Bismillahirohmanirrohim

Just another WordPress.com weblog

December : Antara Utsunomiya dan London

Antara Utsunomiya dan London

 

Dari mana cerita ini harus merunutnya? karena semuanya demikian mengalir seperti air sejak pertemuan satu April dua tahun lalu, kali pertama bertemu dengan Teteh dan Ken-san suaminya.

Ken-san adalah suaminya Teteh. Mengenal seorang Teteh, akan nyaris berpendapat sama yaitu geulis, sangat ramah, selalu sumringah (setiap berbicara tidak terlepas senyum dari  wajahnya). Terlihat sabar dan telaten.

 

Padu padan yang sangat cocok dengan Ken-san yang pendiam, sedikit tersenyum, terlihat sangat disiplin, ”sebetulnya” ramah dan kurang banyak berbicara. Kesan seolah-olah ingin banyak berbicara dengan teman-teman istrinya, tetapi kendala memahami bahasa Indonesia dengan sangat cepat, menjadi titik pangkal, komunikasi dengan Ken-san lebih sedikit dibanding dengan Teteh.

 

“Ken mengenal Islam sejak masa bachelor. Ceritanya Ken cuti satu tahun dari Keio Daigaku di Tokyo, untuk belajar tentang perekonomian Asia. Mestinya ke Malaysia, tetapi nggak tahu kenapa, kok akhirnya sampai di Indonesia dan Bandung jadi pilihannya” Teteh  mulai mengenang masa pertemuannya pertama kali dengan Ken-san.

 

“Nggak menarik amat gitu, kan orang Jepang mah putih-putih sipit dan biasanya mereka kan nggak punya agama. Jadi sayah mah nggak pernah mimpi bisa menikah dengan Ken”  tutur lembut Teteh dengan dua buah hati tercinta, Haru-kun lima tahun dan Ayu-chan yang berusia tiga bulan ini.

 

“Sayah jadi guide mahasiswa, yang membantu orang asing di kampus, yang mau belajar bahasa Indonesia. Biasanya sih yang datang dari berbagai negara, dan jarang yang muda, malah ada dari Australia yang belajar, sudah nenek-nenek. Tapi kok, orang Jepang satu ini masih muda dan masih bachelor, malah belum selesai sekolahnya” itulah kala pandangan pertama pertemuan dengan suaminya ini.

 

“Di ITB Ken rupanya banyak berteman dengan komunitas Islam. Kadang-kadang di ajak ke masjid Salman, dia mau-mau ajah. Orangnya nurutan gituh…mungkin sejak itu, Ken mulai mengenal tentang Islam, dan bagaimana para pemuda Islam dengan aktifitasnya sebagai seorang mahasiswa, dengan ketaatan sebagai seorang muslim” Teteh menepuk-nepuk punggung belakang Ayu-chan agar segera bersendawa setelah meminum ASI mamanya, yang terus saja bercerita dengan wajah tersenyum.

 

“Wah, kok seperti diinterogasi nih, jadi takut bercerita nyah,…jadi cerita singkatnya sih, Ken setelah setahun di ITB, pulang ke negaranya, lalu lulus kuliah dari Keio Daigaku. Dah itu dalam kesempatan kerja ke Indonesia, Ken ingin datang ke Masjid Salman ITB” kenang pemilik senyum manis di Utsunomiya ini.

 

“Saya ingin masuk Islam. Tolong antarkan saya ke Masjid Salman ITB untuk bersyahadat” pinta Ken. Mulai luluh hati Teteh sejak saat itu. Mulai sedikit melihat ada perhatian pada Ken, karena Islamnya.

 

“Nggak nyangka ajah kalo Ken mau masuk Islam. Tapi tetep ajah, sayah mah belum seriusan mau dengan Ken” badannya Teteh terus berayun-ayun sambil menggendong Ayu-chan di gendongan model Jepang, mirip dengan kain gendongan Jawa yang diikat ke bahu, tetapi dibuat lebih modern dan praktis.

 

“Akhirnya Ken memeluk Islam dan kembali lagi ke Jepang. Kejadian itu setahun sebelum pernikahan kami. Orang tua sayah, mau menerima Ken, karena dia sudah menjadi seorang muslim setahun sebelum kami menikah. Jangan harap deh bisa meminang anak perempuan Emak Abah, kalo bukan muslim”  tepukan lembut di pundak Ayu-chan membuatnya terlelap dalam gendongan ala Jepang tersebut.

 

“Pernikahan ini sudah delapan tahun yang lalu. Waktu hamil Haru dulu tea, masih sering mencari masjid di Tokyo, untuk sholat Idul Fitri bersama. Dari Utsunomiya Ken bawa mobil, kami dari rumah jam empat shubuh, supaya nggak terlambat sholat Ied-nya di SRIT atau masjid Turkey di Yoyogi Uehara” Ayu-chan kemudian dilepaskan dari gendongan Teteh, lalu ditidurkan di pembaringan yang bisa digoyang-goyang seperti kursi goyang, tetapi namanya tempat tidur goyang made in Japan.

 

“Ken selalu sholat Shubuh dan Isya di rumah, tapi ya nggak tahu ya, apa di kantor dia sholat apa nggak, sayah nggak berani nanya. Pernah dulu minta Ken jadi Imam sholat di rumah. Ken nolak…” lantunan suara Teteh semakin mengecil, supaya tidak mengganggu bobo sang buah hatinya.

 

“Saya belum siap jadi Imam sholat, gomenasai nee…” jawab Ken kala itu. Dan sejak itu Teteh tidak pernah lagi memintanya menjadi imam sholat saat Ken ada di rumah. Teteh sholat sendiri lima waktu di rumah. Mereka akan bergantian sholat, sambil menjaga buah hatinya. Waktu telah berjalan selama delapan tahun. Dan Teteh tidak pernah menyalahkan keadaan. Semua dijalaninya dengan sabar.

 

“Ini bagian takdir yang mesti sayah jalani, menikah dengan seorang muallaf…semoga Allah terus membimbing Ken” doa Teteh terus mengalir untuk suami tercintanya.

 

“Kalo Haru-kun suka ikutan sholat berjamaah sama Papanya, terutama hari Sabtu dan hari Minggu, saat Ken libur kantor. Sukanya  kalo diajak sholat, Haru minta dipakaikan baju Koko-nya Ken” senyum Teteh semakin lebar menceritakan Haru-kun siswa TK Jepang, berwajah bulat dengan kulit putih seperti layaknya anak Jepang, bukan anak blasteran Jepang – Indonesia.

 

“Papa ni nitteru janai no (mirip kan?? sama Papa?)” Haru-kun memakai baju Koko papanya, sambil sibuk mengancingkan baju papa yang dikenakannya. Lengannya tertutup habis karena baju Koko itu panjang dan besar. Badannya terselubung semua, dengan baju Koko papanya. Lalu Haru-kun berlari mengambil kopyah haji milik papanya.

 

“Iiin.. janai no? Mama? (ok kan ya, Mama?)” mata Haru-kun meminta persetujuan Mama nya saat mengambil kopyah haji papanya.

 

“Haru mah suka eror, kalo sholat berjamaah dengan papanya, dia ingin memakai baju Koko papanya. Kalo sholat dengan sayah, dia juga ingin memakai mukena mamahnya. Suka sewot gituh sayah, tapi kadang-kadang sayah turutin ajah, memakai mukena sayah. Masih kecil ini. Nanti lama-lama tahu, kalo mukena itu hanya dipakai untuk perempuan” Teteh tersenyum lebar, memaparkan kelucuan putra pertamanya itu.

 

“Bulan Januari tahun depan, Ken dapat tugas ke London selama lima tahun. Jadi kami akan boyongan dari Utsunomiya ke London. Minta doanya yah, agar bisa mengurus anak-anak di sana, dan keislaman kami tetap kuat” papar pemilik suara yang syahdu dalam mengaji ini, bacaan Al quran Teteh juga sangat baik.

 

“Saya sudah searching di London Utara tempat kami akan tinggal nanti di sana. Ada banyak masjid, dan komunitas masyarakat Jepangnya lumayan banyak. Jadi isteri dan anak-anak masih bisa berbicara bahasa Jepang saat mereka di London” Ken mulai angkat bicara sambil sedikit berpikir saat mengeluarkan bahasa Indonesianya. Susah susah mudah berbicara bahasa Indonesia rupanya.

 

“Di London Utara nanti, ada rumah sakit yang dokternya khusus orang Jepang. Saya agak kuatir dengan kesehatan anak-anak soalnya. Dokter di Jepang itu sangat detail, rinci semuanya. katanya dokter di London itu kurang perhatiannya tidak seperti dokter anak di Jepang. Memang ke rumah sakit itu agak jauh  dan nanti akan agak mahal dari rumah sakit umum, tetapi saya ingin anak-anak tetap dipegang oleh dokter Jepang” paparannya dengan bahasa Indonesia terputus-putus, tetapi maknanya bisa tertangkap seratus persen dari ungkapan kalimat-kalimatnya.

 

“Nanti di London, kalau memang rumah dan masjid dekat, bisa lebih sering ke masjid, mudah-mudahan. Kalo di Utsunomiya kan tidak ada masjid, jadi kalau dulu sebelum Haru lahir, kami selalu naik mobil ke Tokyo untuk sholat Idul Fitri. Tetapi sejak Haru lahir, kami sholat Ied nya di International House saja. Dua tahun lalu ada sekitar empat puluhan orang Islam di sini. Tetapi tahun lalu, kami sholat Ied di Kaikan, hanya sekitar  tujuh wanita dan lima belasan bapak-bapak yang berkumpul” Ken  terus berbicara dengan harapan-harapannya.

 

Semoga keislaman keluarga blasteran Indonesia – Jepang dan keluarga muslim ini senantiasa sakinah, mawaddah warohmah. Berharap suatu hari kelak, Ken-san bisa menjadi imam sholat di baiti jannati rumah surga mereka. Berharap keberangkatan tugas kantornya ke London, bisa menambah wawasan Ken tentang Islam secara utuh di dunia international.

 

Menambah banyak hidayah untuknya, mengokohkan tali cinta Teteh dengan suami tercintanya, dalam naungan Islam, dalam perlindungan Allah SWT, dalam kebahagiaan hakiki sebagai seorang muallaf yang hijrah secara kaffah. Ya Allah perkenankanlah harapan ini untuk kebahagiaan keluarga Teteh dan Ken-san.

 

TOKYO 4 DESEMBER 2008

BAINAH SARI DEWI

 

 

January 3, 2009 - Posted by | Mbakyu Geudebleh |

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: