Bismillahirohmanirrohim

Just another WordPress.com weblog

September : Sariawan, dua Helai Rambut Putih dan Cinta Mas Amung

“Sariawan, Dua Helai Rambut Putih dan Cinta Mas Amung”

 

Mbakyu Geudebleh mematut wajah nya di depan cermin.

“Ternyata memang  bengkak sisi kiri bagian pipiku. Sariawan membuat pipiku yang sudah geduombreng  (besar banget) gendut ini, bertambah penampakannya menjadi dua kali lipat menggelembung” bisik lirih Mbakyu Ge sambil meringis kesakitan.

Untuk tersenyum saja hampir tak mampu. Senyum dikit saja, langsung terjadi pergesekan daging-daging lembut yang luka di dalam rongga mulutnya. Sariawan yang diderita Mbakyu Geudebleh membuatnya hampir nyaris puasa berbicara.

 

“Cocoklah, ini kan bulan puasa, cocok kalau daku puasa berbicara juga” bisik-bisiknya sambil mengelus-ngelus pipinya yang bertambah montok dua kali lipat gara-gara sariawan.

“Ini baru nikmat kecil yang ditunjukkan Allah, bahwa, memiliki rongga mulut yang sehat, adalah wajib disyukuri” .

“Sariawan, adalah bagian nikmat kecil, yang sesaat dirasakan berbeda satu sampai dua minggu, rongga mulut menjadi sakit, mau makan tak enak, tidur tak nyenyak, senyum tak mampu dengan sempurna”.

“Boro-boro (apalagi) mau tersenyum ikhlas dalam kondisi sakit begini” sentuhan sariawan ini menyadarkan Mbakyu Geudebleh, bahwa sebenarnya dia harus selalu bersyukur dan bersyukur. Segede, segendut, sebego, apapun yang dirasakannya sebagai bentuk kekurangan diri.

“Ternyata, gendut, geublek, itu diberikan Allah dalam kondisi full stamina dan sehat-sehat saja” alhamdulillah batin Mbakyu Geudebleh tetap mematut wajahnya di depan cermin panjang ala Jepang, yang di dapatnya dari warisan barang, rekannya yang pulang ke Indonesia satu tahun yang lalu.

 

“Heeeeeiittt!!! Apa ini?”  lhoh, dua helai rambut putih di sisi telinganya Mbakyu Geudebleh.

“Daku ternyata bertambah tua, rambutku yang hitam berganti warna dua helai menjadi putih” terkejut Mbakyu Ge memandangi si rambut dua helai yang berwarna putih ini.

“Ah, ini pasti rambut Mas Amung. Rambutnya kan hampir seratus persen putih diusia empat puluh tahunnya” bantah Mbakyu Ge waspada.

“Wah tidak, salah…salah! ini rambutku”. Masih keras menempel dua helai rambut putih itu di sisi telinganya Mbakyu Ge.

“Nikmat Allah perlahan tetapi pasti, mulai berkurang dari diriku” batinnya sedih.

“Ah tidak, telah begitu banyak nikmat Allah yang telah dinikmatinya sampai usia tiga puluh lima tahun ini” tepisan rasa itu meluncur lagi dari hati Mbakyu Ge secara bersaut-sautan.

” Papah, ini ke sini, lihatlah, rambut Mamah ada putihnya sekarang!!” panggil Mbakyu Geudebleh  sedikit pamer, memanggil suami tercintanya Amung Sakti Mandarguna. Saking saktinya, sejak usia sekolah dasar, sebenarnya rambut sang kekasihnya itu telah mulai beruban. Bukan karena sakti sembarang sakti. Tapi pigmen keturunan dari keluarganya, demikian kuat, sampai empat saudara kandung suaminya mengalami hal yang sama, sejak kecil sudah beruban.

“Wah Mamah sayang mah, baru punya dua helai rambut putih, nih lihat rambut Papah, putih semua, keren kan?” sambut Mas Amung Sakti Mandraguna malah demikian pede dan bangganya atas karunia Allah itu.

“Wah, aku yoo bangga toh Papah terkasih, aku bangga dengan gendutku dua drum ini, kan yoo cocok banget tho kita? Papah rambut putih, daku geundut tur geublek (bodoh), daku bersyukur pada Allah Pah, gendutku bisa bermanfaat untuk orang lain” bela diri Mbakyu Ge tak mau kalah.

“Apanya yang manfaat kekasihku cantik?” melongo Mas Amung Sakti Mandraguna.

“Papah lupa ya, daku kan sudah menjadi pendonor darah di Jepang ini sampai lima kali, wah Papah mengapa dikau melupakan hal itu?” rodo cemberut ekspresi manja Mbakyu Ge, membuat wajahnya yang sedang sariawan itu tambah jelek banget dan tak sedap dipandang mata, bahkan oleh matakucing sekalipun.

“Yoshh!! selalu mensyukuri nikmat Allah, itu yang penting” tutup Mas Amung Sakti Mandraguna, sambil berusaha memeluk pinggang istrinya yang geundut dua drum itu dari belakang. Walaupun berusaha meraba pinggang istrinya tak kunjung dapat, karena rata gendut, tak berbeda antara pinggang dan bagian lainnya, tetapi Mas Amung Sakti Mandraguna terlihat baik-baik saja, dan terus memeluk istrinya dengan senyum mengerti, bahwa sariawan yang diderita istrinya malah membuat tambah mesra saja.

 

 

 Tokyo, 27 Sept 2008

 

 

October 29, 2008 - Posted by | Mbakyu Geudebleh

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: