Bismillahirohmanirrohim

Just another WordPress.com weblog

Menengok Negara Kaya Inovasi

Posted by: “Harus LG” harus_its@yahoo.com   haruslg

Fri Sep 7, 2007 7:03 am (PST)

AWW
Alhamdulillah, walau rada telat tahunya kalau dimuat, berikut ada
tulisan ke dua saya yg dimuat di Republika ttg “Menengok negara kaya
inovasi”.Inshaallah menarik utk dibaca.Bisa dibuka di link ini:
http://www.republik a.co.id/kolom_ detail.asp? id=300988& kat_id=16
WWW
hlg
———— ——— ——— ——— ——— ——-
Senin, 23 Juli 2008
Menengok Negara Kaya Inovasi
Oleh : Harus Laksana Guntur

Banyaknya masalah yang ada di negeri kita seharusnya membuat kita
semakin produktif dalam menciptakan inovasi di segala bidang. Mengapa?
Karena pada hakikatnya, inovasi adalah ide-ide baru yang muncul
seiring dengan adanya keinginan untuk memperbaiki masalah.

Kalau kita urutkan masalah yang ada di Indonesia, mulai dari Sabang
sampai Merauke, mulai dari yang kecil sampai yang besar, saya yakin
kita tidak akan mampu menghitungnya. Mulai dari masalah lumpur
Lapindo, tsunami, banjir, sampah, beras, BBM, gempa, sampai masalah
minyak goreng. Logikanya, semakin banyak masalah, maka semakin
meningkat pula inovasinya. Tapi, yang terjadi di Indonesia mungkin
tidak demikian adanya.

Inovasi di Jepang
Dulu, Jepang adalah negera dengan banyak masalah. Perang saudara, bom
atom di Hiroshima-Nagasaki, minimnya sumber daya alam, gempa, tsunami,
banjir dan masalah sampah jadi persoalan serius negara tersebut. Tapi,
itu semua justru membuat Jepang bangkit dan mampu menyulap negaranya
menjadi negara yang maju dalam segala bidang.

Bahkan, menurut hasil survei The Economist Intelligence Unit yang
dilakukan dalam rentang waktu 2002 sampai 2006, dari 82 negara dengan
tingkat ekonomi yang boleh dikatakan mapan, Jepang menduduki peringkat
tertinggi sebagai negara paling inovatif mengungguli Amerika Serikat
(AS), Swis, dan Swedia. Jumlah paten yang diproduksi oleh sebuah
negara per satu juta penduduknya dijadikan standar pengukuran. Dengan
jumlah populasi yang hanya 42 persen dari AS, rasio paten Jepang per
satu juta penduduknya tiga kali lebih tinggi dari AS.

Pada tahun 2007 sampai 2011, hasil survei memprediksi bahwa peringkat
negara inovator dunia masih tidak akan berubah. Hanya, Cina yang saat
ini menjadi negara investor terbesar kedua dalam dunia riset setelah
AS hampir bisa dipastikan akan mengalami percepatan pertumbuhan
inovasi dan mengejar Jepang, AS, Swiss dan Swedia. Sementara
negara-negara Uni Eropa diprediksi masih akan tetap tertinggal dengan
Jepang dan AS dalam waktu 5 tahun ke depan walau upaya untuk
meningkatkan performa inovasinya terus dilakukan.

Tingginya perhatian pemerintah Jepang yang ditunjukkan dengan
investasi besar-besaran pada dunia riset, menjadi faktor penting dalam
merangsang tumbunya inovasi di Jepang. Selain itu, negara yang miskin
sumber daya alam ini telah lama menerapkan pendekatan ‘inovasi atau
mati’ karena perekonomian Jepang sangat bergantung pada inovasi dan
teknologi tinggi.

Faktor lainnya adalah telah terciptanya sebuah mutualism symbiotic
antara perusahaan besar, perusahaan kecil menengah , akademisi, dan
pemerintah, ikut menjadi penentu tingginya tingkat inovasi di Jepang.
Dalam seminar di Tokyo Institute of Technology pada tanggal 21 Juni
2007, yang saya hadir di dalamnya, staf ahli menteri
pendidikan-perdagan gan dan industri Jepang menjelaskan bahwa salah
satu kunci sukses Jepang adalah peran aktif dan simbiosis mutualisme
yang terjalin antara pemerintah, akademisi dan dunia industri.

Hampir semua perusahaan besar di Jepang memiliki departemen research
and development (R and D). Kemitraan dengan anak perusahaan, perusahan
kecil, dan universitas terjalin dengan baik dalam mendorong inovasi di
negara ini. Pemerintah ikut mendorong proses ini dengan menjadikan
riset-riset yang bersentuhan dengan hajat hidup dan kemaslahatan orang
banyak menjadi proyek negara.

Selain iklim yang sangat kondusif, motivasi akademisi dan peneliti di
Jepang sangat tinggi. Hal ini bisa kita lihat dari lamanya jam kerja
para akademisi Jepang, yang rata-rata di atas 10 jam. Kesadaran publik
Jepang akan pentingnya riset dan inovasi juga sangat tinggi,
dibuktikan dengan banyaknya lembaga riset swadaya masyarakat di
Jepang. Ditambah lagi dengan kepekaan mereka terhadap common/global
issues yang juga cukup tinggi. Kampus-kampus di Jepang saat ini
berlomba membentuk departemen kewirausahaan atau venture business yang
berusaha mendorong para civitas akademika untuk berkompetisi
menciptakan inovasi yang bermuara pada kreasi bidang usaha baru.

Kondisi di Indonesia
Kita tidak mungkin membandingkan dana riset Jepang dengan Indonesia.
Belum terpenuhinya alokasi anggaran pendidikan nasional minimal 20
persen dari APBN berdampak pada minimnya dana riset bagi perguruan
tinggi. Dana riset yang minim ini juga harus diperebutkan oleh PTN dan
PTS di seluruh Tanah Air yang total jumlahnya mencapai ribuan.

Simbiosis dan partnership antara perguruan tinggi dan dunia industri
juga belum terjalin dengan baik. Boleh dikatakan, industri kita tidak
banyak berkontribusi bagi kemajuan riset di Tanah Air. Mereka seolah
tak peduli karena merasa tidak akan mendapatkan keuntungan dengan
berkontribusi pada dunia riset. Para pengusaha kita juga belum
terpanggil untuk ikut memajukan riset di Tanah Air. Yang lebih
mengenaskan, perusahaan-perusaha an asing hanya menjadikan Indonesia
sebagai tempat produksi tanpa mempedulikan proses transfer teknologi.

Untuk itu, leadership dari pemerintah kita menurut saya masih sangat
diperlukan dalam menciptakan iklim yang kondusif bagi dunia riset di
Tanah Air. Bila perlu, pemerintah bisa menerapkan pajak pada setiap
produk untuk disumbangkan bagi perkembangan iptek di Tanah Air serta
mewajibkan setiap perusahaan besar asing yang ada di Indonesia untuk
membentuk departemen R and D.

PTN dan PTS di Tanah Air sudah seharusnya diberi kesempatan
seluas-luasnya untuk membentuk unit usaha yang bisa berfungsi sebagai
tempat produksi dan komersialisasi hasil riset dan inovasi/paten
mereka. Sehingga akan merangsang perguruan tinggi berlomba-lomba dalam
riset, produksi inovasi, dan proses pembentukan embrio bisnis baru
berbasis kekuatan lokal. Pada akhirnya, langkah ini akan mendorong
terciptanya lapangan kerja baru dan mampu menggerakkan roda perekonomian.

September 9, 2007 - Posted by | Hikmah

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: