Bismillahirohmanirrohim

Just another WordPress.com weblog

September : Doktor Wanita Ahli Tomat, Siapa Takut???

“Doktor Wanita Ahli Tomat, Siapa Takut?”

 

Kesibukan lab membuat wanita berdarah Kalimantan ini jarang ikutan kumpul dengan warga Fuchu Koganei. Sangat jarang melihatnya di kerumunan FK. Tetapi sangat sering melihatnya di kerumunan tomat-tomat hasil riset unggulan dari percobaan riset S3 nya .

 

“Untuk mencari  buah tomat yang benar-benar bergizi dan berpenampilan terbaik” katanya dalam seminar SAST 2008 Juni 2008.

“Apa tidak berbahaya tomatnya dengan banyak treatment seperti itu?”komenku lugu tur gugu.

“Tidak Mbak, tomatnya masih enak dan aman untuk dikonsumsi walaupun sudah mendapatkan treatment macem-macem dari riset saya” argumennya kuat, lalu mengalirlah data-data penelitiannya yang disajikan dengan power point sangat cantik dan elok.

 

Kebiasaan japrinya membuatku terharu. Dari seluruh warga Fuchu Koganei yang rajin menjapri dari setiap tulisan yang aku posting adalah Mbak Janet. Ibu dosen dari salah satu Universitas ternama di Kalimantan ini, selalu mengirimkan pesan komentarnya secara japri padaku, hampir dari setiap postinganku yang menggelitik hatinya.

 

“Mbak, di Indonesia, wanita setelah menikah dan menjadi gemuk, itu pertanda rasa aman di rumah tangganya”

“Kan sudah laku ini, jadi ya sudah, santai saja, badan gemuk gak masalah. Yang jadi masalah adalah yang belum laku alias masih pada gadis dan berbadan gemuk” pembenaran seorang sahabatku yang mengatakan, bahwa kegemukan yang diderita olehku adalah hal wajar karena sudah menikah dan punya anak.

 

“Di Jepang, wanita yang gemuk itu identik beo eh bego” kata Sensei labku nyerocos mengatakan bahwa badan yang gemuk membuat malas bergerak.

 

“Peneliti wanita dari Amerika, tidak sedikit yang berbadan duombreng guede bianget kayak drum” komen teman labku yang lain, yang banyak menjumpai wanita Amerika gendut yang juga reseacher sejati di lapangan.

 

“Kalau di Philipine, wanita gendut artinya dia berbahagia menikmati hidupnya setelah menikah” argumen sahabatnya Mbak Janet padaku di suatu email panjangnya.

 

Saat-saat mencekam lainnya, kami sering berkirim email japri, isinya tentu rahasia, tetapi email-emailnya sangat memotivasi perjuangan demi perjuangan menghadapi makhluk “kesayangan” bernama disertasi.

 

“Mbak, file disertasinya rubah saja namanya dengan Al HIdayah, supaya lebih sejuk saat membuka isi filenya” saran seorang sahabat mencoba memotivasi agar bersahabat dengan makhluk kesayanganku itu.

 

Kampus Base, Koganei TUAT, akan kehilangan satu wanita cantik dari Indonesia yang ulet berjuang meneliti tomat. Tetapi Indonesia akan menatap bangga atas keberhasilannya menyelesaikan doktornya dengan sukses. Tiga tahun menyelesaikan doktor bukan menjadi syarat utama, kecerdasan dan keteguhan hati menyelesaikan sekolah.

 

“Tidak tamat tiga tahun, juga tidak apa-apa Mbak, kita-kita semua juga pada perpanjangan study kok, santai saja. Kita-kita semua merasakan masa perpanjangan study dengan rasa yang hampir sama. Penghinaan dari Sensei lab juga, bukan hanya Mbak yang mengalami, aku juga, kita-kita semua juga mengalami, Mbak nggak sendirian kok. Negara berkembang kayak Indonesia, di mata Sensei Jepang, para mahasiswanya, sepintar apapun tetap saja nomor ke sekian. Urutannya memang begitu. Sabar-sabar saja menjalaninya” nasehat bijaknya berluncuran lewat email rangkuman yang aku simpulkan.

 

“Mbak Janet, aku bahagia bisa berfoto saat dikau di wisuda 17 September 2008 lalu. Bahagia bisa menjadi saksi, seorang doktor wanita, berasal dari negara berkembang Indonesia. Doktor wanita, seorang dosen pula di Indonesia, seorang wanita kuat yang perkasa mandraguna ilmunya” batinku dengan kebanggaan meruah.

Ibu pertiwi akan tersenyum saat menyambut Mbak Yanet di Kalimantan saat mendarat sehari setelah perjalanan Narita tanggal 27 September 2008.

 

Aku bangga bisa mengenal Mbak Yanet. Bangga memiliki sahabat seorang doktor wanita yang handal berasal dari Pulau Borneo ini.

“Tunggu aku di Borneo Mbak, aku akan nengok dirimu dan famili kesayanganku orangutan di sana”.

“Salam sukses, sampaikan regardku pada famili di Kalimantan, katakan bahwa reseacher gendut dari Indonesia yang sedang semedi di TUAT, titip salam kompak buat para orangutan Kalimantan nan bahagia, disempitnya habitat karena kebakaran hutan dan ilegal logging yang tiada pudar dari Pulau besar dengan tiga negara berada di dalamnya ini”.

 

Ah Mbak, tiada putus memberi ikatan salam berpisah ini dalam seikat tulisanku yang tak berarti ini. Tetapi satu hal kebanggaanku, penelitian sangat detail tentang tomat, mengantarkan wanita cantik ini menjadi wanita dengan gelar doktor alumni Tokyo University of Agriculture and Technology tahun 2008.

“Doktor Wanita Ahli Tomat, Siapa Takut!!!”.

 

TOKYO, 23 September 2008

Special buat Mbak Janet.

 

 

October 29, 2008 - Posted by | Mbakyu Geudebleh

1 Comment »

  1. Hihihihi…aku ini gemuk juga tapi apa boleh buat padahal sudah olah raga banyak, makan juga tidak banyak dan sudah konsultasi. Masalahnya dokterku tidak mau kasih pil diet.

    Comment by juliach | December 20, 2008 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: