Bismillahirohmanirrohim

Just another WordPress.com weblog

Palestina 5 (Ngapain sih ribut-ribut mendukung Palestina)

Posted by: “ummu hilma” 

Tue Jan 13, 2009 5:11 pm (PST)

Assalamu’alaikum wr wb,

Palestina, diantaranya, sebagai negara yang turut membantu bangsa Indonesia terlepas dari kungkungan tirani penjajah. Kini mereka memerlukan dukungan dan uluran tangan kita… Akankah kita membayar hutang jasa Palestina??

Saya forward dari milis sebelah…

Wassalamu’alaikum wr wb,

Ike

—– Forwarded message from ferdy@toyota. astra.co. id —–
Date: Fri, 9 Jan 2009 14:26:53 +0700
From: “M. Ferdy Firmansyah” <ferdy@toyota. astra.co. id>
Reply-To: “M. Ferdy Firmansyah” <ferdy@toyota. astra.co. id>
Subject: [perisai] FW: Ngapain sih ribut-ribut mendukung Palestina?
To: perisai <perisai@milis. astra.co. id>

Ngapain sih ribut-ribut mendukung
Palestina?

Kalau ada ribut-ribut di negara- negara Arab, misalnya di Mesir,
Palestina, atau Suriah, kita sering bertanya apa signifikansi dukungan
terhadap Negara tersebut. Misalnya baru-baru ini ketika Palestina
diserang. Ngapain sih mendukung Palestina?

Pertanyaan tersebut diatas sering kita dengar, terutama karena kita
bukan orang Palestina, bukan bangsa Arab, rakyat sendiri sedang susah,
dan juga karena entah mendukung atau enggak, sepertinya tidak
berpengaruh pada kegiatan kita sehari-hari.

Padahal, untuk yang belum mengetahui.. kita sebagai orang Indonesia
malah berhutang dukungan untuk Palestina.

Sukarno-Hatta boleh saja memproklamasikan kemerdekaan RI de facto pada
17 Agustus 1945, tetapi perlu diingat bahwa untuk berdiri (de jure)
sebagai negara yang berdaulat, Indonesia membutuhkan pengakuan dari
bangsa-bangsa lain. Pada poin ini kita tertolong dengan
adanya pengakuan
dari tokoh tokoh Timur Tengah, sehingga Negara Indonesia bisa berdaulat.

Gong dukungan untuk kemerdekaan Indonesia ini dimulai dari Palestina dan
Mesir, seperti dikutip dari buku “Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar
Negeri” yang ditulis oleh Ketua Panitia Pusat Perkumpulan Kemerdekaan
Indonesia , M. Zein Hassan Lc. Buku ini diberi kata sambutan oleh Moh.
Hatta (Proklamator & Wakil Presiden pertama RI), M. Natsir (mantan
Perdana Menteri RI), Adam Malik (Menteri Luar Negeri RI ketika buku ini
diterbitkan) , dan Jenderal (Besar) A.H. Nasution.

M. Zein Hassan Lc. Lt. sebagai pelaku sejarah, menyatakan dalam bukunya
pada hal. 40, menjelaskan tentang peranserta, opini dan dukungan nyata
Palestina terhadap kemerdekaan Indonesia, di saat negara-negara lain
belum berani untuk memutuskan sikap.

Dukungan Palestina ini diwakili oleh Syekh Muhammad Amin
Al-Husaini
-mufti besar Palestina- secara terbuka mengenai kemerdekaan Indonesia:

“.., pada 6 September 1944, Radio Berlin berbahasa Arab menyiarkan
‘ucapan selamat’ mufti Besar Palestina Amin Al-Husaini (beliau
melarikan
diri ke Jerman pada permulaan perang dunia ke dua) kepada Alam Islami,
bertepatan ‘pengakuan Jepang’ atas kemerdekaan Indonesia. Berita yang
disiarkan radio tersebut dua hari berturut-turut, kami sebar-luaskan,
bahkan harian “Al-Ahram” yang terkenal telitinya juga
menyiarkan.” Syekh
Muhammad Amin Al-Husaini dalam kapasitasnya sebagai mufti Palestina juga
berkenan menyambut kedatangan delegasi “Panitia Pusat Kemerdekaan
Indonesia” dan memberi dukungan penuh. Peristiwa bersejarah tersebut
tidak banyak diketahui generasi sekarang, mungkin juga para pejabat
dinegeri ini.

Bahkan dukungan ini telah dimulai setahun sebelum Sukarno-Hatta
benar-benar memproklamirkan
kemerdekaan RI. Tersebutlah seorang
Palestina yang sangat bersimpati terhadap perjuangan Indonesia ,
Muhammad Ali Taher. Beliau adalah seorang saudagar kaya Palestina yang
spontan menyerahkan seluruh uangnya di Bank Arabia tanpa meminta tanda
bukti dan berkata: “Terimalah semua kekayaan saya ini untuk memenangkan
perjuangan Indonesia ..”

Setelah seruan itu, maka negara daulat yang berani mengakui kedaulatan
RI pertama kali oleh Negara Mesir 1949. Pengakuan resmi Mesir itu (yang
disusul oleh negara-negara Tim-Teng lainnya) menjadi modal besar bagi RI
untuk secara sah diakui sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh.
Pengakuan itu membuat RI berdiri sejajar dengan Belanda (juga dengan
negara-negara merdeka lainnya) dalam segala macam perundingan &
pembahasan tentang Indonesia di lembaga internasional.

Dukungan Mengalir Setelah Itu

Setelah itu, sokongan dunia Arab
terhadap kemerdekaan Indonesia menjadi
sangat kuat. Para pembesar Mesir, Arab dan Islam membentuk ‘Panitia
Pembela Indonesia ‘. Para pemimpin negara dan perwakilannya di lembaga
internasional PBB dan Liga Arab sangat gigih mendorong diangkatnya isu
Indonesia dalam pembahasan di dalam sidang lembaga tersebut.

Di jalan-jalan terjadi demonstrasi- demonstrasi dukungan kepada
Indonesia oleh masyarakat Timur Tengah. Ketika terjadi serangan Inggris
atas Surabaya 10 November 1945 yang menewaskan ribuan penduduk Surabaya
, demonstrasi anti Belanda-Inggris merebak di Timur-Tengah khususnya
Mesir. Sholat ghaib dilakukan oleh masyarakat di lapangan-lapangan dan
masjid-masjid di Timur Tengah untuk para syuhada yang gugur dlm
pertempuran yang sangat dahsyat itu.

Yang mencolok dari gerakan massa internasional adalah ketika momentum
Pasca Agresi Militer Belanda ke-1, 21 juli 1947, pada 9 Agustus.
Saat
kapal “Volendam” milik Belanda pengangkut serdadu dan senjata telah
sampai di Port Said.

Ribuan penduduk dan buruh pelabuhan Mesir berkumpul di pelabuhan itu.
Mereka menggunakan puluhan motor-boat dengan bendera merah-putih -tanda
solidaritas- berkeliaran di permukaan air guna mengejar dan menghalau
blokade terhadap motor-motor- boat perusahaan asing yang ingin menyuplai
air & makanan untuk kapal “Volendam” milik Belanda yang berupaya
melewati Terusan Suez, hingga kembali ke pelabuhan. Kemudian motor boat
besar pengangkut logistik untuk “Volendam” bergerak dengan dijaga
oleh
20 orang polisi bersenjata beserta Mr. Blackfield, Konsul Honorer
Belanda asal Inggris, dan Direktur perusahaan pengurus kapal Belanda di
pelabuhan. Namun hal itu tidak menyurutkan perlawanan para buruh Mesir.

Wartawan ‘Al-Balagh’ pada 10/8/47 melaporkan:

“Motor-motor boat yang penuh buruh
Mesir itu mengejar motor-boat besar
itu dan sebagian mereka dapat naik ke atas deknya. mereka menyerang
kamar stirman, menarik keluar petugas-petugasnya, dan membelokkan
motor-boat besar itu kejuruan lain.”

Melihat fenomena itu, majalah TIME (25/1/46) dengan nada salib
menakut-nakuti Barat dengan kebangkitan Nasionalisme- Islam di Asia dan
Dunia Arab. “Kebangkitan Islam di negeri Muslim terbesar di dunia
seperti di Indonesia akan menginspirasikan negeri-negeri Islam lainnya
untuk membebaskan diri dari Eropa.”

Melihat peliknya usaha kita untuk merdeka, semoga bangsa Indonesia yang
saat ini merasakan nikmatnya hidup berdaulat tidak melupakan peran
bangsa bangsa Arab, khususnya Palestina dalam membantu perdjoeangan
kita..(Lihat foto bung Hatta, Hj Agus Salim, Mufti Palestina, dan
pemimpin Mesir di attachement supaya kita kenal wajah wajah dari tokoh
pembela Indonesia
ini)

Statement Tokoh dalam buku ini:

Dr. Moh. Hatta

“Kemenangan diplomasi Indonesia yang dimulai dari Kairo. Karena dengan
pengakuan Mesir dan negara-negara Arab lainnya terhadap Indonesia
sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh, segala jalan tertutup
bagi Belanda untuk surut kembali atau memungkiri janji, sebagai selalu
dilakukannya di masa-masa yang lampau.”

A.H. Nasution

“Karena itu tertjatatlah, bahwa negara-2 Arab jang paling dahulu
mengakui RI dan paling dahulu mengirim misi diplomatiknja

ke Jogja dan jang paling dahulu memberi bantuan biaja bagi diplomat-2
Indonesia di luar negeri. Mesir, Siria, Irak, Saudi-Arabia, Jemen,
memelopori pengakuan de jure RI bersama Afghanistan dan IranTurki
mendukung RI. Fakta-2 ini merupakan hasil perdjuangan diplomat-2
revolusi kita. Dan simpati terhadap RI jang tetap luas di negara-2 Timur
Tengah
merupakan modal perdjuangan kita seterusnja, jang harus terus
dibina untuk perdjuangan jang ditentukan oleh UUD ’45 : “ikut
melaksanakan ketertiban dunia jang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian
abadi dan keadilan sosial”.

“Perumpamaan kaum muslimin yang saling kasih mengasihi dan cinta
mencintai antara satu sama lain ibarat satu tubuh. Jika salah satu
anggota berasa sakit maka seluruh tubuh akan turut berasa sakit dan
tidak dapat tidur.” (HR Bukhari)

—– End forwarded message —–

———— ——— ——— ——— ——— ——— –
This message was sent using IMP, the Internet Messaging Program.

The information transmitted is intended only for the person or the entity to
which it is addressed and may contain confidential and/or privileged material.
If you have received it by mistake please notify the sender by return e-mail
and
delete this message including any of its attachments from your system. Any use,
review, reliance or dissemination of this message in whole or in part is
strictly prohibited. Please note that e-mails are susceptible to change. The
views expressed herein do not necessarily represent those of PT Astra
International Tbk and should not be construed as the views, offers or
acceptances of PT Astra International Tbk.

Ngapain sih rebut-ribut mendukung Palestina?

 

Kalau ada ribut-ribut di negara- negara Arab, misalnya
 di Mesir, Palestina, atau Suriah, kita sering bertanya apa signifikansi
dukungan terhadap Negara tersebut. Misalnya baru-baru ini ketika
Palestina diserang. Ngapain sih mendukung Palestina?

 

Pertanyaan tersebut diatas sering kita dengar, terutama karena kita
bukan orang Palestina, bukan bangsa Arab, rakyat sendiri sedang susah, dan juga
karena entah mendukung atau enggak, sepertinya tidak berpengaruh pada kegiatan
kita sehari-hari.

 

Padahal, untuk yang belum mengetahui.. kita sebagai
orang Indonesia malah berhutang dukungan untuk Palestina.

 

Sukarno-Hatta boleh saja memproklamasikan kemerdekaan
RI de facto pada 17 Agustus 1945, tetapi perlu diingat bahwa untuk berdiri (de
jure) sebagai negara yang berdaulat, Indonesia membutuhkan pengakuan dari
bangsa-bangsa lain. Pada poin ini kita tertolong dengan adanya pengakuan dari
tokoh tokoh Timur Tengah, sehingga Negara Indonesia bisa berdaulat.

 

Gong dukungan untuk kemerdekaan Indonesia ini dimulai
dari Palestina dan Mesir, seperti dikutip dari buku “Diplomasi Revolusi
Indonesia di Luar Negeri” yang ditulis oleh Ketua Panitia Pusat
Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia , M. Zein Hassan Lc.  Buku ini diberi
kata sambutan oleh Moh. Hatta (Proklamator & Wakil Presiden pertama RI), M.
Natsir (mantan Perdana Menteri RI), Adam Malik (Menteri Luar Negeri RI ketika
buku ini diterbitkan) , dan Jenderal (Besar) A.H. Nasution.

 

M. Zein Hassan Lc. Lt. sebagai pelaku sejarah,
menyatakan dalam bukunya pada hal. 40, menjelaskan tentang peranserta, opini
dan dukungan nyata Palestina terhadap kemerdekaan Indonesia, di saat
negara-negara lain belum berani untuk memutuskan sikap.

 

Dukungan Palestina ini diwakili oleh Syekh Muhammad
Amin Al-Husaini -mufti besar Palestina- secara terbuka mengenai kemerdekaan
Indonesia:

 

“.., pada 6 September 1944,
Radio Berlin berbahasa Arab menyiarkan ‘ucapan selamat’ mufti Besar Palestina
Amin Al-Husaini (beliau melarikan diri ke Jerman pada permulaan perang dunia ke
dua) kepada Alam Islami, bertepatan ‘pengakuan Jepang’ atas kemerdekaan
Indonesia. Berita yang disiarkan radio tersebut dua hari berturut-turut, kami
sebar-luaskan, bahkan harian “Al-Ahram” yang terkenal telitinya juga
menyiarkan.” Syekh Muhammad Amin Al-Husaini dalam kapasitasnya sebagai
mufti Palestina juga berkenan menyambut kedatangan delegasi “Panitia Pusat
Kemerdekaan Indonesia” dan memberi dukungan penuh. Peristiwa bersejarah
tersebut tidak banyak diketahui generasi sekarang, mungkin juga para pejabat
dinegeri ini.

 

Bahkan dukungan ini telah dimulai setahun sebelum
Sukarno-Hatta benar-benar memproklamirkan kemerdekaan RI. Tersebutlah seorang Palestina
yang sangat bersimpati terhadap perjuangan Indonesia , Muhammad Ali Taher.
Beliau adalah seorang saudagar kaya Palestina yang spontan menyerahkan seluruh
uangnya di Bank Arabia tanpa meminta tanda bukti dan berkata: “Terimalah
semua kekayaan saya ini untuk memenangkan perjuangan Indonesia ..”

 

Setelah seruan itu, maka negara daulat yang berani
mengakui kedaulatan RI pertama kali oleh Negara Mesir 1949. Pengakuan resmi
Mesir itu (yang disusul oleh negara-negara Tim-Teng lainnya) menjadi modal
besar bagi RI untuk secara sah diakui sebagai negara yang merdeka dan berdaulat
penuh. Pengakuan itu membuat RI berdiri sejajar dengan Belanda (juga dengan
negara-negara merdeka lainnya) dalam segala macam perundingan & pembahasan
tentang Indonesia di lembaga internasional.

 

Dukungan Mengalir Setelah Itu

 

Setelah itu, sokongan dunia Arab terhadap kemerdekaan
Indonesia menjadi sangat kuat. Para pembesar Mesir, Arab dan Islam membentuk
‘Panitia Pembela Indonesia ‘. Para pemimpin negara dan perwakilannya di lembaga
internasional PBB dan Liga Arab sangat gigih mendorong diangkatnya isu
Indonesia dalam pembahasan di dalam sidang lembaga tersebut.

 

Di jalan-jalan terjadi demonstrasi- demonstrasi
dukungan kepada Indonesia oleh masyarakat Timur Tengah. Ketika terjadi serangan
Inggris atas Surabaya 10 November 1945 yang menewaskan ribuan penduduk Surabaya
, demonstrasi anti Belanda-Inggris merebak di Timur-Tengah khususnya Mesir.
Sholat ghaib dilakukan oleh masyarakat di lapangan-lapangan dan masjid-masjid
di Timur Tengah untuk para syuhada yang gugur dlm pertempuran yang sangat
dahsyat itu.

 

Yang mencolok dari gerakan massa internasional adalah
ketika momentum Pasca Agresi Militer Belanda ke-1, 21 juli 1947, pada 9
Agustus. Saat kapal “Volendam” milik Belanda pengangkut serdadu dan
senjata telah sampai di Port Said.

 

Ribuan penduduk dan buruh pelabuhan Mesir berkumpul di
pelabuhan itu. Mereka menggunakan puluhan motor-boat dengan bendera merah-putih
-tanda solidaritas- berkeliaran di permukaan air guna mengejar dan menghalau
blokade terhadap motor-motor- boat perusahaan asing yang ingin menyuplai air
& makanan untuk kapal “Volendam” milik Belanda yang berupaya
melewati Terusan Suez, hingga kembali ke pelabuhan. Kemudian motor boat besar
pengangkut logistik untuk “Volendam” bergerak dengan dijaga oleh 20
orang polisi bersenjata beserta Mr. Blackfield, Konsul Honorer Belanda asal
Inggris, dan Direktur perusahaan pengurus kapal Belanda di pelabuhan. Namun hal
itu tidak menyurutkan perlawanan para buruh Mesir.

 

Wartawan ‘Al-Balagh’ pada 10/8/47 melaporkan:

 

“Motor-motor boat yang penuh buruh Mesir itu
mengejar motor-boat besar itu dan sebagian mereka dapat naik ke atas deknya.
mereka menyerang kamar stirman, menarik keluar petugas-petugasnya, dan
membelokkan motor-boat besar itu kejuruan lain.”

 

Melihat fenomena itu, majalah TIME (25/1/46) dengan
nada salib menakut-nakuti Barat dengan kebangkitan Nasionalisme- Islam di Asia
dan Dunia Arab. “Kebangkitan Islam di negeri Muslim terbesar di dunia
seperti di Indonesia akan menginspirasikan negeri-negeri Islam lainnya untuk
membebaskan diri dari Eropa.”

 

Melihat peliknya usaha kita untuk merdeka, semoga
bangsa Indonesia yang saat ini merasakan nikmatnya hidup berdaulat tidak
melupakan peran bangsa bangsa Arab, khususnya Palestina dalam membantu
perdjoeangan kita..(Lihat  foto bung Hatta, Hj Agus Salim, Mufti
Palestina, dan pemimpin Mesir di attachement supaya kita kenal wajah wajah dari
tokoh pembela Indonesia ini)

 

Statement Tokoh dalam buku ini:

 

Dr. Moh. Hatta

 

“Kemenangan diplomasi
Indonesia yang dimulai dari Kairo.
Karena dengan pengakuan Mesir dan negara-negara Arab lainnya terhadap Indonesia
sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh, segala jalan tertutup bagi
Belanda untuk surut kembali atau memungkiri janji, sebagai selalu dilakukannya
di masa-masa yang lampau.”

 

A.H. Nasution

 

“Karena itu tertjatatlah, bahwa negara-2 Arab jang paling dahulu
mengakui RI dan paling dahulu mengirim misi diplomatiknja

ke Jogja dan jang paling dahulu memberi bantuan biaja bagi diplomat-2
Indonesia
di luar negeri. Mesir, Siria, Irak, Saudi-Arabia, Jemen, memelopori pengakuan
de jure RI bersama Afghanistan
dan IranTurki mendukung RI. Fakta-2 ini merupakan hasil perdjuangan diplomat-2
revolusi kita. Dan simpati terhadap RI jang tetap luas di negara-2 Timur Tengah
merupakan modal perdjuangan kita seterusnja, jang harus terus dibina untuk
perdjuangan jang ditentukan oleh UUD ’45 : “ikut melaksanakan ketertiban
dunia jang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”.

 

 

“Perumpamaan kaum muslimin yang saling kasih mengasihi dan cinta
mencintai antara satu sama lain ibarat satu tubuh. Jika salah satu anggota
berasa sakit maka seluruh tubuh akan turut berasa sakit dan tidak dapat
tidur.” (HR Bukhari)

January 15, 2009 - Posted by | Palestina

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: