Dia Memang Beruntung
cap : Dia Memang Orang Beruntung
tanggapan 3/misteri gorden
Re: sendal atau sandal ya?
Posted by: “kartika pemilia”
Fri Aug 1, 2008 7:19 pm (PDT)
Gorden pink sebaiknya tidak dilibatkan dalam judul sebab kemunculannya tidak
terlalu signifikan, hanya sekedar pemanis. Maaf kalo analisa saya salah.
Semoga bermanfaat.
Salam,
Kartika
Misteri Gorden Bergoyang
Gorden Pink, Sendal, Dini Hari
Posted by: “bainah dewi” Fri Aug 1, 2008 4:03 pm (PDT)
Dini hari, jam di pergelangan tanganku menunjukkan angka dua. Heyyy!!!
Mengapa gorden pink kamarku sangat perlahan bergeser menyibak?
Tegang sekali rasanya.
Teteh tertidur nyenyak di sebelahku. Ini adalah kamar kami berdua.Kamar gadis, yang diperuntukkan Emak dan Bapak untuk anak wedoknya.
Heyyy!!!
Gorden pink terus bergeser. Membuka sangat perlahan. Sekujur badanku mulai menegang. Syaraf-syaraf otak berpikir cepat, apa yang mesti aku lakukan.
Ini pasti orang. Ya…ini pasti orang yang membuka gorden pink kamar kami.
Kaca kamar tidur kami mengarah ke luar rumah, jadi siapapun bisa melihat kamar kalau gorden pink ini disibak.
Pelan-pelan serasa ikutan bergerak, aku mendekati arah gorden, beringsut dari tempat tidur sepelan mungkin tampak menimbulkan suara.
“Krekkekkekkkkkkk”
“Duh, dipan jati ini bersuara pula” batinku, dan bersamaan dengan dipan kami yang berbunyi itu, gerakan gorden buatan Emak di kamar ini berhenti sejenak.
Heyyy!!! gorden bergerak lagi, perlahan menyibak semakin lebar. Ukuran kaca jendela kami dua meter setengah lebarnya dan sudah mulai tersibaksepuluh centi.
Lampu agak temaram, dan gorden terus tersibak, bukan oleh angin, tapi oleh seseorang.
Otakku bekerja cepat.
Ku buka mendadak gorden itu dan lampu kunyalakan mendadak.
“Hupp!!!” bangkit menyibak gorden dan “Klik!!!” tombol lampu kupencet dan menyala terang benderang.
“Heyyy maling….maling. ..maling! !!” teriakku sekeras-kerasnya.
Bayangan seorang laki-laki dewasa, tergesa-gesa lari dari depan kamar tidur cah wedok anakke Emak Bapak ini. Segera setelah gorden jendela ku sibak seratus persen, kepala kulongokkan keluar.
“Haaahhh!!! ada sandal yang tertinggal”.
“Teteh…Teteh! !! bangun bangun!!! ada maling, tuh sendalnya tertinggal di depan kamar kita” kataku masih bersuara teriakan seribu watt saking tegangnya.
“Ayo buka pintu, ada sendalnya sebelah yang tertinggal” kataku pada Teteh yang berjingkat kaget nauzubillah.
Sejak dini hari itu, kami tidak tidur dan menjelang pagi rumah kami ramai di datangi para tetangga.
Dan ada tetangga yang hafal dengan sendal yang tertinggal sebelah di depan kamar tidur anak wedoknya Emak Bapak. Sendal mahal, tebal hitam, seperti sendal Jawa, yang tidak nyepit, tetapi seluruh ibu jari bisa masuk bebas ke dalamnya. Tebal tiga senti meter, Terkesan mewah, kinclong dengan semiran hitam mengkilap, dan pasti pemiliknya membeli dengan harga sangat mahal dengan kualitas sendal seperti itu.
“Loh Teh, itu kan sendalnya Pak Guru Imron” kata Surinem tetangga dekat kami.
“Hahhhh!!!!” serempak aku dan Teteh berteriak tak percaya.
TOKYO 1 Agustus 2008
Mengingat kenangan jengkel saat usia tujuh belas tahun, di rumah hijau Lampung Selatan.
Nama bukan nama sebenarnya.
tanggapan 2/misteri gorden
Re: Gorden Pink, Sendal, Dini Hari
Posted by: “Virgi Dewi” Sat Aug 2, 2008 5:30 am (PDT)
Mawar dan Kenangan
Mawar dan Kenangan
Posted by: “bainah dewi” Wed Aug 6, 2008 9:21 am (PDT)
Kenapa bunga mawar selalu tampak indah, bahkan paling indah di mataku sampai saat ini?
Terlalu banyak kenangankah terharap maknanya buat seorang pelajar S3 yang saat ini senang menulis gontai kelelahan?
Mawar itu penuh history pribadi.
Aku pernah menyiangi rumput liarnya di plastik bekas yang digunakan Emak untuk menyuburkan tanaman Mawarnya.
Di halaman rumah hijau kami, Emak meletakkan lebih dari dua puluh box plastik hanya untuk Bunga Mawarnya.
Dan siapa lagi yang setia menyianginya?
Saat mulai kuncupnya merekah, takjubku pada-Mu ya Rob.
Herba berduri itu mampu menghasilkan kuncup seindah bidadari.
Perlahan rekahannya melebar, tetapi tangkainya tetap saja penuh duri. Rekahannya meluas, bukan hanya kuncup yang satu, tapi juga kuncup yang lain ikut meruah indah.
Siapa lagi yang selalu menyiangi rumput liarnya?
Seperti tradisi ayam pulang rumah, setiap sore, adalah jadual rutin menyiramnya dengan tangan kecilku, yang mulai menyukai bunga ini karena Emak.
Tangan-tangan mungil usia dua belas tahun itu, sudah terbiasa menyiangi deretan Mawar, peliharaan Emak.
Saat Mawar benar-benar merekah, tangan-tangan mungil itu pula, mulai mencium wangi tak tampak, semerbak tak harum dari Rose merah tua, dan merah muda yang selalu disiangi rumput liarnya setiap hari.
Mulai hari itu, si kecil berseragam putih biru, mulai mengenal cinta dan tertambat hatinya dengan sang Mawar.
Dia berduri, tajam menjeruji untuk tangan-tangan yang kasar berusaha mencekalnya.
Tapi dia cantik, indah.
Dia juga semerbak, tidak sampai menusuk hidung karena wanginya, tetapi harum alamiah yang diendus oleh hidung mungil anak berbaju putih biru itu, cukup menjadi saksi, keindahan yang tak berlebih dan proporsional pemberian-Nya yang Maha Indah.
Sejak saat itu, aku mulai mencintai bunga ini.
Bunga perlambang cinta, perlambang kasih, tetapi buatku bukan hanya sekedar itu, juga berarti perlambang ketaatan, bakti anak, perhatian, kasih ibu, peduli, hikmah, dan sederet barisan kata yang bagus-bagus menyibak, untuk mengatakan bahwa bunga ini adalah bunga terindah yang pernah aku demikian nikmati, bahkan hingga saat ini.
Walau tak pernah lagi selama tiga tahun di Jepang menyiangi rumput liar Mawarku, tetapi kesetiaan pada bunga ini belum juga beku.
Di semua toko bunga, yang terpandangi dan terpatri untuk dicari adalah Mawar. Ya, Mawar itu, bagian terdalam batin, yang bisa membuat rebakan oksigen sepuluh kali lebih luas dalam paruh hatiku nan penat ini.
Beri aku Mawar, kusenyumi kau dengan tulus.Kupanjati kau dengan doa ikhlas, kumunajahkan cinta dengan tawaddu, dan kuangankan kau dalam rebah Kasih-Nya yang Maha Agung dan Maha Indah.
Tokyo, 6 Agustus 2008
Buat Emak, walau tanpa Mawar selama tiga tahun.
Sembah Sujud Anakmu tiada padam dalam doa.
tanggapan 1/Misteri Gorden bergoyang
Re: Gorden Pink, Sendal, Dini Hari
Posted by: “bainah dewi” Wed Aug 6, 2008 1:19 am (PDT)
Jazakillah Teh Liz, atas koment nya.
Saya jeleknya, menulis itu dg mood.
Kalo lagi mau nulis, nulissss, dan yang terjadi dari tulisannya berbentuk apa?saya juga nggak pernah mengkategorikan.
Karena ajang flpj buat saya adalah menulis dan menulis.
Perkara zhonn nya jadi marah, lucu, sebel, kagol/apa ya bahasa Ina nya?, seger, senep mau muntah, sukaaa,…ya pasti beragam.
dan mood nulis saya kadang aneh-aneh situasinya.
Dari sedih penuh tekanan, lucu, sebel penuh kebencian, heran penuh kenyataan, dll.
ehehe..
afwan saja, tetapi insya allah akan terus menulis. Apapun komen yang di terima, akan dg senang hati dipadu padankan.
Bahagia euiyyyy… punya anggota milist pada care seperti milist tercinta kita ini.
Wassalamualaikum wr wb
Sek 1
tanggapan 8/juli
Re: Bls: [flp-jepang] Lihat dadaku, indah bukan???
Posted by: “Rose FN”
Sat Jul 19, 2008 9:54 pm (PDT)
Di tengah gerah, salam paling adem tuk Wie,
Rose
tanggapan 7/juli
Bls: [flp-jepang] Lihat dadaku, indah bukan???
Posted by: “Sri Wahyuni”
Sat Jul 19, 2008 4:09 pm (PDT)
Tapi Mbak Dewi sakti dech, cukup dilihat saja si cewek tersebut sudah keder..hi..hi. .hi
Salam gerah ya mbak
tanggapan 6/juli
Re: Bls: [flp-jepang] Lihat dadaku, indah bukan???
Posted by: “kartika pemilia”
Sun Jul 20, 2008 7:36 pm (PDT)
berpakaian (yang tadinya terbuka menjadi tertutup). Kalau pakaian genre “you
can see all” kayak yg dipake mbak di stasiun Tokyo tadi bukan kategori
peradaban tapi *fashion*
tanggapan 5/juli
Re: Lihat dadaku, indah bukan???
Posted by: “aishliz”
Mon Jul 21, 2008 6:12 pm (PDT)
Apa kabarnya setelah festival Indonesia?
Pasti cape yah… ^^
Maaf Mbak Wie,
saya baru bisa baca tuntas hari ini.
Tulisan Mbak Wie secara keseluruhan bagus.
Memberikan nuansa baru dalam menyindir anak-anak muda Jepang,
saat musim panas.
Tapi…
biar nggak salah persepsi buat orang yang membacanya.
Ataupun biar tak terkesan ’syur’ gimana kalau judulnya
direnovasi Mbak?
^_^
Misalnya: Si Cantik Sekitar Stasiun (Dll)
Atau apa saja yang ngga bikin salah persepsi dari awal
Oh iya Mbak Wie, masyarakat kita masih sensitif dengan
penggunaan tulisan langsung “payudara” ataupun aurat
dewasa lainnya yang seharusnya ditutup.
Gimana kalau penggunaan kata payudara dibiaskan dengan kata
metafora.
Mmisalnya: Bulatan yang tersembul dari balik baju.
Atau kata lainnya…
Begitupun dengan penggambaran fisik wanita secara gamblang.
(Montok, seksi, bergoyang bergelantungan)
Ada baiknya jangan terlalu banyak diungkap.
Khawatirnya bagi pria yang baca, akan menimbulkan birahi.
Tujuannya agar tulisan kita tidak divonis porno
Sukses ya Mbak Wie sayang…
Semoga makin luwes berkembang tulisannya.
Selalu menyegarkan ![]()
Terima kasih tulisannya.
Salam hangat
Lizsa
-
Recent
- Kuliah Inventarisasi Hutan 3
- Sensei Please Come
- Seindah namanya Intan
- Marisa-san I am Sorry to hear that…
- Mama Aku Rindu
- Biomass International Seminar 3-5 August 2009 Sheraton, Lampung, Indonesia
- Kosakata Dzaky-kun
- Kok Beda Seehhh???
- Kisah kilat doktor Tatang Sopian
- Karya yang Tak Pernah Hilang dari Sosok San Afri Awang
- Informasi Living Cost Fuchu Tokyo Jepang
- Hadiah Tulus Memang Lain
-
Links
-
Archives
- September 2009 (14)
- January 2009 (15)
- December 2008 (1)
- October 2008 (13)
- August 2008 (22)
- June 2008 (51)
- May 2008 (7)
- April 2008 (47)
- February 2008 (29)
- January 2008 (7)
- December 2007 (16)
- November 2007 (3)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS