Bismillahirohmanirrohim

Just another WordPress.com weblog

Tanggapan 6/ Fira chan dan Dung beetles

Re: [ind_fuchukoganei] Fira chan dan Dung beetles

 

mba Dewi…

 

cerita yang ini seru juga…feces and dung beetles;)…. baru tau nih topik penelitiannya mba Dewi. Eh bagus juga tuh, anak dikenalkan sama riset sejak dini. yooo…sopo tau ntar gede juga nurutin jejak mamanya jadi periset unggul:)

 

best wishes,

yanet

April 21, 2008 Posted by bainahsaridewi | Hikmah | | No Comments Yet

Tanggapan 5/ Fira chan dan Dung beetles

Re: Fira chan dan Dung beetles
Assalamu’alaikum wr wb

Mbak Dewi, apa kabar?

Fira-chaaaaaaaannnn, kawaiiiiiiiiiiiii….
Jadi inget deh, sama kelincahannya.

Udah kelas 3 ya?
Kalo Nia , kelas 2.
Kalo Nia-nya susah diajak sholat, ct suka nyebut2 nama Fira-chan di
Tokyo, yang rajin sholat.

Fira-chan, arigatou…
Terima kasih ya…

Mbak Dewi, mudah2an lancar ya tugasnya…

Terima kasih, Mbak Dewi…

Wassalamu’alaikum wr wb
ct

siti_latifah94at.

— In fahima@yahoogroups.com, bainah dewi <bainahdewi@…> wrote:
>
> “Fira chan dan Dung beetles”
>

Sun Apr 20, 2008 10:50 pm
  
>

  Author  
Fira chan dan Dung beetles
“Fira chan dan Dung beetles” ” Mamah, Ade mencret” teriak Fira chan dari Toire (Toilet) di Apato kami. ” Hooiik Dung beetle san, ima wa, esa o agenai yoo,…
bainah dewi
bainahdewi
Offline Send Email
Apr 20, 2008
3:29 am

Re: Fira chan dan Dung beetles
Mba dewi Ganbatteru nee :X Subhanallah fira chan juga bantu2 mama yah nak,…. mb dewi terimakasiiiiiiih sudah berbagi membuat saya berpikir ternyata semua…

juariah sw
juariah2002
Online Now Send Email
Apr 20, 2008
12:25 pm

Re: Fira chan dan Dung beetles
Assalamu’alaikum wr wb Mbak Dewi, apa kabar? Fira-chaaaaaaaannnn, kawaiiiiiiiiiiiii…. Jadi inget deh, sama kelincahannya. Udah kelas 3 ya? Kalo Nia , kelas…

siti_latifah94
Offline Send Email
Apr 20, 2008
10:50 pm
 

April 21, 2008 Posted by bainahsaridewi | Hikmah | | No Comments Yet

Tanggapan 4/ Fira chan dan Dung beetles

Re: Fira chan dan Dung beetles

 

Omoshiroi o hanashi…
Mba Dewi ternyata meneliti insect juga tho? Ganbatte kudasai, jadi
pengen tahu hasilnya nanti gimana..

Ketika Mba Dewi dan Fira chan menikmati interaksi dengan Dung beetle
dan aneka jenis feces hari ini, saya sudah membayangkan informasi
luarbiasa yang akan muncul nanti. Terutama interaksi dung beetle
dengan feces manusia. Doki-doki matteru wa…. Mama chan no kenkyu no
kekka..he he

Fira chan ni yoroshiku, ii ko da yo ne….

salam
henny

April 21, 2008 Posted by bainahsaridewi | Hikmah | | No Comments Yet

Tanggapan 3/ Fira chan dan Dung beetles

Re: [flp-jepang] Fira chan dan Dung beetles
Menarik…hwehehe

 

 

“Fira chan dan Dung beetles”
 
 

 


Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. 


Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.

Sun Apr 20, 2008 11:57 pm
alex red <

April 21, 2008 Posted by bainahsaridewi | Hikmah | | No Comments Yet

Tanggapan 1/ Mentang-mentang aman

Re: Mentang-mentang aman

Posted by: “Jumiarti Agus”

Mon Apr 7, 2008 10:42 pm (PDT)

Mba Dewi makasih postingannya, ..

Mau komentar dikit…
1. masala kirim uang napa nggak pakai transfer via pos aja? satu menit
setelah transfer uang sampai di seberang, lagian gratiskan.
2. Soal uang dan aman, saya juga dulu pernah lupa ada uang di keranjang
sepeda lupa ngambilnya dalam jumlah 1 juta tapi tetap utuh,.. ya emang yg
usil di sini jarang ya, tapi sempat takut juga, soalnya uangnya buat sekolah
org lain,..

3. Mba Dewi hebat ya bisa bahasa batak, bahasa Jawa, dan Sunda,.. namun saya
kesulitan memahami banyak bahasa dalam teks gitu, bagusnya ditranslatekan.
Dulu saya sempat bisa batak juga, karena ayah pernah kerja di Pasaman dan
di sana yg dipakai bukan bahasa Padang tapi bahasa batak karena perbatasan
dengan daerah Batak.

salam
ijum

April 21, 2008 Posted by bainahsaridewi | Catatan Harian | | No Comments Yet

Tanggapan 2/ Fira chan dan Dung beetles

To: flp-jepang@yahoogroups.com
Date: Sun, 20 Apr 2008 18:43:00 +0700
From: “irmayanti”
Subject: Re: [flp-jepang] Fira chan dan Dung beetles

Komentar saya:
Sepertinya di bawah ini adalah tulisan paling menarik di milis ini setelah sekian lama, mungkin sejak Sunu menulis tentang… ng…, ben buta ikiru, atau apalah namanya itu.
 
Salam,
Irma.

April 21, 2008 Posted by bainahsaridewi | Hikmah | | No Comments Yet

Tanggapan 1/ Fira chan dan Dung beetles

Re: [fahima] Fira chan dan Dung beetles

 

Mba dewi Ganbatteru nee :X
Subhanallah fira chan juga bantu2 mama yah nak,….
mb dewi terimakasiiiiiiih sudah berbagi membuat saya
berpikir ternyata semua ada manfaatnya termasuk feses
yang menjijikkan itupun ternyata berguna,…

salammualaikum

juariah

yangjadi lebih mengenal mb dewi dan dunianya deh
salam sayang untuk fira chan :X

April 21, 2008 Posted by bainahsaridewi | Hikmah | | No Comments Yet

31 May 2006/ Fira chan dan Dung beetles

“Fira chan dan Dung beetles”
 
” Mamah, Ade mencret” teriak Fira chan dari Toire (Toilet) di Apato kami.
” Hooiik Dung beetle san, ima wa, esa o agenai yoo, mencret desukara” (Hai Dung beetle, sekarang saya tidak bisa memberimu makanan yoo, karena saya mencret) timpal Fira chan merasa menyesal tidak bisa memberi makanan pada dung beetles hari ini, karena Ade (panggilan Fira chan di rumah) dalam keadaan mencret.
Dung beetles adalah hewan kecil sejenis insect, pemakan feces, termasuk pemakan feces nya Fira chan. Dan si hewan ini merupakan riset di tahun kedua dan ketiga dari penelitian doktor aku.
 
Lingkup penelitianku saat ini berkutat dengan segala macam feces, mulai dari feces beruang, di pilah lagi, beruang liar dari hutan belantara yang feces nya aku peroleh dengan menyusuri tiap track dari GPS Collar nya si beruang di Uozu, Toyama Prefecture pada Secondary Forest nya itu.
Atau feces dari beruang kandang, yang diperoleh dari Taman Beruang Akita yang memelihara hampir dua ratus beruang tangkapan seluruh Jepang itu.
 
Lalu feces deer atau rusa Jepang, baik yang liar yang aku peroleh fecesnya dengan menyusuri sehari suntuk Yatsugatake, Yamanashi Prefecture untuk mendapatkan sekilo atau dua kilo umpan feces segar untuk makan Dung beetles.
 
Aku juga mengoleksi feces sapi TUAT , lalu fecesnya kambing TUAT, dan membungkusnya bak sebuah puresento (hadiah) untuk di bawa ke pesta makan buat Dung beetles di Yamanashi Prefecture.
 
“Mama, OK Da yoo, dua potong panjang, panjang nih Mamah…” teriak Fira chan dari Toire pada hari yang berbeda.
” OK sayang, esa o arigatou nee. Dung beetles sugoku ureshii naa” (Ok sayang, makanannya terima kasih ya. Dung beetles pasti senang deh), kata ku pada Fira chan dalam bahasa Jepang kepadanya.
 
Feces manusia juga jadi trial untuk melihat apakah si Dung beetles akan datang pada feces manusia. (biasanya makhluk kecil ini datangnya pada feces hewan di hutan).Hal ini di dukung penuh oleh Fira chan, anak perempuanku yang beranjak gede di usianya yang tujuh tahun itu. Dia mulai care pada penelitian mamanya, sampai bersedia menyumbangkan fecesnya setiap hari.
 
Setelah teriakannya berhenti, biasanya, aku segera ke Toire, membantunya membersihkan bagian belakangnya, lalu tanganku langsung berselubung sarung tangan lateks dan memungut feces nya Fira chan dari tempat pembuangan feces di apato, membungkusnya dengan vinyl, melipat rapih dengan koran bekas, lalu ku bawa ke lab di TUAT untuk di masukkan freezer/ pendingin barang yang minus 28 derajat Celsius itu.
 
Tepat seminggu kemudian, aku berangkat ke Yamanashi dan melepas umpan segala macam feces itu dalam trap-trap atau penjerat-penjerat plastik yang di desain khusus selama dua bulan, untuk menangkap Dung beetles.
 
“Mamah, Dung beetles ni esa o agemasutaka?” tanya Ade padaku sesaat aku pulang dari riset di Yamanashi selama seminggu penuh meninggalkannya. Katanya, apakah dung beetles nya Mamah, sudah di beri makan?
“Ageta yoo, Dung beetles kara Fira chan ni, arigatouu iimashita yoo” Aku jawab, sudah diberikan makanannya, kata Dung Beetle ke Fira chan, makasih yaa. Kira-kira begitu terjemahannya.
 
“Waa.. ureshi naa” jawab Fira chan tersenyum manis sambil memeluk rindu mamanya yang baru pulang riset per -feces-an di Yamanashi Prefecture.
 
Ah, bahkan feces manusia pun masih di butuhkan oleh hewan manis lucu sekelas Dung beetles. Tidak ada yang tidak bermanfaat, bahkan hanya sekedar feces Ade.
Feces Ade bermanfaat untuk melihat hubungan ekologi dari manusia, wildlife seperti beruang, rusa, sapi, kambing,  dengan Dung beetles yang ukuran tubuhnya tidak lebih dari 0.5 mili sampai 3 centimeter itu. Secara ekologi mereka memiliki hubungan yang erat dalam forest ecosystem terlebih lagi dalam biodiversity, heterogenous plant community.
Subhanalah…
 
“Dung beetles san, mata puresento ageru yoo…” (Dung beetle, saya mau kasih hadiah lagi nih) kata Ade sambil nyelonong ke Toire, meninggalkan mamahnya yang bengong.
“Ck..ck..ck..,Ternyata bersahabat, boleh dengan siapa saja” batinku ikut ngloyor menuju Toire.
 
TOKYO, 31 May 2006
BAINAH SARI DEWI.

 

April 21, 2008 Posted by bainahsaridewi | Hikmah | | No Comments Yet

Tanggapan 1/ Baju Batik Yogya dan Shubuhan

Re: [fahima] Baju batik Yogya dan Shubuhan

 

Mb dewi sayang,..tulisannya dalemmmm bangettt makasih
yah sudahmengingatkan,….ahh diriku pun bertambah
usia cuma bertambah BB saja tak bertambah baik
amalannya,..tulisannya membuat aku berkaca dan mataku
berkaca-kaca makasih bangetss mb dewi,..

sa ishhouni gambarou ne untuk menjadikan diri lebih
baik lagi :X

Juariah

April 21, 2008 Posted by bainahsaridewi | Hikmah | | No Comments Yet

Baju Batik Yogya dan Shubuhan

“Baju Batik Yogya dan Shubuhan”
 
Lagi senang main hitung-hitungan tahun, termasuk dini hari ini, wuih, sudah jam 01.27 pagi.
Aku  mau berkisah nih. Ada satu baju batik atasan saja, sebelas tahun silam yang aku pakai saat menunaikan ibadah haji, dan hari ini 5 April 2008, aku memakai kembali baju itu. Baju berwarna coklat batik, corak hitam, dengan gambar-gambar khas Yogya, seperti sayap-sayap burung, atau apalah, tetapi coraknya kalem dan cantik lah buat para calon jemaah haji waktu itu.
 
Baju itu hari ini, 5 April 2008 di TUAT, kupakai lagi. Ukuran badan masuk, ukuran perut mencembung. Kancing nyaris tidak bisa dikaitkan. Dan ukuran dada juga mencembung, dan kancing masih bisa dikaitkan, tetapi terbuka lagi secara otomatis (wuih, kayak pintu otomatis dikereta Jepang aje). Dikancingkan lagi, eh… terbuka lagi kaitannya. ck…ck..ck…, gendut nih ye (Nggak  niat nyindir sesama wanita gendut ya). Karena aku tahu, di Jepang sedikit sekali wanita Indonesia yang badannya gendut kayak aku. (Whehehe…)
 
Sebelas tahun menuai dua puluh kilo gram berat badan.
“Manstab! ” ini Istilah mantan Ketua PPI Jepang yang sekarang sedang Psdoc di Niigata, kalau beliau memuji sesuatu.
“Sebelas tahun, apalagi yang kau tuai Wie?”
“Ya, baju-baju gedebor, lobok,lebar, yang sekarang aku gemari untuk dipakai, menutup rapi dua puluh kilo pertambahan itu.
“Apakah ada tambahan dalam ibadahmu? setelah sebelas tahun berlalu?”
“Ah rasanya, semakin menurun saja ghirohku”
Jihadku juga menurun. Secara fisik, sukses mensuburkan diri, secara batin, sukseskah dirimu memantapkan iman?
 
Jawabnya  penuh logika, penuh keegoisan, untuk mengurai satu-satu berdasarkan alasan dan sebab. Ah, yang pasti, soal sholat shubuh saja misalnya,
“Shubuhku tidak terjaga dengan baik lagi”
Dengan seribu satu alasan, ya dingin, ya sakit kaki, ya tidur dini hari, ya lembur, ya kelelahan di lab.
Wess… bungkus saja semua alasan itu, dan kemaslah dengan cantik.
 
Tetapi toh, biarpun dikemas cantik, isinya tetap sama,
“Sholat shubuhku tidak terjaga lagi dengan baik, boro-boro dengar azan mau pergi jalan kaki ke Masjid, seperti di Lampung. Wah di Jepang ini, azan ada, kalau diciptakan lewat komputer”
Lagi-lagi dengan alasan,” Tinggal di Jepang mah, nyari asli suara orang yang berazan, ngimpi kali ye”
“Shubuhan ke masjid, jalan kaki ke Masjid, di Jepang mah, ngimpi kali ye”.
 
Setumpuk alasan cantik kukemas dan rangkai, tetapi isinya tetap tidak cantik. Inner beautynya tetap jelek. Kata singkatnya “Shubuhan telat melulu…”
 
Baju batik saat haji ini, sebelas tahun telah ku simpan, dan mencoba merasakan apakah ghiroh ibadahku, masih sama saat mengenakannya.
Ah, baju batik selepas haji ini, kupakai malam ini ke lab, dengan tiada niat apapun awalnya, selain satu hal saja.
“Stok baju setrikaanku habis di lemari…” kataku Burjo (alias berusaha jujur boo).
 
Tetapi apa yang kudapat setelah memakainya? Aku jadi ingat bagaimana dulu aku berjuang untuk menyempurnakan ibadah di Mekkah. Tetapi kenapa sekarang, dalam urusan sholat sholat shubuh saja jadi susah?
“Hemm… bismillah, aku akan jaga sholat shubuhku pagi ini”
Dan begadanglah aku sampai tiba waktu sholat shubuh  waktu  Fuchu Tokyo Jepang.
 
Ternyata performance atau penampilan kadang – kadang perlu juga untuk membangkitkan ghiroh/semangat ibadah. Seperti wajah tak berjerawat, maka iklan obat anti jerawat Clearasil bilang, ” Wajah bersih bukan hal utama, tetapi perlu!”
“Penampilan bukan hal utama, tetapi perlu!” hemm…rada kurang cocok ya.
“Berjilbab dan berbusana muslimah gedebor lobok lebar, bukan hal utama, tetapi perlu!” wah yang ini juga kurang pas padanannya.
“Pakai sorban dan sholat ke Masjid, bukan hal utama, tetapi perlu!” hemmm… rada lumayan.
“Pakai baju batik yang berumur sebelas tahun lalu untuk membangkitkan semangat sholat shubuh tepat waktu, bukan hal utama, tetapi  perlu!” rada lumayan lah. Maksud bukan hal utamanya adalah pakai baju batiknya, bukan sholat shubuhnya.
 
“Tetapi sahabat, bagaimana dengan sholat shubuhmu pagi ini? Apakah tepat  waktu ? .”
 
 
TOKYO 5 April 2008.
05.00 AM
BAINAH SARI DEWI

 

April 21, 2008 Posted by bainahsaridewi | Hikmah | | No Comments Yet