Bismillahirohmanirrohim

Just another WordPress.com weblog

Lebaran Idul Fitri di KBRI Tokyo 2008

“Lebaran Idul Fitri di KBRI Tokyo”

 

Lebaran ke empat Mbakyu Geudebleh di Jepang. Lebaran yang syahdu karena pada tanggal 1 Oktober 2008 hari Rabu, seluruh warga Indonesia melakukan sholat Ied berjamaah di Sekolah Republik Indonesia. Tidak seperti satu tahun yang lalu, jamaah sholat Ied tahun ini tidak dilakukan dua kloter, alias dua kali sholat. Tahun ini hanya satu kali sholat Ied saja, tetapi jamaah tetap membludak sampai terlihat dari kejauhan, Mbakyu Geudebleh berusaha masuk gerbang SRIT dengan tergopoh-gopoh, sepuluh menit lagi sholat Ied akan dimulai.

Segera bergegas mencari tempat.

“Ketoke luweh apik nang jobo wae (Sepertinya lebik enak  sholat di luar gedung saja)” batin Mbakyu Geudebleh mencari posisi koran yang bisa digunakan untuk alas sholat.

“Mbakyu, sebelah sini saja” tiba-tiba suara merdu menarik perhatian Mbakyu Ge.

Ah rupanya Mbak Liling dengan Umar Kun.

“Wah, matur nuwun sanget ki (terima kasih banyak nih)” sambut Mbakyu Ge dengan segera mendekat dan mengesun pipi cup kanan, cup kiri pada pipi Mbak Liling dan putranya yang ganteng berusia sepuluh bulan itu.

“Nikmatnya ya, sholat di lapangan basket SRIT, hehehe…kapan lagi sholat di Lapangan Basket begini. Tuh, Pak Atase Pendidikan dua shaf di depan kita” komentar seseorang yang duduk di sebelah Mbak Liling.

 

“Assalamualaikum …” sapa ramah suara Mbak Inang dari arah belakang. Mbakyu Geudebleh segera memalingkan wajah mengikuti arah sapaan suara yang datang.

“Waalaikum salam warohmatullahiwabarokatuh Mbak Inang, wah cuantik sekali panjenengan hari ini, waduh, saya  yoo kelupaan bawa sesuatu untuk anak panjenengan. Waktu buka puasa terakhir di SRIT saya bawa lhoh Mbak” sapa Mbakyu Geudebleh tiada berhenti. Padahal Mbak Inang hanya menyapanya dengan satu kalimat.

 

“Oh…ini yang nulis di milist FLPJ itu ya, alhamdulillah, bisa ketemu dengan Mbak, senangnya” sapa ramah suara merdu pemilik wajah cantik dengan bros pink menyemat cantik pula. Pemilik suara tersebut belakangan diketahui namanya adalah Mbak Kidung Indah. Wah nama yang cantik, secantik orangnya, semerbak dentingan pujian menghampiri batin Mbakyu Geudebleh.

“Lhoh, siapa yang gendut itu di topik tulisan Mbakyu Ge? Mbakyu tidak gendut kok, hanya berbadan besar saja” sapa ramah Intan Permata, yang ternyata anggota milist FLPJ juga.

“Coba merapat ke sini, sasin toru yo (mau ambil foto ahh)” senandung Mbak Liling menangkap event kopi darat dadakan tak disangka tak dinyana dua shaf itu terdiri dari shaf depan Mbak Liling, Mbakyu Ge, dan shaf kedua Mbak Inang, Mbak Kidung Indah dan Mbak Intan Permata.

Subhanallah, kebahagiaan yang tak terduga. Pengobat duka tak berjumpa dengan sanak saudara di Indonesia, tetapi bertemu dengan sanak saudara di rantau.

Buat para gakusei (mahasiswa) di Jepang, bagi mereka teman bukanlah teman, tetapi menjadi saudara. Sebagai sesama perantau di negeri gempa ini, kekuatan silaturahmi memang benar-benar memperpanjang usia.

 

“Kenapa Pak Atase Dikbud tidak sholat di lantai dua dekat Imam? ya?” bisik Mbak Liling.

” Mungkin beliau telat, jadi sholatnya di halaman parkir mobil sekaligus lapangan basket ini Mbak Liling…”

” Ndak seperti pejabat yang lain po yooo… mestinya kan sudah ada tempat khusus pejabat untuk sholat bahkan diberi nama” bisik Mbakyu Ge lagi.

“Mungkin di Jepang beda Mbakyu, atau Pak Atasenya yang rendah hati saja, mau membaur karena beliau telat datang?” bisik-bisik menjelang sholat Ied. Dasar Emak-emak, hobinya ngerumpi, yang baik dirumpiin, apalagi yang buruk?

“Pak Atdikbud itu, menjadi Professor di Universitas Andalas di usia empat puluh dua tahun, dan istrinya menjadi  professor juga di universitas yang sama, di usia empat puluh enam tahun” Mbakyu Ge mulai menambah porsi bisikannya supaya lebih bergizi.

 

Tak lama dari itu, akhirnya semua menjalankan sholat Ied itu dengan syahdu, di bawah tenda merah yang direntang di bawah tempat bola lapangan basket, di sepoi angin dingin musim gugur di Tokyo, di niatkan lillahitaalla menjalankan sholat Ied.

 

Acara selanjutnya adalah berjalan kaki menuju KBRI di Wisma Duta, tempat kediaman Pak Duta Besar.

“Ada jamuan makan untuk dua ribu orang, datangya, kami sudah membumbui ayam dua minggu lalu dan disimpan di Frezer, lontong sudah dibuat satu minggu lalu, sudah masuk kulkas, hari H tinggal potong-potong saja” penjelasan panjang Ibu Gemahilmu, satu-satunya Atase Kehutanan di seluruh dunia yang wanita itu.

“Lah yo atase kehutanan, memang hanya ada di satu negara saja di seluruh dunia, dan entah kenapa di Jepang pilihannya” bisik Mbakyu Ge senyum salut dan takjub atas kecerdasan dan kekuatan karir Ibu Gemahilmu.

 

“Antrian pintu pertama dan kedua, hemmm…..antri yang bagian mana yoo sing wenak, wes lemes bar jalan (sudah cape abis jalan) seko SRIT tekan KBRI selama duapuluh menitan aruitte (dari SRIT sampai KBRI  20 menit jalan kaki” batin Mbakyu Ge, kepengelan. Kakinya yang geude, dan badannya yang geude, keliatan lelah dengan jarak tempuh itu, tetapi karena jalan kakinya rame-rame ya, dibuat senang dan santai.

 

Hidangan di pintu satu adalah ratusan mangkuk kecil berisi ketupat sepuluh potong, bahkan ada yang hanya tujuh potong, sambal kentang dengan potongan dadu sebanyak delapan dadu kentang, lalu mengambil mangkuk kertas itu, melanjutkan antri untuk menerima kuah sayur lodeh.

Saat mendekati pemberi kuah sayur lodeh, tangan Mbakyu Ge menyorongkan mangkuk berisi lontong itu, menunggu di siram. Srem…srem…. lalu tersiramlah mangkuk di tangan Mbakyu Ge dengan satu centong siraman sayur lodeh dari Ibu penjaga sayur.

Lalu Mbakyu membalas siraman sayur lodeh itu dengan senyum, bermaksud,

“Tolong tambah lagi sayurnya, buat saya, siraman satu centong kecil itu sedikit buat badan saya yang geude ini” batin Mbakyu Ge.

Dan tangan Mbakyu Ge, sengaja tidak bergeser dari depan Ibu pemberi kuah sayur lodeh itu.

Tetapi telepati yang dilancarkan oleh Mbakyu Ge ternyata kurang sakti, terbukti bahwa si Ibu dengan cueknya, membiarkan tangan Mbakyu Ge di depannya, tanpa menambah sayurnya  ke mangkuk Mbakyu.

“Oh…ternyata hanya cukup satu centong saja, perintah menuangkan sayurnya” gelitik Mbakyu Ge, merasa gagal bertelepati dengan Ibu pemberi sayur lodeh lebaran di Tokyo saat mendung itu.

Bismillah, masih ada antrian selanjutnya yaitu krupuk, semoga bisa ditambah, tidak hanya satu buah” batin Mbakyu Ge.

Telepatinya dikabulkan Tuhan, karena krupuk-krupuk di depannya ternyata tidak dijatah seperti lebaran tahun lalu 2007, tetapi dibiarkan mengambil sendiri.

“Duh, bahagianya daku, nuwun Ya Allah (terima kasih Ya Allah)” batin Mbakyu Ge dengan senyum, merasa sukses, telepati yang dilakukannya di hari lebaran 2008 itu dengan menikmati menu masakan ibu-ibu KBRI Tokyo tersebut.

Alhamdulillah…. Alhamdulillah…kopi darat dengan lima orang FLPJer dan menikmati satu mangkuk menu KBRI. Lengkap sudah kebahagiaan dengan Mas Amung dan buah hati mereka bersama saat lebaran kali ini.

Matur sembah nuwun atas semua kebahagiaan hari Ied ini Ya Allah.

 

Selamat Idul Fitri 1429 H/2008

Mohon Maaf Lahir dan Batin.

 

TOKYO. 1 Oktober 2008.

Dewi, Soni, Fira.

 

 

 

October 29, 2008 - Posted by | Mbakyu Geudebleh

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: