Bismillahirohmanirrohim

Just another WordPress.com weblog

Palestina 4 (Benang Merah Konflik Israel dan umat manusia

Posted by: “nesia andriana” 

Tue Jan 13, 2009 10:27 pm (PST)

Source : Unknown (dari milis Indonesian Muslim in KSA),
pengirim pertama : Amir Syarif Hidayatullah.

BENANG MERAH KONFLIK ISRAEL DAN UMAT MANUSIA

Akar Konflik Palestina-Israel
Sebagai hadiah menyambut Tahun Baru Hijriyyah 1 Muharram 1430 H.
Sebagai bentuk rasa solidaritas kepada saudara-saudara umat manusia

Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Fariz Mehdawi, dalam wawancara
dengan TVOne mengatakan, bahwa serangan Israel ke Jalur Gaza sejak
27 Desember lalu, adalah serangan ilegal yang telah terjadi selama
puluhan tahun. Dalam ulasan berita di MetroTV disebutkan, serangan
Israel kali ini merupakan kejadian paling buruk sejak 60 tahun
terakhir (sejak Israel berdiri tahun 1948). Para mahasiswa Arab
mempertanyakan posisi Liga Arab yang tidak bisa berbuat apa-apa.
Dunia internasional, termasuk negara-negara Eropa mengutuk keras
serangan Israel ke Gaza , tetapi pihak yang dikutuk terus
melancarkan serangan. Bahkan Israel telah menyiapkan tank-tank dan
pasukan cadangan sekitar 6500 orang. Targetnya jelas, seperti kata
Ehud Barak, yaitu menggulingkan Hamas.
Masalah konflik Palestina-Israel bukanlah konflik satu bangsa dengan
bangsa lain. Ia adalah konflik peradaban yang usianya sangat tua.
Disana terbentang benang merah panjang, sejak konflik antara Nabi
Muhammad shallallah ‘alaihi wa sallam dengan kaum Yahudi di Madinah,
konflik antara Yahudi dan Romawi, konflik antara Yahudi dengan
negara-negara Eropa, konflik antara Musa dengan Fir’aun, bahkan
konflik antara Yusuf ‘alaihissalam dengan saudara-saudaranya. Ujung-
ujungnya adalah konflik abadi antara Allah Ta’ala dengan iblis
laknatullah ‘alaih.
Kalau memahami konflik ini hanya secara lokal dan temporer, yakinlah
Anda akan tersesat dalam frustasi. Kondisi Ummat Islam di jaman
modern yang penuh kesulitan dan derita, merupakan bagian dari
konflik ini. Yahudi sendiri adalah bangsa “terkuat di dunia”, dalam
arti: merekalah satu-satunya ras manusia yang berani konfrontatif
melawan kehendak Allah Ta’ala.
Sejarah Kebangkitan Yahudi
Ketika melihat konflik Palestina-Israel, kita perlu merunut kembali
catatan-catatan perjalanan sejarah di masa lalu. Disana kita akan
menemukan bahan-bahan untuk memahami peta konflik ini secara utuh.
Jika tidak demikian, maka kita hanya akan “konsumen terbaik” berita-
berita media massa seputar konflik ini. Bayangkan semua ini sudah
dimulai sejak era Perang Arab, pembakaran Masjid Aqsha, tragedi
Sabra Satila, Intifadhah akhir 80-an, tragedi Al Khalil Hebron,
penembakan Muhammad Ad Durrah, pembunuhan Syaikh Ahmad Yasin dan
Abdul Aziz Rantisi, dll. sampai serangan Israel saat ini. Dan rata-
rata model peristiwanya serupa, hanya berbeda waktu dan para
pelakunya saja.
Mari kita runut latar-belakang historis fitnah Yahudi di dunia,
dengan memohon petunjuk dan pertolongan Allah Ta’ala:
[1] Bani Israil pada dasarnya masih keturunan Ibrahim ‘alaihissalam.
Ibrahim memiliki dua anak, Ismail dan Ishaq ‘alaihimassalam. .
Ismail nanti menurunkan keturunan bangsa Arab Adnani, lalu Ishaq
mempunyai anak Ya’qub ‘alaihissalam. Nah, Ya’qub inilah yang
kemudian disebut Israil, sehingga anak-anak Ya’qub di kemudian hari
disebut Bani Israil.

[2] Saat berbicara tentang Bani Israil, perhatian kita segera
tertuju kepada anak-anak Ya’qub. Mereka adalah Yusuf ‘alaihissalam,
Benyamin, dan 11 saudara Yusuf. Semuanya berjumlah 13 orang; sama
jumlahnya dengan matahari, bulan, dan 11 bintang yang terlihat dalam
mimpi Yusuf sedang bersujud kepadanya. Karena itu angka 13
merupakan “angka keramat” bagi Yahudi sampai saat ini. Banyak logo-
logo perusahaan top dunia dibuat dari karakter 13 ini.

[3] Secara umum, Bani Israil itu mewarisi dua sifat besar, yaitu:
sifat keshalihan dan sifat durjana. Sifat keshalihan diturunkan dari
garis Yusuf ‘alaihissalam. Sedangkan sifat durhaka diturunkan dari
sifat saudara-saudara Yusuf (seayah berbeda ibu). Disana sudah
tampak bakat-bakat kelicikan, dengki, kebohongan, dan sebagainya.
Tetapi itu sebatas potensi, bukan kemutlakan takdir. Apalagi, di
akhir hayat Ya’qub, seluruh anak-anaknya tunduk dalam agama tauhid.
(Al Baqarah: 133). Saat berbicara tentang Bani Israil, sebagian
orang sangat shalih dan sebagian sangat durhaka. Namun setelah
kedatangan Islam, Bani Israil tidak diperkenankan lagi mengikuti
agama selain Islam. Jika mereka tidak masuk Islam, dianggap durhaka
seluruhnya, tidak ada toleransi sedikit pun. (Ali Imran: 85).

[4] Perjalanan sejarah Bani Israil dimulai ketika
Yusuf ‘alaihissalam bersentuhan dengan peradaban Mesir. Waktu itu
atas jasa Yusuf membantu bangsa Mesir, mereka diberi lahan luas oleh
penguasa Mesir di wilayah Kan’an. Disana Ya’qub dan anak-
keturunannya mulai membangun kehidupan. Mereka memilih tinggal di
Kan’an sebab dekat dengan Mesir yang makmur, sedang di tempat
asalnya sering dilanda paceklik. Waktu itu anak keturunan Ya’qub
sangat dihormati penguasa Mesir. Entah bagaimana mulanya, hubungan
bangsa Mesir dengan anak-keturunan Ya’qub lama-lama menjadi buruk.
Alih-alih Mesir akan menghargai jasa-jasa Yusuf di masa lalu, mereka
malah menjadikan Bani Israil sebagai budak-budak. Setelah ditinggal
oleh Ya’qub dan Yusuf, nasib Bani Israil menjadi bulan-bulanan
bangsa Mesir. Hal itu bisa terjadi karena sifat buruk Bani Israil
sendiri atau sifat menindas bangsa Mesir. Tetapi kalau mencermati
sikap penguasa Mesir yang bersikap sportif kepada Yusuf,
kemungkinan hal itu karena sifat Bani Israil sendiri.

[5] Era perbudakan Bani Israil di Mesir sangat mengkhawatirkan.
Bukan saja karena perbudakan itu kejam, tetapi ia bisa menghancurkan
karakter sebuah bangsa (Bani Israil). Bayangkan, selama ratusan
tahun mereka tertindas oleh sistem tirani di Mesir. Bani Israil
diberi anugerah berupa bakat-bakat kecerdasan besar, dan manakala
bakat itu dibesarkan di bawah sistem perbudakan, ia bisa melahirkan
penyimpangan mental dan pemikiran luar biasa. Oleh karena itu Allah
Ta’ala mendatangkan Musa dan Harun ‘alaihimassalam untuk
menyelamatkan Bani Israil. Misi dakwah Musa bukan untuk mengislamkan
Fir’aun dan rakyatnya, tetapi untuk menyelamatkan Bani Israil dari
penindasan Fir’aun. Dalam Al Qur’an: Dan Musa berkata: “Hai Fir’aun,
sesungguhnya aku ini adalah seorang utusan dari Tuhan semesta alam,
wajib atasku tidak mengatakan sesuatu terhadap Allah, kecuali yang
hak. Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang
nyata dari Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani
Israil (pergi) bersama aku.” (Al A’raaf: 104-105). Musa tidak pernah
diperintahkan untuk memerangi Fir’aun, tetapi membawa Bani Israil
tinggal di Palestina (waktu itu namanya bukan Palestina). [Perlu
dicatat juga, Fir’aun (Pharaoh) adalah gelar raja-raja Mesir, bukan
nama seseorang. Sedangkan Fir’aun yang tenggelam di Laut Merah
bukanlah Fir’aun yang memangku Musa di waktu kecil, lalu direnggut
janggutnya oleh Musa. Fir’aun dalam Al Qur’an lebih mencerminkan
tabiat kekuasaan tiranik, bukan sekedar pribadi].

[6] Musa berhasil membawa Bani Israil keluar dari Mesir, Fir’aun dan
bala tentaranya tenggelam di Laut Merah.. Lalu mereka menetap di
Ardhul Muqaddas (Palestina) setelah berhasil mengalahkan kaum
Jabbarin di dalamnya. (Al Maa’idah: 20-26). Ini adalah peradaban
mandiri Bani Israil kedua setelah era Ya’qub dan Yusuf di wilayah
Kan’aan. Musa dan Harun mendampingi Bani Israil sampai saat mereka
wafat. Ketika Musa masih hidup, Bani Israil tidak henti-hentinya
menguji kesabaran Musa ‘alaihissalam. Betapa banyak kasus-kasus
kedurjanaan Bani Israil, sekalipun di hadapan Nabinya sendiri, Musa
dan Harun. Di antaranya: Mereka menyuruh Musa dan Allah berperang di
Palestina, sedang mereka mau duduk-duduk saja; mereka meminta Musa
agar membuatkan berhala untuk disembah seperti suatu kaum tertentu;
mereka mengikuti Samiri, menyembah patung anak lembu dari emas;
mereka hendak membunuh Harun ‘alaihissalam karena selalu menasehati
mereka; mereka hampir tidak melaksanakan
perintah Allah untuk menyembelih sapi betina, karena terlalu banyak
bertanya; mereka bosan makan Manna wa Salwa dan meminta bawang,
menitumun, kacang adas; dan lain-lain. Begitu sabarnya Musa,
sehingga Nabi shallallah ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Semoga
Allah merahmati Musa, karena dia telah diganggu lebih banyak dari
ini (ujian yang menimpa Nabi), tetapi dia tetap sabar.” (HR. Bukhari-
Muslim) . Sangat mengagumkan kalau melihat ketabahan perjuangan
Musa ‘alaihissalam. Di dalamnya terdapat sangat banyak inspirasi
untuk menghadapi konspirasi global seperti saat ini. Orang-orang
Yahudi di jaman sekarang mengklaim mencintai Musa, padahal di era
nenek-moyang mereka, Musa benar-benar mereka sia-siakan. Musa itu
lebih dekat kepada kita (kaum Muslimin), daripada Yahudi laknatullah
itu.

[7] Saya menyangka, sifat-sifat durjana kaum Yahudi merupakan
kristalisasi dari sifat-sifat buruk mereka selama ribuan tahun,
sejak perilaku saudara-saudara Yusuf ‘alaihissalam, masa perbudakan
di Mesir, kedurhakaan mereka kepada Musa, Dawud, Sulaiman, Zakariya,
Yahya, Isa, dan Nabi-nabi lainnya ‘alaihimussalam. Bahkan
kedurhakaan mereka di hadapan Nabi shallallah ‘alaihi wa sallam di
Madinah. Dalam Al Qur’an disebutkan sebuah ayat yang terasa bagai
petir menimpa muka kaum Yahudi: “Lalu ditimpahkanlah kepada mereka
(kaum durjana Bani Israil) nista dan kehinaan, serta mereka mendapat
kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu
mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi secara tidak hak.
Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan
melampaui batas.” (Al Baqarah: 61).

[8] Peradaban terakhir Bani Israil yang wujud di muka bumi adalah
Kerajaan Nabi Sulaiman ‘alaihissalam di Palestina. Beliau adalah
putra Nabi Dawud ‘alaihissalam dari salah satu isterinya. Nabi Dawud
adalah seorang pejuang yang berhasil membunuh Jalut (Goliath) di
Palestina. (Oleh karena itu bangsa Barat mengenal kisah “David and
Goliath”). Beliau ikut dalam pasukan Bani Israil di bawah pimpinan
Thalut (Saul). Hal ini terjadi di masa Nabi Samuel ‘alaihissalam. Al
Qur’an menjelaskannya dalam Surat Al Baqarah ayat 246-251.

[9] Kerajaan Sulaiman memiliki keistimewaan, yaitu kekayaan
materinya yang sangat besar. Ia terkenal menjadi buruan manusia di
dunia, sebagai harta terpendam “King Solomon”. Sampai saat ini
kekayaan itu masih menjadi misteri, apakah sudah terkuak atau masih
tersembunyi di balik permukaan bumi? Setelah masa Kenabian Sulaiman
berlalu, kerajaan Bani Israil semakin merosot. Sampai akhirnya
mereka dihancurkan oleh Nebuchadnezzar dari Kerajaan Byzantium
(Romawi). Peristiwa itu disebutkan dalam Surat Al Israa’ ayat 4-5.

[10] Setelah Bani Israil tercerai-berai di Palestina, mereka
menyebar ke berbagai belahan dunia. Mereka pergi ke Eropa, ke
Jazirah Arab, ke anak benua India, dan sebagainya. Itulah yang
kemudian dikenal dengan istilah DIASPORA. Bani Israil tercerai-
berai. Agar mendapat keamanan di Eropa, mereka menjilat kepada para
penguasa Romawi. Termasuk menghasut Romawi agar memusuhi
Isa ‘alaihissalam dan para pengikutnya. Kisah Ashabul Kahfi adalah
sebagian pecahan dari para pengikut Isa Al Masih ‘alaihissalam.

[11] Perilaku Yahudi di Jazirah Arab sangat menarik. Mereka datang
ke Madinah bukan hanya karena ingin menyelamatkan diri dari
kekejaman Romawi. Tetapi mereka juga berniat menjemput Kenabian
terakhir yang akan datang setelah Musa dan Isa ‘alaihimassalam.
Mereka ingin “memaksakan” agar Kenabian itu jatuh ke pangkuan
mereka. Kenabian ini mereka butuhkan agar mampu membangun kejayaan
Bani Israil kembali seperti di jaman Musa dan Sulaiman. Namun
setelah mereka menyadari bahwa Kenabian tidak lagi di pihak mereka,
tetapi jatuh ke tangan bangsa Arab, mereka marah sekali. Dalam Al
Qur’an disebutkan: “Dan ketika datang kepada mereka (Yahudi) sebuah
Kitab dari sisi Allah (Al Qur’an) yang membenarkan keberadaan apa
yang ada di sisi mereka (Taurat), padahal sebelumnya mereka selalu
memohon (kedatangan Nabi) agar dimenangkan atas orang-orang kafir.
Maka ketika telah datang (Kenabian dan Wahyu) yang sangat mereka
kenal, mereka mengkafirinya. Maka laknat Allah atas
orang-orang kafir itu (Yahudi).” (Al Baqarah: 89).

12] Yahudi Bani Israil sangat marah ketika tahu bahwa Kenabian jatuh
ke tangan bangsa Arab, anak keturunan Ismail ‘alaihissalam. Itu pun
turun di Makkah, bukan Madinah tempat mereka tinggal disana. Yahudi
telah habis-habisan dalam menanti kedatangan Nabi penerus
Musa ‘alaihissalam ini. Ratusan tahun mereka tinggal di Madinah,
melebur bersama budaya Arab, berbahasa Arab, dan memberi nama anak-
anaknya dengan istilah Arab, bukan istilah Hebrew (Ibrani). Bahkan
mereka ikut terlibat dalam konflik antara kabilah besar Aus dan
Khazraj di Madinah. Sebagian Yahudi membela Aus, sebagian mendukung
Khazraj.

[13] Kemarahan Yahudi akhirnya tertuju kepada Allah Subhanahu Wa
Ta’ala. Yahudi marah ketika Kenabian justru jatuh ke tangan bangsa
Arab. (Al Baqarah: 90). Apalagi dalam Al Qur’an dijelaskan sangat
banyak kebusukan-kebusukan Yahudi. Yahudi merasa dibenci oleh Allah.
Bahkan tanda-tanda kekecewaan itu sudah muncul ketika
Isa ‘alaihissalam diturunkan. Anda tahu bagaimana misi Kenabian Isa?
Salah satunya adalah: “Tidaklah aku diutus, melainkan kepada domba-
domba sesat dari kalangan Bani Israil.” Meskipun Isa adalah bagian
dari Bani Israil, tetapi kedatangannya membuat muram wajah kaum
Yahudi. Isa ternyata membawa Kitab Suci baru, yaitu Injil (bukan
mengikuti Taurat atau Tabut dari jaman Nabi-nabi sebelumnya). Isa
juga tidak henti-hentinya mengecam kejahatan perilaku Bani Israil.
Isa dianggap lebih dekat kepada murid-muridnya daripada ke kaum Bani
Israil sebagai sebuah etnik. Kemarahan itu semakin menjadi-jadi
setelah Kenabian terakhir jatuh ke tangan bangsa
Arab. (Al Baqarah: 90).

[14] Kemudian terbukti bahwa ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi
Muhammad shallallah ‘alaihi wa sallam tidak hanya menyalahkan
perilaku jahat kaum Yahudi. Tetapi ia juga menyebabkan kaum Yahudi
tercabut akar-akarnya dari Jazirah Arab. Sejak Islam datang, kabilah-
kabilah Yahudi tersingkir, seperti kabilah Nadhir, Qainuqa,
Quraidhah, hingga benteng terakhir mereka di Khaibar.

[15] Setelah mengalami kekalahan berat di masa Nabi
shallallah ‘alaihi wa sallam dan Khalifah-khalifah setelahnya, kaum
Yahudi menyingkir dari Jazirah Arab. Mereka bergabung dengan Yahudi-
yahudi lain di Eropa. Dalam masa ratusan tahun Yahudi menyebar di
berbagai negara Eropa, seperti Spanyol, Inggris, Perancis, Jerman,
Belanda, Belgia, dan sebagainya.

[16] Kaum Yahudi dalam mengembangkan komunitas, caranya sangat unik.
Mereka tidak berbaur dengan masyarakat setempat, bahkan mengharamkan
asimilasi. Mereka memelihara warisan-warisan agamanya, terutama
membangun kesombongan etnik sampai melampaui batas. Mereka
menjalankan bisnis berbasis ribawi dan mereka melakukan ritual-
ritual pengorbanan. Dalam ritual pengorbanan, mereka membunuh warga
setempat untuk dikuras darahnya, lalu dipakai untuk persembahan.
Begitu kejamnya, sampai mereka membuat alat semacam drum yang di
dalamnya penuh dengan paku-paku. Di bagian bawah ada saluran untuk
mengalirkan darah. Orang yang dikorbankan, dimasukkan drum itu,
sampai tubuhnya penuh luka tertusuk paku, lalu darah mengucur ke
bawah. Ritual semacam ini kemudian terbongkar, sehingga Yahudi
diusir dari negara-negara tertentu di Eropa, salah satunya dari
Spanyol. Spanyol melarang Yahudi tinggal di negerinya sampai saat
ini, karena kekejaman mereka dalam soal ritual keji itu.

[17] Setelah terusir dari Eropa, Yahudi kesekian kalinya menyebar ke
negara-negara lain yang masih mau menampung mereka. Kebetulan waktu
itu rakyat Eropa sedang mulai eksodus menuju benua Amerika yang baru
ditemukan oleh Columbus. Yahudi ikut di dalamnya. Sampai Amerika
merdeka dari tangan Inggris, Yahudi telah eksis di dalamnya. Hingga
ketika itu Benyamin Franklin mengingatkan bangsa Amerika tentang
bahaya kaum Yahudi. Dia menyebut Yahudi seperti bangsa “vampire”
yang tidak bisa damai dengan bangsa lain. Tepat sekali ucapan
Benyamin Franklin, sebab dia telah membaca sepak terjang Yahudi di
Eropa. Namun sayang, bangsa Amerika tidak memahami arti peringatan
Benyamin Franklin tersebut, sehingga apa yang dia takutkan sekitar
400 tahun silam, benar-benar terjadi. Krisis finansial di Amerika
saat ini adalah akibat nyata dari sistem ekonomi ribawi Yahudi.

[18] Satu titik sejarah yang jarang diperhatikan oleh para ahli
sejarah, yaitu kedatangan Yahudi ke wilayah Turki Utsmani. Kejadian
ini terpisah jarak sekitar 700 atau 800 tahun sejak era Nabi
shallallah ‘alaihi wa sallam. Tentu setelah masa selama itu,
peristiwa kejahatan Yahudi di Madinah telah dilupakan. Yahudi
diterima dengan tangan hangat di tengah-tengah masyarakat Turki
Utsmani. Hal ini juga merupakan aplikasi dari ajaran Islam yang
memperbolehkan di dalamnya orang Yahudi dan Nashrani tinggal, selama
mereka membayar jizyah. Yahudi tidak dianiaya di negeri ini, mereka
diberi pelayanan dan penghormatan, layaknya warga negara Islam.
Tentu saja, Yahudi berusaha “bersikap sopan”. Di seluruh dunia tidak
ada yang memperlakukan mereka dengan manusiawi, selain Peradaban
Islam. Disini Yahudi tidak mungkin akan melakukan ritual pengorbanan
yang mengerikan itu. Lagi pula, Yahudi waktu itu tinggal di bawah
negeri Islam. Mereka tidak takut akan dikutuk oleh
Allah, sebab negeri Islam menjadi pelindung mereka. Di Turki
Utsmani, Yahudi tidak melakukan kebiasaan-kebiasaan bejat mereka.
Yahudi berlaku baik. Tanpa diduga, ternyata disinilah Yahudi
mempersiapkan segala konsep-konsep kejahatan global mereka.
Kemurahan Khilafah Islam justru dimanfaatkan Yahudi untuk
mempersiapkan imperium kejahatan di seluruh dunia, seperti kita
saksikan saat ini.

[19] Selain mengkhianati Khilafah Islam, Yahudi juga mempersiapkan
beberapa jurus maut untuk meruntuhkan peradaban Islam, yaitu:

· Yahudi menyebarkan guru sebanyak-banyaknya di tengah masyarakat
Turki Utsmani. Guru-guru itu tidak menyebarkan prinsip-prinspi
kekafiran secara langsung, tetapi menyebarkan filsafat humanisme
August Comte. Dengan falsafah itu diharapkan anak-anak Turki akan
kehilangan sifat furqan akidah Islam, lalu diganti sifat-sifat
kemanusiaan saja. Tujuan dari gerakan ini adalah memisahkan generasi
muda Turki dari sifat-sifat Islami. Karena itu pula, suatu saat
generasi muda Turki hilang rasa hormatnya kepada Sultan Khilafah
Islam, dan mereka mau mendukung gerakan Kemal At Taturk sang
terkutuk.

· Yahudi mendorong bangkitnya ideologi Nasionalisme Arab dan Dunia
Islam. Dengan ideologi itu tidak ada lagi kesatuan Khilafah
Islamiyyah. Kaum Muslimin terpecah-belah dalam berbagai bangsa yang
egois sesuai etnik dan wilayahnya. Jika Khilafah Islamiyyah tetap
berdiri, mustahil “Kerajaan Yahudi” dalam wujud Israel di Palestina
akan bangkit. Kalau Anda saksikan bangsa Arab terpecah-belah menjadi
negara-negara kecil, masing-masing saling konflik. Hal itu adalah
kondisi yang diinginkan oleh Yahudi. Di jaman itu Jalaluddin Al
Afghani sangat aktif berdiplomasi untuk memerdekakan negara-negara
Arab dari tangan penjajah. Tetapi di kemudian hari terbuka hasil-
hasil penelitian bahwa Al Afghani adalah anggota setia
Freemasonry. . (Salah satunya buku terbitan WAMI tentang gerakan-
gerakan pemikiran keagamaan di dunia). Peranan Al Afghani seperti
memperkuat sifat Nasionalisme Arab, agar tidak bangkit lagi Khilafah
Islamiyyah.

Sebagai ganti konsep Khilafah Islamiyyah, Yahudi menyebarkan paham
demokrasi seluas-luasnya di seluruh dunia, termasuk di negeri-negeri
Islam. Paham ini semakin mempersulit posisi Ummat Islam. Peluang-
peluang kebangkitan semakin tipis, sebab demokrasi mengikuti suara
terbanyak, sedangkan sebagian besar manusia cenderung mengikuti hawa
nafsunya.

· Yahudi menggerakkan seluruh mesin-mesin politiknya, termasuk agen-
agennya di Amerika, Eropa, dan Timur Tengah untuk membidani lahirnya
negara Israel pada tahun 1948. Secara politik, Inggris berada di
balik pendirian Israel melalui Deklarasi Balfour. Tetapi secara
potensial, Amerika mendukung penuh Israel. Dalam diplomasi
internasional, isu Holocaust dipakai agar Yahudi dikasihani dunia
internasional. Melalui hak veto yang dimiliki Amerika dan Inggris di
PBB, Yahudi bisa lenggang kangkung mengejar ambisi-ambisinya.

· Yahudi menyempurnakan usahanya, dengan menguasai media massa,
membuat satuan intelijen yang handal (Mossad), menguasai pasar
keuangan dunia, memiliki lembaga pusat ribawi IMF dan World Bank.
Mereka juga menguasai Hollywood, dunia akademis, dunia riset,
fashion, dan sebagainya. Termasuk dengan merilis agama baru di
kalangan Ummat Islam, yang kita kenal sebagai SEPILIS (Sekularisme,
Pluralisme, Liberalisme) . Inilah kenyataan yang kemudian disebut
sebagai: “Yahudi menggenggam dunia!” Bahkan negara sekuat Amerika
pun bertekuk lutut di bawah dominasi Yahudi. Termasuk Barack Obama
yang sebentar lagi dilantik menjadi Presiden Amerika.

[20] Berdirinya Israel tahun 1948 adalah impian besar Yahudi sejak
jaman Musa, Dawud, Sulaiman, bahkan jaman Nabi Muhammad
shallallah ‘alaihi wa sallam. Yahudi sangat membutuhkan “Kerajaan
Bani Israil” untuk mengalahkan orang-orang kafir. Mereka sebenarnya
beriman kepada Allah, dalam arti mereka percaya bahwa datangnya
seorang Nabi akan membuat mereka mulia, dan musuh-musuhnya dari
kalangan orang kafir terkalahkan. Tetapi setelah jelas di mata
mereka bahwa Kenabian terkahir itu bukan untuk Bani Israil, maka
mereka tidak lagi menanti kedatangan seorang Nabi. Lalu apa yang
mereka lakukan? Mereka hendak mendirikan “Kerajaan Bani Israil”
dengan kekuatan tangan, otak, dan uang mereka sendiri. Dan hal itu
berhasil, tahun 1948 lalu. Lebih buruk lagi, mereka menganggap kaum
Muslimin sebagai orang kafir. Padahal yang mengingkari Kenabian
Rasulullah adalah mereka, sehingga disebut kafir dalam Surat Al
Baqarah ayat 89.

[21] Sebelum Yahudi memutuskan mendirikan negara di Palestina, waktu
itu ada tiga pilihan tempat: Palestina, Agentina, atau Ethiopia.
Mengapa dipilih tiga negara ini? Jelas mereka telah melakukan
perhitungan yang sangat cermat. Namun pilihan akhirnya jatuh ke
Palestina, yang dekat dengan sumber-sumber peradaban Yahudi sendiri
di Yerusalem dan sekitarnya. Namun resikonya, disini akan menghadapi
banyak tantangan dari negara-negara tetangganya yang mayoritas
Muslim. Untuk itu jelas Yahudi harus mempersiapkan segala macam
kekuatan, termasuk mendidik agen-agen loyalisnya di negara-negara
Arab.

[22] Sebuah pertanyaan menarik, mengapa selama puluhan tahun terjadi
konflik berdarah di Palestina dan tidak selesai-selesai? Jawabnya,
selain karena memang “Kerajaan Bani Israil” merupakan cita-cita
peradaban Yahudi sejak ribuan tahun lalu; juga karena banyaknya
tangan-tangan non Yahudi yang membantu negara tersebut. PBB,
Amerika, Inggris, Rusia, IMF, World Bank, dll. jelas mengabdi
kepentingan Yahudi. Tetapi harus juga disadari banyak agen-agen
Yahudi yang tersebar di negara-negara Arab. Mereka setiap hari,
siang dan malam menyembah kepentingan Yahudi. Mereka adalah orang-
orang kafir, meskipun KTP-nya Islam. Di Mesir, Yordan, Syria, Turki,
dll. banyak orang yang identitasnya Muslim, tetapi hatinya telah
menjadi Yahudi.. Bahkan di negara-negara kaya seperti UEA, Qatar,
Bahrain, dll. banyak dijumpai kemegahan jahiliyyah, yang sebenarnya
merupakan hasil konspirasi Yahudi untuk menjauhkan Arab dari Islam.
Kota seperti Dubai, Abu Dhabi, dan lainnya tidak
kalah liberalnya dari kota-kota di Barat.

[23] Dapat disimpulkan, kaum Yahudi itu bukan para pemeluk agama
Samawi (ajaran Ya’qub, Yusuf, Musa, Harun, Dawud, Sulaiman,
Zakariya, Yahya, Isa ‘alaihimussalam) . Mereka adalah orang-orang
yang sangat arogan dengan etnisnya. Hakikat agama Yahudi adalah:
pemujaan terhadap etnis mereka sendiri! Tidak ada satu pun ras
manusia yang sangat ekstrim dalam soal etnis, selain Yahudi. Begitu
ekstrimnya sampai mereka berani menghina Allah, marah ketika Isa
membawa ajaran Injil, marah ketika Kenabian terakhir jatuh ke tangan
bangsa Arab. Mereka menulis “kitab suci” tandingan bagi Taurat
(Talmud), menyebut bangsa non Yahudi sebagai Ghaiyim, merusak
kehidupan di muka bumi. Mereka merasa mulia sebagai pewaris “darah
biru” Nabi-nabi, merasa diunggulkan atas semua ras manusia, pernah
disumpah langsung oleh Allah dengan diangkat bukit Tursina di
atasnya, dan lain-lain. Yahudi benar-benar mewarisi ideologi
arogansi dari makhluk yang pernah mendebat Allah Ta’ala: “Ana
khairun minhu, khalaqtani min naarin wa khalaqtahu min thiin” (aku
lebih baik dari dia, Engkau ciptakan aku dari api, sedang dia Engkau
ciptakan dari tanah). Pemerintah Yahudi, baik di Israel maupun di
dunia internasional, adalah perwujudan dari imperium arogansi. Wajar
jika simbol-simbol yang selalu mereka angkat selalu bernuansa
satanic. Contoh, logo yang dipakai Manchester United (MU) saat ini
the red devil. Dan ada ribuan logo atau lambang yang intinya memuja
arogansi iblis laknatullah.

Yahudi Merusak Peradaban

Andai ambisi Yahudi satu-satunya adalah ingin membentuk “Kerajaan
Bani Israil” seperti di masa Musa, Dawud, Sulaiman, apa susahnya
membangun negara seperti itu? Toh, mereka memiliki uang banyak,
strategi canggih, serta SDM handal. Tidak sulit bagi Yahudi
membangun negara di sebuah sudut dunia. Selama ini banyak negara-
negara berdiri dengan modal lebih buruk dari Israel. Negara seperti
Bosnia, Chechnya, Kamboja, Myanmar, Timor Leste, dan lainnya tidak
memiliki persiapan semegah milik Yahudi. Lagi pula, mengapa Israel
harus mendirikan negara di Tanah Al Quds yang merupakan wilayah
milik Ummat Islam? Bahkan ia didirikan di jantung peradaban Islam,
di Timur Tengah.

Andai Yahudi sudah tidak menemukan solusi lain, selain harus
menegakkan “Kerajaan Bani Israil” di Palestina, mengapa mereka harus
juga menghancurkan peradaban manusia di dunia? Mengapa Yahudi tidak
cukup menempuh cara-cara politik atau militer, tanpa harus
menghancurkan peradaban manusia? Kenyataan yang sangat menyakitkan,
berdirinya Israel ditempuh bukan hanya dengan menteror warga Muslim
Palestina, tetapi juga dengan menyebarkan kehancuran peradaban di
seluruh muka bumi. Lihatlah di dunia selama ini, adakah yang selamat
dari film Hollywood, media massa Yahudi, bank ribawi, IMF dan World
Bank, pornografi, seks bebas, prostitusi, narkoba, perjudian, dan
lainnya? Hingga ke anak-anak balita pun, banyak “diracuni” oleh
kartun-kartun Walt Disney.

Ternyata, di luar persangkaan kita semua, Yahudi justru sangat
mempercayai khabar Al Qur’an. Sebenarnya, mereka mengimani ayat-ayat
Al Qur’an, tetapi anehnya mereka bersikap konfrontatif terhadap Al
Qur’an. Yahudi sangat mengerti ayat-ayat dalam Surat Al Israa’
berikut ini:

Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab
itu: “Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua
kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang
besar.”

Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua
(kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang
mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-
kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana.

Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka
kembali dan Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan
Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar.

Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu
sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi
dirimu sendiri. Dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan)
yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-
muka kamu dan mereka masuk ke dalam Masjid itu (Al Aqsha),
sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk
membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai. (Surat Al
Israa’: 4-7).

Kehancuran pertama Yahudi terjadi saat sisa-sisa Kerajaan Sulaiman
dihancurkan oleh Nebuchadnezzar, sehingga bangsa Yahudi tercerai-
berai. Adapun setelah kehancuran pertama ini, mereka akan menjadi
kuat dan bisa mengalahkan musuh-musuhnya. Hal itu terjadi saat
sekarang ini, ketika “Yahudi menggenggam dunia”. Dan nanti di puncak
kezhalimannya, Israel akan dihancurkan sebagaimana sisa Kerajaan
Sulaiman dulu dihancurkan. Pertanyaannya, mengapa kehancuran kedua
itu tidak dihitung saat Yahudi dihancurkan oleh Spanyol atau NAZI
Jerman? Jawabnya sederhana, sebab waktu itu Yahudi belum memiliki
wilayah sendiri. Mereka masih numpang di negeri orang. Adapun saat
ini Yahudi sudah bermukim di suatu (Palestina) tempat sebagaimana
Kerajaan Sulaiman dulu.

Yahudi sebenarnya mengimani “jadwal sejarah” sebagaimana disebutkan
Al Qur’an di atas. Mereka yakin, dirinya akan diberi kesempatan
untuk merajalela di muka bumi. Hal itu terbukti sebagaimana
kenyataan saat ini. Hingga Mahathir Muhammad mengecam dominasi
Yahudi, dengan mengatakan bahwa 6 juta Yahudi bisa mengendalikan 6
miliar manusia di dunia. Yahudi tidak merasa cukup dengan hanya
mendirikan Israel, bahkan tidak cukup dengan menempuh jalur politik,
mereka benar-benar ingin merajalela di bumi dengan segala
kedurhakaannya.

Lalu siapa yang ingin dilawan Yahudi? Mereka tidak sekedar ingin
melawan Muslim Palestina, Hamas atau Syaikh Ahmad Yasin, dunia Arab
dan Ummat Islam sedunia, atau segala peradaban manusia. Tetapi
mereka ingin melawan Allah Ta’ala dengan segala kekuatan yang mereka
miliki. Yahudi adalah satu-satunya ras manusia yang berani menghina
Allah dengan ucapan mereka: “Tangan Allah terbelenggu. ” Kemudian
mereka dikutuk oleh Allah karena perkataannya itu. (Al Maa’idah:
64). Mereka pula yang berani mengatakan, “Sesungguhnya Allah itu
fakir dan kami kaya raya.” (Ali Imran: 131). Disini ada dendam
sejarah yang amat sangat parah di hati kaum Yahudi terhadap
eksistensi agama Allah.

Aneh memang, Yahudi mengimani khabar Al Qur’an, tetapi sekaligus
menentang eksistensi agama Allah (Islam). Sifat mereka persis iblis
yang mengimani Allah, tetapi mendurhakai- Nya. Untuk merealisasikan
maksudnya, Yahudi mengangkat simbol “Messiah”, yang pada hakikatnya
adalah dajjal laknatullah. Dajjal disebutkan oleh Nabi sebagai
fitnah terbesar bagi orang-orang beriman.

Maka janganlah heran dengan kezhaliman Yahudi saat ini di Palestina.
Ia adalah sebagian penampakan atau konsekuensi dari dendam sejarah
mereka. Awalnya, Bani Israil hanyalah sebuah kaum dengan perilaku
tertentu. Perjalanan sejarah mereka yang sangat panjang melahirkan
watak durjana luar biasa. Dan ternyata, watak Bani Israil itu “telah
disiapkan” untuk menjadi cobaan di akhir jaman. Dulu para ahli
tafsir merasa heran, mengapa A Qur’an banyak sekali bicara tentang
Yahudi? Padahal setelah tercerai-berai di Madinah, mereka nyaris
lenyap (mungkin karena eksodus keluar dari negeri-negeri Islam).
Karena itu sebaik-baik usaha untuk melawan Yahudi adalah memahami
sifat-sifat mereka dalam Al Qur’an (khususnya Surat Al Baqarah). Dan
satu lagi, yakinlah bahwa serangan Israel ke Gaza bukan serangan
terakhir mereka. Itu hanya delay sebelum go with new aggression!

January 15, 2009 - Posted by | Palestina

1 Comment »

  1. salam kenal,
    sekedar menginfokan bahwa penulis artikel tsb diatas juga mempunyai blog disini: http://abisyakir.wordpress.com/
    awal Januari 2009 kami mendapat email tentang artikel tsb dari yang bersangkutan langsung.
    btw, blog ini kok sepi semenjak Jan09?

    Comment by bramantya | September 8, 2009 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: