Bismillahirohmanirrohim

Just another WordPress.com weblog

Mental Juara

seperti ritual biasanya, ketika tim olahraga kita
kalah maka prosesi dan pagelaran saling lempar
kesalahan segera dimulai dan tentunya diakhiri ketika
media massa sudah lelah tidak memuat berita tentang
itu lagi dan beralih ke berita lain.

Saya hanya terkesan oleh atlet internasional di
berbagai bidang yang meskipun bidangnya berlainan tapi
ada satu kesamaan dalam diri atlet tersebut.

salah satu yang paling menarik adalah adanya mental
juara dalam diri setiap juara. mental ini tentu saja
tidak datang otomatis, tapi hasil dari tempaan keras
dan berbagai kegagalan yang meliputinya. hampir semua
juara pasti pernah merasakan pahitnya sebuah kekalahan
dan ada momem pahit yang membekas dalam dirinya. namun
berbeda dengan mental pecundang yang merasa nyaman
dengan kegagalan, mental juara belajar dari
kegagalannya.

mental juara mampu menenej diri sendirinya untuk maju
dan menjadikan pelatihnya sebagai mitra untuk
menganalisis sisi-sisi yang kurang dari dirinya.
terlalu panjang untuk menjelaskan secara teoritis
lebih enak kita melihat para sang juara.

mental pecundang hanya ingin hasil maksimal tanpa
melalui proses tempaan keras luar biasa. pecundang
biasanya mendengar hal-hal luar biasa dan baiknya saja
dari sang juara, dan andai mereka tahu bagaimana
kerasnya berlatih para juara barangkali mereka masuk
barisan yang akan mundur duluan.

jadi inget komentar Tiger Wood (juara dunia Golf)
sewaktu wawancara di NHK (?) ketika diwawancarai
tentang hole in one.
TG: banyak orang yang terkagum-kagum akan kemampuan
hole in one saya. tapi banyak orang yang tidak melihat
proses dan hasil kerja keras saya. untuk bisa
memasukkan bola dengan satu kali pukulan adalah hasil
dari ribuan kali pukulan stick saya. umur 5 tahun saya
sudah mukul-mukul bola dan bisa masuk, bahkan umur 1
tahun katanya saya sudah pegang2 stick. jadi bukan
prestasi latihan kemarin sore….

prestasi besar adalah rangkaian dari prestasi kecil.
hasil tempaan keras bertahun-tahun.
makanya tidak heran akan muncul prestasi-prestasi
besar. Pele umur 17 tahun sudah jadi pemain dunia,
mike tyson juara termuda dunia. bahkan piala toyota
kemarin juga yang mengibarkan nama alesandro pemuda
berusia 17 th juga karena umur 10 tahun sudah masuk
klub profesional dan 4 tahun sudah mulai bermain bola.

mental juara membuat icuk sugiarto yg sudah
ketinggalan 13-0 di set kedua dari morten, mampu
membalikkan keadaan dan sampai merebut set ketiga.
kita juga bisa melihat dari diri yayuk basuki dan susi
susanti dsb. ketenangan, kontrol diri, dan semangat
ingin menang/pantang menyerah. mental juara adalah
masalah harga diri.

lothar matheus ketika diwawancarai pasca membawa
jerman juara 1990 , “satu tendangan saya adalah hasil
dari ratusan dan ribuan kali latihan tendangan bebas
saya, dan banyak melatih sendiri tendangan sendirian
tanpa pelatih di malam hari disaat orang-orang sedang
bersenang-senang. ”

saya terkesan dengan komentar muhammad ali ketika
diwawancarai wartawan, “anda berprestasi besar boleh
jadi karena anda memang sangat berbakat dan punya
potensi jadi petinju besar, pernah terfikir tidak
andaikan anda dulu jadi tukang sapu kira-kira nama
anda akan tetap besar tidak?”
ali: “saya tidak tahu, tapi seandainya saya jadi
tukang sapu maka saya ingin jadi tukang sapu paling
hebat di dunia.”

salam,
Acep Purqon

May 7, 2007 - Posted by | Hikmah

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: