Bismillahirohmanirrohim

Just another WordPress.com weblog

December : Balada Mbak Menik dan Tokita-san

Balada Mbak Menik dan Tokita-san 

Oleh: Bainah Sari Dewi

 

Genap sepuluh tahun pernikahan Mbak Menik dengan Norio Tokita. Mbak Menik adalah seorang wanita asli Kediri, berperawakan mungil, ayu, bermata teduh. Ia juga cekatan dan dan masakannya enak sekali. Mbak Menik adalah seorang muslimah dan memutuskan menikah dengan Norio Tokita atau Tokita-san sepuluh tahun yang lalu, tepatnya tahun 1998. Saat ini rumah tangga sakinahnya telah dikaruniai tiga orang putri, masing-masing bernama Alifah-chan delapan tahun, kelas empat Sekolah Dasar, dan kembar cantik, Yuki-chan dan Soliha-chan, berusia enam tahun.

 

” Wah, menikah dengan Tokita-san itu, banyak sekali tantangannya. Mula-mula kedua orang tua saya tidak setuju atas hubungan kami, bahkan satu kampungku juga ndak setuju  atas hubungan kami. Karena kami beda agama, saya Islam dan Tokita itu tidak jelas apa ya agamanya,” kenang Mbak Menik. Ia mencoba menyisir kembali perjalanan pernikahannya dengan seorang muallaf, yang saat ini telah berada dalam arungan bahtera rumah tangga bersamanya dengan kebahagiaan penuh.

 

”Dulu, saya tunangan setahun, baru menikah. Kami menikah di kampung sebelah, karena Tokita-san di kampungku belum bisa diterima. Mungkin karena orang Jepang. Tradisi di kampungku menolak orang asing, apalagi dulu-dulunya, mereka para Jepang itu menjajah Indonesia. Lurah di kampung alot…kerasnya minta ampun”  suara Mbak Menik mulai berkisah dengan sendu.

 

”Tetapi akhirnya, Tokita-san masuk Islam, membuat semua anggota keluarga, mau tidak mau menyetujui. Bapak dan Ibu pun akhirnya memberi restu pada pernikahan kami” Mbak Menik mengenang kisahnya dengan sedikit berlinangan airmata.

 

”Terharu sekali saat Tokita-san mengucapkan dua kalimat syahadat, di masjid kampung sebelah, beberapa saat sebelum menikah denganku.., tidak menyangka bahwa beliau benar-benar serius. Bahkan sampai mau masuk Islam demi bisa menikah denganku” mimik wajah Mbak Menik tambah sendu saja.

 

”Setelah kami resmi menikah, deruan penolakan di kampung mulai mereda,” ucapnya. Mbak Menik mengenang, dahulu ketika Tokita-san berdinas di Indonesia, selalu menyempatkan ke mesjid kampung untuk sholat berjamaah, sebelum suaminya berkunjung ke rumah bapak dan ibu. 

 

Saya belum bisa sholat sendirian, belum hafal bacaan sholatnya. Jadi kalau sholat bersama-sama, saya bisa mengikuti bacaan Imamnya dalam hati” jawab Tokita-san, saat mengenang masa-masa awal menjadi muallaf.

 

“Saya mencintai Menik karena dia wanita Islam yang baik, lincah, baik hatinya” Tokita-san mulai membelah memori tentang istrinya.

 

“Aku suka dengan Tokita, karena dia sangat perhatian pada keluargaku,” Mbak Menik mengatakan sambil tersenyum malu. Ia menceritakan bahwa di kala keluarga sedang ada perselisihan atau masalah  keuangan, suaminyalah yang siap membantu tanpa diminta. “Perhatiannya luar biasa padaku, makanya aku jadi  jatuh cinta sejak pandangan pertama…” tersenyum bahagia ekspresi Mbak Menik saat mengenang masa-masa indah mengenal Tokita-san.

 

”Akhirnya, aku menikah dan diboyong ke Jepang untuk tinggal bersamanya. Kehidupan berubah menjadi seratus delapan puluh derajat berbeda. Dari hidup sederhana, menjadi hidup berkecukupan. Bahkan buatku termasuk mewah, rumah bagus, semua peralatan rumah lengkap, TV, kulkas, mesin cuci, microwave, apa-apa serba mudah. Allah SWT benar-benar mengangkat kehidupanku …”  mata Mbak Menik berpijar-pijar bahagia.

 

”Sekembalinya kami ke Jepang, kehidupan suamiku berjalan tetap seperti biasanya, sebagaimana dulu sebelum masuk Islam. Mertuaku sepertinya tidak tahu bahwa suamiku telah masuk Islam. Awal-awal hidup di Jepang, buatku cukup bahagia dari segi duniawi, tetapi cukup sedih. Lhah wong suamiku dan teman-temannya kalau party yoo…masih nenggok minuman wisky barang. Piye iki….”  semburat wajah kemerahan mulai merona dari pipi Mbak Menik.

 

Tak dungake terus ben dino, mugo-mugo perilaku dan gaya hidupnya bisa berubah, sedikit demi sedikit… Alhamdulillah, dari biasanya minum wisky sepuluh tahun lalu, suamiku mulai tidak minum wisky yang berkadar alkohol lima puluh sampai enam puluh persen itu. Tetapi suamiku mulai mengurangi ke jenis minuman yang berkadar lebih ringan, buatku itu suatu kemajuan,”  ujar pemilik wajah oval yang hitam manis ini,  dengan lugu.

 

”Saya sudah tidak makan daging babi lagi, saya katakan kepada orang tua dan teman-teman; saya sudah masuk Islam. Tidak makan daging babi lagi. Yah..mereka kaget semua, tapi mereka bisa menerima akhirnya.” Tokita-san mengenang dengan kerdipan mata sipitnya.

 

“Suamiku mengerjakan sholatnya masih bolong-bolong, dari lima waktu, kadang sholat Subuh denganku, lalu nanti pas sholat Isya. Aku tak ngenteni nganti ndalu (aku menunggunya sampai larut malam), hanya supaya bisa mengajaknya sholat isya bersama. Bacaan sholatnya belum sempurna, mesti barengan denganku sholatnya,” keluhnya.

 

Kemudian Mbak Menik meneruskan;”Wes…tak lakoni (kulakukan) semua dengan sabar, saya terus berdoa pada Allah SWT setiap aku selesai sholat lima wektu. Menawi gusti Allah (berharap pada Allah) suatu saat kelak, benar-benar merubahnya menjadi seorang muslim yang seratus persen terlepas dari alkohol, bisa menjadi imam sholat buat aku dan anak-anakku.”

 

Saat menyatakan itu, pecah sudah air mata Mbak Menik yang tadinya hanya setitik, berubah menjadi lautan air mata doa. Yah… air mata doa seorang istri untuk kebaikan dunia akherat untuk suami tercintanya. Mbak Menik berharap biduk pernikahannya bersama Tokita-san bisa benar-benar Islami. Semoga Allah SWT  menjadikan keluarga kecilnya sebagai keluarga yang makin berbahagia dalam naungan Islam, sakinah, mawaddah warohmah.

 

Tokyo 28 December 2008 

 

January 3, 2009 - Posted by | Mbakyu Geudebleh

1 Comment »

  1. Assalamualaikum Ibu Bainah.
    Gembira bercampur haru ketika saya bisa bertemu dan membaca tulisan2 dari ibu di dunia maya. Mungkin Ibu lupa dg saya. Lima belas tahun lalu ketika ibu kuliah di UGM, ketika itu saya kuliah di Surabaya. Anak SMPN Talangpadang yang saat itu berkenalan dg ibu di suatu acara lomba di Kalianda 20 tahun yang lalu. Sukses selalu untuk Ibu Bainah. Salam untuk keluarga. (Rizal-Fitria-Naila Najla)

    Comment by Hefrizal | January 6, 2009 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: