Bismillahirohmanirrohim

Just another WordPress.com weblog

Agustus : Senyum Kok Mesti Tulus, Heehh!!! Aneh !!!

Senyum Kok Mesti Tulus, Heeh!! Aneh!!”

Tujuh belas Agustus 2008 di Tokyo meriah juga rupanya. Beraneka lomba diadakan KBRI Tokyo untuk memeriahkannya. Saat pembagian hadiah tiba, aku tertegun, melihat Mbak Hara menerima hadiah juara tenis meja ganda putri, sambil menggendong putrinya yang lucu. Jilbabnya melambai-lambai diterpa angin, senyum damainya terlihat tulus menerima ucapan selamat dari pejabat di KBRI, yang hampir seratus persen hadir kala itu.
Senyum tulus seperti itu belum bisa kurangkai dalam wajahku yang tidak manis ini. Apalagi untuk menyunggingkan senyum tulus nan lembut itu.
Kibaran jilbabnya buatku seolah mengatakan,
“Ini loh, biarpun berjilbab, aku juara tenis meja juga”
“Aku juga ibu seorang putri endut yang cantik”
Hemmm…
Suka melihat wajahnya yang tulus, cantik, dengan jilbabnya yang berkibar seperti prestasinya yang juga berkibar.
Jilbab ternyata bukan penghalang beraktifitas dalam
olah raga. Ah tapi bukan sudut itu pula yang membuatku tertegun. Mbak Hara bukan pelajar di Jepang, dia mendampingi suaminya yang sedang sekolah. Tetapi banyak hal menawan yang aku lihat pada Mbak manis bermata lembut ini.
Kata-katanya selalu sopan penuh kelembutan. Hal yang nggak bisa aku lakukan pada orang lain, berkata menduai-duai, berlembut-lembut kayak kapas. Wes, jauh banget pokoknya.
Tetapi ternyata menjadi wanita lembut, sejuk, kata-katanya indah dan santun, boleh juga ditiru.
Watak Sumatera nan keras, jadi kebanggaanku di
hari kemerdekaan ini.
“Siapa berani aku?ayo lawan, sapa takut dengan Lu!!!”
“Lu pikir, cuman Lu yang kerja apa?semua juga kerja di bidangnya masing-masing, tapi Lu paling tampak gaya deh! senep gua!” kalimat-kalimat itu cocok buat ekspresiku yang berapi-api.
Ternyata jadi wanita yang lembut itu, bagus juga kayaknya. Bukan
hanya wanita yang lembut perkataannya tapi juga lembut hatinya.

“Ah, kita kan sesama Sumatera, maaf-maaf saja ya Mbak kalo omonganku ini nggak cocok” ini adalah gaya bahasa orang Sumatera yang ceplas-ceplos.
Sebagai sesama “Wong” Sumatera, aku hanya nyengir. Karena ternyata kami sama. Setali tiga uang, sesama wong Sumatera dan ceplas-ceplos.

Ah, ternyata, saat aku dapat ceplosan bernada nggak enak, sakit juga hati ini.Artinya, saat aku ngomong ceplas-ceplos polos pada orang lain, duhai Allah, tentu dia sakit sekali hatinya. Astagfirullah. ..Hanya pembenaran saja yang selalu aku buat, bahwa, ya begini inilah wong Sumatera. Semuanya jelas, tanpa tedeng aling-aling.
“Tapi masalahnya orang Jawa yang ngomong dan kalimatnya jelek juga banyak”
“Siapa pula Bah!!! yang buat hati berasa sakit, kenapa pula sekarang jadi sensi begini?mau datang bulankah!!”
Ah jadi bukan wong Sumatera atau orang Jawanya. Tetapi adalah individunya.

Ternyata tetap lebih enak mendapatkan ucapan yang bagus dari suara yang lembut, juga senyuman yang tulus, seperti yang kupandangi dari wanita dengan jilbab berkibar itu menerima hadiah bersama seorang ibu dari KBRI yang tidak berjilbab. Si ibu dari KBRI itu sedikit heboh karena tertawa-tawa senang menerima hadiah sampai badannya bergoyang-goyang. Badan si ibu di balut kebaya putih, kain sutra merah, sesungguhnya sudah cukup keren penampilannya, hanya saja, tawanya nan riang merubah ketertegunanku saat memandang Mbak Hara yang berada di sebelahnya, yang juga tersenyum lebar, berjilbab dan menggendong peri pujaan hatinya.

“Si ibu tadi sudah kawin belom yah,…” suara nakal muncul tanpa ba-bi-bu.
“Loh, apa hubungannya dengan kawin dan tidak?apa pula perdulimu?” bantah suara aneh di gendang telinga yang suka menangkap makna aneh ini.
“Maksudku, dengan sering senyum tulus, maka jodoh jadi dekat?bener- bener edan kau !!!” gelitikan lain muncul.
“Tak begitu lah, orang judes kayak aku, toh ternyata cepat pula datang jodohnya!!!”

Otakku saja yang eror sepertinya. Tetapi sungguh, menjadi wanita yang berbudi bahasa baik, lembut, penyayang, tulus, bahkan memiliki senyum setulus Mbak Hara menjadi impianku juga. Pingin juga dapat penghargaan bahwa senyumku benar-benar tulus, benar-benar Lillahitaala. Penghargaan bukan dari sesama, tetapi dari yang memiliki bongkahan senyum sedunia, di atas sana.

“Loh, katanya hari merdeka, apa saja boleh dong diekspresikan sebagai rasa kebebasan?kenapa kamu malah mikir mau jadi wanita lembut segala?”

“Emangnya nape kalo gue mau jadi wanita lembut? Lu pikir cuma Mbak Hara doang yang bisa ?aku mau segera berguru padanya, apa kiatnya senyum tulus dan berbicara santun seperti dia” tarik-tarikan kalimat itu terus saja berseliweran.

“Yang benar saja, serius mau jadi wanita lembut?” tantangan suara lain datang entah dari mana, datang mengejek.

“Setidaknya aku menyukai wanita yang lembut, dan tersenyum penuh ketulusan seperti Mbak Hara” komentar sisi lain dari otak yang berputar-putar mencari makna merdeka buat Indonesia di tahun 2008 yang ke 63 ini. Kemerdekaan bisa banyak ekspresi. Seperti aku berekspresi terhadap senyum tulus Mbak Hara pada siang, tujuh belas Agustus 2008 di Wisma Duta KBRI Tokyo ini.
“Senyum kok mesti tulus, heeh!! aneh!!” kalimat itu menggumam dalam hati.
“Kenapa aneh? belajar tersenyum juga bagian pembelajaran terkecil rupanya yang mesti kuadopsi dari senyumnya Mbak Hara” sapaku melemah dan berusaha mengakhiri siang terik ini dengan menu spesial KBRI.

Menu yang tak terlupakandeh, sate ayam, bakso plus siomai, pecel, dendeng kering balado, ikan gurameh dengan irisan tomat, cabe rawit, urap dengan daun kemangi yang sudah tiga tahun setengah tak kunikmati si daun dengan rasa mint itu, es gula jawa lemon, es lemon, es krim, es teler, aneka jus, dan teh Jepang. Tak ketinggalan kue pastel, bolu lapis legit, dan sus isi ikan. Menu termewah dan termegah selama aku melewatkan upacara tujuh belasan selama empat kali di KBRI ini.
Yokkatta ne (Alhamdulillah ya…).

Senyumku mengembang. Pasti senyum tulus, karena perut padat seratus persen.

TOKYO, 17 Agustus 2008

October 29, 2008 - Posted by | Mbakyu Geudebleh

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: