Bismillahirohmanirrohim

Just another WordPress.com weblog

Ketekunan

Ass.wrh wbr.,
Berikut adalah tulisan (Alm) Prof. Andi Hakim Nasution beberapa waktu dulu.
Cukup menggelitik. Maaf kalau pernah dapat sebelumnya.
IJ.
==================================
Ketekunan yang Langka
Oleh: Prof.Dr.Ir.Andi Hakim Nasoetion *

SEORANG dosen kembali dari Tokyo membawa gelar Magister Sains
Genetika Ikan. Ia melapor akan keberhasilannya itu. Yang ditanyakan rektornya ialah
apa yang membuatnya terkesan dengan program pendidikan pascasarjana
di Jepang.

Maka ia pun menggeleng-gelengka n kepalanya. Katanya, seumur-umurnya
baru pada ketika itu ia selama bangun hanya memikirkan dan berbicara
tentang ikan atau tentang genetika atau tentang genetika ikan.
Pagi hari ketika sarapan ia berbincang dengan kawan sekerjanya
tentang perilaku ikan. Di dalam laboratorium ia diajak berdiskusi
mengenai DNA oleh dosennya, dan sewaktu makan siang di sela-sela
memotong-motong filet tongkol, ia berbincang tentang daerah
penangkapan tongkol di daerah Kepulauan Aru. Malam harinya sewaktu tidur, ia bermimpi tentang
ikan. Tidak diceritakannya apakah sebelum bermimpi mengenai ikan itu
keesokan harinya ia menang undian berhadian (karena ada satu mitos
jika mimpi mendapatkan ikan akan ketiban rejeki).
Kemudian lagi rektornya bertanya kepadanya peristiwa apa yang paling
mengagetkan yang diha-dapinya di kampus asalnya sewaktu ia kembali
mengajar. Ternyata ia terkejut sekali ketika melihat warga kampus
sewaktu sedang beristirahat tidak berbincang mengenai ilmu yang
harus ditekuni-nya, melainkan mengenai upaya mengokohkan iman dan
bagaimana caranya berperilaku sesuai dengan iman mereka masing-
masing.
Tidak ada lagi yang mereka perbincangkan selain bagaimana caranya
mendukung perjuangan umat yang seiman. Kalau pun ada bedah buku di
antara sesama mahasiswa, maka pokok bahasan bedah buku itu
menyangkut masalah yang ada di luar jangkauan, seperti misalnya di
Palestina atau Bosnia. Masalah yang kalau hanya dibicarakan tidak
ada selesai-selesainya.
Ini mengingatkan rektornya akan peristiwa seorang anggota tim
olimpiade matematika interna-sional asal Denmark berbincang-bincang
dengan anggota tim dari Norwegia tentang penyelesaian sebuah masalah
matematika yang memerlukan pengetahuan tentang teori medan Galois.
Percakap-an itu mereka lakukan ketika sedang berpesiar dengan kapal
di Laut Bosporus.
Apa yang dilakukan di Jepang dan Laut Bosporus itu adalah teladan
tentang ketekunan yang diungkapkan ilmuwan biologi dan calon ilmuwan
matematika ketika mereka sudah bertekad memilih bidang ilmu itu
sebagai perhatian pokok dalam perjalanan hidup mereka. Hasilnya
adalah bahwa mereka akhirnya mendalami benar bidang ilmu genetika
atau matematika itu dan bukan hanya sekadar pengetahuan tipe-tipe
sosial.
Beberapa waktu lalu biologiawan IPB mendapatkan penghargaan akademik
dari suatu yayasan. Untuk itu ia diberi tunjangan penelitian kira-
kira 40.000 dolar AS. Orang ini dikenal sangat menekuni bidang
ilmunya. Demikian pula ada seorang dosen yang mendapat hadiah
penelitian dalam bidang ilmu serangga dan lingkungan. Ia juga selalu
tekun bekerja dalam bidang ilmunya sendiri. Sama halnya dengan dosen
Fakultas Peternakan Unsoed yang di Australia menemukan cara
penyimpanan mani beku sapi di dalam tabung sedotan yang terbuat dari
plastik setelah usahanya berkali-kali gagal. Untuk itu ia menerima
hadiah medali emas penelitian Yayasan Hewlett-Packard.
Ketekunan ketiganya itu tentu saja didampingi oleh kalayak akademik
yang tinggi. Namun kalayak akademik yang tinggi saja belum cukup
untuk membuahkan hasil penelitian yang cemerlang. Diperlukan
kreativitas dan ketekunan melakukan tugas yang tinggi. Ketiga ciri
ini yang seharusnya dimiliki oleh orang berbakat yang pekerjaannya
adalah menciptakan pengetahuan baru dan atau memperbaiki manfaat
suatu pengetahuan.
Apakah di masyarakat akademik perguruan tinggi kita suasana
ketekunan dan kesetiaan menangani tugas itu ada atau tidak ada,
dapat dirangkum dari poster-poster yang ditempelkan di mana saja di
dalam kampus yang dapat dilekati kertas. Sayang sekali, pengumuman
yang memenuhi dinding kampus bukan mengenai hal-hal yang berkaitan
dengan kemajuan ilmu yang ditekuninya, melain-kan mengenai siraman
rohani, bedah buku tentang solidaritas Palestina dan berbagai
diskusi mengenai berbagai kebobrokan yang terjadi di tanah air.
Tidak ada gagasan-gagasan ilmiah dalam bidang ilmu tertentu yang
diperbicangkan. Tentu saja kita harus peduli mengenai pemeliharaan
iman, solidaritas keimanan hingga aplikasi keimanan dalam kehidupan
sehari-hari. Namun kalau yang ditangani hanya itu saja, tidak perlu
susah-susah belajar di perguruan tinggi, kecuali kalau kita hanya
bermaksud mendapatkan gelar dan ijasah saja, bukan kemampuan dan
keahliannya. Jika hanya itu yang kita inginkan, lebih baik mengikuti
ujian persamaan B.Sc, M.Sc, Ph.D dan MBA di berbagai
yayasan “gombal”.
Bagaimana lulusan perguruan tinggi di Indonesia dapat mengimbangi
kemampuan akademik lulusan perguruan tinggi yang sudah mapan di
negara maju kalau yang ditekuninya selama belajar di perguruan
tinggi bukanlah bidang ilmunya sendiri. Apakah dengan “kematangan
bermasyarakat” dengan berkonsentrasi penuh ke kegiatan ekstra
kurikuler kita mampu menjadi ilmuwan bertaraf internasional?
Melalui media internet saya pernah diserang habis-habisan ketika
yang menjadi pemenang medali perunggu pada olimpiade matematika
tingkat Asia Pasifik dan olimpiade matematika internasional hanyalah
siswa SMU yang bertapak di Jawa. Ketika itu saya dituduh
mendiskriminasikan mereka yang berasal dari Luar Jawa. Hujatan itu
memang pantas muncul di zaman reformasi seperti sekarang. Namun
seharusnya penghujat yang notabene mahasiswa pascasarjana matematika
itu mesti menggunakan nalarnya dan bukan pemikiran dengkulnya.
Peraih medali perunggu itu ternyata adalah siswa-siswa yang dengan
kecintaan menekuni matem-atika dan kebanyakan dari mereka berasal
dari sekolah-sekolah yang diselenggarakan masyarakat (swasta), bukan
dari sekolah yang diselenggarakan negara (negeri). Atau kalau ia
berasal dari sekolah yang diselenggarakan negara, lingkungan
keluarganya adalah lingkungan yang menghargai ketekunan kerja. Siapa
mereka itu? Boleh ditebak sendiri, lingkungan keluarga yang mana
yang dapat membedakan kapan harus menekuni pelajaran tentang
keimanan dan ilmu naqliah dan kapan lagi harus tekun menuntut ilmu
aqliah.
Karena itu, hendaknya semua orang yang sedang belajar apa saja,
untuk tekun mempelajari apa yang seharusnya dipelajarinya agar
mendapatkan kelayakan profesional di dalam bidang yang diminatinya.
Jangan terjerumus ke zaman Firaun, ketika seleksi menjadi ahli bedah
otak dilakukan dengan cara berendam semalam suntuk di Sungai Nil.
Jangan juga terjerumus ke keadaan di Pakistan, ketika seorang Ph.D
Fisika Nuklir lulusan MIT AS melamar menjadi tenaga akademik.
Pertanyaan penguji bukan hal-hal yang pelik mengenai dentuman besar
(big bang). Sederhana saja, namun cukup mengejutkan karena Doktor
Fisika itu diminta melafalkan Doa Qunut. Jika ia tidak hafal doa
Qunut, maka pastilah ia seorang Wahabi.
Mari kita renungkan, apa saja yang dapat kita perbaiki mengenai
kehidupan akademik di kampus, baik oleh tenaga akademik, tenaga
administrasi maupun mahasiswa. Jika mahasiswa berlaku seperti itu,
seharusnya tenaga akademiknya merasa bersalah, karena hal itu
pertanda bahwa tenaga akademik belum dapat membawakan suasana
akademik ke dalam kampus, termasuk membawa mahasiswanya ke suasana
ingin mengetahui.
Pernah seorang dewan penyantun suatu universitas besar di Jakarta
yang diselenggarakan masyarakat bertanya pada saya, universitas apa
di Indonesia yang suasana akademiknya sudah menyamai suatu
universitas penelitian. Jawab saya dengan tegas, belum ada. Dan
ketika ia menanyakan alasannya, saya katakan bahwa di kampus saat
ini banyak mahasiswa termasuk juga mahasiswa pascasarjana serta
dosen hanya menghadiri seminar karena harus menandatangani daftar
hadir. Kalau kurang tandatangan di daftar hadir, ada kemungkinan ia
tidak boleh ikut ujian atau kredit kenaikan pangkatnya tidak cukup.
Kalau begitu halnya, di kampus kita orang hadir di seminar bukan
karena ingin tahu lebih banyak, melainkan karena takut tidak lulus
ujian atau tidak naik pangkat.*** 

January 2, 2008 - Posted by | Hikmah

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: