Bismillahirohmanirrohim

Just another WordPress.com weblog

Dari Tempura Ke Rasa Kangen

Dari Tempura ke Rasa Kangen

 
“Tante, tempura yang digoreng ini bagaimana ukurannya?” tanya Bayu saat pertama kali menggoreng tempura di Jepang, Maret 2008 lalu. Bahkan mungkin pertama kali menggoreng tempura seumur hidupnya sebagai seorang anak laki-laki jangkung dua meter dengan rambut jigrak. Itu loh rambut yang menantang langit. Berdiri tegak-tegak dan nggak mau luruh ke bumi. hehehe…

Tempura alias Bakwan yang digoreng merupakan campuran terigu dengan ninjin atau wortel, kaabech atau kol atau kubis, toge, ninniku atau bawang putih, onion. Dengan bumbu garam, ketumbar, lada, hondashi atau sari ikan.

 

“Ohhh… nggak usah pake ukuran, goreng-goreng sajalah…” suara Mbakyu Geudebleh memberi instruksi sambil asyik memotong-motong ayam untuk pesanan bento sebanyak dua ratus porsi. Bento adalah nasi kotak yang dimakan saat makan siang atau malam. Berisi nasi kuning, ayam goreng, bakwan, balado telur, sambal goreng, krupuk udang, capcay kering. Pokonya tergantung pesanan saja-lahhh…

 

Masaknya rame-rame dengan Teteh Midori , Teh Nunung dan Jeng Santika. Proyek masak Pasukan Fuchu. Proyek masak emak-emak berkelas insinyur turun gunung.

Maksudnya, biarpun Pasukan Fuchu penuh dengan emak-emak. Tapi mereka emak sembarang emak.

Teteh Midori sedang menyelesaikan master tahun ke dua, dan Jeng Santika dan Teh Nunung alumni S1 universitas ternama dan tertua di Indonesia. Dan Mbakyu Geudebleh, satu almamater dengan Teteh Midori, beda tipis dengan Teteh Midori, si geundut geude ini, sedang mengambil proyek doktor dari Monbusho.

 

Dan Bayu adalah ponakan Mbakyu Geudebleh yang sedang berlibur kuliah dari Indonesia, untuk study motivasi di Jepang ini.

 

“Tante, gimana kalo tempura-nya Yu tipis-tipiskan gorengnya seperti bakwan di Jakarta. Bayu sering makan di warteg deket kampus Yu, bakwannya tipis-tips dan lebar-lebar” ide Bayu penggoreng pertama, seumur-umur jadi laki-laki usia dua puluhan itu tersenyum.

 

Douzo (silakan) tipiskan dan lebarkan. Hahaha… warteg Jakarta maksudnya apa ya menipiskan bakwan dan melebarkannya?” tanya Mbakyu Geudebleh mulai usil.

 

“Hoooohhhh….biar keliatan banyak dan sesuai harga gorengan kali ya Tante… soalnya gorengan di Indonesia sudah mulai mahal per buahnya sekarang. Ada yang lima ratus atau tujuh ratus rupiah per buahnya Tan” lanjut Bayu sambil teriak dua desibel lebih dikit, karena terciprat minyak goreng merk Sarada. Minyak makan yang halal digunakan untuk masak di Jepang.

 

“Atau biar rasanya juga gurih kriyuk kriyuk Pooo? Ndak usah pakai plastik barang wes kriyuk-kriyuk. Aku entok email seko endi kae, lali. Nek membuat gurih dengan ngelebok-ke plastik pembungkus minyak goreng nang minyak panas. Masyaallah…(Saya dapat email entah dari siapa, agak lupa, katanya membuat gurih gorengan dengan memasukkan bungkus minyak gorengnya. Masyaallah…).

 

“Hooohhh… pantes gurih ya Tante, kan plastik digoreng dengan minyak” lanjut Bayu mulai mengangkat bakwan gorengan pertama-nya yang sukses. Berbentuk memanjang, lebar dan tipis-tipis.

 

“Wah, Yu… gorenganmu bagus juga. Tante cobain ya. Tadi kamu masukkan botol plastik minyak Sarada Jepung nggak?” Mbakyu Geudebleh tambah usil.

 

“Ya nggak lah Tan, emang Tante mau? tenang…tenang… Yu akan masukkan pembungkus plastik-nya biar gurih” bayu mulai berkelakar ikutan usil dengan ide tantenya yang gendeng (geblek alias edan).

 

“Hehehe… jangan lah, Tan cuma iseng. Buat Yu tahu saja nih. Satu bulan lalu, Pizza di Sizzeria seluruh Jepang yang berasal dari China ternyata mengandung melamin. Kalo Tan sih mikirnya, melamin itu seperti piring melamin, piring seperti plastik anti pecah, dan si unsur melamin itu dimakan oleh masyarakat Jepang. Untung saja tidak sampai tutup restoran itu. Biasanya di Jepang kalo sampai ada cacat dikit saja dari sebuah restoran, bisa segera gulung tikar karena ditutup oleh pemerintah”

 

“Wah seyem juga ya Tan” gorengan bakwan ke tiga sudah selesai dan potongan ayam ke tigapuluh enam ekor telah selesai.

 

“Kamu nanti di Jakarta, kalo bakwan buat sendiri aja napa? toh mudah seperti adonan yang Tan buat” usul Mbakyu Geudebleh.

 

“Uh Tan, mending beli deh makanan di Jakarta mah. Masak malah jadi tambah mahal. Iya kalo masaknya jadi enak. Waktunya juga gak ada Tan” bela Bayu dengan ala anak kost-nya di Jakarta. Ternyata memang lebih murah beli makanan di warteg dari pada mesti masak.

 

Tempura atau bakwan ternyata sukses digoreng oleh Bayu. Pekerjaan menggoreng yang tak pernah terpikirkan bisa dilakukannya, bahkan di negari sakura yang dibayangkan pun tak pernah. Untuk menggoreng tempura  atau bakwan. Ah… kangen sama Bayu.

Berapa harga satu gorengan di Jakarta sekarang Yu?

 

TOKYO, 2 Januari 2009

Kangen sama Bayu

September 15, 2009 - Posted by | Mbakyu Geudebleh

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: