetle yang berhasil diperoleh dari trap di lapangan menunjukkan dung beetle tipe tunneller dan termasuk dalam Scarabaeid.

DAFTAR PUSTAKA
Andresen, E., (2003) Effect of forest fragmentation on dung beetle communities and functional consequences for plant regeneration. Ecography 26 : 87-97.
Andresen, E., (2008) Primary seed dispersal by red howler monkeys and the effect of defecation patterns on the fate of dispersed seeds. Biotropica doi : 10.1646/0006-3606 (2002) 034 (0261: PSDBRH)2.0.CO;2.
Badan Pusat Statistik. 2006. Volume dan Nilai Ekspor Provinsi Lampung Tahun 2001-2005. BPS Provinsi Lampung. Bandar Lampung.
Biro Pusat Satistik. 2006. Propinsi Lampung dalam Angka. BPS Propinsi Lampung. Bandar Lampung.
Davis, A.J., (2000) Does reduced-impact logging help preserve biodiversity in tropical rainforests? A case study from Borneo using dung beetles (Coleoptera : Scarabaeoidae) as indicators. Entomological Society of America 0046-225X : 467-475.
De Foresta, H dan G. Michon. 1994. “Agroforestry in Sumatera – Where ecology meets economy”. Agroforeshy Today 6-4 :12-13.
De Foresta, H. 2000. Agroforest Khas Indonesia. SMT Grafika Desa Putera. Jakarta.
De Foresta, H. A. Kusworo, G. Michon dan W.A. Djatmiko. 2000. Ketika kebun berupa hutan: Agrofarest Khas Indonesia Sebuah sumbangan masyarakat.www.worldagroforestrycentre.org_ Diakses pada: 21 Desember 2008. 32 hlm.
Departemen Kehutanan dan Perkebunan. 1999. Panduan Kehutanan Indonesia. Departemen Kehutanan dan Perkebunan. Jakarta.
Dewi, B. S. 2009. Chapter 4 : The Characteristic of Dung Beetle which Caming Fly to the Feces of the Asiatic Black Bear. Disertation of PhD from Tokyo University of Agriculture and Technology. Japan.
Dinas Kehutanan Propinsi Lampung. 2000. Repong Damar Masyarakat Krui, Lampung Barat.www.dephut.go.id. Diakses pada 18 November 2008.
Estrada, A., and R. Coates-Estrada (1991) Howler monkeys (Alouatta palliate), dung beetles (Scarabaeidae) and seed dispersal : Ecological interactions in the tropical rain forest of Los Tuxtlas, Mexico. Journal of Tropical Ecology 7: 459-474.
Estrada, A., A. Anzures D, and R. C. Estrada (1999) Tropical rain forest fragmentation, howler monkeys (Alouatta palliate), and dung beetles at Los Tuxtlas, Mexico. American Journal of Primatology 48 : 253-262.
Furubayashi, K., S. Koike, S. Kasai, and Y. Goto (2004) The role of the Asiatic Black Bear (Ursus thibetanus) in the seed dispersal process of Prunus jamasakura. (in Japanese with an English summary). Kankyou Kagaku Sougou Kenkyujou (An Annual Report of Interdisciplinary Research Institute of Environmental Science ) 23:73-94.
Hanski, I., and J. Krikken (1991) Dung beetle in tropical forest in South-East Asia in Hanski, I and Y. Cambefort (eds) : Dung beetle ecology. Princeton University Press, Princeton, New Jersey. 179-197p.
Lubis, Z. 1997. Repong Damar: Kajian tentang Pengambilan Keputusan dalam Pengelolaan Lahan Hutan di Pesisir Krui, Lampung Barat. http://www.cifor-c iorg: Diakses pada 23 Desember 2008. 22 hlm.
Nazir, Mohammad. 1988. Metode Penelitian. Ghalia Indonesia. Jakarta. 597 hlm.
Roslin, T., (2000) Dung beetle movements at two spatial scales. Oikos Copenhagen 91 : 323-335.
Verdu, J.R., J.M. Lobo, C. Numa, I.M.P. Ramos, E. Galante, and T.Maranon (2007) Acorn preference by the dung beetle, Thorectes lusitanicus, under laboratory and field condition. Animal Behaviour 74 : 1697-1704.
Vulinec, K.(2000) Dung beetles (Coleoptera : Scarabaedae), Monkey, and Conservation in Amazonia. The Florida Entomologist 83(3): 229-241.
Wenny D. (2000) Seed dispersal, seed predation, and seedling recruitment of a neotropical montane tree. Ecological Monographs 70(2): 331-351.

February 20, 2011 - Posted by | Publication, Uncategorized

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: