Bismillahirohmanirrohim

Just another WordPress.com weblog

Agustus : Himmi Selamat Jalan

“Himmi Selamat Jalan”

 

Orangnya tinggi gede. Kadang berkumis tipis kadang tidak. Namanya sudah seperti nama Jepang. Himmi san.Kalau main ke Nokodai sering menyapa kami dengan ramah. Rada pendiam kelihatannya, tetapi kalau sudah asyik dan cocok dengan game dan selera dangdutnya, maka bisa sampai minap bermalam segala.

 

Sering datang saat rapat-rapat Temu Ilmiah, karena si penyungging senyum manis ini, salah satu koordinator penting di acara tersebut.

Saat aku memposting tulisanku tentang begadang, tak sungkan, pemuda yang jago bahasa Jepangnya ini, menyapaku di milist dan menawarkan CD rekaman lagu-lagu dangdut. Ah ya tak mungkinlah kutolak, dengan dasar apapun, dengan senang hati kuterima.

Dan sampai hari ini CD nya belum juga kukembalikan.Karena ternyata

“Susah susah mudah kau kudekati, kukejar engkau lari, kudiam kau hampiri” ah itu mah lagunya Trio Libel bukan lagu dangdut.

Sebenarnya karena sibuk, daku susah untuk mengejar mengembalikan CD nya, juga nggak pernah menghampiri. hehehe…

 

Sastra Jepang Universitas Indonesia, mengantarkan pemuda yang masih belia ini untuk tinggal selama satu tahun di negeri Sakura. Semoga banyak indah, banyak hikmah, banyak cinta, diperolehnya dari negeri yang juga keras, tak kenal ampun, bisu, senyap.

Sastra Jepang UI pasti bangga, memiliki putra dan putri secerdasnya. Para dosen juga bangga, mahasiswanya bisa hidup satu tahun di Jepang. Bapak Ibu juga pasti paling bangga, anak lelakinya di usia belia, sudah menginjakkan kaki di luar negeri.

Iya, Jepang itu luar negeri. Suka terlupa kalau kita tinggal dan hidup di luar negeri.

Hey…LUAR NEGERI.

 

Baru merasa ke luar negeri kalau dalam posisi jalan-jalan nyaman, lihat pemandangan indah dan asri, menikmati hari. Barulah terasa, bahwa ternyata

“Ini luar negeri…”

Belajar dan belajar, karena tahapan itu masih panjang. Banyak Sempai di sini yang dengan program satu tahunnya mendapatkan kesempatan emas untuk S2, S3, bahkan Post Doct.

Semua orang bisa.

Karena semua yang sudah di luar negeri ini, sebenarnya memiliki ketangguhan hati dan ketangguhan motivasi.

Memang tidak mudah memiliki hati dan motivasi terus dan terus tingi. Tetapi memiliki kata-kata positif yang bagus, itu juga memacu motivasi untuk bertahan tetap teguh, tetap kuat.

 

Tidak pakai kata walaupu… di kata akhirnya.

Karena kalimat bersayap tidak pernah digunakan oleh orang yang berpikir positif.

“Setia lah pada tujuan awal”.

Segeralah kembali ke bumi pertiwi, selesaikan jenjang kesarjanaan yang masih tersisa, dan berjuang lagi untuk tahapan hidup selanjutnya.

Selamat Jalan Himmi, semoga banyak hikmah dari kekeluargaan Fuchu Koganei ini.

Maaf kan khilaf kami dan, “Melangkahlah dengan lebih gagah!!!”

 

TOKYO 2 August 2008

Special buat HIMMI.

 

October 29, 2008 Posted by bainahsaridewi | Mbakyu Geudebleh | | No Comments Yet

Agustus : Bukan Pamit, Hanya Pindah Mukim Saja

“Bukan Pamit, Hanya Pindah Mukim Saja”
 
Pertama, tetapi yang terus terjadi berulang-ulang setiap menuliskan email japri padanya, selalu mesti menghapus tanda sama dengan dan tanda kurung yang disambungkan dari namanya. Ayu Maulita dan tanda itu. Sudah tersimpan apik di address bookku, sehingga setiap menuliskan nama Ayu, makan akan muncul lengkap seperti ceritaku di atas. Ayu Maulita =) .
 
Dan setiap kali juga, saat dikirim, selalu dapat teguran dari Yahoo, katanya alamat ada yang eror. Setelah menghapus tanda sama dengan dan kurung tutup itu, barulah emailku padanya bisa terkirim.
Saking gapteknya, kubiarkan saja save address book itu sonomama. Akibatnya terjadi perulangan hal sepele itu, berkali-kali, dan itu wujud latihan sabar yang tidak pernah diketahui oleh pemilik nama ini, mungkin hingga saat aku menuliskannya saat ini. “Jazakillah Khoir Dik! atas latihan kesabarannya buatku, tanpa kau tahu”.
 
Sebagai refleksi saja, kadang kita membuat orang sedih, sakit hati, kesal, padahal kita tidak pernah menyadari kalau dari perilaku, dari kata-kata kita, ternyata ada yang nyangkut “tidak berkenan”.
Sayangnya, hanya sedikit orang yang bisa mawas diri, bahwa ucapannya tajam, ucapannya kaku, ucapannya nyelekit, ucapannya selalu membuat kuping dan isi dada sakit.
Pemilihan kata-kata dari kita kadang membuat orang lain tanpa sadar, ternyata kita telah membuatnya menderita.
Wah sebegitu tajamnya kah kata-kata Ayu? Oh sama sekali bukan Ayu.
Tetapi aku, kau, juga dia.
 
Mengenal Ayu adalah identik dengan sederhana, gesit, solihah, tawaddu, cerdas.
Sosok wanita solihah, yang rajin menulis dan punya hoby tulis email ini, pernah ngebom suatu milist nonstop sampai para pengurusnya klenger.
Sosok berkaca mata manis ini juga punya hoby nyasar. Kemana-mana nyasar, tapi jiwa mudanyalah yang selalu tetap istiqomah datang ke apatoku, walaupun selalu nyasar.
Nggak kapokan.Itu mental anak muda.
“Ah, akhirnya bisa juga jalan-jalan di Jepang sesama FLP-er” gumamnya tersenyum, ditanggapi gelengan aneh dariku. Sebenarya siapa ya yang menyeret aku sampai keblesek jauh gini?Tak lain ya si manis ini.
Satu tahun di Jepang, menelurkan satu novel tentang Jepang, dan satu novel lain tentang Yogya.
Sama-sama wanita, tetapi, yang satu, dalam satu tahun bertelur dua novel. Dan yang lain, boro-boro punya telur.
Jangan bilang karena Ayu masih singel jadi pantas saja dia produktif.
Sungguh banyak yang singel tapi juga tidak menelurkan satu helai tulisanpun.
“Saya kan ibu rumah tangga, urusannya banyak, mana sempat nulis” hal  ini juga bukan kriteria seseorang untuk produktif.
Terlalu banyak ibu rumah tangga profesional yang produktif dari rumahnya yang serasa syurga.
Jadi apa?
“Katakan saja, Ayu adalah sosok muslimah muda yang produktif, aktif, dan selalu memperpanjang tali silaturahminya pada siapapun”.
Itu adalah kalimat yang tepat versiku.
 
“Bukan mau pamit, tapi hanya mau pindah  negara saja, mulai 11 Austus 2008 ini” sapanya ramah di suatu milist.
Bahasa yang halus, karena Indonesia dan Jepang sudah dianggapnya sebagai dua rumah yang berbeda waktu huni saja.
Ah, terlepas dari segalanya. Aku bangga punya adik yang produktif.Cerpennya baru saja di muat di majalah Annida.
 ”Teruslah berkarya Dik!”
“Almamater menunggumu dengan seksama dan sesegeranya, bergegas, dan kembalilah ke rumahmu di Jepang suatu hari nanti”.
 
Anak STEP wakil Indonesia di Gaidai ini, pernah main dan duduk di kursi “berat”ku di laboratory. Kursi itu tidak semua rekan bisa duduk di situ, karena terlalu jarang sahabat yang datang ke lab “titipan” Sensei lamaku ini.
Walau jauh, justru yang jauh ini, malah pernah “sempat” duduk di sini.
“Semoga menular jiwa produktifnya padaku Dik!”
 
Akhirnya Fuchu Koganei akan berkurang jumlahnya satu. Maafkan salah kami, dan jadikan rumah Fuchu Koganei ini sebagai tempatmu yang tetap sejuk, walau suatu hari nanti, kamipun akan berpindah rumah ke Indonesia jua, sepertimu.
 
TOKYO, 8 Agustus 2008
Special buat Ayu Maulita.

 
 

October 29, 2008 Posted by bainahsaridewi | Mbakyu Geudebleh | | No Comments Yet

Agustus : Dek! Lanjutkan Langkah

“Dek! Lanjutkan langkah”

 

“Wreeeet…wreeeeeettt” hp ku yang bernada getar memberi kode untuk diangkat segera.

“Teh, aku mundur dari UGM, udah nggak kuat lagi Teh…” sapa suara lemah di ujung telepon dari Indonesia.

“Kenapa nggak bertahan Dek!!!” kataku kaget dan ikutan lemas mendadak. Dek, adalah adik angkatku yang kuliah di UGM S1, tetapi karena memiliki masalah komunikasi dengan dosen pembimbing skripsinya, lalu hidup perkuliahnnya jadi terkatung-katung.

 

“Bersabarlah lagi, untuk bisa lulus Dek!!!” kataku masih berusaha meluruskan niatnya.

Udah Teh, sabarnya masih bisa, tapi aku sudah muak dengan dosenku, udahlah, aku ambil status 136 sks nya saja, lalu kalo ada rejeki mau pindah universitas di Jakarta atau Tangerang saja” kilahnya lagi.

Tahun 1996 Dek masuk UGM, jurusannya cukup berat yang dipilihnya, tetapi dengan otaknya yang juga sangat pintar maka tidak ada kekuatiran apapun.

Setelah dijalaninya sejak 1996 sampai 2008. Hahhhh!!! semoga aku tidak salah menghitung tahun, rupanya Dek memang sudah melewati batas akhir berada di kampus Ndeso kami itu.

Kampus Ndeso, yang merakyat, yang sekarang harga SPP nya sudah ikutan melambung tinggi bak sekolahan swasta di Kota Pelajar itu.

Dua belas tahun untuk menyelesaikan S1 nya, ternyata belum juga bisa berakhir mulus menjadi seorang sarjana jebolan UGM.

Ternyata, pintar saja tidak cukup untuk lulus dari UGM. Apakah jiwa Ndesonya UGM belum bisa merasuk dalam hatinya?sehingga berdampak tidak lulus?

 

Kenapa pula, si dosen pembimbing sampai nyangkut berurusan dengan Dek. Apa yang terjadi, adalah hal panjang. Bahkan telah aku beri solusi agar ganti dosen pembimbingpun ternyata tak berjalan mulus.

Untuk lulus UGM, ternyata modal pintar saja tidak cukup.

Ah, kenapa mesti terjadi pada Dek yang pintar, selalu baik, dan selalu penolong pada teman-teman seangkatan kuliahnya?

 

“Udah ya Teh, gitu aja, aku hari ini resmi sudah bukan mahasiswa UGM lagi…” suara telepon ditutup dengan tergesa, mungkin pulsanya sudah nyaris habis.

“Ah, sayang sekali perjuanganmu Dek. Tapi ini juga bagian dari pilihan hidup.Lanjutkan terus langkahmu Dek! UGM bukan segala-galanya. Semoga langkahmu tambah lebar walau tanpa embel-embel UGM di belakang namamu”.

“Semoga dosen pembimbingmu itu suatu hari tersadarkan, betapa kekerasan hatinya dalam membimbing, bisa berdampak pada masa depan seorang mahasiswa bimbingannya, nauzubillahiminzalik. Jauhkan sifat “keras” itu saat membimbing mahasiswaku Ya Rob…”.

“Permudahlah urusan orang lain, insya allah, kita juga akan mendapatkan kemudahan dalam urusan kita kelak”.

 

TOKYO, 13 Agustus 2008.

Nderek berduka tanpa bisa berbuat apa-apa.

 

October 29, 2008 Posted by bainahsaridewi | Mbakyu Geudebleh | | No Comments Yet

Agustus : Senyum Kok Mesti Tulus, Heehh!!! Aneh !!!

Senyum Kok Mesti Tulus, Heeh!! Aneh!!”

Tujuh belas Agustus 2008 di Tokyo meriah juga rupanya. Beraneka lomba diadakan KBRI Tokyo untuk memeriahkannya. Saat pembagian hadiah tiba, aku tertegun, melihat Mbak Hara menerima hadiah juara tenis meja ganda putri, sambil menggendong putrinya yang lucu. Jilbabnya melambai-lambai diterpa angin, senyum damainya terlihat tulus menerima ucapan selamat dari pejabat di KBRI, yang hampir seratus persen hadir kala itu.
Senyum tulus seperti itu belum bisa kurangkai dalam wajahku yang tidak manis ini. Apalagi untuk menyunggingkan senyum tulus nan lembut itu.
Kibaran jilbabnya buatku seolah mengatakan,
“Ini loh, biarpun berjilbab, aku juara tenis meja juga”
“Aku juga ibu seorang putri endut yang cantik”
Hemmm…
Suka melihat wajahnya yang tulus, cantik, dengan jilbabnya yang berkibar seperti prestasinya yang juga berkibar.
Jilbab ternyata bukan penghalang beraktifitas dalam
olah raga. Ah tapi bukan sudut itu pula yang membuatku tertegun. Mbak Hara bukan pelajar di Jepang, dia mendampingi suaminya yang sedang sekolah. Tetapi banyak hal menawan yang aku lihat pada Mbak manis bermata lembut ini.
Kata-katanya selalu sopan penuh kelembutan. Hal yang nggak bisa aku lakukan pada orang lain, berkata menduai-duai, berlembut-lembut kayak kapas. Wes, jauh banget pokoknya.
Tetapi ternyata menjadi wanita lembut, sejuk, kata-katanya indah dan santun, boleh juga ditiru.
Watak Sumatera nan keras, jadi kebanggaanku di
hari kemerdekaan ini.
“Siapa berani aku?ayo lawan, sapa takut dengan Lu!!!”
“Lu pikir, cuman Lu yang kerja apa?semua juga kerja di bidangnya masing-masing, tapi Lu paling tampak gaya deh! senep gua!” kalimat-kalimat itu cocok buat ekspresiku yang berapi-api.
Ternyata jadi wanita yang lembut itu, bagus juga kayaknya. Bukan
hanya wanita yang lembut perkataannya tapi juga lembut hatinya.

“Ah, kita kan sesama Sumatera, maaf-maaf saja ya Mbak kalo omonganku ini nggak cocok” ini adalah gaya bahasa orang Sumatera yang ceplas-ceplos.
Sebagai sesama “Wong” Sumatera, aku hanya nyengir. Karena ternyata kami sama. Setali tiga uang, sesama wong Sumatera dan ceplas-ceplos.

Ah, ternyata, saat aku dapat ceplosan bernada nggak enak, sakit juga hati ini.Artinya, saat aku ngomong ceplas-ceplos polos pada orang lain, duhai Allah, tentu dia sakit sekali hatinya. Astagfirullah. ..Hanya pembenaran saja yang selalu aku buat, bahwa, ya begini inilah wong Sumatera. Semuanya jelas, tanpa tedeng aling-aling.
“Tapi masalahnya orang Jawa yang ngomong dan kalimatnya jelek juga banyak”
“Siapa pula Bah!!! yang buat hati berasa sakit, kenapa pula sekarang jadi sensi begini?mau datang bulankah!!”
Ah jadi bukan wong Sumatera atau orang Jawanya. Tetapi adalah individunya.

Ternyata tetap lebih enak mendapatkan ucapan yang bagus dari suara yang lembut, juga senyuman yang tulus, seperti yang kupandangi dari wanita dengan jilbab berkibar itu menerima hadiah bersama seorang ibu dari KBRI yang tidak berjilbab. Si ibu dari KBRI itu sedikit heboh karena tertawa-tawa senang menerima hadiah sampai badannya bergoyang-goyang. Badan si ibu di balut kebaya putih, kain sutra merah, sesungguhnya sudah cukup keren penampilannya, hanya saja, tawanya nan riang merubah ketertegunanku saat memandang Mbak Hara yang berada di sebelahnya, yang juga tersenyum lebar, berjilbab dan menggendong peri pujaan hatinya.

“Si ibu tadi sudah kawin belom yah,…” suara nakal muncul tanpa ba-bi-bu.
“Loh, apa hubungannya dengan kawin dan tidak?apa pula perdulimu?” bantah suara aneh di gendang telinga yang suka menangkap makna aneh ini.
“Maksudku, dengan sering senyum tulus, maka jodoh jadi dekat?bener- bener edan kau !!!” gelitikan lain muncul.
“Tak begitu lah, orang judes kayak aku, toh ternyata cepat pula datang jodohnya!!!”

Otakku saja yang eror sepertinya. Tetapi sungguh, menjadi wanita yang berbudi bahasa baik, lembut, penyayang, tulus, bahkan memiliki senyum setulus Mbak Hara menjadi impianku juga. Pingin juga dapat penghargaan bahwa senyumku benar-benar tulus, benar-benar Lillahitaala. Penghargaan bukan dari sesama, tetapi dari yang memiliki bongkahan senyum sedunia, di atas sana.

“Loh, katanya hari merdeka, apa saja boleh dong diekspresikan sebagai rasa kebebasan?kenapa kamu malah mikir mau jadi wanita lembut segala?”

“Emangnya nape kalo gue mau jadi wanita lembut? Lu pikir cuma Mbak Hara doang yang bisa ?aku mau segera berguru padanya, apa kiatnya senyum tulus dan berbicara santun seperti dia” tarik-tarikan kalimat itu terus saja berseliweran.

“Yang benar saja, serius mau jadi wanita lembut?” tantangan suara lain datang entah dari mana, datang mengejek.

“Setidaknya aku menyukai wanita yang lembut, dan tersenyum penuh ketulusan seperti Mbak Hara” komentar sisi lain dari otak yang berputar-putar mencari makna merdeka buat Indonesia di tahun 2008 yang ke 63 ini. Kemerdekaan bisa banyak ekspresi. Seperti aku berekspresi terhadap senyum tulus Mbak Hara pada siang, tujuh belas Agustus 2008 di Wisma Duta KBRI Tokyo ini.
“Senyum kok mesti tulus, heeh!! aneh!!” kalimat itu menggumam dalam hati.
“Kenapa aneh? belajar tersenyum juga bagian pembelajaran terkecil rupanya yang mesti kuadopsi dari senyumnya Mbak Hara” sapaku melemah dan berusaha mengakhiri siang terik ini dengan menu spesial KBRI.

Menu yang tak terlupakandeh, sate ayam, bakso plus siomai, pecel, dendeng kering balado, ikan gurameh dengan irisan tomat, cabe rawit, urap dengan daun kemangi yang sudah tiga tahun setengah tak kunikmati si daun dengan rasa mint itu, es gula jawa lemon, es lemon, es krim, es teler, aneka jus, dan teh Jepang. Tak ketinggalan kue pastel, bolu lapis legit, dan sus isi ikan. Menu termewah dan termegah selama aku melewatkan upacara tujuh belasan selama empat kali di KBRI ini.
Yokkatta ne (Alhamdulillah ya…).

Senyumku mengembang. Pasti senyum tulus, karena perut padat seratus persen.

TOKYO, 17 Agustus 2008

October 29, 2008 Posted by bainahsaridewi | Mbakyu Geudebleh | | No Comments Yet

September : Pameran Eh Jualan

“Pameran Eh Jualan”

 

Lagi dapat job dadakan menjadi interpreater susulan di suatu pameran besar di Big Site Odaiba Jepang tanggal 2-5 Sept 2008. Pameran gede-gedean ini katanya sih di hadiri dua puluh lima negara tetangganya Mbakyu Guedebleh. Si Mbakyu Geudebleh tiba-tiba diminta menggantikan temannya yang sedang arubaito atau kerja paruh waktu. Ketiban duren deh, katanya arubaito di sono dapet duitnya gede, sepuluh ribu yen sehari. Setara dengan delapan ratus ribu rupiah sehari, dari jam sepuluh pagi sampai jam enam sore.

Siapa yang nolak job model begitu.

Mbakyu Geudebleh ketiban rejeki, saat temannya mendadak tidak bisa datang kerja.

“Gantikan saya ya Mbakyu Gu” sapa temennya suami Mbakyu Geudebleh, si Mas Amung Sakti Mandraguna.

 

Ternyata saat menggantikan posisi temannya Mas Amung Sakti Mandraguna, kerjaannya adalah jaga pameran, interpreater alias penerjemah Bahasa Jepang ke Bahasa Indonesia atau ke Bahasa Inggris.

“Enaklah, cucok harga dan cuocok kerja” batin Mbakyu Geudebleh.

Duduk, berdiri, senyum, terjemahin dikit-dikit, senyum lagi, selesai. Itu perkiraan kerjaannya saat nerima job.

Eh ya talah dalah, ternyata, kerjaannya lebih dari itu. Selain itu, Mbakyu Ge, mendapat job berjualan semua barang yang ada di standnya. Mulai dari eceran sampai jualan dalam jumlah besar.

Pameran merupakan ajang untuk menjalin relasi dan berjualan product. Walau sebenarnya peraturan di pameran ini adalah tidak boleh ada keluar uang langsung di stand, tapi bukan stand Indonesia lah kalau nggak jualan.

Sambil cari buyer yang gede, ikan teri pun tetap diciduk, batin Mbakyu Geudebleh senyum ketar-ketir.

“Pertama jaga pameran di Jepang ya Mbak?”sapa Bu Margono, pemilik stand pameran yang mana si Mbakyu Ge diberdayakan hari itu.

“Iya Bu, wah barang-barang ibu semua terbuat dari kerang ya, antik dan unik yoo Buu” suara medok Mbakyu Geudebleh mulai memecah keheningan stand.

“Iyo. Lah wong di Indonesia itu kaya dengan hasil laut tapi pemanfaatannya sangat sedikit, saya punya tambak kerang mutiara di laut Jawa, jadi bisa ekspor kulitnya untuk kerajinan kayak gini ini Dik” timpal Bu Margono.

 

Hari pertama dilalui tanpa kesan, yang ada lelah dan pegel karena pembeli eceran hanya tigapuluh ribu yen saja, dan itu sudah dengan bumbu keceriwisan Bu Margono.

“Dik, naruh aasesorisnya jangan begitu, yang sebelah sono kurang manis, coba di rubah”

“Coba angkat ini, ambil kertas pembungkus di laci, katalog itu jangan di simpan di kolong meja, kalkulator kalo sudah selesai taruh di meja lagi, walah endi kaca mataku tho?”dan serentetan perintah bak Ibu Juragan Warteg Endi Manahutu, dekat kost annya Mbakyu Geudebleh. Warteg untuk istilah mudahnya Mbakyu Ge, menyebut warung Susi Jepang.

Pegawainya di suruh macam-macam dari A sampai Z.

 

Dasar Mbakyu Geudebleh emang suka di suruh-suruh, jadi pekerjaan yang mestinya menjadi penerjemah atau asisten jualan eh asisten pameran itu dijalani saja dengan tawakkal, Bu Margono itu tidak tahu, bahwasanya yang disuruh-suruhnya saat ini adalah seorang penggede juga. Penggede di kostannya alias apartemen bahasa kerennya buat kamar sempit kost nya di Jepang. Juga penggede di universitas tempatnya si Mbakyu Guedebleh mengajar di Indonesia. Gimana nggak jadi penggede, lah wong badannya si Mbakyu Geudebleh gedenya sudah kayak drum dua buah didempetkan.

Rada sesak napas, tapi ketawakallan Mbakyu Geudebleh mengalahkan sesaknya. Malah dibalas semuanya dengan senyum.

“Iya Ibu, bagian mana lagi yang mesti saya kerjakan? Ini kaca mata Ibu, tadi tertinggal di pojokan asesoris” suara tulus Mbakyu Ge.

 

Pengunjung pameran ini luar biasa banyaknya. Tetapi mereka semua terkendali dan antri untuk bisa melihat suatu stand dari setiap negara. Hebat ya, budaya antri di Jepang mah, terus saja ada, di manapun mereka berada. Di WC antri, walah mungkin ada yang kebelet sampe pipis di celana? di pameran juga antri, walau mungkin ada yang kebelet mau pegang barang antik, unik di stand Bu Margono ini.

 

Hari kedua pengunjung pameran ini rasanya ribuan orang. Dan stand Bu Margono yang di gedekan dengan penggede Mbakyu Geudebleh, rame. Hemm… rame banget malah.

“Saya mau beli semua asesoris furnitur ini, tolong dihitung berapa jumlahnya dalam dollar, besok uangnya saya bawa, barangnya saya ambil di hari terakhir pameran ya, bagaimana? OK desuka?” kalimat jadi dari Ozawa san, belakangan diketahui namanya setelah diterjemahkan semua kalimatnya oleh Mbakyu Ge ke Bu Margono.

“Saya ingin bisnis lama dengan Mama san, jadi kasih saya kualitas terbaik ya” kalimat lanjutan Ozawa san dalam bahasa Jepang yang diterjemahkan oleh Mbakyu Ge. Si Ozawa san menyebut Mama nya Mbak Liz dengan Mama san.

Wah, bak di siram air hujan, berkah hari itu demikian besar buat Mbakyu Geudebleh, karena dia berhasil menjaring si Ozawa san jadi pembeli semua produk pameran hari itu. Rayuan pulau kelapa mautnya dari Mbakyu Geudebleh rupanya manjur di hari kedua.

 

“Wah, Mbak Liz pinter ya jualannya, baru pertama Mama ajak ke luar negeri, sudah bisa buat dagangan Mama laku habis di hari kedua pameran” puji Bu Margono yang memanggil putrinya yang duduk manis di sebelah Mbakyu Ge sepanjang hari. Mbak Liz menerima uang dari hasil penjualan eceran di stand, mungkin karena susah berdiri, sama gedenya dengan badannya Mbakyu Ge tapi kayaknya deskripsi yang benar, Mbak Liz ini ibarat tiga drum didempetkan. Jadi lebih susah berdiri karena bobot tubuhnya yang aduhai.

 

Tidak penting siapa yang gede badannya atau berjasa mencarikan buyer kakap untuk Bu Margono. Yang terpenting, pekerjaan dua hari sebagai penerjemah  atau asisten pameran itu bisa diselesaikan dengan baik, dengan hati ikhlas, karena sedang di bulan Ramadhan. Bekerjanya ibadah, tidurnya ibadah, senyumnya ibadah, semua jadi ibadah selama dikerjakan semua hal dengan ikhlas. Bulan Ramadhan bekerja sudah bukan hal aneh di Jepang. Dan kerjaan model Mbakyu Geudebleh ini banyak dilakukan oleh hampir dua puluh mahasiswa dan mahasiswi dari S1 sampai S3, bahkan ada yang lulusan doktor juga ikutan arubaito di stand Indonesia pada pameran kerajinan dari dua puluh lima negara tersebut.

 

“Sukses Bu Margono, lanjutkan perjuangan mencari buyer Kakap hari ini. Saya mau ngerjakan PR dari Sensei dulu di lab” batin Mbakyu Geudebleh melepaskan arubaitonya hari ini demi sang pacar tercintanya, disertasi s3 nya yang menjadi pacar setianya tiap menit dan detik.

 

TOKYO, 4 September 2008.

 

 

 

October 29, 2008 Posted by bainahsaridewi | Mbakyu Geudebleh | | No Comments Yet

September : Makna Uang Tiga Puluh Ribu Yen di Mata Para Ibu

“Makna Uang Tiga Puluh Ribu Yen di Mata Para Ibu”

 

“Kalo mau bawa anak, kamu mestinya bilang dulu sama saya, nggak main bawa aja seperti sekarang, lihat!!! nanti dia akan mengganggu kamu, padahal kamu kan mesti packing buat Ozawa san”  Ibu Ngegondokin  yang manis dan lembut, yang di jumpai Mbakyu Geudebleh hari pertama pameran, memulai serangan paginya di hari ketiga pameran, sesaat si Mbakyu menapakkan kakinya kembali ke ruangan pamerannya dengan putrinya.

Maksud hati untuk memperkenalkan ajang international ini pada sang buah hati, malah menjadi santapan “keji” dari penanggung jawab stand pameran di Big Site Odaiba, 2-5 September 2008 yang diikuti oleh dua puluh lima negara tersebut.

 

“Mbak Ge, duh kok piring kerangnya diletakkan di sini. Tuh terinjak si orang Jepang” seru Ibu  Margono galau, piringnya terinjak orang Jepang. Bu Margono sedang packing untuk Okagesamasama san, jadi packingnya persis di depan meja stand pameran. Terinjak pula piring yang dia taruh di depan stand itu oleh kaki pembeli. lah ya talah dalah… kok ya marahnya ke Mbakyu Geudebleh.

“Waduh Bu Margono, maaf, saya sedang menjawab pertanyaan beliau berdua tentang order ratusan kerang material untuk bisnis Ibu, tadi Ibu kemana?beliau berdua ini berminat bahan dasar kerang dari Ibu, dan saya sedang menjelaskan ini…”menjawablah dengan takzim Mbakyu Geudebleh dari balik dalam stand dengan wajah kepiting rebus.

 

“Apa saya bilang, kalau kerja bawa anak, anak membuat gugup kerja kan?” sambar Ibu Ngegondokin dari arah belakang sebelah ujung kanan stand.

 

“Loh Bu Maaf, anak saya nggak ganggu kok, apalagi membuat saya gugup bekerja, Ibu lihatlah, dia tidur di meja sekarang? mana yang mengganggunya? dia berpuasa hari ini  dan mengantuk, lalu tertidur…” jawab Mbakyu Ge tak mau kalah menjawab keketusan Ibu Ngegondokin itu

.

Dia tidur sendiri, bahkan hanya beralaskan meja untuk pipinya yang imut dan masih semu kesemutan mungkin, karena tangannya dilipat dua, lalu ditangkupkan ke wajah. Meletakkan wajahnya di atas kedua tangannya lalu tidur dengan tenang, di tengah kesibukan Mamahnya yang sedang arubaito jadi translater eh juga nyambi diperintah berjualan.

Mana sisi mengganggunya? Ibu Ngegondokin ini punya anak ngak seh?

 

“Udah lah Mbakyu Ge, omongan Ibu Ngegondoikn jangan diambil hati, kalau Mbakyu Ge tidak ada, seperti kemarin Mbakyu Ge absen dari pameran ini, stand saya sepi, dan kami kesepian. Anggap angin lalu saja omongannya. Hiburan kalimat ini keluar dari Ibu Margono pada Mbakyu Ge.

 

“Kalau kamu bawa bayimu dan berniat momong, kan kamu bisa bilang dengan saya, tidak usah datang saja kamu hari ini di pameran, saya bisa cari orang lain” Ibu Ngegondoikn yang bersuami orang Jepang yang sok profesional itu menyapa dengan sambaran gledek mautnya pada interpreter lain yang hadir membawa bayi delapan bulan, anak perempuan enam tahun dan keponakannya dua puluh tahun.

 

“Anak saya bukan saya yang asuh hari ini, tetapi di pegang oleh keponakan saya Bu, jadi Ibu tidak perlu kuatir dengan profesionalitas kerja saya” jawab si Ibu dengan mantab.

“Lain kali, jangan seenaknya bawa anak tanpa bilang saya dulu ya !!!” jawab Ibu Ngegondoikn itu tanpa ambil pusying dengan air mata yang siap keluar membuncah, karena naluri keibuannya tersembelih dengan kalimat seorang ibu juga yang nampak ingin profesional di tugasnya.

 

“Bah, habis beras makan gabah, asal aku nggak terhina seperti ini, tanpa baito di sinipun aku masih bisa hidup. Suamiku masih cukup terhormat, sebagai pengajar di beberapa perguruan tinggi di beberapa negara, seenaknya saja dia ngomong padaku tentang anakku!!!” curhat Ibu Anggun berhati halus sehalus kapas, seindah permata, tetapi menjadi berang, seberang heawan bernama berang-berang, seindah lebah, tetapi akan menggigit bila terinjak tubuhnya.

 

Mbakyu Ge, merasa tidak sendirian mendapatkan perlakuan tidak senonoh. dan buat Ibu Anggun dalam perjalanan karirnya sebagai seorang Ibu Rumah Tangga. Walaupun pilihannya saat ini sebagai Ibu Rumah Tangga, tetapi Ibu Anggun, bukan ibu sembarang ibu. Bu Anggun lulusan Doktor, dari Universitas ternama di Jepang ini. Keberadaannya hadir sebagai interpreter juga dengan niatan tulus, ingin belajar mencerna, apa, bagaimana, menjadi peserta pameran ini pada tahun yang akan datang. Peserta pameran, bukan sebagai job saat ini.

 

“Terima kasih Ibu, uang tiga puluh ribunya…” sapa Mbakyu Geudebleh dengan tetap tersenyum, walau uang itu juga menggondol Piala Pilu bersama Ibu Anggun  yang juga memperoleh sejumlah uang.

“Ternyata, uang bukan segalanya, karena uang tiga puluh ribu yang diberikan, dengan tangan kasar, menyakitkan hati, terasa tak bermakna, dengan dibandingkan pemberian senyum tulus bahkan tanpa uang se yen pun”.

“Mbok yao, kalau jadi penggede, jangan jadi gede kelapa eh kepala tho Kanjeng Ratu Ibu Ngegondokin, ntar panjenengan terserang penyakit Gondok, baru panjenengan (kamu bahasa halus Jawa) tahu, makna kata-kata indah, seindah pisau menyembelih hati para ibu yang berjuang di negeri Jepang ini” bukan doanya Mbakyu Geudebleh, tetapi hanya kalimat curhatnya untuk mengeluarkan unek-uneknya dalam batin dengan gelengan kepala berulang-ulang.

“Istigfar…istigfar…. uang tiga puluh ribu bukan segalanya, bila membuat hati jadi terluka” kata Ibu Anggun dengan mata hampir sembab.

“Maaf-maaf saja, saya masih mampu kalau soal uang. Saya hanya ingin menyerap kegiatan ini untuk kemajuan pengetahuan putra-putri saya, juga ponakan saya, tentang ajang international dan insya allah tahun depan menjadi peserta pameran di ajang ini. Insya allah serapan saya akan menjadi doa utama, bahkan dengan perlakuan tidak berperi keibuan dari Ibu Ngegondokin” curhat detik terakhir dari Ibu Anggun.

 

“Enggg…. Bu Ngegondokin, kancing-kancing jualan ibu, dan jewerly saya, biar direkap oleh Mbakyu Geudebleh dulu ya” kalimat itu meluncur saat stand pameran ditutup rapat dan mulai disapu bersih.

“Loh, Bu Margono ini gimana sih? kalau saya di Jepang berjualan, ya tinggal mencocokkan saja, mana stok, mana sisa barang. Lalu selisihnya itu yang artinya terjual. Ibu punya catatan barang stok tidak?” tanya Ibu Ngegondokin.

“Saya tidak punya catatan  rincinya, tetapi secara umum saja” jawab Bu Margono.

“Wah nggak bisa begitu Bu, Ibu harus rinci kalu mau nitipkan barang pada galeri saya, harga barang A berapa, harga barang B berapa” jawab Ibu Ngegondokin.

Mbakyu Geudebleh yang dapat tugas mencatat jumlah kancing terjual bengong. Beradu juga dua ibu penggede ini. Yang satu pemilik barang dari Indonesia, dan yang satunya penanggung jawab stand di pameran dan akan jadi agen buat barang Bu Margono di Jepang. Hayoooo seruuuuuuu, batin Mbakyu Ge.

“Loh, Ibu nggak bisa ngomong begitu, saya jelas sudah dengan persiapan baik dari Indonesia” jawab Bu Margono jengkel.

“Tapi Ibu juga tidak bisa seenaknya meletakkan barang di galeri saya, tanpa harga yang jelas, atau Ibu mau bawa pulang semua barang-barang dagangan Ibu dari Indonesia? Silakan saja kalau kerso (kerso artinya kalau mau, bahasa Jawa)” tancap Ibu Ngegondokin.

“Maksud saya bukan begitu, tadi Ibu bilang packing saya harus cepat, mana bisa cepat Bu, barang-barang saya kecil-kecil semua, lah barang-barang jualan ibu sih enak, kain sutra mah, tinggal lipat, lah barang saya?anting-anting, gelang, piring, kalung, pating perindil, mana bisa packing cepat seperti Ibu” jawab Bu Margono menaikkan suaranya kira-kira enam desibel lebih tinggi dari suara normal.

” Ya terserah Ibu, tapi bus rombongan Indonesia, tidak akan lama-lama menunggu barang Ibu ya, dan kalau mau dititip ke galeri saya, segera angkat dan bungkus saja segera” jawab Ibu Ngegondokin mengakhiri perbincangannya dengan Bu Margono.

 

Wah, kena semua. Mbakyu Geudebleh kena, Ibu Anggun kena, terakhirnya Bu Margono pemilik barang dari Indonesia juga kena.

Mbok yaou kalau sedang menstruation belajar menahan esmosi/emosi, agar Piala Pilu tidak terlalu banyak digondol oleh para Ibu. Sehingga nama Ibu Ngegondokin bisa kami rubah menjadi Ibu Ngayem-Ngayemi atau jadi Ibu Piala Bahagia.

 

TOKYO, catatan kaki menjadi interpreter dadakan

Odaiba, 2-3-5 Sept 2008.

 

October 29, 2008 Posted by bainahsaridewi | Mbakyu Geudebleh | | No Comments Yet

September : Jamuan Indah Dengan Hikmah Memilukan

Jamuan Indah Dengan Hikmah Memilukan

 

Beberapa hari lalu, suatu milist yang Mbakyu Geudebleh ikuti,  kedatangan anggota milist kehormatan.

Beliau dikenal saat suami beliau menjabat Atase kehutanan KBRI Tokyo dua tahun lalu.

Saat ini suaminya sudah bukan atase kehutanan tetapi ketua ITTO di Yokohama.

Dan terlepas dari jabat menjabat suami beliau, ibu cantik ini suka dengan fotografi. Dalam dua jam mengenalnya saat barbeque bersama seluruh warga kehutanan se Tokyo dua tahun lalu, Mbakyu Geudebleh mengenal ibu dengan busana muslimah yang modis ini, sangat ramah dan familiar dengan para mahasiswa. Ibu ini berprofesi wartawan. Tetapi ibu yang ini, berbeda dengan Ibu Adidaya, pikir syahdu Mbakyu Geudebleh mulai melanglang buana mimpi buruknya.

 

Tidak penting sebenarnya siapa suaminya, siapa istrinya siapa. Yang terpenting sebenarnya sikap menghargainya pada sesama. Siapapun dia, mahasiswakah dia, istri yang mendampingi mahasiswakah. Istri yang sekolah juga mendampingi suami yang sekolahkah. Istri yang sekolahkah. Ah, semua tidak penting di  atas nama suami atau di atasnamakan istri dari yang terhormat Bapak Anuminus, Bapak Perkasa Pamungkas, dan lain-lain.

 

Pemikiran Mbakyu Geudebleh sederhana saja. Tidak menjadi besar kepala karena istrinya Bapak Kebangsaan, Istrinya Ibu Kenegaraan, karena semua itu jabatan semu, yang tidak layak untuk dibanggakan apalagi sampai melecehkan orang lain. Apalagi kebanggaanya bukan karena karir yang dibuatnya dengan cemerlang oleh dirinya sendiri. Kebanggaan yang sebenarnya tidak pantas dibanggakan karena bukan hasil jerih payahnya sendiri.

 

Suatu jamuan besar dari negeri entah berantah di suatu hari nan penuh semangat. Mbakyu Geudebleh mulai bersenandung.

” Hebat betul ya, Ibu Hatarajasamanguntapa, beliau cantik dan pakaiannya indah sekali”

“Ah yang sebelah situ, Ibu Purwokertomangantaklapar, beliau juga suaminya terhormat jadi gubernur di propinsi Lemahsyahdu” komentar Ibu Adidaya.

“Nah yang sebelah pojok kanan itu, Ibu Gubernur Sumantri Dewaprojonansakti, dan Ibu yang di sudut kursi itu, Ibu Menteri Kenestapaan, Ibu Kretekajimangmoi” ekplenasi cerdas dari Ibu Adidaya pada Mbakyu Geudebleh di sebelahnya yang manggut-manggut.

 

“Begitu terhormat sekali yooo Buuuuu, suenneenge hari ini kulo saget  (saya dapat)bertemu dengan para isteri pembesar” tersenyum luwes Mbakyu Geudebleh, si pemilik badan berperawakan dua drum itu tersenyum.

 

Maaf, saya Bu Mantrijerongsongsongmonyong, Ibu siapa ya?” sapa ramah seorang Ibu yang tiba-tiba datang mendekati Mbakyu Geudebleh.

Saya…” jawab Mbakyu Ge berpikir ingin memperluwes jawaban.

“Oh, ini Mbakyu Ge, dia mah bukan siapa-siapa, masih mahasiswi yang lagi belajar di Tokyo” babat habis Ibu Adidaya cepat secepat kilat dengan kebisan tangan melecehkan, seperti kipratan. Itu loh seperti setelah cuci tangan lalu ingin membuang air-air di atas telapak tangan, terkadang kita mengebas-ebaskan tangan. Bahasa okemnya ngipratke tangan.

“Saya sedang study Ibbbuuuu, di Unipersitas Takarakujilakilahyosukuru, tahun pertama kuliah doktoru Bbbuuu” balas medok Mbakyu Geudebleh menanggapi jawaban kilat dan kepretan tangan keji Ibu Adidaya. Aha, si Ibu Adidaya mengepretkan tangannya, untuk memperlihatkan gelang keroncong enam susunnyakah?

 

Walah Mak, luntur luluh lantak sudah kebanggaan dan rasa hormat Mbakyu Geudebleh pada Ibu Adidaya, yang dengan tanpa berdosa memperkenalkan dirinya dengan kepretan tangan menggusa-gusa seperti menyuruh ayam pergi.

Rasa hormatnya hilang seketika di sabet Gonderuwo yang tiba-tiba menyelinap lewat kebasan tangan Ibu Adidaya tadi.

 

“Apa haknya memperkenalkan aku dengan sok merasa, bahwa aku iki yoo bukan sopo-sopo (siapa-siapa)” gemerutuk gigi Mbakyu Geudebleh seperti sapi yang siap menerkam mangsanya. Walah keleru, seperti beruang yang siap menerkam mangsa empuk.

“Apa si Ibu Adiguna meroso (merasa) awakke wes ternama utama (dirinya paling utama)” hohoho, getir suara Mbakyu Geudebleh bergemerincing.

 

“Bbuuuu…Bbuuu… baru saja jadi istri Bapak Adidaya, Ibu kok wes melecehkan seorang mahasiswi di hadapan para Ibu terhormat ini” gumam Mbakyu Ge.

“Mbokyawou (sebaiknya)  kalau jadi istri pejabat, jangan merasa lebih, iniloh aku istri pejabat, kamu itu bukan siapa-siapa, jadi jangan sok ” tiba-tiba kalimat demi kalimat pilu nelongso hadir tanpa di undang. Genduruwo pilu datang menghampiri.

“Mbokyawou ojo petantang petenteng (sebaiknya jangan berlagak), lah wong yang menjabat suaminya, kok yawou Ibbbu yang besar kepala tho?” ohohoh…

“Oh..oh.. kamu ketahuan” senandung pilu Mbakyu Geudebleh ngikuti lagunya Oh Oh Kamu Ketahuan Pacaran Lagi.

“Ketahuan sifat asline pancen elek tenan (jadi tahu sifat aslinya jelek)” senyum sumringah Mbakyu Geudebleh, memungut hikmah dari jamuan indah, terindah yang akan selalu diingatnya, bahwasanya, jabatannya sebagai mahasiswi doktoru-pun, tak luput dari celaan dan hinaan.

 

Ah, jabatan terkadang membuat Mbakyu Geudebleh merasa tidak layak mendapat perlakuan itu, juga membuat Ibu Adidaya berbuat seenaknya seperti itu. Jabatan oh jabatan. Jabatan bisa membuat seseorang kalap euforia dibuatnya. Membuat lupa sampai dengan sapaan ramahpun menjadi kipratan leceh yang memilukan.

 

Mbakyu Geudebleh terlonjak dari ketertegunannya beberapa saat, dan lalu memandangi Ibu manis, bertahi lalat yang ada di depannya yang dipertemukan pada jamuan lain, yang juga istri pejabat yang hobinya menulis itu.

Ibu ini tersenyum hidmat, lalu…

“Saya sedang nulis buku tentang Kalimantan, tapi belum juga kelar-kelar” suara ramah Ibu pejabat dari suaminya yang sedang berjabat dengan ITTO Yokohama ini.

 

“Wah tak dungake yoo Bbbuuuu (saya doakan), semoga segera bukunya kelar” medok Jawa suara Mbakyu Geudebleh menanggapi eksplenasi Ibu pejabat ini.

“Saya lagi cuti  dulu Mbak Ge, demi suami, tapi doakan ya, buku tulisanku segera terbit” jawab mantab Ibu manis ini mengakhiri percakapan di acara barbeque para warga kehutanan dua tahun lalu di sebuah sungai ternama, di belahan kota Tokyo nan indah.

 

TOKYO, 15 September 2008

Hikmah dua tahun lalu yang baru mampu kutulis dengan senyum.

 

 

October 29, 2008 Posted by bainahsaridewi | Mbakyu Geudebleh | | No Comments Yet

September : Doktor Wanita Ahli Tomat, Siapa Takut???

“Doktor Wanita Ahli Tomat, Siapa Takut?”

 

Kesibukan lab membuat wanita berdarah Kalimantan ini jarang ikutan kumpul dengan warga Fuchu Koganei. Sangat jarang melihatnya di kerumunan FK. Tetapi sangat sering melihatnya di kerumunan tomat-tomat hasil riset unggulan dari percobaan riset S3 nya .

 

“Untuk mencari  buah tomat yang benar-benar bergizi dan berpenampilan terbaik” katanya dalam seminar SAST 2008 Juni 2008.

“Apa tidak berbahaya tomatnya dengan banyak treatment seperti itu?”komenku lugu tur gugu.

“Tidak Mbak, tomatnya masih enak dan aman untuk dikonsumsi walaupun sudah mendapatkan treatment macem-macem dari riset saya” argumennya kuat, lalu mengalirlah data-data penelitiannya yang disajikan dengan power point sangat cantik dan elok.

 

Kebiasaan japrinya membuatku terharu. Dari seluruh warga Fuchu Koganei yang rajin menjapri dari setiap tulisan yang aku posting adalah Mbak Janet. Ibu dosen dari salah satu Universitas ternama di Kalimantan ini, selalu mengirimkan pesan komentarnya secara japri padaku, hampir dari setiap postinganku yang menggelitik hatinya.

 

“Mbak, di Indonesia, wanita setelah menikah dan menjadi gemuk, itu pertanda rasa aman di rumah tangganya”

“Kan sudah laku ini, jadi ya sudah, santai saja, badan gemuk gak masalah. Yang jadi masalah adalah yang belum laku alias masih pada gadis dan berbadan gemuk” pembenaran seorang sahabatku yang mengatakan, bahwa kegemukan yang diderita olehku adalah hal wajar karena sudah menikah dan punya anak.

 

“Di Jepang, wanita yang gemuk itu identik beo eh bego” kata Sensei labku nyerocos mengatakan bahwa badan yang gemuk membuat malas bergerak.

 

“Peneliti wanita dari Amerika, tidak sedikit yang berbadan duombreng guede bianget kayak drum” komen teman labku yang lain, yang banyak menjumpai wanita Amerika gendut yang juga reseacher sejati di lapangan.

 

“Kalau di Philipine, wanita gendut artinya dia berbahagia menikmati hidupnya setelah menikah” argumen sahabatnya Mbak Janet padaku di suatu email panjangnya.

 

Saat-saat mencekam lainnya, kami sering berkirim email japri, isinya tentu rahasia, tetapi email-emailnya sangat memotivasi perjuangan demi perjuangan menghadapi makhluk “kesayangan” bernama disertasi.

 

“Mbak, file disertasinya rubah saja namanya dengan Al HIdayah, supaya lebih sejuk saat membuka isi filenya” saran seorang sahabat mencoba memotivasi agar bersahabat dengan makhluk kesayanganku itu.

 

Kampus Base, Koganei TUAT, akan kehilangan satu wanita cantik dari Indonesia yang ulet berjuang meneliti tomat. Tetapi Indonesia akan menatap bangga atas keberhasilannya menyelesaikan doktornya dengan sukses. Tiga tahun menyelesaikan doktor bukan menjadi syarat utama, kecerdasan dan keteguhan hati menyelesaikan sekolah.

 

“Tidak tamat tiga tahun, juga tidak apa-apa Mbak, kita-kita semua juga pada perpanjangan study kok, santai saja. Kita-kita semua merasakan masa perpanjangan study dengan rasa yang hampir sama. Penghinaan dari Sensei lab juga, bukan hanya Mbak yang mengalami, aku juga, kita-kita semua juga mengalami, Mbak nggak sendirian kok. Negara berkembang kayak Indonesia, di mata Sensei Jepang, para mahasiswanya, sepintar apapun tetap saja nomor ke sekian. Urutannya memang begitu. Sabar-sabar saja menjalaninya” nasehat bijaknya berluncuran lewat email rangkuman yang aku simpulkan.

 

“Mbak Janet, aku bahagia bisa berfoto saat dikau di wisuda 17 September 2008 lalu. Bahagia bisa menjadi saksi, seorang doktor wanita, berasal dari negara berkembang Indonesia. Doktor wanita, seorang dosen pula di Indonesia, seorang wanita kuat yang perkasa mandraguna ilmunya” batinku dengan kebanggaan meruah.

Ibu pertiwi akan tersenyum saat menyambut Mbak Yanet di Kalimantan saat mendarat sehari setelah perjalanan Narita tanggal 27 September 2008.

 

Aku bangga bisa mengenal Mbak Yanet. Bangga memiliki sahabat seorang doktor wanita yang handal berasal dari Pulau Borneo ini.

“Tunggu aku di Borneo Mbak, aku akan nengok dirimu dan famili kesayanganku orangutan di sana”.

“Salam sukses, sampaikan regardku pada famili di Kalimantan, katakan bahwa reseacher gendut dari Indonesia yang sedang semedi di TUAT, titip salam kompak buat para orangutan Kalimantan nan bahagia, disempitnya habitat karena kebakaran hutan dan ilegal logging yang tiada pudar dari Pulau besar dengan tiga negara berada di dalamnya ini”.

 

Ah Mbak, tiada putus memberi ikatan salam berpisah ini dalam seikat tulisanku yang tak berarti ini. Tetapi satu hal kebanggaanku, penelitian sangat detail tentang tomat, mengantarkan wanita cantik ini menjadi wanita dengan gelar doktor alumni Tokyo University of Agriculture and Technology tahun 2008.

“Doktor Wanita Ahli Tomat, Siapa Takut!!!”.

 

TOKYO, 23 September 2008

Special buat Mbak Janet.

 

 

October 29, 2008 Posted by bainahsaridewi | Mbakyu Geudebleh | | No Comments Yet

September : Sariawan, dua Helai Rambut Putih dan Cinta Mas Amung

“Sariawan, Dua Helai Rambut Putih dan Cinta Mas Amung”

 

Mbakyu Geudebleh mematut wajah nya di depan cermin.

“Ternyata memang  bengkak sisi kiri bagian pipiku. Sariawan membuat pipiku yang sudah geduombreng  (besar banget) gendut ini, bertambah penampakannya menjadi dua kali lipat menggelembung” bisik lirih Mbakyu Ge sambil meringis kesakitan.

Untuk tersenyum saja hampir tak mampu. Senyum dikit saja, langsung terjadi pergesekan daging-daging lembut yang luka di dalam rongga mulutnya. Sariawan yang diderita Mbakyu Geudebleh membuatnya hampir nyaris puasa berbicara.

 

“Cocoklah, ini kan bulan puasa, cocok kalau daku puasa berbicara juga” bisik-bisiknya sambil mengelus-ngelus pipinya yang bertambah montok dua kali lipat gara-gara sariawan.

“Ini baru nikmat kecil yang ditunjukkan Allah, bahwa, memiliki rongga mulut yang sehat, adalah wajib disyukuri” .

“Sariawan, adalah bagian nikmat kecil, yang sesaat dirasakan berbeda satu sampai dua minggu, rongga mulut menjadi sakit, mau makan tak enak, tidur tak nyenyak, senyum tak mampu dengan sempurna”.

“Boro-boro (apalagi) mau tersenyum ikhlas dalam kondisi sakit begini” sentuhan sariawan ini menyadarkan Mbakyu Geudebleh, bahwa sebenarnya dia harus selalu bersyukur dan bersyukur. Segede, segendut, sebego, apapun yang dirasakannya sebagai bentuk kekurangan diri.

“Ternyata, gendut, geublek, itu diberikan Allah dalam kondisi full stamina dan sehat-sehat saja” alhamdulillah batin Mbakyu Geudebleh tetap mematut wajahnya di depan cermin panjang ala Jepang, yang di dapatnya dari warisan barang, rekannya yang pulang ke Indonesia satu tahun yang lalu.

 

“Heeeeeiittt!!! Apa ini?”  lhoh, dua helai rambut putih di sisi telinganya Mbakyu Geudebleh.

“Daku ternyata bertambah tua, rambutku yang hitam berganti warna dua helai menjadi putih” terkejut Mbakyu Ge memandangi si rambut dua helai yang berwarna putih ini.

“Ah, ini pasti rambut Mas Amung. Rambutnya kan hampir seratus persen putih diusia empat puluh tahunnya” bantah Mbakyu Ge waspada.

“Wah tidak, salah…salah! ini rambutku”. Masih keras menempel dua helai rambut putih itu di sisi telinganya Mbakyu Ge.

“Nikmat Allah perlahan tetapi pasti, mulai berkurang dari diriku” batinnya sedih.

“Ah tidak, telah begitu banyak nikmat Allah yang telah dinikmatinya sampai usia tiga puluh lima tahun ini” tepisan rasa itu meluncur lagi dari hati Mbakyu Ge secara bersaut-sautan.

” Papah, ini ke sini, lihatlah, rambut Mamah ada putihnya sekarang!!” panggil Mbakyu Geudebleh  sedikit pamer, memanggil suami tercintanya Amung Sakti Mandarguna. Saking saktinya, sejak usia sekolah dasar, sebenarnya rambut sang kekasihnya itu telah mulai beruban. Bukan karena sakti sembarang sakti. Tapi pigmen keturunan dari keluarganya, demikian kuat, sampai empat saudara kandung suaminya mengalami hal yang sama, sejak kecil sudah beruban.

“Wah Mamah sayang mah, baru punya dua helai rambut putih, nih lihat rambut Papah, putih semua, keren kan?” sambut Mas Amung Sakti Mandraguna malah demikian pede dan bangganya atas karunia Allah itu.

“Wah, aku yoo bangga toh Papah terkasih, aku bangga dengan gendutku dua drum ini, kan yoo cocok banget tho kita? Papah rambut putih, daku geundut tur geublek (bodoh), daku bersyukur pada Allah Pah, gendutku bisa bermanfaat untuk orang lain” bela diri Mbakyu Ge tak mau kalah.

“Apanya yang manfaat kekasihku cantik?” melongo Mas Amung Sakti Mandraguna.

“Papah lupa ya, daku kan sudah menjadi pendonor darah di Jepang ini sampai lima kali, wah Papah mengapa dikau melupakan hal itu?” rodo cemberut ekspresi manja Mbakyu Ge, membuat wajahnya yang sedang sariawan itu tambah jelek banget dan tak sedap dipandang mata, bahkan oleh matakucing sekalipun.

“Yoshh!! selalu mensyukuri nikmat Allah, itu yang penting” tutup Mas Amung Sakti Mandraguna, sambil berusaha memeluk pinggang istrinya yang geundut dua drum itu dari belakang. Walaupun berusaha meraba pinggang istrinya tak kunjung dapat, karena rata gendut, tak berbeda antara pinggang dan bagian lainnya, tetapi Mas Amung Sakti Mandraguna terlihat baik-baik saja, dan terus memeluk istrinya dengan senyum mengerti, bahwa sariawan yang diderita istrinya malah membuat tambah mesra saja.

 

 

 Tokyo, 27 Sept 2008

 

 

October 29, 2008 Posted by bainahsaridewi | Mbakyu Geudebleh | | No Comments Yet

I SEE

“I See…”

 

Mbakyu Geudebleh dapat teman baru di laboratorynya pagi ini. Dosen dari Universitas  yaitu Vietnam Forestry University .

 

“Mai ne (My name) is Bui Xuan Dung (Nama saya Bui Xuan Dung)”.

“How Ai Col You (How I call you?) (bagaimana saya memanggil namamu itu?)”

“Hemm…. Vietnam ”.

“I mean how I call you? (Maksud saya, bagaimana memanggil namamu?)”

“I am from Vietnam (Saya dari Vietnam) ”.

“I am new student, masta cou hi (master course here) (Saya mahasiswa baru, ambil master S2 nih)”.

“Nais to miss you, Ge  San (Senang, “kangen”sama kamu Ge San)” ini kuping apa jengkol? ah…betul kok, Dung San bilang dengan sangat jelas kata “miss”.

“Hahhhh!!! Ah ya!! Ok nice to meet you  Dung San (OK, senang bertemu denganmu Dung San)” ekspresi kaget karena kata meet terdengar miss dengan sangat jelas dari ucapan mahasiswa Vietnam ini membuat Mbakyu Ge kuaget geer dan berakhir dengan satu kata.

“I see (saya paham)”.

 

Tokyo , di sela Cerdis, nggak tahan mau nulis ini.

8 Oktober 2008

 

October 29, 2008 Posted by bainahsaridewi | Mbakyu Geudebleh | | No Comments Yet