Bismillahirohmanirrohim

Just another WordPress.com weblog

31 May 2006/ Fira chan dan Dung beetles

“Fira chan dan Dung beetles”
 
” Mamah, Ade mencret” teriak Fira chan dari Toire (Toilet) di Apato kami.
” Hooiik Dung beetle san, ima wa, esa o agenai yoo, mencret desukara” (Hai Dung beetle, sekarang saya tidak bisa memberimu makanan yoo, karena saya mencret) timpal Fira chan merasa menyesal tidak bisa memberi makanan pada dung beetles hari ini, karena Ade (panggilan Fira chan di rumah) dalam keadaan mencret.
Dung beetles adalah hewan kecil sejenis insect, pemakan feces, termasuk pemakan feces nya Fira chan. Dan si hewan ini merupakan riset di tahun kedua dan ketiga dari penelitian doktor aku.
 
Lingkup penelitianku saat ini berkutat dengan segala macam feces, mulai dari feces beruang, di pilah lagi, beruang liar dari hutan belantara yang feces nya aku peroleh dengan menyusuri tiap track dari GPS Collar nya si beruang di Uozu, Toyama Prefecture pada Secondary Forest nya itu.
Atau feces dari beruang kandang, yang diperoleh dari Taman Beruang Akita yang memelihara hampir dua ratus beruang tangkapan seluruh Jepang itu.
 
Lalu feces deer atau rusa Jepang, baik yang liar yang aku peroleh fecesnya dengan menyusuri sehari suntuk Yatsugatake, Yamanashi Prefecture untuk mendapatkan sekilo atau dua kilo umpan feces segar untuk makan Dung beetles.
 
Aku juga mengoleksi feces sapi TUAT , lalu fecesnya kambing TUAT, dan membungkusnya bak sebuah puresento (hadiah) untuk di bawa ke pesta makan buat Dung beetles di Yamanashi Prefecture.
 
“Mama, OK Da yoo, dua potong panjang, panjang nih Mamah…” teriak Fira chan dari Toire pada hari yang berbeda.
” OK sayang, esa o arigatou nee. Dung beetles sugoku ureshii naa” (Ok sayang, makanannya terima kasih ya. Dung beetles pasti senang deh), kata ku pada Fira chan dalam bahasa Jepang kepadanya.
 
Feces manusia juga jadi trial untuk melihat apakah si Dung beetles akan datang pada feces manusia. (biasanya makhluk kecil ini datangnya pada feces hewan di hutan).Hal ini di dukung penuh oleh Fira chan, anak perempuanku yang beranjak gede di usianya yang tujuh tahun itu. Dia mulai care pada penelitian mamanya, sampai bersedia menyumbangkan fecesnya setiap hari.
 
Setelah teriakannya berhenti, biasanya, aku segera ke Toire, membantunya membersihkan bagian belakangnya, lalu tanganku langsung berselubung sarung tangan lateks dan memungut feces nya Fira chan dari tempat pembuangan feces di apato, membungkusnya dengan vinyl, melipat rapih dengan koran bekas, lalu ku bawa ke lab di TUAT untuk di masukkan freezer/ pendingin barang yang minus 28 derajat Celsius itu.
 
Tepat seminggu kemudian, aku berangkat ke Yamanashi dan melepas umpan segala macam feces itu dalam trap-trap atau penjerat-penjerat plastik yang di desain khusus selama dua bulan, untuk menangkap Dung beetles.
 
“Mamah, Dung beetles ni esa o agemasutaka?” tanya Ade padaku sesaat aku pulang dari riset di Yamanashi selama seminggu penuh meninggalkannya. Katanya, apakah dung beetles nya Mamah, sudah di beri makan?
“Ageta yoo, Dung beetles kara Fira chan ni, arigatouu iimashita yoo” Aku jawab, sudah diberikan makanannya, kata Dung Beetle ke Fira chan, makasih yaa. Kira-kira begitu terjemahannya.
 
“Waa.. ureshi naa” jawab Fira chan tersenyum manis sambil memeluk rindu mamanya yang baru pulang riset per -feces-an di Yamanashi Prefecture.
 
Ah, bahkan feces manusia pun masih di butuhkan oleh hewan manis lucu sekelas Dung beetles. Tidak ada yang tidak bermanfaat, bahkan hanya sekedar feces Ade.
Feces Ade bermanfaat untuk melihat hubungan ekologi dari manusia, wildlife seperti beruang, rusa, sapi, kambing,  dengan Dung beetles yang ukuran tubuhnya tidak lebih dari 0.5 mili sampai 3 centimeter itu. Secara ekologi mereka memiliki hubungan yang erat dalam forest ecosystem terlebih lagi dalam biodiversity, heterogenous plant community.
Subhanalah…
 
“Dung beetles san, mata puresento ageru yoo…” (Dung beetle, saya mau kasih hadiah lagi nih) kata Ade sambil nyelonong ke Toire, meninggalkan mamahnya yang bengong.
“Ck..ck..ck..,Ternyata bersahabat, boleh dengan siapa saja” batinku ikut ngloyor menuju Toire.
 
TOKYO, 31 May 2006
BAINAH SARI DEWI.

 

April 21, 2008 - Posted by | Hikmah

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: