Bismillahirohmanirrohim

Just another WordPress.com weblog

Bawang Goreng itu…

“Bawang Goreng itu…”

Oleh Bainah Sari Dewi

 “ Mah, minta bawang goreng ya…” Anak perempuan kami yang berusia tujuh tahun itu memintaku menggorengkan bawang merah. Kalimatnya sederhana, tetapi kalimat itu penuh makna buatku dan membawaku melayang pada ingatan tentang Emak sebelas tahun yang lalu. Penyakit diabetes stadium empat dengan kadar gula 489, diderita Emak sejak tahun 1989, dengan sabar dinikmatinya selama tujuh tahun. Dengan sabar dan perlahan pula sang penyakit itu menggerogoti tubuh Emak, yang membesarkan kami sepuluh anaknya. Penyakit yang awalnya hanya diabetes, semakin bertambah hari semakin beragam saja.

Emak akhirnya mengalami gangguan pencernaan, mengalami penyakit lever, pembengkakan empedu, penyakit kuning, penyakit di saluran pernapasan dan katarak parah serta gagal ginjal. Tumpukan penyakit itu mengharuskannya cuci darah seminggu dua kali. ‘’Emak lebih suka berobat di Yogya, Wie!’’ Kata Emak di depan apotik dan kami duduk bersisian sambil menunggu obat di Rumah Sakit Sardjito.‘’Kenapa Mak?’’  Jawabku sambil lalu, karena aku sibuk baca materi tujuh, persiapan pre test praktikum sore nanti.’’Di Yogya, perawatnya lebih ramah ya, dokternya juga enggak cepet-cepet seperti di Jakarta””Tetehlu juga suka enggak sabaran, kalau nungguin Emak berobat’’ Kata Emak yang berkomentar menyebut Teh Ria, Tetehku paling tua.’’Kan Teteh sibuk Mak, anaknya udah empat, pada rewel lagi kan?’’ Kataku sambil lalu.’’Iya sih, tapi Emak seneng, Wie nemenin Emak. Kalau Wie mah, nggak sewot bolak-balik nggak sabar. Kamu mah duduk tenang, jadi Emak juga ikut tenang’’ Kalimat itu membuat mataku bergenangan bintik air yang siap meluncur. Kuraih tangannya yang putih keriput itu dan menyingkirkan buku materi tujuh pre test praktikum soreku. Alamat pre test berantai karbon nih (nilai C maksudnya). Tapi biarlah…biarlah…Kubawa tangannya yang telah banyak berbekas jarum transfusi darah itu, pada pipiku yang sedang benjol-benjol berjerawat. Ku tatap wajah Emak, yang kelihatan sangat sakit dan putih memucat tetapi tetap tersenyum Tatapku masih penuh bintik air bergenangan yang semakin memblendung ke pelupuk mataku. Ah kok tiba-tiba mataku berkabut.’’Emak yang kuat ya. Wie nggak bisa bantu sembuhkan penyakit Emak. Tetapi kita kan selalu berusaha berobat ke Dokter dan kita yakin Allah akan menyembuhkan penyakit Emak ’’ Lirih ucapku menguatkan hatinya. 

’’Ibu Sunariyah Baharuddin! Ibu Sunariyah Baharuddin!’’ pengeras suara apotik memanggil nama Emak.’’Mak, namanya dipanggil, Wie ambil obatnya dulu ya’’  ’’Iya, sono ambil gih…’’ Bahasa Indonesia gaya Lampungnya masih melekat. Setelah obat kuambil, kami akhirnya berlalu dari apotik  Rumah Sakit Dokter Sardjito itu dengan berjalan sambil memegang tangan kiri emak. Tangan kananku  membawa plastik obat  dan ransel merah hati bertengger di punggungku.

‘’ Wie!…’’ Kata Emak lirih.‘’Emak mau naek becak. Kita pulang naek becak aja yuk!’’ Bujuknya padaku.‘’ Kan di Lampung sekarang mah susah cari becak, di Teluk Betung malah sempet dilarang pemerentah’’ Kata Emak mendeskripsikan becak di Lampung, kota tempat aku dilahirkan.‘’Maksud Emak, Pemerintah?’’ Kataku melongo dan mulut terbuka, mataku memandang Emak meminta pembenaran.’’ Iya, pemerentah ngelarang becak, tauk dah kalau sekarang, masih dilarang apa enggak!’’ jawab Emak enteng’’ Cak! Becak ! ” teriakku pada  Mas Becak (bukan Abang Becak, ini di Yogya, tidak ada Abang, yang ada Mas).’’ Njihhh…. Mbak, monggo…, bade tindak pundi?’’ Mas becak menyapa ramah, disusul dengan mimik heran campur mimik bingung Emak. 

’’Kaliurang ringroad yo Mas, nyuwun tulung’’ Kataku ramah, Emak bergeleng-geleng senyum, tanda kalau Emak geli. Emak demikian bahagianya naik becak setiap pulang dari Rumah Sakit. Dalam hatiku, Ya Rob, alangkah senangnya hatiku melihat senyumnya terkembang saat mau naik becak. Ekspresi bahagia yang jarang terlihat, karena rasa sakit yang selalu berkerumun di badan Emak. 

 Setelah bolak-balik rumah sakit dan puluhan kali cuci darah, Emak memutuskan untuk berhenti melakukan cuci darah.’’ Sakit Mak?’’ tanyaku saat dokter mulai menusukkan jarumnya yang ke sekian ratus kali di tangan kanan Emak untuk melakukan pencucian darah yang terakhir kalinya. Pertanyaan bodoh, tetapi setiap kali menemani Emak cuci darah, aku tak sanggup memilih kata-kata. ”Nggak apa-apa Wie, terakhir ini” Emak hanya tersenyum.Kulihat wajahnya semakin menguning dan semakin memucat. Emak sekarang sudah tidak mampu lagi berjalan.

Tempat tidur rumah sakit yang ditegakkan sedikit itu, menjadi tempat rebahan Emak yang nyaman.Ya Rob, perempuan terkuat sedunia yang aku punya ini, kini terbaring lemah di tempat tidur ini, tanpa daya, dan sesekali terdengar rintihannya sangat pelan. Mungkin rasa sakit karena darah yang disedot keluar melalui jarum infus itu, pikirku lugu. Melahirkan sepuluh orang anak, bukanlah pekerjaan mudah seorang ibu.

Membesarkannya sampai anak ketujuhnya sebesar aku ini, bukanlah hal yang mudah. Melihatnya acap kali dicuci darah seperti itu, hanya dzikir saja yang mampu kupanjatkan pada Mu ya Rob. Tolong Emak, Ya Rob, pintaku sambil meneteskan air mata, menunggu tiga jam di sebelah pembaringannya untuk cuci darah.Setelah cuci darah itu kami pulang naik becak lagi. Sesampainya di rumah kontrakan kami, ”Wie, Emak minta bawang goreng ya” Pinta emak sore itu. Dengan secepat kilat, aku ke dapur memotong bawang merah dan menggorengnya.

Lalu dendeng Aceh kiriman Teh Rina, aku goreng selama satu menit dan disajikan bersama nasi putih. Itulah menu favorit Emak.“Ini Mak, makanan siappp!” Gaya bicaraku seperti ketua pleton baris berbaris.“ Kapan kita naek haji ya Wie? Emak pengen betul bisa ke Mekkah””Tenang aja Mak, siapa tahu kita dapat panggilan Haji dari Kantor Kerja Bapak Almarhum, Undian Haji….Undian Haji! Tahun ini jatuh pada Ibu Sunariyah Baharuddin!” Hiburku sambil bergaya tukang obat itu.” He he he… Haji kok pake undian Wie” Emak menimpali sambil terkekeh-kekeh sampai keluar air matanya saking geli. Kalimat itu sering diucapkan Emak, saat siang, saat tahajud malam atau saat pagi hari.

Berselang tak lama dari itu, pagi-pagi sekali Emak dilarikan ke rumah sakit karena tiba-tiba tak sadarkan diri. Emak dalam kondisi koma dan dirawat di ICU Rumah Sakit Panti Rapih. Lima selang tersalurkan dari berbagai alat bantu rumah sakit pada tubuh Emak. Dan lima orang anaknya telah berkumpul di rumah sakit. Dokter mengisyaratkan bahwa kondisi Emak semakin memburuk. Aku sesengukan terus menerus, antara dzikir dan buncahan air mata. Dan saat mesin pencatat detak jantung melengking, bersamaan dengan itu, Emak meninggalkan kami semua. Engkau ambil Emak Ya Rob, Engkau pisahkan Emak dariku Ya Rob. Buncahan airmata ini semakin tak terhenti. Tiada lagi Emak yang meminta digorengkan bawang merah. Tiada lagi Emak yang selalu tersenyum sesakit apapun penyakit yang dideritanya. Tiada lagi Emak yang meminta dipapah untuk duduk di kursi goyangnya.

Tiada lagi Emak yang menyebut pemerintah dengan pemerentah. Tiada lagi Emak yang telah melahirkan aku dan sembilan kakak adikku. Ya Rob, terangilah kubur Emak, lapangkanlah kuburnya, ampuni segala dosanya dan semoga Emak tergolong muslimah yang khusnul khotimah.  

 ‘’Mah….Mamah…, Mamah kok nangis, mana bawang gorengnya Mah ’’ Tegur anak perempuan kami membangunkan lamunanku saat menggoreng bawang merah yang jadi makanan favorit anak kami juga. Bawang goreng itu ditaburkan di atas nasi putih, kecap dan daging empal goreng.“ Eh gomenasai Nak, Mamah inget Nenek’’ Kataku sambil cepat-cepat mengusap air mata. Ya Rob, rasanya tak kuasa melahirkan sepuluh orang anak seperti Emak. Baru satu orang anak saja, sejak tujuh tahun lalu melahirkan. Baru satu Ya Rob, bagaimana bisa sepuluh Ya Rob?Bahkan saat di Jepang ini, anak kami rasanya kurang mendapat curahan kasih sayangku.

Sepuluh orang anak, Allahu Akbar! Batinku takjub dan semakin deras mengalir air mata ini, membayangkan perjuangan Emak yang sangat kuat.Emak, batinku lirih. Wie tidak mewarisi kekuatan batin seperti Emak. Wie tidak mewarisi kesabaran yang kuat seperti Emak. Tetapi Wie masih setia menggoreng bawang merah kesukaan Emak juga kesukaan Cucu Emak.. 

Kamus :

Njihhh…. Mbak, monggo…, bade tindak pundi: Iya Mbak, mau pergi ke mana? (Bahasa Jawa)Nyuwun tulung : Mohon tolong (Bahasa Jawa)Gomenasai : Mohon maaf (Bahasa Jepang) 

Tokyo, 7 Juni 2007

June 16, 2007 - Posted by | Hikmah

2 Comments »

  1. Bagus banget tulisannya. Makasih Mba Dewi untuk kisahnya. Semoga Mba Dewi bisa uraikan lagi cerita kelanjutannya.

    Comment by ervin | June 18, 2007 | Reply

  2. ma kasih mbak Dewi kisah anda menjadi inspirasi bagi saya, khususnya dalam menangani dan merawat anak bungsu saya yang menderita gagal ginjal kronis sehingga harus cuci darah 2 x seminggu.

    Comment by sutisna s | September 5, 2007 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: