Bismillahirohmanirrohim

Just another WordPress.com weblog

Kosakata Dzaky-kun

Kosa Kata Dzaky-kun

Kosakata anak laki-laki dari Mbakyu Sumringah ini unik. Tentu saja dengan penerjemah handal, ibunya yang suka tersenyum itu. Kebiasaan batita yang berusaha berbicara dengan jelas, dalam kapasitasnya yang berusia dua tahun, dengan kelucuan dan keluguannya. Ini beberapa kosakatanya yang sempat terekam oleh Mbakyu Geudebleh.

Cum artinya Assalamualaikum.

Num Teh De artinya miNUM TEH di rumah BuDE.

Cut Bok artinya naik perosotan di taman, meluncur dari atas sruuuuuutttt/CUT, lalu terduduk di bawah perosotan buuukkk/BOK.

Yu Yak artinya minum susu/YU, merek Bebelak/YAK. Meminum susu merk Bebelak, jadilah Yu Yak.

Bar Momo artinya Menggambar/BAR, Singa/MOMO, suara mengaumnya kan Mouuuunggg/MO, Mouuuuunnggg/MO. Jadi artinya Singa yang sedang mengaum.

Yung Wok artinya Burung/YUNG, yang berbunyi Woookk…woookkkkk/WOK, artinya burung Gagak hitam di Jepang yang bertebaran dimana-mana. Di jalan, di taman, di samping rumah, hampir di tiap sudut Jepang, kita bisa menemukan Burung Gagak ini.

Mbah : maksudnya MBAH Mbuh, panggilan pada ibunya Mbak Dina Faoziah.

”Pi Tutut” artinya kereta aPI yang berbunyi TUT …TUT…tut..tut.

 

Dapak-dapak : kuda. Kuda itu kan kalo berjalan tepak tepak tepak….di katakan dengan suara bayi menjadi ”DAPAK…DAPAK ….”

Puk Mama artinya TePUK MAMA alias bertepuk tangan oleh Mama. Bila telah melakukan aktifitas misalnya menggambar balon, maka Dzaky-kun akan meminta apresiasi. Bila Bude Geudeblehnya telah tepuk tangan, dan mama-nya Dzakykun masih sibuk di dapur, maka si kakkoi cilik ini akan berlari ke dapur dan meminta pada Mama-nya.

”Puk Mama… Puk Mama…Puk Mama” berulang kali, sampai sang Mama memberikan tepuk tangannya.

Buk Mama artinya GeBUK MAMA. Kalau sedang marah, Dzaky-kun akan protes pada Mbakyu Sumringah sang Mama, dengan memukulkan tangannya berkali-kali ke Mbakyu Sumringah, sambil berujar.

”Buk Mama…Buk Mama…”

Pada saat tertentu tiba-tiba setelah mendapatkan pembelajaran selama dua minggu tentang permintaan maaf bila melakukan kesalahan. Tiba-tiba si kecil Dzaky berjalan pelan-pelan dengan wajah agaknya merasa bersalah.

”Mama, JOMENG…JOMENG…” katanya pelan.

”Ada apa Ki?” tanya sang Mama dengan sabar.

”Mama JOMENG…ennih…” kata Dzaky kecil mengucapkan kata Gomen yang artinya dalam bahasa Jepang adalah Maaf, dengan modifikasi lidahnya menjadi JOMENG. Lalu sambil mengucapkannya dengan mengatakan kata ennih (Ini), berikut menunjukkan taplak meja buatan Mama, yang telah digunting-guntingnya menjadi kain kecil-kecil.

”Duh…Gusti Allah…Dzaky-kun…” gumam Mbakyu Sumringah melihat kemajuan dari didikan mengucapkan maaf saat melakukan kesalahan, walupun pada usia batita. Pembelajaran yang sangat bagus dan patut menjadi contoh, walaupun sang Mama akhirnya mengurut dada, karena taplak meja buatannya terkoyak-koyak.

Nilai sebuah taplak meja akan berbeda signifikan dengan hasil pembelajaran mengucapkan kata JOMENG yang telah berhasil ditanamkan pada seorang Dzaky-kun, anak laki-laki cilik usia dua tahun yang tinggal di Fuchu Tokyo.

Belajar sejak dini mengucapkan kata maaf, sebenarnya bukan hanya buat seorang Dzaky-kun. Karena bisa jadi kita-kita yang sudah menjadi orang tua, menjadi tante, menjadi om, Pakde, Bude, dllnya. Malah bisa jadi lebih susah meminta maaf karena jabatan, karena ketuaan, karena titel, karena harkat dan martabat.

TOKYO 28 Oktober 2008.

Revisi : INDONESIA 10 April 2009.

September 15, 2009 - Posted by bainahsaridewi | Mbakyu Geudebleh | | No Comments Yet

No comments yet.

Leave a comment