Bismillahirohmanirrohim

Just another WordPress.com weblog

Misteri Gorden Bergoyang

Gorden Pink, Sendal, Dini Hari

Posted by: “bainah dewi” Fri Aug 1, 2008 4:03 pm (PDT)

“Gorden Pink, Sendal, Dini Hari”
 
Dini hari, jam di pergelangan tanganku menunjukkan angka dua. Heyyy!!!
Mengapa gorden pink kamarku sangat perlahan bergeser menyibak?
Tegang sekali rasanya.
Teteh tertidur nyenyak di sebelahku. Ini adalah kamar kami berdua.Kamar gadis, yang diperuntukkan Emak dan Bapak untuk anak wedoknya.
Heyyy!!!
Gorden pink terus bergeser. Membuka sangat perlahan. Sekujur badanku mulai menegang. Syaraf-syaraf otak berpikir cepat, apa yang mesti aku lakukan.
Ini pasti orang. Ya…ini pasti orang yang membuka gorden pink kamar kami.
Kaca kamar tidur kami mengarah ke luar rumah, jadi siapapun bisa melihat kamar kalau gorden pink ini disibak.
Pelan-pelan serasa ikutan bergerak, aku mendekati arah gorden, beringsut dari tempat tidur sepelan mungkin tampak menimbulkan suara.
“Krekkekkekkkkkkk”
“Duh, dipan jati ini bersuara pula” batinku, dan bersamaan dengan dipan kami yang berbunyi itu, gerakan gorden buatan Emak di kamar  ini berhenti sejenak.
 
Heyyy!!! gorden bergerak  lagi, perlahan menyibak semakin lebar. Ukuran kaca jendela kami dua meter setengah lebarnya dan sudah mulai tersibaksepuluh centi.
Lampu agak temaram, dan gorden terus tersibak, bukan oleh angin, tapi oleh seseorang.
Otakku bekerja cepat.
Ku buka mendadak gorden itu dan lampu kunyalakan mendadak.
“Hupp!!!” bangkit menyibak gorden dan “Klik!!!” tombol lampu kupencet dan menyala terang benderang.
“Heyyy maling….maling. ..maling! !!” teriakku sekeras-kerasnya.
 
Bayangan seorang laki-laki dewasa, tergesa-gesa lari dari depan kamar tidur cah wedok anakke Emak Bapak ini. Segera setelah gorden jendela ku sibak seratus persen, kepala kulongokkan keluar.
“Haaahhh!!! ada sandal yang tertinggal”.
“Teteh…Teteh! !! bangun bangun!!! ada maling, tuh sendalnya tertinggal di depan kamar kita” kataku masih bersuara teriakan seribu watt saking tegangnya.
“Ayo buka pintu, ada sendalnya sebelah yang tertinggal” kataku pada Teteh yang berjingkat kaget nauzubillah.
 
Sejak dini hari itu, kami tidak tidur dan menjelang pagi rumah kami ramai di datangi para tetangga.
Dan ada tetangga yang hafal dengan sendal yang tertinggal sebelah di depan kamar tidur anak wedoknya Emak Bapak. Sendal mahal, tebal hitam, seperti sendal Jawa, yang tidak nyepit, tetapi seluruh ibu jari bisa masuk bebas ke dalamnya. Tebal tiga senti meter, Terkesan  mewah, kinclong dengan semiran hitam mengkilap, dan pasti pemiliknya membeli dengan harga sangat mahal dengan kualitas sendal seperti itu.
“Loh Teh, itu kan sendalnya Pak Guru Imron” kata Surinem tetangga dekat kami.
“Hahhhh!!!!” serempak aku dan Teteh berteriak tak percaya.
 
TOKYO 1 Agustus 2008
Mengingat kenangan jengkel saat usia tujuh belas tahun, di rumah hijau Lampung Selatan.
Nama bukan nama sebenarnya.

 
 
 

August 28, 2008 - Posted by | Catatan Harian |

1 Comment »

  1. he he hehe… cerita itu pernah gw denger waktu kita minum es blewah di kantin kampoes kita …. pada waktu elo cerita itu dan saat ini gw baca komentar gw tetep sama ..”berani beneer loe … harusnya tuch maling mesti ngerasain jurus2 elo ya…”

    Comment by rina | October 28, 2008 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: