Bismillahirohmanirrohim

Just another WordPress.com weblog

Sebutir Pasir

Sebutir Pasir

Penakluk pertama Mount Everest, puncak tertinggi dunia
di Pegunungan Himalaya, Sir Edmund Hillary, pernah
ditanya wartawan apa yang paling ditakutinya dalam
menjelajah alam. Dia lalu mengaku tidak takut pada
binatang buas, jurang yang curam, bongkahan es
raksasa, atau
padang pasir yang luas dan gersang
sekali pun!

Lantas apa? “Sebutir pasir yang terselip di sela-sela
jari kaki,” kata Hillary. Wartawan heran, tetapi sang
penjelajah melanjutkan kata-katanya, “Sebutir pasir
yang masuk di sela- sela jari kaki sering sekali
menjadi awal malapetaka. Ia bisa masuk ke kulit kaki
atau menyelusup lewat kuku. Lama-lama jari kaki
terkena infeksi, lalu membusuk. Tanpa sadar, kaki pun
tak bisa digerakkan. Itulah malapetaka bagi seorang
penjelajah sebab dia harus ditandu.”

~~~~~~~~~~~~~~

Harimau, buaya, dan beruang, meski buas, adalah
binatang yang secara naluriah takut menghadapi
manusia. Sedang menghadapi jurang yang dalam dan
ganasnya
padang pasir, seorang penjelajah sudah punya
persiapan memadai. Tetapi, jika menghadapi sebutir
pasir yang akan masuk ke jari kaki, seorang penjelajah
tak mempersiapkannya. Dia cenderung mengabaikannya.

Apa yang dinyatakan Hillary, kalau kita renungkan,
sebetulnya sama dengan orang yang mengabaikan
dosa-dosa kecil. Orang yang malakukan dosa kecil,
misalnya mencoba-coba mencicipi minuman keras atau
membicarakan keburukan orang lain, sering menganggap
hal itu adalah dosa yang kecil. Karena itu, banyak
orang yang kebablasan melakukan dosa-dosa kecil
sehingga lambat laun jadi kebiasaan. Kalau sudah jadi
kebiasaan, dosa kecil itu pun akan berubah jadi dosa
besar yang sangat membahayakan dirinya dan masyarakat.

Melihat kemungkinan potensi kerusakan besar yang
tercipta dari dosa-dosa kecil itulah, Nabi Muhammad
saw mewanti-wanti agar ummatnya tidak mengabaikan
dosa-dosa kecil seraya tidak melupakan amal baik
kendati kecil juga.

Dalam kisah sufi, seorang pelacur masuk surga hanya
karena memberi minum anjing yang kehausan. Perbuatan
yang cenderung dinilai sangat kecil itu ternyata di
mata Allah punya nilai sangat besar karena faktor
keikhlasannya. Bukankah semua roh yang ada di seluruh
jagad ini, termasuk roh anjing tersebut, hakikatnya
berasal dari Tuhan Yang Maha Pencipta juga? Itulah
nilai setetes air penyejuk yang diberikan sang pelacur
pada anjing yang kehausan.

April 19, 2007 - Posted by | Hikmah

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: