Bismillahirohmanirrohim

Just another WordPress.com weblog

Sepeda di Tokyo

Sepeda di Tokyo

Posted by: “soniwicaksono

Thu Dec 13, 2007 8:52 pm (PST)

Jum’at, 14 Desember 2007 BURAS ‘Bike Way’, Solusi Tokyo!
H.Bambang Eka Wijaya:
EDO tak percaya apa yang dilihatnya. Ia kucek mata sekali lagi untuk meyakinkan yang dilihatnya tak keliru–setiap stasiun kereta api (KA) di Jepang dilengkapi tempat parkir yang dijubeli ribuan sepeda!

“Tempat penyimpanan sepeda itu ada yang gratis, ada yang bayar!” jelas Edi. “Yang gratis dikunci sendiri dengan kewajiban setiap sepeda harus punya dua gembok! Sedangkan yang bayar, selain diberi tempat roda terkait gembok milik penitipan, juga dua kunci pemilik sepeda sendiri!”
“Kewajiban pemilik sepeda apa lagi?” kejar Edo.

“Setiap sepeda wajib punya keranjang di depan, ada lampu dengan dinamo putar di roda depan, dan tak boleh boncengan!” jelas Edi. “Soalnya, kalau Jakarta membuat solusi mengatasi kemacetan dengan bus way yang menyita badan jalan mobil, solusi Tokyo justru bike way! Dua sampai tiga meter trotoar di Kota Tokyo, dari pusat kota hingga pinggiran, dijadikan bike way sekaligus untuk penjalan kaki! Di setiap persimpangan atau pintu masuk rumah orang dibuat landai agar pengendara sepeda nyaman!”

“Aku kagum justru di depan pertokoan elite dan besar seperti Shinzuku, Sibuya, Miguro, Ginza, dan lainnya, di depannya banyak parkir sepeda!” entak Edo.
“Lebih menarik itu, cewek-cewek kota megapolitan Tokyo dengan rok di atas lutut sekalipun musim dingin, pakai stoking berajut hitam sampai paha dengan sepatu bot menutup betis dan jas tebal yang modis, beriringan mengayuh sepeda dari stasiun ke tempat kerjanya!” ujar Edi. “Bahkan di berbagai kampus terkemuka, dari Waseda sampai Tokyo University of Agriculture and Technology (TUAT), lebih 50 persen mahasiswa dan dosennya–tanpa kecuali para profesornya- -ke kampus bersepeda!”

“Pekan lalu aku ke Gifu Internatinal University, dari belasan ribu mahasiswanya hampir 10 ribu pakai sepeda ke kampus!” timpal Edo. “Kupikir itu karena di luar kota! Ternyata di Tokyo jumlah sepeda dramatis!”

“Lebih dramatis lagi, setiap sepeda selain tiga kewajiban tadi, keranjang, lampu, dan gembok ganda, saat beli wajib diasuransikan! ” tegas Edi. “Bayar asuransinya rata-rata 3.000 yen, setara 10 kilo beras!”
“Mahal juga asuransinya, Rp225 ribu!” entak Edo. “Kalau di Indonesia itu sudah bisa beli sepeda ontel!”

“Harga sepeda baru di sini antara 5.000 dan 10 ribu yen!” jelas Edi. “Bagi warga sini itu cukup murah, dibanding dengan turun dari KA ke kantor atau ke rumah naik bus feeder yang antre di depan stasiun, ongkosnya 310 yen! Apalagi naik taksi, buka pintu argonya 710 yen, setara Rp50 ribu!”
“Jelas lebih enak naik sepeda, tak bayar dan sehat!” tegas Edo. “Dan sebagai solusi, bike way Tokyo jauh lebih berhasil ketimbang bus way Jakarta! Sebagai kota megapolitan berpenduduk lebih 15 juta, Tokyo tak macet separah Jakarta!”

“Begitulah! Negara maju mengatasi masalah dengan cara yang sederhana, dan terbukti berhasil!” sambut Edi. “Sedang kita negeri terbelakang coba-coba mengatasi masalah dengan cara sok canggih, hasilnya malah menimbulkan masalah baru yang jauh lebih fatal!” ***

http://www.lampungp ost.com/buras. php?id=200712140 1055616

Maaf kepanjangan. ….. pengamatan BEW (Bapak Bambang Eka Wijaya) selama di Jepang menjadi inspirasi dalam tulisan di kolomnya BURAS. Siapa tahu di edisi berikut, bahan obrolan teman2 waktu itu akan muncul…..

Wassalam
Soni

December 17, 2007 - Posted by | Hikmah

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: