Bismillahirohmanirrohim

Just another WordPress.com weblog

Agustus : Dek! Lanjutkan Langkah

“Dek! Lanjutkan langkah”

 

“Wreeeet…wreeeeeettt” hp ku yang bernada getar memberi kode untuk diangkat segera.

“Teh, aku mundur dari UGM, udah nggak kuat lagi Teh…” sapa suara lemah di ujung telepon dari Indonesia.

“Kenapa nggak bertahan Dek!!!” kataku kaget dan ikutan lemas mendadak. Dek, adalah adik angkatku yang kuliah di UGM S1, tetapi karena memiliki masalah komunikasi dengan dosen pembimbing skripsinya, lalu hidup perkuliahnnya jadi terkatung-katung.

 

“Bersabarlah lagi, untuk bisa lulus Dek!!!” kataku masih berusaha meluruskan niatnya.

Udah Teh, sabarnya masih bisa, tapi aku sudah muak dengan dosenku, udahlah, aku ambil status 136 sks nya saja, lalu kalo ada rejeki mau pindah universitas di Jakarta atau Tangerang saja” kilahnya lagi.

Tahun 1996 Dek masuk UGM, jurusannya cukup berat yang dipilihnya, tetapi dengan otaknya yang juga sangat pintar maka tidak ada kekuatiran apapun.

Setelah dijalaninya sejak 1996 sampai 2008. Hahhhh!!! semoga aku tidak salah menghitung tahun, rupanya Dek memang sudah melewati batas akhir berada di kampus Ndeso kami itu.

Kampus Ndeso, yang merakyat, yang sekarang harga SPP nya sudah ikutan melambung tinggi bak sekolahan swasta di Kota Pelajar itu.

Dua belas tahun untuk menyelesaikan S1 nya, ternyata belum juga bisa berakhir mulus menjadi seorang sarjana jebolan UGM.

Ternyata, pintar saja tidak cukup untuk lulus dari UGM. Apakah jiwa Ndesonya UGM belum bisa merasuk dalam hatinya?sehingga berdampak tidak lulus?

 

Kenapa pula, si dosen pembimbing sampai nyangkut berurusan dengan Dek. Apa yang terjadi, adalah hal panjang. Bahkan telah aku beri solusi agar ganti dosen pembimbingpun ternyata tak berjalan mulus.

Untuk lulus UGM, ternyata modal pintar saja tidak cukup.

Ah, kenapa mesti terjadi pada Dek yang pintar, selalu baik, dan selalu penolong pada teman-teman seangkatan kuliahnya?

 

“Udah ya Teh, gitu aja, aku hari ini resmi sudah bukan mahasiswa UGM lagi…” suara telepon ditutup dengan tergesa, mungkin pulsanya sudah nyaris habis.

“Ah, sayang sekali perjuanganmu Dek. Tapi ini juga bagian dari pilihan hidup.Lanjutkan terus langkahmu Dek! UGM bukan segala-galanya. Semoga langkahmu tambah lebar walau tanpa embel-embel UGM di belakang namamu”.

“Semoga dosen pembimbingmu itu suatu hari tersadarkan, betapa kekerasan hatinya dalam membimbing, bisa berdampak pada masa depan seorang mahasiswa bimbingannya, nauzubillahiminzalik. Jauhkan sifat “keras” itu saat membimbing mahasiswaku Ya Rob…”.

“Permudahlah urusan orang lain, insya allah, kita juga akan mendapatkan kemudahan dalam urusan kita kelak”.

 

TOKYO, 13 Agustus 2008.

Nderek berduka tanpa bisa berbuat apa-apa.

 

October 29, 2008 - Posted by | Mbakyu Geudebleh

1 Comment »

  1. RALAT

    nilah nikmatnya menjalani tugas akhir. setidaknya untuk TIDAK cepat menyerah. kelulusan ini merupakan pintu untuk menuju dunia yang jauh lebih kejam lagi. jadi tetap semangat tuk adik mbak

    Comment by ekoadit | November 12, 2008 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: