Bismillahirohmanirrohim

Just another WordPress.com weblog

Evi, kenta Kun, We love you more than you know

Evi, Kenta Kun, We love you more than you know

Posted by: “bainah dewi”

Mon Jun 16, 2008 2:48 pm (PDT)

“Evi, Kenta Kun, We love you more than you know”

Susah mendeskripsikan dengan dengan kata-kata dan untaian kalimat. Karena di sini sarat air mata. Air mata haru, air mata sedih, air mata duka, air mata kesal, air mata ingin mendampingi tetapi juga inginnya tidak mengganggu. Ingin terus mendampingi tetapi juga dilema karena banyak hal yang mesti dipersiapkan dan diperjuangkan.
Air mata itu berwujud senyum yang senantiasa merekah dari seorang sahabatku, yang tanggal 20 Juni 2008 ini akan bergeser negara dari Jepang ke Indonesia.

“Siapa sih yang nggak mau mendampingi sampai selesai masa studi doktor dari suamiku? Aku lah orang yang paling ingin selalu mendampinginya bersama Kenta Kun, dan melihat Uda wisuda dengan gelar doktor nya” senyap suara seraknya membuat mataku semakin berkabut.

“Kami masih ingin di Jepang, tetapi terlalu banyak hal yang mesti Uda lakukan dalam perjuangannya, dan kami memutuskan untuk pulang lebih awal” sayup-sayup tetapi tetap tegas kalimat demi kalimat itu mengalir. Tatapanku semakin mengabut menerima untaian kalimat-kalimat suci seorang istri yang setia, seorang istri yang taat pada suaminya, seorang istri yang masakannya enak sekali, istri yang dengan ikhlas membesarkan seorang buah hati kebanggaan lahir dan batinnya.

“Aku bisa bekerja di sini, tetapi Kenta Kun makan nya susah luar biasa, rasanya tidak tega membiarkannya di penitipan anak” kesah Ibu yang selalu tersenyum lebar, berjilbab menarik dan berkaca mata ini dengan terpekur. Siapapun akan bilang kalau engkau, sahabatku, adalah wanita yang kuat dan terbuka, lagi menyenangkan.
“Ya, sudah lah, semoga Uda bisa lebih konsent setelah kami pulang” katanya lebih mengambang dalam tatapan sedikit kosong.
“Tetapi, Kenta Kun baru bisa tertawa-tawa lepas setelah Papa nya pulang dari lab, lalu bermain-main dalam candaan, anak usia  enam bulan ini, sudah bisa memberikan nikmat memilikinya, bahkan sudah bisa diajak bercanda oleh Papanya, bagaimana nanti ya, kalau kami sudah di Indonesia” pelan sekali kalimat itu diucapkan.
“Kan masih ada Om-nya Kenta Kun, di Indonesia untuk diajak bercengkrama selama Papanya di Jepang” kataku berusaha menepis rasa senyap yang tiba-tiba menelusup masuk dalam pembicaraan kami.
“Iya sih, tetapi lihat lah bedanya…” dan aku benar-benar melihat perbedaan itu dengan kasat mata. Saat Uda datang dan memegang Kenta Kun, si junior nan ganteng itu bisa langsung tertawa terpingkal-pingkal gaya bayi, di tangan Papa nya.

Ah, pemandangan ini sungguh nikmat, sungguh indah dan membahagiakan.
Biarlah, biarlah, pemandangan seperti ini terus ada dalam kenangan seorang Ibu dengan anak laki-laki usia enam bulannya yang gagah itu.
Semoga kenikmatan bercanda, mengisi waktu-waktu dalam detik menit dan jam pertumbuhan seorang Kenta Kun, masih bisa di dekap oleh sang Papa, dalam kilasan dering telepon dan sapa indah seorang Papa, yang sedang berjuang mati-matian untuk menyelesaikan program doktornya.

Tidak banyak yang bisa lulus dari program doktor di Jepang ini, dengan mudah. Semua mengalami wujud perjuangan lahir batin yang tiada kalah hebatnya. Uda juga Evi saat ini sedang mendapat nikmat tempaan dahsyat itu, juga aku, juga Kang Tatang, juga Kang Aep. Kuatkan tangan berpegang satu dengan lainnya, karena itu menambah kekuatan hati dan batin untuk terus berusaha menghalau rintangan yang ada.

“Belanda sudah dekat, mesti di hadapi” petuah dan istilah Doktor Suripto Dwi Yuwono dalam istilahnya yang mendeskripsikan masa period doktor di tahun ketiga.
“Belanda harus kalah!” istilah beliau untuk masa period doktor setelah tahun ketiga.
“Akhirnya Indonesia Merdekka!” istilah beliau setelah gelar doktor disandangnya.

Yes, Evi, Kenta Kun, we love you more than you know.
Selamat berjuang buat Evi dan Kenta Kun, doakan Papa Ferzet segera selesai program doktornya. Air mata doa seorang istri, seorang ibu, telah banyak membuat hal-hal yang terasa dalam asa manusia tidaklah mungkin, menjadikan hal yang mungkin.
Tidak ada yang tidak mungkin menurut Allah SWT.
Seperti istri Nabi Ibrahim, Siti Hajar, yang mencari air untuk putranya Ismail, dengan air mata doa nya berputar-putar dari Bukit Shofa ke Bukit Marwah untuk mencari setetes air. Dan yang diperolehnya, justru dari jejakan kaki anaknya Ismail kecil yang dalam keadaan bayi, mengalirlah air zam-zam yang menjadikan  berkah kehidupan hingga saat ini.

Peluk Cium buat Vi dan Kenta Kun

TOKYO, 17 Juni 2008

June 17, 2008 - Posted by | Catatan Harian

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: