Bismillahirohmanirrohim

Just another WordPress.com weblog

Anak Angkatku Lulus SMU

Anak Angkatku Lulus SMU

Posted by: “bainah dewi”

Sun Jun 15, 2008 5:01 pm (PDT)

“Anak Angkatku Lulus SMU”

Tanggal 14 Juni 2008 kami menelpon ke Indonesia dan bertanya apakah anakku, lulus sekolahnya.
“Mbak Leha, sekolahnya lulus nggak?Ade doain terus loh Mbak tiap hari” kata Fira chan membuka pembicaraan via telepon dari Jepang ke Indonesia.
“Alhamdulillah De, Mbak lulus” jawab Solehat yang dipanggil namanya dengan panggilan Mbak Leha oleh anak kandungku.
Aku yang berada di samping Fira chan menarik napas lega. Bagaimana tidak?aku tidak mendampinginya saat belajar, tidak menemaninya saat menghafal pelajaran-pelajaran . Sama sekali tidak ada andil untuk mempersiapkan keberhasilannya karena kami terpisah negara sejak dua tahun lalu.

Solehat, dua tahun lalu sempat menapakkan kaki nya di negeri Sakura ini. Menikmati dua musim, musim dingin dengan melihat langsung salju di Niigata, dan musim Sakura dengan banyak berpose memegang bunga kebanggaan warga Jepang ini.
Sayangnya, keberadaannya sedikit mirip dengan Sakura di Jepang, yang datang hanya beberapa hari saja lalu kembali sang bunga berubah menjadi daun seperti sedia kala.

Solehat hanya bisa bertahan dua bulan di Jepang. Urusan administrasi keimigrasian Jepang membuatku menyerah untuk mempertahankannya tinggal di kota paling mahal sedunia ini. Inginnya enam bulan, apa daya hanya mampu melihatnya dalam hitungan hari dan tidak bisa mengajaknya menikmati musim ke tiga dan ke empat di tempat mama angkatnya sedang menuntut ilmu.

Imigrasi Jepang menjadi sangat ketat waktu itu, karena usia Solehat enam belas tahun saat datang ke Jepang. Usia produktif untuk bekerja dan khawatir ada penyelundupan tenaga kerja dengan berbagai dalih. Surat-surat yang diminta imigrasipun tak kunjung selesai. Terlalu banyak permintaan pihak imigrasi Jepang dan membuat suamiku yang di Indonesia kewalahan mengurusnya kala itu. Dan satu kata bulat, Solehat segera saja pulang.

Ah, anak angkatku bisa lulus juga SMU nya. Padahal aku menyekolahnya pada sekolah yang bukan termasuk sekolah ternama. Dan kasat mata sekolah ini memang bukan sekolah number one/nomor satu di Lampung.
Ah, bersyukur saja, bahwa Uluran Tangan Allah lah yang membuat anak angkatku lulus SMU. Tanpa upaya apapun dariku kecuali doa dan doa.

Mengenangnya pagi ini, membuat banyak layar lebar di kepalaku memutar film nano-nano.
Seorang staf lapangan datang ke rumah kami  kira-kira enam tahun lalu.
“Bu, ada anak ketua kelompok tani di hutan dampinganku, ingin lanjut sekolah SMP tetapi tidak ada biaya, ibu mau jadi orang tua angkatnya?” Wahyu, staf lapangan Universitas Lampung yang di tugaskan mendampingi masyarakat sekitar hutan lindung di Lampung itu, memulai percakapannya.
“Anaknya gimana Yu?” tanyaku jujur dan rada bengong kala itu.
“Anaknya pintar ngajinya Bu, hanya ya, begitulah Bu, mereka tinggal di rumah kayu yang di bangun di sekitar hutan dampingan kita. Saya kuatir juga, suatu hari nanti rumah sangat sederhana mereka akan di gusur pemerintah, demi alasan konservasi” tandas Wahyu lagi.
“Kasian Bu, anaknya nangis-nangis minta lanjut sekolah SMP pada saya, makanya saya menghadap Ibu sekarang” timpal Wahyu.

Singkat cerita, kami akhirnya memutuskan memindahkannya dari hutan dan membawa serta Solehat pada gubuk kami yang dibeli suamiku dari Prumnas di Bukit Kemiling Permai. Kami hidup bersama satu atap, menyekolahkannya di sekolah Muhammadiyah sampai akhirnya kami mendengar berita kemarin, bahwa Solehat telah menyelesaikan sekolahnya dengan kata “lulus”.
Alhamdulillah.

“Ma, Leha boleh lanjut kuliah nggak?” tanya Solehat dari telepon hari kemarin.
“Mbak daftar UMPTN saja dan pilih jurusan yang Mbak mau, semoga lolos seleksinya. Kalau di sekolah negeri seperti Universitas Lampung, insya allah Mama masih bisa membiayai kuliahmu, Mbak…, tetapi kalau di swasta kayaknya Mama rada payah, swasta di Lampung sudah mahal sekali” kataku jujur padanya.
Jujur, karena selama masa mendapat amanah jadi orang tua angkatnya, banyak sudah bumbu “nikmat” jadi orang tua angkat seorang anak dari desa di sekitar Hutan lLindung ini.
Nikmat, karena banyak pernak-perniknya mengangkat seorang anak, yang dititipkan langsung oleh Bapak Ibunya Solehat.
Nikmat, karena aku bisa belajar mendidik lebih dini seorang anak langsung di bawah pengawasanku dan sangat-sangatlah dekat untuk membentuknya.
Nikmat, karena ternyata terlalu banyak pelajaran berharga, yang insya allah akan menjadi bekal belajar mendidik anak seumur hidupku, yang sarat dengan hal-hal yang tak pernah terbayang sebelumnya.

Tetapi, di saat aku mengeluh, aku ingat nasehat seorang Lurah di desa dampinganku di Hutan Lindung. Bahwa, “Apakah seorang anak ayam bisa memilih untuk dilahirkan ke dunia ini, dengan bulu warna putih, atau bulu warna hitam putih? atau bahkan tubuhnya tak berbungkus bulu sama sekali. Semua bukan kehendak si anak ayam. Itu semua sudah ada yang mengatur. Jadi, bersabarlah, Allah telah memilihmu mendampingi perjalanan hidup anak angkatmu yang penuh warna itu. Semua merupakan ujian, semoga dengan sabar dan menguatkan kesabaran/ QS.2: 200 akan menjadikannya anak yang solihah sesuai nama aslinya, Solehat.

TOKYO, 16 Juni 2008

June 17, 2008 - Posted by | Catatan Harian

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: