Bismillahirohmanirrohim

Just another WordPress.com weblog

September : Jamuan Indah Dengan Hikmah Memilukan

Jamuan Indah Dengan Hikmah Memilukan

 

Beberapa hari lalu, suatu milist yang Mbakyu Geudebleh ikuti,  kedatangan anggota milist kehormatan.

Beliau dikenal saat suami beliau menjabat Atase kehutanan KBRI Tokyo dua tahun lalu.

Saat ini suaminya sudah bukan atase kehutanan tetapi ketua ITTO di Yokohama.

Dan terlepas dari jabat menjabat suami beliau, ibu cantik ini suka dengan fotografi. Dalam dua jam mengenalnya saat barbeque bersama seluruh warga kehutanan se Tokyo dua tahun lalu, Mbakyu Geudebleh mengenal ibu dengan busana muslimah yang modis ini, sangat ramah dan familiar dengan para mahasiswa. Ibu ini berprofesi wartawan. Tetapi ibu yang ini, berbeda dengan Ibu Adidaya, pikir syahdu Mbakyu Geudebleh mulai melanglang buana mimpi buruknya.

 

Tidak penting sebenarnya siapa suaminya, siapa istrinya siapa. Yang terpenting sebenarnya sikap menghargainya pada sesama. Siapapun dia, mahasiswakah dia, istri yang mendampingi mahasiswakah. Istri yang sekolah juga mendampingi suami yang sekolahkah. Istri yang sekolahkah. Ah, semua tidak penting di  atas nama suami atau di atasnamakan istri dari yang terhormat Bapak Anuminus, Bapak Perkasa Pamungkas, dan lain-lain.

 

Pemikiran Mbakyu Geudebleh sederhana saja. Tidak menjadi besar kepala karena istrinya Bapak Kebangsaan, Istrinya Ibu Kenegaraan, karena semua itu jabatan semu, yang tidak layak untuk dibanggakan apalagi sampai melecehkan orang lain. Apalagi kebanggaanya bukan karena karir yang dibuatnya dengan cemerlang oleh dirinya sendiri. Kebanggaan yang sebenarnya tidak pantas dibanggakan karena bukan hasil jerih payahnya sendiri.

 

Suatu jamuan besar dari negeri entah berantah di suatu hari nan penuh semangat. Mbakyu Geudebleh mulai bersenandung.

” Hebat betul ya, Ibu Hatarajasamanguntapa, beliau cantik dan pakaiannya indah sekali”

“Ah yang sebelah situ, Ibu Purwokertomangantaklapar, beliau juga suaminya terhormat jadi gubernur di propinsi Lemahsyahdu” komentar Ibu Adidaya.

“Nah yang sebelah pojok kanan itu, Ibu Gubernur Sumantri Dewaprojonansakti, dan Ibu yang di sudut kursi itu, Ibu Menteri Kenestapaan, Ibu Kretekajimangmoi” ekplenasi cerdas dari Ibu Adidaya pada Mbakyu Geudebleh di sebelahnya yang manggut-manggut.

 

“Begitu terhormat sekali yooo Buuuuu, suenneenge hari ini kulo saget  (saya dapat)bertemu dengan para isteri pembesar” tersenyum luwes Mbakyu Geudebleh, si pemilik badan berperawakan dua drum itu tersenyum.

 

Maaf, saya Bu Mantrijerongsongsongmonyong, Ibu siapa ya?” sapa ramah seorang Ibu yang tiba-tiba datang mendekati Mbakyu Geudebleh.

Saya…” jawab Mbakyu Ge berpikir ingin memperluwes jawaban.

“Oh, ini Mbakyu Ge, dia mah bukan siapa-siapa, masih mahasiswi yang lagi belajar di Tokyo” babat habis Ibu Adidaya cepat secepat kilat dengan kebisan tangan melecehkan, seperti kipratan. Itu loh seperti setelah cuci tangan lalu ingin membuang air-air di atas telapak tangan, terkadang kita mengebas-ebaskan tangan. Bahasa okemnya ngipratke tangan.

“Saya sedang study Ibbbuuuu, di Unipersitas Takarakujilakilahyosukuru, tahun pertama kuliah doktoru Bbbuuu” balas medok Mbakyu Geudebleh menanggapi jawaban kilat dan kepretan tangan keji Ibu Adidaya. Aha, si Ibu Adidaya mengepretkan tangannya, untuk memperlihatkan gelang keroncong enam susunnyakah?

 

Walah Mak, luntur luluh lantak sudah kebanggaan dan rasa hormat Mbakyu Geudebleh pada Ibu Adidaya, yang dengan tanpa berdosa memperkenalkan dirinya dengan kepretan tangan menggusa-gusa seperti menyuruh ayam pergi.

Rasa hormatnya hilang seketika di sabet Gonderuwo yang tiba-tiba menyelinap lewat kebasan tangan Ibu Adidaya tadi.

 

“Apa haknya memperkenalkan aku dengan sok merasa, bahwa aku iki yoo bukan sopo-sopo (siapa-siapa)” gemerutuk gigi Mbakyu Geudebleh seperti sapi yang siap menerkam mangsanya. Walah keleru, seperti beruang yang siap menerkam mangsa empuk.

“Apa si Ibu Adiguna meroso (merasa) awakke wes ternama utama (dirinya paling utama)” hohoho, getir suara Mbakyu Geudebleh bergemerincing.

 

“Bbuuuu…Bbuuu… baru saja jadi istri Bapak Adidaya, Ibu kok wes melecehkan seorang mahasiswi di hadapan para Ibu terhormat ini” gumam Mbakyu Ge.

“Mbokyawou (sebaiknya)  kalau jadi istri pejabat, jangan merasa lebih, iniloh aku istri pejabat, kamu itu bukan siapa-siapa, jadi jangan sok ” tiba-tiba kalimat demi kalimat pilu nelongso hadir tanpa di undang. Genduruwo pilu datang menghampiri.

“Mbokyawou ojo petantang petenteng (sebaiknya jangan berlagak), lah wong yang menjabat suaminya, kok yawou Ibbbu yang besar kepala tho?” ohohoh…

“Oh..oh.. kamu ketahuan” senandung pilu Mbakyu Geudebleh ngikuti lagunya Oh Oh Kamu Ketahuan Pacaran Lagi.

“Ketahuan sifat asline pancen elek tenan (jadi tahu sifat aslinya jelek)” senyum sumringah Mbakyu Geudebleh, memungut hikmah dari jamuan indah, terindah yang akan selalu diingatnya, bahwasanya, jabatannya sebagai mahasiswi doktoru-pun, tak luput dari celaan dan hinaan.

 

Ah, jabatan terkadang membuat Mbakyu Geudebleh merasa tidak layak mendapat perlakuan itu, juga membuat Ibu Adidaya berbuat seenaknya seperti itu. Jabatan oh jabatan. Jabatan bisa membuat seseorang kalap euforia dibuatnya. Membuat lupa sampai dengan sapaan ramahpun menjadi kipratan leceh yang memilukan.

 

Mbakyu Geudebleh terlonjak dari ketertegunannya beberapa saat, dan lalu memandangi Ibu manis, bertahi lalat yang ada di depannya yang dipertemukan pada jamuan lain, yang juga istri pejabat yang hobinya menulis itu.

Ibu ini tersenyum hidmat, lalu…

“Saya sedang nulis buku tentang Kalimantan, tapi belum juga kelar-kelar” suara ramah Ibu pejabat dari suaminya yang sedang berjabat dengan ITTO Yokohama ini.

 

“Wah tak dungake yoo Bbbuuuu (saya doakan), semoga segera bukunya kelar” medok Jawa suara Mbakyu Geudebleh menanggapi eksplenasi Ibu pejabat ini.

“Saya lagi cuti  dulu Mbak Ge, demi suami, tapi doakan ya, buku tulisanku segera terbit” jawab mantab Ibu manis ini mengakhiri percakapan di acara barbeque para warga kehutanan dua tahun lalu di sebuah sungai ternama, di belahan kota Tokyo nan indah.

 

TOKYO, 15 September 2008

Hikmah dua tahun lalu yang baru mampu kutulis dengan senyum.

 

 

October 29, 2008 - Posted by | Mbakyu Geudebleh

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: