Bismillahirohmanirrohim

Just another WordPress.com weblog

September : Pameran Eh Jualan

“Pameran Eh Jualan”

 

Lagi dapat job dadakan menjadi interpreater susulan di suatu pameran besar di Big Site Odaiba Jepang tanggal 2-5 Sept 2008. Pameran gede-gedean ini katanya sih di hadiri dua puluh lima negara tetangganya Mbakyu Guedebleh. Si Mbakyu Geudebleh tiba-tiba diminta menggantikan temannya yang sedang arubaito atau kerja paruh waktu. Ketiban duren deh, katanya arubaito di sono dapet duitnya gede, sepuluh ribu yen sehari. Setara dengan delapan ratus ribu rupiah sehari, dari jam sepuluh pagi sampai jam enam sore.

Siapa yang nolak job model begitu.

Mbakyu Geudebleh ketiban rejeki, saat temannya mendadak tidak bisa datang kerja.

“Gantikan saya ya Mbakyu Gu” sapa temennya suami Mbakyu Geudebleh, si Mas Amung Sakti Mandraguna.

 

Ternyata saat menggantikan posisi temannya Mas Amung Sakti Mandraguna, kerjaannya adalah jaga pameran, interpreater alias penerjemah Bahasa Jepang ke Bahasa Indonesia atau ke Bahasa Inggris.

“Enaklah, cucok harga dan cuocok kerja” batin Mbakyu Geudebleh.

Duduk, berdiri, senyum, terjemahin dikit-dikit, senyum lagi, selesai. Itu perkiraan kerjaannya saat nerima job.

Eh ya talah dalah, ternyata, kerjaannya lebih dari itu. Selain itu, Mbakyu Ge, mendapat job berjualan semua barang yang ada di standnya. Mulai dari eceran sampai jualan dalam jumlah besar.

Pameran merupakan ajang untuk menjalin relasi dan berjualan product. Walau sebenarnya peraturan di pameran ini adalah tidak boleh ada keluar uang langsung di stand, tapi bukan stand Indonesia lah kalau nggak jualan.

Sambil cari buyer yang gede, ikan teri pun tetap diciduk, batin Mbakyu Geudebleh senyum ketar-ketir.

“Pertama jaga pameran di Jepang ya Mbak?”sapa Bu Margono, pemilik stand pameran yang mana si Mbakyu Ge diberdayakan hari itu.

“Iya Bu, wah barang-barang ibu semua terbuat dari kerang ya, antik dan unik yoo Buu” suara medok Mbakyu Geudebleh mulai memecah keheningan stand.

“Iyo. Lah wong di Indonesia itu kaya dengan hasil laut tapi pemanfaatannya sangat sedikit, saya punya tambak kerang mutiara di laut Jawa, jadi bisa ekspor kulitnya untuk kerajinan kayak gini ini Dik” timpal Bu Margono.

 

Hari pertama dilalui tanpa kesan, yang ada lelah dan pegel karena pembeli eceran hanya tigapuluh ribu yen saja, dan itu sudah dengan bumbu keceriwisan Bu Margono.

“Dik, naruh aasesorisnya jangan begitu, yang sebelah sono kurang manis, coba di rubah”

“Coba angkat ini, ambil kertas pembungkus di laci, katalog itu jangan di simpan di kolong meja, kalkulator kalo sudah selesai taruh di meja lagi, walah endi kaca mataku tho?”dan serentetan perintah bak Ibu Juragan Warteg Endi Manahutu, dekat kost annya Mbakyu Geudebleh. Warteg untuk istilah mudahnya Mbakyu Ge, menyebut warung Susi Jepang.

Pegawainya di suruh macam-macam dari A sampai Z.

 

Dasar Mbakyu Geudebleh emang suka di suruh-suruh, jadi pekerjaan yang mestinya menjadi penerjemah atau asisten jualan eh asisten pameran itu dijalani saja dengan tawakkal, Bu Margono itu tidak tahu, bahwasanya yang disuruh-suruhnya saat ini adalah seorang penggede juga. Penggede di kostannya alias apartemen bahasa kerennya buat kamar sempit kost nya di Jepang. Juga penggede di universitas tempatnya si Mbakyu Guedebleh mengajar di Indonesia. Gimana nggak jadi penggede, lah wong badannya si Mbakyu Geudebleh gedenya sudah kayak drum dua buah didempetkan.

Rada sesak napas, tapi ketawakallan Mbakyu Geudebleh mengalahkan sesaknya. Malah dibalas semuanya dengan senyum.

“Iya Ibu, bagian mana lagi yang mesti saya kerjakan? Ini kaca mata Ibu, tadi tertinggal di pojokan asesoris” suara tulus Mbakyu Ge.

 

Pengunjung pameran ini luar biasa banyaknya. Tetapi mereka semua terkendali dan antri untuk bisa melihat suatu stand dari setiap negara. Hebat ya, budaya antri di Jepang mah, terus saja ada, di manapun mereka berada. Di WC antri, walah mungkin ada yang kebelet sampe pipis di celana? di pameran juga antri, walau mungkin ada yang kebelet mau pegang barang antik, unik di stand Bu Margono ini.

 

Hari kedua pengunjung pameran ini rasanya ribuan orang. Dan stand Bu Margono yang di gedekan dengan penggede Mbakyu Geudebleh, rame. Hemm… rame banget malah.

“Saya mau beli semua asesoris furnitur ini, tolong dihitung berapa jumlahnya dalam dollar, besok uangnya saya bawa, barangnya saya ambil di hari terakhir pameran ya, bagaimana? OK desuka?” kalimat jadi dari Ozawa san, belakangan diketahui namanya setelah diterjemahkan semua kalimatnya oleh Mbakyu Ge ke Bu Margono.

“Saya ingin bisnis lama dengan Mama san, jadi kasih saya kualitas terbaik ya” kalimat lanjutan Ozawa san dalam bahasa Jepang yang diterjemahkan oleh Mbakyu Ge. Si Ozawa san menyebut Mama nya Mbak Liz dengan Mama san.

Wah, bak di siram air hujan, berkah hari itu demikian besar buat Mbakyu Geudebleh, karena dia berhasil menjaring si Ozawa san jadi pembeli semua produk pameran hari itu. Rayuan pulau kelapa mautnya dari Mbakyu Geudebleh rupanya manjur di hari kedua.

 

“Wah, Mbak Liz pinter ya jualannya, baru pertama Mama ajak ke luar negeri, sudah bisa buat dagangan Mama laku habis di hari kedua pameran” puji Bu Margono yang memanggil putrinya yang duduk manis di sebelah Mbakyu Ge sepanjang hari. Mbak Liz menerima uang dari hasil penjualan eceran di stand, mungkin karena susah berdiri, sama gedenya dengan badannya Mbakyu Ge tapi kayaknya deskripsi yang benar, Mbak Liz ini ibarat tiga drum didempetkan. Jadi lebih susah berdiri karena bobot tubuhnya yang aduhai.

 

Tidak penting siapa yang gede badannya atau berjasa mencarikan buyer kakap untuk Bu Margono. Yang terpenting, pekerjaan dua hari sebagai penerjemah  atau asisten pameran itu bisa diselesaikan dengan baik, dengan hati ikhlas, karena sedang di bulan Ramadhan. Bekerjanya ibadah, tidurnya ibadah, senyumnya ibadah, semua jadi ibadah selama dikerjakan semua hal dengan ikhlas. Bulan Ramadhan bekerja sudah bukan hal aneh di Jepang. Dan kerjaan model Mbakyu Geudebleh ini banyak dilakukan oleh hampir dua puluh mahasiswa dan mahasiswi dari S1 sampai S3, bahkan ada yang lulusan doktor juga ikutan arubaito di stand Indonesia pada pameran kerajinan dari dua puluh lima negara tersebut.

 

“Sukses Bu Margono, lanjutkan perjuangan mencari buyer Kakap hari ini. Saya mau ngerjakan PR dari Sensei dulu di lab” batin Mbakyu Geudebleh melepaskan arubaitonya hari ini demi sang pacar tercintanya, disertasi s3 nya yang menjadi pacar setianya tiap menit dan detik.

 

TOKYO, 4 September 2008.

 

 

 

October 29, 2008 - Posted by | Mbakyu Geudebleh

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: