Bismillahirohmanirrohim

Just another WordPress.com weblog

Baju Batik Yogya dan Shubuhan

“Baju Batik Yogya dan Shubuhan”
 
Lagi senang main hitung-hitungan tahun, termasuk dini hari ini, wuih, sudah jam 01.27 pagi.
Aku  mau berkisah nih. Ada satu baju batik atasan saja, sebelas tahun silam yang aku pakai saat menunaikan ibadah haji, dan hari ini 5 April 2008, aku memakai kembali baju itu. Baju berwarna coklat batik, corak hitam, dengan gambar-gambar khas Yogya, seperti sayap-sayap burung, atau apalah, tetapi coraknya kalem dan cantik lah buat para calon jemaah haji waktu itu.
 
Baju itu hari ini, 5 April 2008 di TUAT, kupakai lagi. Ukuran badan masuk, ukuran perut mencembung. Kancing nyaris tidak bisa dikaitkan. Dan ukuran dada juga mencembung, dan kancing masih bisa dikaitkan, tetapi terbuka lagi secara otomatis (wuih, kayak pintu otomatis dikereta Jepang aje). Dikancingkan lagi, eh… terbuka lagi kaitannya. ck…ck..ck…, gendut nih ye (Nggak  niat nyindir sesama wanita gendut ya). Karena aku tahu, di Jepang sedikit sekali wanita Indonesia yang badannya gendut kayak aku. (Whehehe…)
 
Sebelas tahun menuai dua puluh kilo gram berat badan.
“Manstab! ” ini Istilah mantan Ketua PPI Jepang yang sekarang sedang Psdoc di Niigata, kalau beliau memuji sesuatu.
“Sebelas tahun, apalagi yang kau tuai Wie?”
“Ya, baju-baju gedebor, lobok,lebar, yang sekarang aku gemari untuk dipakai, menutup rapi dua puluh kilo pertambahan itu.
“Apakah ada tambahan dalam ibadahmu? setelah sebelas tahun berlalu?”
“Ah rasanya, semakin menurun saja ghirohku”
Jihadku juga menurun. Secara fisik, sukses mensuburkan diri, secara batin, sukseskah dirimu memantapkan iman?
 
Jawabnya  penuh logika, penuh keegoisan, untuk mengurai satu-satu berdasarkan alasan dan sebab. Ah, yang pasti, soal sholat shubuh saja misalnya,
“Shubuhku tidak terjaga dengan baik lagi”
Dengan seribu satu alasan, ya dingin, ya sakit kaki, ya tidur dini hari, ya lembur, ya kelelahan di lab.
Wess… bungkus saja semua alasan itu, dan kemaslah dengan cantik.
 
Tetapi toh, biarpun dikemas cantik, isinya tetap sama,
“Sholat shubuhku tidak terjaga lagi dengan baik, boro-boro dengar azan mau pergi jalan kaki ke Masjid, seperti di Lampung. Wah di Jepang ini, azan ada, kalau diciptakan lewat komputer”
Lagi-lagi dengan alasan,” Tinggal di Jepang mah, nyari asli suara orang yang berazan, ngimpi kali ye”
“Shubuhan ke masjid, jalan kaki ke Masjid, di Jepang mah, ngimpi kali ye”.
 
Setumpuk alasan cantik kukemas dan rangkai, tetapi isinya tetap tidak cantik. Inner beautynya tetap jelek. Kata singkatnya “Shubuhan telat melulu…”
 
Baju batik saat haji ini, sebelas tahun telah ku simpan, dan mencoba merasakan apakah ghiroh ibadahku, masih sama saat mengenakannya.
Ah, baju batik selepas haji ini, kupakai malam ini ke lab, dengan tiada niat apapun awalnya, selain satu hal saja.
“Stok baju setrikaanku habis di lemari…” kataku Burjo (alias berusaha jujur boo).
 
Tetapi apa yang kudapat setelah memakainya? Aku jadi ingat bagaimana dulu aku berjuang untuk menyempurnakan ibadah di Mekkah. Tetapi kenapa sekarang, dalam urusan sholat sholat shubuh saja jadi susah?
“Hemm… bismillah, aku akan jaga sholat shubuhku pagi ini”
Dan begadanglah aku sampai tiba waktu sholat shubuh  waktu  Fuchu Tokyo Jepang.
 
Ternyata performance atau penampilan kadang – kadang perlu juga untuk membangkitkan ghiroh/semangat ibadah. Seperti wajah tak berjerawat, maka iklan obat anti jerawat Clearasil bilang, ” Wajah bersih bukan hal utama, tetapi perlu!”
“Penampilan bukan hal utama, tetapi perlu!” hemm…rada kurang cocok ya.
“Berjilbab dan berbusana muslimah gedebor lobok lebar, bukan hal utama, tetapi perlu!” wah yang ini juga kurang pas padanannya.
“Pakai sorban dan sholat ke Masjid, bukan hal utama, tetapi perlu!” hemmm… rada lumayan.
“Pakai baju batik yang berumur sebelas tahun lalu untuk membangkitkan semangat sholat shubuh tepat waktu, bukan hal utama, tetapi  perlu!” rada lumayan lah. Maksud bukan hal utamanya adalah pakai baju batiknya, bukan sholat shubuhnya.
 
“Tetapi sahabat, bagaimana dengan sholat shubuhmu pagi ini? Apakah tepat  waktu ? .”
 
 
TOKYO 5 April 2008.
05.00 AM
BAINAH SARI DEWI

 

April 21, 2008 - Posted by | Hikmah

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: