Bismillahirohmanirrohim

Just another WordPress.com weblog

Evi, kenta Kun, We love you more than you know

Evi, Kenta Kun, We love you more than you know

Posted by: “bainah dewi”

Mon Jun 16, 2008 2:48 pm (PDT)

“Evi, Kenta Kun, We love you more than you know”

Susah mendeskripsikan dengan dengan kata-kata dan untaian kalimat. Karena di sini sarat air mata. Air mata haru, air mata sedih, air mata duka, air mata kesal, air mata ingin mendampingi tetapi juga inginnya tidak mengganggu. Ingin terus mendampingi tetapi juga dilema karena banyak hal yang mesti dipersiapkan dan diperjuangkan.
Air mata itu berwujud senyum yang senantiasa merekah dari seorang sahabatku, yang tanggal 20 Juni 2008 ini akan bergeser negara dari Jepang ke Indonesia.

“Siapa sih yang nggak mau mendampingi sampai selesai masa studi doktor dari suamiku? Aku lah orang yang paling ingin selalu mendampinginya bersama Kenta Kun, dan melihat Uda wisuda dengan gelar doktor nya” senyap suara seraknya membuat mataku semakin berkabut.

“Kami masih ingin di Jepang, tetapi terlalu banyak hal yang mesti Uda lakukan dalam perjuangannya, dan kami memutuskan untuk pulang lebih awal” sayup-sayup tetapi tetap tegas kalimat demi kalimat itu mengalir. Tatapanku semakin mengabut menerima untaian kalimat-kalimat suci seorang istri yang setia, seorang istri yang taat pada suaminya, seorang istri yang masakannya enak sekali, istri yang dengan ikhlas membesarkan seorang buah hati kebanggaan lahir dan batinnya.

“Aku bisa bekerja di sini, tetapi Kenta Kun makan nya susah luar biasa, rasanya tidak tega membiarkannya di penitipan anak” kesah Ibu yang selalu tersenyum lebar, berjilbab menarik dan berkaca mata ini dengan terpekur. Siapapun akan bilang kalau engkau, sahabatku, adalah wanita yang kuat dan terbuka, lagi menyenangkan.
“Ya, sudah lah, semoga Uda bisa lebih konsent setelah kami pulang” katanya lebih mengambang dalam tatapan sedikit kosong.
“Tetapi, Kenta Kun baru bisa tertawa-tawa lepas setelah Papa nya pulang dari lab, lalu bermain-main dalam candaan, anak usia  enam bulan ini, sudah bisa memberikan nikmat memilikinya, bahkan sudah bisa diajak bercanda oleh Papanya, bagaimana nanti ya, kalau kami sudah di Indonesia” pelan sekali kalimat itu diucapkan.
“Kan masih ada Om-nya Kenta Kun, di Indonesia untuk diajak bercengkrama selama Papanya di Jepang” kataku berusaha menepis rasa senyap yang tiba-tiba menelusup masuk dalam pembicaraan kami.
“Iya sih, tetapi lihat lah bedanya…” dan aku benar-benar melihat perbedaan itu dengan kasat mata. Saat Uda datang dan memegang Kenta Kun, si junior nan ganteng itu bisa langsung tertawa terpingkal-pingkal gaya bayi, di tangan Papa nya.

Ah, pemandangan ini sungguh nikmat, sungguh indah dan membahagiakan.
Biarlah, biarlah, pemandangan seperti ini terus ada dalam kenangan seorang Ibu dengan anak laki-laki usia enam bulannya yang gagah itu.
Semoga kenikmatan bercanda, mengisi waktu-waktu dalam detik menit dan jam pertumbuhan seorang Kenta Kun, masih bisa di dekap oleh sang Papa, dalam kilasan dering telepon dan sapa indah seorang Papa, yang sedang berjuang mati-matian untuk menyelesaikan program doktornya.

Tidak banyak yang bisa lulus dari program doktor di Jepang ini, dengan mudah. Semua mengalami wujud perjuangan lahir batin yang tiada kalah hebatnya. Uda juga Evi saat ini sedang mendapat nikmat tempaan dahsyat itu, juga aku, juga Kang Tatang, juga Kang Aep. Kuatkan tangan berpegang satu dengan lainnya, karena itu menambah kekuatan hati dan batin untuk terus berusaha menghalau rintangan yang ada.

“Belanda sudah dekat, mesti di hadapi” petuah dan istilah Doktor Suripto Dwi Yuwono dalam istilahnya yang mendeskripsikan masa period doktor di tahun ketiga.
“Belanda harus kalah!” istilah beliau untuk masa period doktor setelah tahun ketiga.
“Akhirnya Indonesia Merdekka!” istilah beliau setelah gelar doktor disandangnya.

Yes, Evi, Kenta Kun, we love you more than you know.
Selamat berjuang buat Evi dan Kenta Kun, doakan Papa Ferzet segera selesai program doktornya. Air mata doa seorang istri, seorang ibu, telah banyak membuat hal-hal yang terasa dalam asa manusia tidaklah mungkin, menjadikan hal yang mungkin.
Tidak ada yang tidak mungkin menurut Allah SWT.
Seperti istri Nabi Ibrahim, Siti Hajar, yang mencari air untuk putranya Ismail, dengan air mata doa nya berputar-putar dari Bukit Shofa ke Bukit Marwah untuk mencari setetes air. Dan yang diperolehnya, justru dari jejakan kaki anaknya Ismail kecil yang dalam keadaan bayi, mengalirlah air zam-zam yang menjadikan  berkah kehidupan hingga saat ini.

Peluk Cium buat Vi dan Kenta Kun

TOKYO, 17 Juni 2008

June 17, 2008 Posted by bainahsaridewi | Catatan Harian | | No Comments Yet

Tanggapan 2/Anak Angkatku Lulus SMU

Re: Anak Angkatku Lulus SMU

Posted by: “Virgi Dewi”

Sun Jun 15, 2008 9:04 pm (PDT)

Alhamdulilah. .. selamat ya mb’Dewi buat mb’Leha… ^_^

June 17, 2008 Posted by bainahsaridewi | Catatan Harian | | No Comments Yet

Tanggapan 1/Anak Angkatku Lulus SMU

Re: Anak Angkatku Lulus SMU

Posted by: “Efi Riyanti”

Sun Jun 15, 2008 6:33 pm (PDT)

assallamualaikum wr wb

ikut senang, ..selamat mbak Dewi,…anak angkatnya sudah lulus SMU, mudah2an lulus masuk Unila.

Saya sangat terharu dan….sangat berterima kasih kepada mbak Dewi telah menolong salah satu generasi penerus bangsa didaerah sekitar  hutan lindung di  Lampung.
Mudah2an Sholihat pun  kelak dapat membawa nuansa baru di desanya..Amien

wassallamualaikum wr wb

Efy
(dari Lampung juga)

June 17, 2008 Posted by bainahsaridewi | Catatan Harian | | No Comments Yet

Selamat Menebar Ladang Amal Mbak Git Solihah

Selamat Menebar Ladang Amal Mbak Git Solihah

Posted by: “bainah dewi”

Sun Jun 15, 2008 7:09 pm (PDT)

“Selamat Menebar Ladang Amal Mbak Git Solihah”

Tepatnya dua tahun atau malah tiga tahun yang lalu, aku mengenal secara pribadi seorang Femina Sagita Borualogo. Kekaguman pertama, karena beliau penulis buku “Indonesiago” jilid satu sampai tiga, untuk Mahasiswi-mahasiswa nya di kelas Malay-Indonesiago, Soogoo Seisaku Gakubu, Chuo Daigaku.
Kekaguman berikutnya, ternyata beliau orang Batak, yang sangat halus budi bahasanya. Bukan seperti orang Batak kebanyakan yang terkenal kasar. Malah saat awal bertemu yang aku juga lupa tepatnya kapan, rasa-rasanya seperti berbicara dengan orang Solo, Jawa Tengah, yang halus sekali bahasa nya. Ternyata salah, praduga awal tidak selalu benar. Dan ternyata beliau Batak tulen.

Kekaguman berikutnya, beliau suka dengan studi gender, bidang yang mengantarkannya menjadi seorang doktor anyar di Jepang tahun 2008 ini.
Tulisannya bertebaran di mana-mana, termasuk dikampus tercintanya Universitas Indonesia tahun 1998 tentang “Rendahnya Tingkat Fertilitas Masyarakat Jepang Kontemporer :Kaitannya dengan Budaya Menunda Pernikahan diKalangan Perempuan Jepang. Dan tulisan lainnya pada Tokyo Metropolitan University tahun 2001, tentang ” Veil and Gender : A Study on Female Students of the University of Indonesia”. Dan tulisan doktornya  tentang “Pemberdayaan Ibu Rumah Tangga” merupakan step tertinggi saat ini yang digelutinya dengan jenjang akademis mapan, memperoleh gelar doktor dari Jepang.

Sedikitnya jumlah perempuan yang bisa memperoleh gelar doktor dari Jepang, dan lebih-lebih lagi dengan bidangnya yang mesti berhadapan dengan kaum feminis, yang justru mendengungkan hal berbeda dengan yang diperjuangkannya selama ini, menjadi catatan kekaguman tersendiri.
Sosoknya yang berjilbab, kaca mata tak lepas dari wajahnya yang teduh, menjadikan hal menakjubkan saat beliau hadir dalam suatu konferensi kaum feminis. Kaum yang banyak menitik beratkan kesetaraan antara kaum laki-laki dan perempuan di segala bidang.

Aktifitasnya dalam syiar Islam menambah kekaguman lagi, keinginan mendalami bahasa Arab, menjadi cita-citanya seumur hidup. Cita -cita yang sangat terpuji, patut di contoh oleh semua muslimah di belahan bumi di manapun berada. Ingin mendapatkan materi Islam langsung dari bahasa aslinya.
Wah, niatan luhur, yang belum tentu dari kita, dalam, membaca terjemah Al Quran atau tafsir bahasa Indonesia kita, sudah sampai khatam. Beliau malah sudah satu tingkat naik, dengan cita-citanya ini. Semoga Allah mengabulkan semua keinginan baiknya.

Menjadi penulis tentang Islam dengan bahasa Jepang juga merupakan cita-citanya yang agung. Karena di sadari, masih sangat sedikit tulisan Islam dalam bahasa Jepang yang beredar saat ini. Melihat Jepang merekah dengan Islam seperti merekahnya Sakura, merupakan bagian mimpi indahnya yang insya allah suatu saat nanti akan berwujud nyata.

Wajah yang selalu sabar dan tersenyum ini, akan bergeser negara beberapa hari lagi, tepatnya 23 Juni 2008. Semoga Indonesia menjadi ladang amal yang tiada henti dan tiada putus, untuk mewujudkan niatan menjadi penulis Islam berbahasa Jepang.
Semoga Indonesia menjadi jembatan yang jitu, untuk mewujudkan niatan mendalami bahasa Arab, sehingga bisa memperoleh semua hikmah dari sumber aslinya.

Indahnya mengenang hal ini. Seindah bulan Juni ini melepas wajah penuh senyum nan teduh ini meninggalkan Narita airport beserta kedua buah hatinya Afiyah Chan dan Fatih Kun. Semoga keduanya bisa mengikuti jejak mulia bunda dan ayahandanya.
Jadi anak solihah dan soleh, menaburkan Islam di berbagai bumi Allah lainnya, sesuai cita-cita bundanya.

Merasa penuh salah dan khilaf, ijinkan aku mengucapkan kata maaf, atas semua yang telah terjadi. Ijinkan aku mengucapkan kata “Terima Kasih, Jazakillah Khoiron Katsiron” atas semua yang telah diberi.
Support semangat tiada henti, nasehat positive sampai hal detail bagaimana menyimpan file disertasiku, agar di back up di berbagai tempat.  Silaturahmi yang sangat indah, senantiasa Fira chan mendapatkan baju-baju bagus nan indah untuk dipakai. Bahkan Gulai Kambingpun sengaja di hadirkan buatku untuk penyemangat belajar di lab. Vitamin suply tambahan untuk bertahan “terjaga” dalam keadaan genki/sehat, juga beliau berikan dengan senyum dan aku tahu, sangat ikhlas pemberiannya pada ku.
Merangkai kata atas semua kebaikannya, buatku tiada cukup, bahkan dengan secuil kenangan yang aku tulis ini. Sosoknya jadi penyemangat ruhaniku, untuk juga berjuang menyelesaikan studi ku agar bergegas usai.

Peluk cium kami, ” Selamat menebar ladang amal di tanah air Indonesia dan Jepang, Mbak Git Solihah”.

TOKYO, 16 Juni 2008

June 17, 2008 Posted by bainahsaridewi | Hikmah | | No Comments Yet

Anak Angkatku Lulus SMU

Anak Angkatku Lulus SMU

Posted by: “bainah dewi”

Sun Jun 15, 2008 5:01 pm (PDT)

“Anak Angkatku Lulus SMU”

Tanggal 14 Juni 2008 kami menelpon ke Indonesia dan bertanya apakah anakku, lulus sekolahnya.
“Mbak Leha, sekolahnya lulus nggak?Ade doain terus loh Mbak tiap hari” kata Fira chan membuka pembicaraan via telepon dari Jepang ke Indonesia.
“Alhamdulillah De, Mbak lulus” jawab Solehat yang dipanggil namanya dengan panggilan Mbak Leha oleh anak kandungku.
Aku yang berada di samping Fira chan menarik napas lega. Bagaimana tidak?aku tidak mendampinginya saat belajar, tidak menemaninya saat menghafal pelajaran-pelajaran . Sama sekali tidak ada andil untuk mempersiapkan keberhasilannya karena kami terpisah negara sejak dua tahun lalu.

Solehat, dua tahun lalu sempat menapakkan kaki nya di negeri Sakura ini. Menikmati dua musim, musim dingin dengan melihat langsung salju di Niigata, dan musim Sakura dengan banyak berpose memegang bunga kebanggaan warga Jepang ini.
Sayangnya, keberadaannya sedikit mirip dengan Sakura di Jepang, yang datang hanya beberapa hari saja lalu kembali sang bunga berubah menjadi daun seperti sedia kala.

Solehat hanya bisa bertahan dua bulan di Jepang. Urusan administrasi keimigrasian Jepang membuatku menyerah untuk mempertahankannya tinggal di kota paling mahal sedunia ini. Inginnya enam bulan, apa daya hanya mampu melihatnya dalam hitungan hari dan tidak bisa mengajaknya menikmati musim ke tiga dan ke empat di tempat mama angkatnya sedang menuntut ilmu.

Imigrasi Jepang menjadi sangat ketat waktu itu, karena usia Solehat enam belas tahun saat datang ke Jepang. Usia produktif untuk bekerja dan khawatir ada penyelundupan tenaga kerja dengan berbagai dalih. Surat-surat yang diminta imigrasipun tak kunjung selesai. Terlalu banyak permintaan pihak imigrasi Jepang dan membuat suamiku yang di Indonesia kewalahan mengurusnya kala itu. Dan satu kata bulat, Solehat segera saja pulang.

Ah, anak angkatku bisa lulus juga SMU nya. Padahal aku menyekolahnya pada sekolah yang bukan termasuk sekolah ternama. Dan kasat mata sekolah ini memang bukan sekolah number one/nomor satu di Lampung.
Ah, bersyukur saja, bahwa Uluran Tangan Allah lah yang membuat anak angkatku lulus SMU. Tanpa upaya apapun dariku kecuali doa dan doa.

Mengenangnya pagi ini, membuat banyak layar lebar di kepalaku memutar film nano-nano.
Seorang staf lapangan datang ke rumah kami  kira-kira enam tahun lalu.
“Bu, ada anak ketua kelompok tani di hutan dampinganku, ingin lanjut sekolah SMP tetapi tidak ada biaya, ibu mau jadi orang tua angkatnya?” Wahyu, staf lapangan Universitas Lampung yang di tugaskan mendampingi masyarakat sekitar hutan lindung di Lampung itu, memulai percakapannya.
“Anaknya gimana Yu?” tanyaku jujur dan rada bengong kala itu.
“Anaknya pintar ngajinya Bu, hanya ya, begitulah Bu, mereka tinggal di rumah kayu yang di bangun di sekitar hutan dampingan kita. Saya kuatir juga, suatu hari nanti rumah sangat sederhana mereka akan di gusur pemerintah, demi alasan konservasi” tandas Wahyu lagi.
“Kasian Bu, anaknya nangis-nangis minta lanjut sekolah SMP pada saya, makanya saya menghadap Ibu sekarang” timpal Wahyu.

Singkat cerita, kami akhirnya memutuskan memindahkannya dari hutan dan membawa serta Solehat pada gubuk kami yang dibeli suamiku dari Prumnas di Bukit Kemiling Permai. Kami hidup bersama satu atap, menyekolahkannya di sekolah Muhammadiyah sampai akhirnya kami mendengar berita kemarin, bahwa Solehat telah menyelesaikan sekolahnya dengan kata “lulus”.
Alhamdulillah.

“Ma, Leha boleh lanjut kuliah nggak?” tanya Solehat dari telepon hari kemarin.
“Mbak daftar UMPTN saja dan pilih jurusan yang Mbak mau, semoga lolos seleksinya. Kalau di sekolah negeri seperti Universitas Lampung, insya allah Mama masih bisa membiayai kuliahmu, Mbak…, tetapi kalau di swasta kayaknya Mama rada payah, swasta di Lampung sudah mahal sekali” kataku jujur padanya.
Jujur, karena selama masa mendapat amanah jadi orang tua angkatnya, banyak sudah bumbu “nikmat” jadi orang tua angkat seorang anak dari desa di sekitar Hutan lLindung ini.
Nikmat, karena banyak pernak-perniknya mengangkat seorang anak, yang dititipkan langsung oleh Bapak Ibunya Solehat.
Nikmat, karena aku bisa belajar mendidik lebih dini seorang anak langsung di bawah pengawasanku dan sangat-sangatlah dekat untuk membentuknya.
Nikmat, karena ternyata terlalu banyak pelajaran berharga, yang insya allah akan menjadi bekal belajar mendidik anak seumur hidupku, yang sarat dengan hal-hal yang tak pernah terbayang sebelumnya.

Tetapi, di saat aku mengeluh, aku ingat nasehat seorang Lurah di desa dampinganku di Hutan Lindung. Bahwa, “Apakah seorang anak ayam bisa memilih untuk dilahirkan ke dunia ini, dengan bulu warna putih, atau bulu warna hitam putih? atau bahkan tubuhnya tak berbungkus bulu sama sekali. Semua bukan kehendak si anak ayam. Itu semua sudah ada yang mengatur. Jadi, bersabarlah, Allah telah memilihmu mendampingi perjalanan hidup anak angkatmu yang penuh warna itu. Semua merupakan ujian, semoga dengan sabar dan menguatkan kesabaran/ QS.2: 200 akan menjadikannya anak yang solihah sesuai nama aslinya, Solehat.

TOKYO, 16 Juni 2008

June 17, 2008 Posted by bainahsaridewi | Catatan Harian | | No Comments Yet

Tanggapan 4/Baddal Haji Buat Emak

Re: Baddal Haji Buat Emak

Posted by: “Rose FN”

Thu May 29, 2008 9:36 am (PDT)

Saya belum sempat baca tulisan mbak Dew,
nanti baca ah. Cerita haji mesti menggugah hati.
Mau bilang ke teh Lizs, pa Lisz ya … s, z  mana duluan teh ? :)
Minta nano-nano dong !  saya ambil klip lama ttg perempuan.
digubah dikit tapi koq masih apa gitu ?!
Mbak Ijum dan Juariah juga pls take a look ya!
Siapa lagi ya yg mau ditodong, oh iya guru saya juga Abu Aufa, onegaishimasu.
Pak Ketua, Mb Ayu, Mbak Irma, lho…ngabsen ??
*smile*
Rose

June 17, 2008 Posted by bainahsaridewi | Hikmah | | No Comments Yet

Tanggapan 3/Baddal Haji Buat Emak

Re: Baddal Haji Buat Emak

Posted by: “aishliz”

Thu May 29, 2008 8:04 am (PDT)

Mbak Dew yang baik, berkaca-kaca bacanya.
Semoga Allah Ta`ala melapangkan almarhumah Emak
serta menerangi selalu kuburnya, Insya Allah.

Mbak Dew-qu, sesuai permintaan, pengen ngasih permen
nano-nano. Kalau yang kegigit rasa nggak enak, ganti
sama permen mentos rasa segar… :)

Begini… ehem… ehem…

1. Menurut pelatihan menulis online di situs belajar menulis.com
katanya… dalam membuat membuat tulisan,
usahakan tekan sedikit mungkin penggunaan diri: Aku/Saya.
Hingga tak terasa tokoh ‘aku/saya’ menjadi narsis.

Misalnya di tulisan ini:
- Bukan lagi kota yang adem lagi buatku. Yogyakarta buatku di tahun
1996 adalah kota duka.

Akan lebih netral jika berbunyi seperti ini:
- Bukan lagi kota yang adem. Yogyakarta di tahun 1996 adalah kota
duka.

2. Sedapat mungkin membuat kolase/keragaman kata dalam penulisan.

Misalnya:
- Kota Pelajar Yogyakarta ini menjadi kota yang bukan lagi sebagai
kota yang penuh semangat buatku.

—> Kata ‘kota’ diulang 3 kali, yang merupakan pemborosan kata.
Yang sebenarnya bisa disederhanakan menjadi:
-Kota Pelajar Yogyakarta ini, bukan lagi sebagai tempat yang penuh
semangat buatku.

3. Kata-kata lain yang sebaiknya diberikan kolase kata:
Emak & Teteh.
Coba diusahakan mencari padanan kata lain yang bisa
menghidupkan tokoh agar tidak monoton dengan
berkali-kali disebut.

Misalnya:
- Allah mengambil Emak dari kami. Emak meninggalkanku dan kami semua
anaknya…

—> Cari padanan kata yang bisa mewakili sosok Emak, tidak
disebutkan secara berulang. Umpanya:
- Allah mengambil Emak dari kami. Perempuan dengan sosok mata lembut
itu telah meninggalkanku dan kami semua anaknya

Tanpa ingin merusak kesahduan cerita, saya mohon maaf
sebelumnya ya Mbak Dew.
Membaca keseluruhan cerita, saya jadi teringat buku Mbak Dewi
tentang pengalaman perjalanan haji.
Terima kasih tulisannya sangat bermanfaat.. .

Salam hangat
lizsa et aishliz

June 17, 2008 Posted by bainahsaridewi | Hikmah | | No Comments Yet

Tanggapan 2/Baddal Haji Buat Emak

Re: Baddal Haji Buat Emak

Posted by: “sunu hadi”

Thu May 29, 2008 3:34 am (PDT)

Idem ama Mbak fithri, hihi gak kreatif banget yak komentarnya. Hitung2 saya juga lagi belajar berkomentar neeh. ^_^;

Saya juga belum ngeh neeh Mbak sama kejadian waktu di tanah suci. Mungkin bisa dideskripsikan lebih detail. Lalu keinginan emak buat naik haji mungkin bisa diexplore lebih dalam, bukan sebatas uang dalam lempitan baju. Khan klo emaknya diperbanyak bisa masuk antologi ibu tuh!

*hihi, ngomporin kompor*

June 17, 2008 Posted by bainahsaridewi | Catatan Harian | | No Comments Yet

Tanggapan 1/ Baddal Haji Emak

Re: Baddal Haji Buat Emak

Posted by: “fith ab”

Thu May 29, 2008 3:04 am (PDT)

Subhanallah. ..terharu banget bacanya…semoga amal ibadah Emak diterima Allah SWT, Amiiin.

Mbak Dewi…cuman pengen nanya, emang Emak itu tinggi badannya di atas Teteh? Saya masih nggak mudheng kaitan antara menghajikan Emak dengan kaki Teteh yang nggak napak di sini. Atau maksudnya karena menghajikan almarhumah Emak, membuat Teteh melayang?

Saya percaya, ada banyak keajaiban di tanah suci. Tapi terus terang, saya kurang memahami tentang kondisi2 aneh yang dideskripsikan di sini, mungkin bisa diperjelas lagi.

Itu dulu, Mbak…mau balik ke setoran lagi:D…

Wassalam,
Fithri A.

June 17, 2008 Posted by bainahsaridewi | Hikmah | | No Comments Yet

Tanggapan 41/journal internatinalku accepted

RE: Journal Internationalku ACcepted

Wednesday, June 4, 2008 8:08 PM
From:
To:
“‘bainah dewi’”

Mba Dewi, alhamdulillah, makasih do’anya ya say J

 

Wa’alaikumsalam Wr. wb

 

Syukurlah Mba Dewi kalau ini tahapan yang berat berarti tugas-tugas selanjutnya yg harus diselesaikan akan mudah mengalir, amiin. Ya kerja atau tugas tak pernah selesai-selesai ya Mba Dewi, tapi senangkan? dengan semua itu, untuk selesainya tugas belajar Mba Dewi. Saya yakin Mba Dewi mampu kok menjalninya seua, hanya menunggu masa saja. Semoga semua berjalan lancer amiin.

 

Ganbatte ne

Salam untuk Firachan

Wassalam

Ijum

 

June 17, 2008 Posted by bainahsaridewi | Catatan Harian | | No Comments Yet