Bismillahirohmanirrohim

Just another WordPress.com weblog

Tanggapan Sesama Guru

Assalamualaikum wr wb
Mbak Irma. Saya ucapkan jazakillah atas koreksian cap saya beberapa waktu lalu ya.
Saya baca cap mbak Ir, tergelitik mau nulis.
Waktu Pak Yusuf Kalla datang ek Jepang tahun lalu, beliau bilang, semua UN memang akan terus ditargetkan  naik standart nya.
Masya allah, ternyata berat sekali ya, untuk mendongkrak nilai anak-anak didik, agar bisa mencapai standart nasional itu.
Semoga jadi bagian jihad Mbak Ir dan para guru se tanah air ya.
Pak Yusuf Kalla juga sempat bilang waktu itu, maunya  nilai para siswa terus  menjadi tinggi secara nasional.
Memang itulah susahnya kebijakan. Dengan mudah menaikkan standart 0.25 tetapi realisasinya menjadi kenaikan biaya 100 persen ditanggung para siswa.
Contoh kecil saja, saya membaca Buku pelajaran kelas dua SD di Indonesia lewat SDJJ, mata pelajarannya sudah cukup sulit, sampai-sampai saya juga merasa kesulitan menerangkan pada anak usia kelas dua SD (biasa ngurus mahasiswa soalnya hehehe… becanda Mbak Ir…).
Saya coba bandingkan dengan pelajaran SD kelas dua di jepang. Beda banget. Di TK Lampung waktu itu, putri saya sudah bisa menggunakan  alat menghitung (duh lupa namanya, yang ada bendol bendol seperti orang Cina ngitung duit?)
Otomatis, menghitung sudah di luar kepala. Bahasa Inggris sudah menghafal warna-warna, dan menghitung satu sd 10.
Di Jepang, TK mah bermain total ya. Baru pengenalan dg usia dini.
Pendapat saya, anak di Indonesia sejak dini sudah dijejali pelajaran susah, maka gede dikit mulai bosen deh. Kalau sudah jadi Mahasiswa, udah kebaikan titik  bosen belajar dari usia anak deh kayaknya. Walaupun ada juga sih yang belum jenuh belajar saat mahasiwa, misalnya Ayu,gitu…
Tapi itu cukup mulai sedikit langka jumlahnya.
DiJepang, saya melihat sekilas berdasarkan pengalaman, anak-anak di sekolah di ajarkan pelajaran sesuai usia. Maksudnya, usia bermain ya main melulu deh pelajarannya. Lalu usia SD sedikit demi sedikit yang di terima, tetapi lama-lama menjadi bukit.
Start kita di Indonesia adalah lebih awal dan sangat dini untuk belajar hal-hal pelajaran berat.Dan perubahan kurikulum dari pucuk pimpinana juga menjadi keruwetan tersendiri dalam realisasinya.
Standart Jepang memulai study lebih disesuikan kapasitas otak dan usia. Sedikit demi sedikit  sampai terus menjadi bukit.
Kalau lihat lomba makan beef steak di terebi Jepang, orang Jepang mulai makan dengan snatai tapi terus menerus tiada henti sampai puluhan piring beef steaknya habis. Beda dengan orang Amerika yang makan sangat cepat di awal, kekenyangan lalu, kinerja makannya berkurang karena kekenyangan, dan akhirnya kalah deh dalam lomba makan beef steak itu. Terlalu cepat makan di awal dan melahap makanan di awal, di tengah jalan kekenyangan dan mulai teler.
Wih, kalau contohnya kagak cocok, semoga saja tidak ada yang marah deh. Namanya juga lagi menikmati subuh nan indah dengan salju bertebaran di sekeliling Apato di Tokyo.
Salju yang ke tiga kalinya turun di Tokyo. Subhanallah…
Wassalamualaikum wr wb
Tokyo, 4 Februari 2008.
BAINAH SARI DEWI

February 8, 2008 - Posted by | Uncategorized

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: