Bismillahirohmanirrohim

Just another WordPress.com weblog

Buyai oleh Irma

BUYAI
Oleh: Irmayanti

Jam menunjukkan pukul satu kurang sedikit ketika aku, yang ketika itu masih berseragam putih abu, baru saja tiba dari sekolah. Terik kemarau yang menyengat agak membuat kepala pening. Ketika aku membuka sepatu di ambang pintu, terdengar derum mobil yang membawa Mamah kembali dari mengajar di depan gerbang.
溺aaaah, Omaaah・ Suara parau segera terdengar dari dalam, sebuah sambutan rutin atas kepulangan Mamah.
Aku menghela napas. Di hari seterik ini, harusnya yang paling enak adalah minum segelas air dingin, membuka jilbab, lalu merebahkan diri di atas kasur untuk membuang lelah sebelum santap siang. Bagiku, itu mudah saja dilakukan. Tapi untuk Mamah, belum tentu.
溺aaaaah・
Itu suara Buyai. Dengan terbungkuk, ia tertatih merembeti dinding. Tak ada semangat lain di usianya selain melihat Omah, nama kecil ibuku, pulang ke rumah.
哲anti juga masuk, Buyai. Tunggu aja di dalam,・ujarku. Apa ada reaksi? Tentu tidak. Buyai tetap berkeras untuk keluar dan aku harus memeganginya. Ia bisa saja terjatuh.
Buyai adalah panggilan kami untuk nenek, ibu Mamah. Entah dari mana asal kata itu terbentuk. Usianya aku tak begitu tahu, karena Mamah pun kukira juga tak pasti. Sejak aku lulus Tsanawiyah, Buyai tinggal bersama kami. Dulu ia tinggal di kampung sebelah, sendirian setelah kakek meninggal terserang stroke. Ketuaan (dan mungkin juga kesepian) membuat kedelapan pasang anak menantunya serius berunding, hendak tinggal di mana ibu mereka itu. Akhirnya, Buyai tinggal bersama kami.
Awalnya, Buyai masih mengenali kami semua. Hanya kadang ia melihat sesuatu tidak seperti yang kami lihat. Namun belakangan, hanya Mamah yang diingatnya. Semua orang akan dipanggilnya dengan nama Mamah. Tak kenal waktu dan terus-menerus. Kadang Mamah terpaksa membawa Buyai ikut bersamanya, lalu kembali dengan jok belakang yang basah. Tengah malam ia memanggil-manggil Mamah tanpa maksud lain kecuali membangunkan, juga ketika Mamah masih berkeringat di depan pintu seperti sekarang ini. Dan Mamah akan terus duduk di sampingnya, mengobrol satu arah dengan badan masih berpeluh.
Komunikasi satu arah. Itu yang jadi permasalahan utama.
溺aaah・Maaah・
適enapa, Buyai?・tanyaku pada Buyai yang mulai memanggil-manggil Mamah lagi.
徹maaaah・ suara paraunya memanggil lagi, seperti anak mencari ibunya.
溺amah belum pulang.・br> 溺aaaah・
Aku mencoba mengalihkan pembicaraan. 釘uyai mau makan?・br> Ia menggeleng. Kemudian, ia mencoba berdiri dengan susah payah. Tangannya kuat mencengkerang sofa.
溺au ke mana, Buyai?・br> 徹mah ke maneh・・br> 釘elom pulang. Bentar lagi juga sampe. Buyai tunggu aja di sini・br> Jawaban itu tak berarti apa-apa padanya. Ia merambat ke dinding, menuju pintu depan. Aku memegangi ketiaknya, mulai merasa kesal.
釘uyai mau kemana, sih?・br> Ia tak menjawab. Lalu bunyi kucuran air terdengar. Kakiku terasa menghangat dan basah.
釘uyai! Kamar mandi kan di sana. Kok jalannya ke sini?・kataku kesal sambil menuntunnya ke kamar mandi. Buyai harus dibersihkan dan diganti bajunya. Sementara itu genangan warna kekuningan di lantai ruang tamu menunggu untuk dipel.
Ampuni hamba, ya Allah. Ampuni hamba. Air mata ini selalu membanjir membayangkan saat-saat itu, ketika kesabaranku selalu tak cukup menghadapi Buyai. Dulu aku hanya anak mentah, yang tak tahu apa-apa soal menjadi ibu dan orang tua. Padahal Buyai yang paling berhak atas segala penghormatan dan pengurusan terbaik. Aku memang belum bisa seperti Mamah. Kesabarannya tak tercerna otakku. Sungguh, mengurus orang tua di hari senja amat berbeda dengan mengunjunginya sesekali sambil membawa sekaleng biskuit atau sekilo jeruk.
Benar. Ketuaan Buyai membuatnya diangkat dari hukuman dosa. Namun kehadirannya cukup sebagai jalan untuk menunjukkan kepribadian dan kematangan tiap-tiap orang yang terlibat dengannya. Buyai membuang topeng-topeng.
Sembilan tahun berlalu sejak pertama kali Buyai tinggal bersama kami. Aku baru saja kembali dari Jepang dan tinggal di Tangerang ketika tiba-tiba telepon itu datang. Kami bergegas berangkat. Bukan ke rumah Mamah, tapi ke rumah Buyai yang dulu di kampung sebelah. Buyai sedang dimandikan oleh keempat anak perempuannya di sebuah ruang tertutup tirai. Suara lantunan ayat suci bergeremang. Buyai meninggal dunia. Aku mencari wajah ibuku. Ia pasti tahu hari ini akan tiba juga. Lidahku kelu, memandang mata dengan bayangan kehilangan yang meruah itu.
Rumah Mamah jadi berbeda. Sepi, katanya. Aku juga merasakannya. Sofa yang biasa diduduki Buyai jadi aneh tanpa si empunya. Suara Buyai tak terdengar lagi. Mamah terus saja mengatakan bahwa ia rindu ‘kehangatan’ itu. Kehangatan yang tercipta berkat adanya Buyai di tengah-tengah kami.
Bulan lalu, Mamah mencapai usia setengah abadnya. Dia masih terlihat seperti dulu bagiku, belum tua. Tapi umur akan terus merambat, dan tiap orang akan menjalani peranannya di setiap episode kehidupan. Suatu hari Mamah berkata, “Mamah dan Abi ingin menabung, agar nanti ketika kami sepuh, bisa membiayai sewa perawat untuk diri sendiri. Tak perlu merepotkan anak-anak.”
Aku merutuki diri karena menjadi orang yang tidak terbiasa mengeluarkan emosi dengan terbuka. Beberapa jam kemudian, dalam kesendirian, gerimisnya tumpah di hatiku. Sambil mengeringkan pipi yang ters saja basah, bisikku lirih, “Tapi Mamah berhak atas semua bakti kami….”

Tangerang, 26 Maret 2006

May 31, 2007 - Posted by | Hikmah

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: