Bismillahirohmanirrohim

Just another WordPress.com weblog

Akhirnya Ku tahu Dia

Ini masalah tanda tangan. Hanya sepele, tanda tangannya sensei buat masuk ke hutan di FM Tsukui dan FM Tama. Inkan !

”Sempai, saya mau pergi  ke Udai besok, mau minta tanda tangan Sensei. Ini formulirnya, bisa tolong bantu isi?”  permohonan saya dengan senyum manis, karena formulir itu berisi kanji dan kanji.

“Mana?coba saya lihat” pintanya dengan muka malas.

”Ini mudah. Ini tuliskan judul penelitian kamu, yang bagian ini alasan mengapa kamu ke FM Tsukui” katanya menyeringai.

Untungnya saya juga punya banyak seringaian yang bisa membuat saya tetap tersenyum.

”Oh…. gitu ya….” jawab saya tetap dengan muka senyum.

Saat dia akan menuliskan dengan pulpen dikertas itu.

”Sempai, maaf nih, saya cuma punya satu lembar itu. Printer saya di rumah, saya kopi dulu ya” perkataan saya disambut ringan sewot olehnya.

“Ya sudah, siang saja”

Setelah siang bertemu, Sempai menerjemahkan formulir itu dengan bahasa inggris, lalu saya mengisi semua dengan bahasa inggris dan ada beberapa kanji yang dia tuliskan.

“Kamu mau ke Udai ya?”

“Lah iya, kan itu memerlukan tanda tangan Sensei kita yang baru” kata saya polos.

“Kirim saja dengan post!” katanya ketus.

“Wah saya udah janjian ketemu dengan Sensei besok”

Hari Selasa, akhirnya datang juga. Berangkatlah saya ke Udai dan bertemu dengan Sensei baru. Cerita singkatnya, dapat lah tanda tangan Sensei baru dan yang menyenangkan hari itu bisa ngobrol dua jam dengan Sensei dan banyak hal dibicarakan buat persiapan lapangan. Dengan langkah seringan kapas, merasa berhasil minta tanda tangan Sensei, naiklah daku ke kereta JR yang murah meriah itu. Wih, segitu gembiranya….

Hari Rabu tiba, dan zemi laborat dengan Sensei lama dimulai.

” Dewi san, mana formulir untuk ke hutannya?” tanya Sensei lama yang sudah pensiun itu, tetapi masih membimbing kami dengan zemi sebulan dua kali itu.

“Hei Dewi san…. kamu minta saja inkannya Sensei baru di Sempai, dia megang inkan Sensei baru. Kamu nggak bilang ke Dewi san?” wajah Sensei lama beralih ke Sempai.

”Saya kan sudah bilang…….” katanya Sempai.

“Bilang apa?bilang kalau Sempai pegang inkan Sensei baru?rasanya nggak bilang deh ke saya”

Wuih…..eng ing eng deh rasanya. Nyesak, sebel, merasa seperti diapakan deh saya. Tak terkatakan gejolak dihati saya. Mau mens kali nih…Kalau saya nggak bisa menahan perasaan saya saat itu, kertas zemi di depan saya rasanya sudah pingin saja kuremas-remas. Anggap saja meremas-remas muka si Sempai. Itu spidol gede merah sampingku, bagus juga kalau dicoret-coretkan ke wajah si Sempai, pasti wajahnya bisa lebih merah padam dari sekarang. Kalau saya tahu ada inkan Sensei baru di Sempai, kan saya nggak perlu repot buat minta jadual bertemu dengan Sensei baru. Tidak perlu repot naik kereta dan menghabiskan uang 5000 yen. Tidak perlu menghabiskan waktu delapan jam pulang pergi ke Udai.

Saya boleh dong marah sama Sempai. Saya jadi tahu sekualitas apa pertemanan Sempai di sini. Bahasa kasarnya, saya marah berat sama dia.

May 31, 2007 - Posted by | Utsunomiya Daigaku

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: