Bismillahirohmanirrohim

Just another WordPress.com weblog

November :Jean Mbakyu Geudebleh dengan Pola Hidup Beruang Jepang, So what gitu lho?

 

Jean Mbakyu Geudebleh Dengan Pola Hidup Beruang Jepang, So What Gitu Lho???

 

 

 

Pagi yang dingin, sedingin udara Tokyo dengan sebelas derajat celsious-nya. Mbakyu Geudebleh yang orang Indonesia tulen dengan Jawa medoknya itu, mematut diri di depan cermin. Stok pakaian habis, belum menyetrika baju. Yang ada adalah celana jean tahun lalu yang sudah agak lama ditinggalkannya arena ber-jean ria ini karena sekarang lebih nyaman menggunakan kulot longgar berkaret, untuk perut dan badannya yang semakin mendekati dua drum lebih dikit itu.

 

“Tahun lalu bertahan di dua drum size, apa kabar size tubuh tahun ini ya?” batin Mbakyu Geudebleh sambil mematut si celana jean tahun lalu yang digunakannya ke hutan untuk menahan dingin serbuan udara Taman Nasional Nikko kala dirinya meneliti beruang itu.

 

“Bismillah…” celana jean itu mulai dikenakan.

 

”Ups…hampir habis napasku, sesakkk sekaliii!!!” dengan mengeluh Mbakyu Ge berusaha memaksa-pakai celana jean tahun lalunya.

 

Walah, ra iso mlebu ki, piye iki?(Walah nggak bisa masuk ini, gimana nih?)” masih terus saja si jean itu dipadupadankan dengan badannya Mbakyu Ge yang di musim Fuyu (musim dingin) ini semakin menambah bobot badannya.

 

Wah, ndak sopan ki, mentok nang risletting (Wah tidak sopan ini, berhenti di bagian risletting)” gumam Mbakyu Geudebleh.

 

”Tetapi ini harus diperjuangkan masuk, karena stok baju habis dari yang telah disetrika kinclong” masih dengan semangat empat puluh lima berusaha memadankan badannya dengan celana jean tahun lalu itu. Urusan setrika mensetrika, di Jepang bukan jadi persoalan utama, karena hampir semua mahasiswi-mahasiswa Indonesia sibuk. Tidak sempat mensetrika baju. Bahkan ada yang sudah dua tahunan kuliah di Jepang, tidak pernah mensetrika baju hariannya. Weleh…weleh…gaya hidup berubah.

 

Sambil meringis-ringis menahan sesak napas, akhirnya perjuangan memakai celana jean tahun lalu berhasil dengan sukses.

.

”Walau dengan sepuluh menit untuk mengancingkan risletting  iki, wesss, mlebu, Josss!!! (sekarang dah masuk, Jos lega)” bahagia campur sesak napas menggunakan celana jean-nya.

 

Apa boleh buat, pagi ini setelan jean itu digunakannya ke kampus. Tentu saja dengan menggunakan atasan kemeja jean yang panjangnya selutut, untuk menutupi bagian belakang dan depan tubuh Mbakyu Geudebleh, yang tentu tidak sedap dipandang mata karena nyaris berukuran dua drum lebih sedikit itu.

 

Fuyu di Jepang, benar-benar berbahaya buat tubuh, membuat enak makan, enak tidur, dan tidak enak belajar, astagfirullah…” batin Mbakyu Geudebleh yang sedang S3, mulai menyesali musim dingin di Jepang yang sudah setiap tahunnnya datang dan pergi sebagai kodrati alam.

Sebenarnya bukan Fuyunya yang mesti disesali, tetapi ngerem makan, ngerem minumnya yang mesti dikendalikan. Hal ini terjadi bukan hanya pada  Mbakyu Ge, tetapi juga pada hampir semua orang di Jepang. Fuyu saatnya nikmat makan, tidur nyenyak, Sholat Subuh berubah jadi Sholat Dhuha. Natsu (musim panas) saatnya pengurusan tubuh, karena tidak enak makan, tetapi sangat haus, nikmatnya minum jus buah-buahan dengan es batu.

 

Hal yang justru bertolak belakang dengan pola hidup beruang Jepang. Saat musim panas, adalah saatnya memakan segala jenis makanan sampai musim gugur berakhir. Lalu saatnya musim dingin, beruang akan berhibernasi alias tidur panjang selama Fuyu. Tidak makan apapun dari bulan November sampai April tahun berikutnya, menunggu salju semua mencair dan menjadi hangat lagi, barulah hibernasi beruang Jepang akan berakhir.

 

”Andai bisa berhibernasi seperti beruang selama Fuyu, ah, tentu tiga drum size dari tubuh tak akan pernah terwujud” Mbakyu Geudebleh mengangankan dirinya saat musim dingin tidak memakan apapun seperti beruang Jepang.

 

”Itu namanya tidak mesyukuri nikmat Allah, gendut asal sehat, so what gitu lho?” selenge-an alias gedumbrangan alias cuek berusaha membenarkan kondisi tubuh geundut itu. Tetap dipakainya si jean dengan setrikaan kinclong, menuju kampus TUAT-nya.

 

Tetapi memang lebih enak menyalahkan sisi luar dari tubuh kita, misalnya musim dingin kali ini, yang menyebabkan celana jean tahun lalu Mbakyu Ge terpaksa keluar dari stok terakhir pakaian yang telah disetrika dengan kinclong itu.

Gajah memang di pelupuk mata tiada tampak, seperti itulah Mbakyu Ge dengan kondisinya pagi ini.

”Oh Beruang Taman Nasional Nikko, selamat berhibernasi ya, salam kompak ajah dari Tokyo” bergegas Mbakyu Geudebleh meninggalkan cermin, dan ngabrit ke ruang semedi di laboratorium TUAT-nya.

 

Tokyo, 5 November 2008.

 

January 3, 2009 - Posted by | Mbakyu Geudebleh

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: