Yuki Cintaku
Dia Memang Orang Beruntung
Salju Di Nigataa Jepang
Tokyo Turun Salju
From: ind_fuchukoganei@ yahoogroups. com [mailto:ind_ fuchukoganei@ yahoogroups. com] On Behalf Of bainah dewi
Sent: Thursday, January 17, 2008 7:01 AM
To: ind_fuchukoganei@ yahoogroups. com; forester_unila@ yahoogroups. com
Subject: [ind_fuchukoganei] Salju
TOKYO TURUN SALJU
Kubuka jendela apartemen untuk mengambil sesuatu yang terjatuh dekat jendela. Tetapi saat menatap rumput dekat rumah pemilik apartemen kami, aku terkejut dan spontan berteriak pada Fira kecilku. “Fira chan, yuki furimashita yo”
Tokyo pagi ini turun barokah dapat salju dari yang Maha Putih Pemilik Salju. Dari info teman lab, dia mengatakan turunnya semalam jam satu dan hanya tiga puluh menit saja.
Subhanallah, bahagianya. Salju pertama yang kulihat pada 2006 adalah 21 Januari , agak tebal 30 cm dan bisa sempat membuat snow ball dan snow doll. Di depan kaikan dan guling-guling di kebun halaman kuda, di depan kaikan tempat tinggal kami. Norak ya, tapi kami demikian riangnya saat itu.
Salju berikutnya di Tokyo turun pertama kali pada tahun 2007 pada 22 Januari, hanya lima belas menit di siang hari jam satu. Saat aku berada di Fuchu Eki dan ternganga dengan bahagia, melihat butiran putih lembut itu turun bersama hembusan angin yang menerpa lembut ke pipi.
Dan salju itu turun pertama kali lagi di tahun 2008 pada hari ini, 17 Januari 2008. Alhamdulilah, tiga tahun berturut-turut salju turun di Tokyo . Kota yang bisa dibilang langka mengalami turun salju. Saat 2006 itu, malah staf di lab mengatakan “ Ini langka, Tokyo sudah hampir sepuluh tahun tidak turun salju, anda beruntung sekali tahun ini” katanya menimpali bahwa ini kejadian langka.
Padahal dibelahan prefektur yang lain, salju sudah setebal lutut dan ada yang sudah setinggi atap rumah. Tokyo memang sudah masuk kota panas. Mungkin dengan global warmingnya. Dan memang letaknya yang tidak berada pada dataran tinggi di kepulauan Honsu ini, yang menyebabkan salju cukup langka turun di sini.
Alhamdulillah, hari ini, saljunya bisa kami sentuh. Fira chan memegang salju yang berada di atas atap mobil pemilik apartemen kami di lantai satu dan aku memegang salju dan bahkan mencicipinya dari garden di kampusku yang setebal satu centimeter itu sambil bergumam… “Iya…benar, ini salju…”.
Tokyo 17 Januari 2008
07.00 AM
Bainah Sari Dewi
Gas, alangkah pentingnya Kau dalam hari-hari Kami
GAS
Posted by: “bainah dewi” bainahdewi@yahoo.com bainahdewi
Wed Jan 16, 2008 2:49 pm (PST)
GAS… Alangkah pentingnya Kau dalam hari-hari Kami
Hari ini ada cerita. Di apato/apartemen saya, hiter gas gak pernah saya matikan sama sekali kalau kami berada di rumah. Jadi nonstop gitu. dan gak ada masalah, berjalan seperti biasanya.
Nah, semalam sebelum saya tidur, ada yang membisikkan atau mengingatkan saya, entah lah, sukar dibedakan. Katanya, matikan hiternya wie…
Tapi peringatan itu tidak saya gubris, lah wong biasanya nyala sampai pagi dan nggak ada masalah.
Ternyata tadi pagi saat bangun, kami, saya dan Fira chan kedinginan. Hiter gas mati, gas untuk cooking mati, gas untuk shower mati. Wuih, serasa beku tangan-tangan kami dari pagi.
Untung masih ada hiter dari AC, tapi tetep aja galau, karena nggak bisa mandi dan nggak berani cuci piring karena air semua dingin kayak air es di kulkas.
Wah, ternyata saya saat antar Fira chan sekolah, bertanya pada tetangga , apakah gas nya bermasalah. Ternyata nggak bermasalah.
Telpon ke Oyaa san pemilik rumah. Gas dia juga baik2 aja. Telpon ke kantor gas, akhirnya perwakilannya datang siang hari. Ngecek, ternyata gas saya mati otomatis.
Katanya kalo over use maka gas akan mati otomatis.
Gimana nggak over use, ini badan bukan made in Jepang, tapi made in Indonesia.
Akhirnya jadi koreksi diri sih, kami terlalu nonstop pake gas dan listrik buat pemanas/heater.
Tapi yang jadi pemikiran saya, siapa semalam yang membisikkan ke kuping dan nyuruh saya mematikan hiter gas, tapi saya nggak pedulikan itu?
Saya sering mengalami hal aneh (aneh nggak ya?) begini di Jepang.
Misalnya, barang kecil saya, bros misalnya, saya banyak memandanginya hari ini lebih lama dan lebih seksama, lalu besoknya bros itu hilang. Padahal ya bros biasa, dan biasanya nggak pernah ada perhatian khusus pada barang kecil begituan biasanya.
Oya, saya juga sering terganggu kalo lewat satu apartemen yang ada tanaman bunga yang diselipkan diantara rumah dan halamannya, di dekat apartemen saya. Setiap saya lewat apartemen itu, heran sekali, mata saya selalu tertuju pada satu titik tempat itu. wihhhh… ada apa ini? Padahal banyak sudut ruang apartemen itu yang bisa dan mestinya saya lihat dan perhatikan.
Dulu pernah juga pulang jam 2 pagi dari lab, rasanya dibelakang saya ada yang ngikuti jalan saya. Ditengok berkali-kali, nggak ada orang. akhirnya saya lari, tetapi rasanya yang di belakang saya itu ikut lari juga. Wah dasar penakut ya saya, tambah kencang lari saya, rasanya yang ngikuti saya pun larinya terasa oleh saya. Bagaimana ini?
Lalu ada cerita lagi, saya punya teman orang Bali. Setiap kami membahas sesuatu, lalu saya dan dia akan berkomentar hal yang sama. Saat saya mengucapkan kalimat pendapat saya, maka dia bilang, “loh mbak wie saya mau ngomong hal itu tadi”.
Beberapa kali hal ini terjadi, tetapi respon ngomongnya selalu lebih cepat saya dari dia, dan si mbak orang Bali itu selalu bilang, “wih saya baruuu aja mau ngomong hal itu”.
Saya juga sering merasa gelisah malam sebelumnya. Gelisahnya kenapa saya nggak tahu. Tetapi kalo sudah begitu, biasanya besok nya ada saja kejadian jelek yang saya atau anak atau suami alami. wih, …
Itu aja dulu curhat saya hari ini, rada butek juga gara-gara masalah gas. Mana komunikasi kan harus dengan bahasa jepang. Bahasa Jepangku hanya terbatas dan … dan.. ribet lah pokoknya, Bahasa Inggris mah nggak laku di jepang. Hanya laku ngomong ingris kalo dg orang tertentu di jepang, misal dengan sensei di laboratory atau saat seminar international.
Jadi tambah merasa bodoh, dan tahu diri, bahwa kita itu tidak ada apa-apanya, dan bukan siapa-siapa. Karena begitu banyak kelemahan diri. Hanya karena masalah gas, waktu saya terbuang seharian ngurusin gas, nelpon pemilik rumah, tanya tetangga rumah, menunggu petugas gas datang ke rumah. Ya… nasib… nasib, lagi mau konsentrasi ngerjakan jurnal di lab dan ngeprint di apato, jadi bergeser fokus, hanya karena gas.
Oh… GAS, ternyata dikau demikian penting dalam hari-hariku dan Fira chan selama Winter ini.
Tokyo, 16 Januari 2008
Bainah Sari Dewi
Wassalamualaikum wr wb
Afwan bagi yang tidak berkenan.
Bainah Sari Dewi
Ketekunan
Oleh: Prof.Dr.Ir.Andi Hakim Nasoetion *
SEORANG dosen kembali dari Tokyo membawa gelar Magister Sains
Genetika Ikan. Ia melapor akan keberhasilannya itu. Yang ditanyakan rektornya ialah
apa yang membuatnya terkesan dengan program pendidikan pascasarjana
di Jepang.
baru pada ketika itu ia selama bangun hanya memikirkan dan berbicara
tentang ikan atau tentang genetika atau tentang genetika ikan.
Pagi hari ketika sarapan ia berbincang dengan kawan sekerjanya
tentang perilaku ikan. Di dalam laboratorium ia diajak berdiskusi
mengenai DNA oleh dosennya, dan sewaktu makan siang di sela-sela
memotong-motong filet tongkol, ia berbincang tentang daerah
penangkapan tongkol di daerah Kepulauan Aru. Malam harinya sewaktu tidur, ia bermimpi tentang
ikan. Tidak diceritakannya apakah sebelum bermimpi mengenai ikan itu
keesokan harinya ia menang undian berhadian (karena ada satu mitos
jika mimpi mendapatkan ikan akan ketiban rejeki).
mengagetkan yang diha-dapinya di kampus asalnya sewaktu ia kembali
mengajar. Ternyata ia terkejut sekali ketika melihat warga kampus
sewaktu sedang beristirahat tidak berbincang mengenai ilmu yang
harus ditekuni-nya, melainkan mengenai upaya mengokohkan iman dan
bagaimana caranya berperilaku sesuai dengan iman mereka masing-
masing.
mendukung perjuangan umat yang seiman. Kalau pun ada bedah buku di
antara sesama mahasiswa, maka pokok bahasan bedah buku itu
menyangkut masalah yang ada di luar jangkauan, seperti misalnya di
Palestina atau Bosnia. Masalah yang kalau hanya dibicarakan tidak
ada selesai-selesainya.
olimpiade matematika interna-sional asal Denmark berbincang-bincang
dengan anggota tim dari Norwegia tentang penyelesaian sebuah masalah
matematika yang memerlukan pengetahuan tentang teori medan Galois.
Percakap-an itu mereka lakukan ketika sedang berpesiar dengan kapal
di Laut Bosporus.
tentang ketekunan yang diungkapkan ilmuwan biologi dan calon ilmuwan
matematika ketika mereka sudah bertekad memilih bidang ilmu itu
sebagai perhatian pokok dalam perjalanan hidup mereka. Hasilnya
adalah bahwa mereka akhirnya mendalami benar bidang ilmu genetika
atau matematika itu dan bukan hanya sekadar pengetahuan tipe-tipe
sosial.
dari suatu yayasan. Untuk itu ia diberi tunjangan penelitian kira-
kira 40.000 dolar AS. Orang ini dikenal sangat menekuni bidang
ilmunya. Demikian pula ada seorang dosen yang mendapat hadiah
penelitian dalam bidang ilmu serangga dan lingkungan. Ia juga selalu
tekun bekerja dalam bidang ilmunya sendiri. Sama halnya dengan dosen
Fakultas Peternakan Unsoed yang di Australia menemukan cara
penyimpanan mani beku sapi di dalam tabung sedotan yang terbuat dari
plastik setelah usahanya berkali-kali gagal. Untuk itu ia menerima
hadiah medali emas penelitian Yayasan Hewlett-Packard.
yang tinggi. Namun kalayak akademik yang tinggi saja belum cukup
untuk membuahkan hasil penelitian yang cemerlang. Diperlukan
kreativitas dan ketekunan melakukan tugas yang tinggi. Ketiga ciri
ini yang seharusnya dimiliki oleh orang berbakat yang pekerjaannya
adalah menciptakan pengetahuan baru dan atau memperbaiki manfaat
suatu pengetahuan.
ketekunan dan kesetiaan menangani tugas itu ada atau tidak ada,
dapat dirangkum dari poster-poster yang ditempelkan di mana saja di
dalam kampus yang dapat dilekati kertas. Sayang sekali, pengumuman
yang memenuhi dinding kampus bukan mengenai hal-hal yang berkaitan
dengan kemajuan ilmu yang ditekuninya, melain-kan mengenai siraman
rohani, bedah buku tentang solidaritas Palestina dan berbagai
diskusi mengenai berbagai kebobrokan yang terjadi di tanah air.
diperbicangkan. Tentu saja kita harus peduli mengenai pemeliharaan
iman, solidaritas keimanan hingga aplikasi keimanan dalam kehidupan
sehari-hari. Namun kalau yang ditangani hanya itu saja, tidak perlu
susah-susah belajar di perguruan tinggi, kecuali kalau kita hanya
bermaksud mendapatkan gelar dan ijasah saja, bukan kemampuan dan
keahliannya. Jika hanya itu yang kita inginkan, lebih baik mengikuti
ujian persamaan B.Sc, M.Sc, Ph.D dan MBA di berbagai
yayasan “gombal”.
kemampuan akademik lulusan perguruan tinggi yang sudah mapan di
negara maju kalau yang ditekuninya selama belajar di perguruan
tinggi bukanlah bidang ilmunya sendiri. Apakah dengan “kematangan
bermasyarakat” dengan berkonsentrasi penuh ke kegiatan ekstra
kurikuler kita mampu menjadi ilmuwan bertaraf internasional?
yang menjadi pemenang medali perunggu pada olimpiade matematika
tingkat Asia Pasifik dan olimpiade matematika internasional hanyalah
siswa SMU yang bertapak di Jawa. Ketika itu saya dituduh
mendiskriminasikan mereka yang berasal dari Luar Jawa. Hujatan itu
memang pantas muncul di zaman reformasi seperti sekarang. Namun
seharusnya penghujat yang notabene mahasiswa pascasarjana matematika
itu mesti menggunakan nalarnya dan bukan pemikiran dengkulnya.
Peraih medali perunggu itu ternyata adalah siswa-siswa yang dengan
kecintaan menekuni matem-atika dan kebanyakan dari mereka berasal
dari sekolah-sekolah yang diselenggarakan masyarakat (swasta), bukan
dari sekolah yang diselenggarakan negara (negeri). Atau kalau ia
berasal dari sekolah yang diselenggarakan negara, lingkungan
keluarganya adalah lingkungan yang menghargai ketekunan kerja. Siapa
mereka itu? Boleh ditebak sendiri, lingkungan keluarga yang mana
yang dapat membedakan kapan harus menekuni pelajaran tentang
keimanan dan ilmu naqliah dan kapan lagi harus tekun menuntut ilmu
aqliah.
untuk tekun mempelajari apa yang seharusnya dipelajarinya agar
mendapatkan kelayakan profesional di dalam bidang yang diminatinya.
Jangan terjerumus ke zaman Firaun, ketika seleksi menjadi ahli bedah
otak dilakukan dengan cara berendam semalam suntuk di Sungai Nil.
Jangan juga terjerumus ke keadaan di Pakistan, ketika seorang Ph.D
Fisika Nuklir lulusan MIT AS melamar menjadi tenaga akademik.
Pertanyaan penguji bukan hal-hal yang pelik mengenai dentuman besar
(big bang). Sederhana saja, namun cukup mengejutkan karena Doktor
Fisika itu diminta melafalkan Doa Qunut. Jika ia tidak hafal doa
Qunut, maka pastilah ia seorang Wahabi.
kehidupan akademik di kampus, baik oleh tenaga akademik, tenaga
administrasi maupun mahasiswa. Jika mahasiswa berlaku seperti itu,
seharusnya tenaga akademiknya merasa bersalah, karena hal itu
pertanda bahwa tenaga akademik belum dapat membawakan suasana
akademik ke dalam kampus, termasuk membawa mahasiswanya ke suasana
ingin mengetahui.
yang diselenggarakan masyarakat bertanya pada saya, universitas apa
di Indonesia yang suasana akademiknya sudah menyamai suatu
universitas penelitian. Jawab saya dengan tegas, belum ada. Dan
ketika ia menanyakan alasannya, saya katakan bahwa di kampus saat
ini banyak mahasiswa termasuk juga mahasiswa pascasarjana serta
dosen hanya menghadiri seminar karena harus menandatangani daftar
hadir. Kalau kurang tandatangan di daftar hadir, ada kemungkinan ia
tidak boleh ikut ujian atau kredit kenaikan pangkatnya tidak cukup.
Kalau begitu halnya, di kampus kita orang hadir di seminar bukan
karena ingin tahu lebih banyak, melainkan karena takut tidak lulus
ujian atau tidak naik pangkat.***
Dua Pilihan
Dua Pilihan Pada sebuah jamuan makan malam pengadaan dana untuk sekolah anak-anak cacat, ayah dari salah satu anak yang bersekolah disana menghantarkan satu pidato yang tidak mungkin dilupakan oleh mereka yang menghadiri acara itu. Setelah mengucapkan salam pembukaan, ayah tersebut mengangkat satu topik:
‘Ketika tidak mengalami gangguan dari sebab-sebab eksternal, segala proses yang terjadi dalam alam ini berjalan secara sempurna/ alami. Namun tidak demikian halnya dengan anakku, Shay. Dia tidak dapat mempelajari hal-hal sebagaimana layaknya anak-anak yang lain. Nah, bagaimanakah proses alami ini berlangsung dalam diri anakku? ‘
Para peserta terdiam menghadapi pertanyaan itu.
Ayah tersebut melanjutkan: “Saya percaya bahwa, untuk seorang anak seperti Shay, yang mana dia mengalami gangguan mental dan fisik sedari lahir, satu-satunya kesempatan untuk dia mengenali alam ini berasal dari bagaimana orang-orang sekitarnya memperlakukan dia”
Kemudian ayah tersebut menceritakan kisah berikut:
Shay dan aku sedang berjalan-jalan di sebuah taman ketika beberapa orang anak sedang bermain baseball. Shay bertanya padaku,”Apakah kau pikir mereka akan membiarkanku ikut bermain?” Aku tahu bahwa kebanyakan anak-anak itu tidak akan membiarkan orang-orang seperti Shay ikut dalam tim mereka, namun aku juga tahu bahwa bila saja Shay mendapat kesempatan untuk bermain dalam tim itu, hal itu akan memberinya semacam perasaan dibutuhkan dan kepercayaan untuk diterima oleh orang-orang lain, diluar kondisi fisiknya yang cacat.
Aku mendekati salah satu anak laki-laki itu dan bertanya apakah Shay dapat ikut dalam tim mereka, dengan tidak berharap banyak. Anak itu melihat sekelilingnya dan berkata, “kami telah kalah 6 putaran dan sekaran sudah babak kedelapan. Aku rasa dia dapat ikut dalam tim kami dan kami akan mencoba untuk memasukkan dia bertanding pada babak kesembilan nanti’
Shay berjuang untuk mendekat ke dalam tim itu dan mengenakan seragam tim dengan senyum lebar, dan aku menahan air mata di mataku dan kehangatan dalam hatiku. Anak-anak tim tersebut melihat kebahagiaan seorang ayah yang gembira karena anaknya diterima bermain dalam satu tim.
Pada akhir putaran kedelapan, tim Shay mencetak beberapa skor, namun masih ketinggalan angka. Pada putaran kesembilan, Shay mengenakan sarungnya dan bermain di sayap kanan. Walaupun tidak ada bola yang mengarah padanya, dia sangat antusias hanya karena turut serta dalam permainan tersebut dan berada dalam lapangan itu. Seringai lebar terpampang di wajahnya ketika aku melambai padanya dari kerumunan. Pada akhir putaran kesembilan, tim Shay mencetak beberapa skor lagi. Dan dengan dua angka out, kemungkinan untuk mencetak kemenangan ada di depan mata dan Shay yang terjadwal untuk menjadi pemukul berikutnya.
Pada kondisi yg spt ini, apakah mungkin mereka akan mengabaikan kesempatan untuk menang dengan membiarkan Shay menjadi kunci kemenangan mereka?
Yang mengejutkan adalah mereka memberikan kesempatan itu pada Shay.
Semua yang hadir tahu bahwa satu pukulan adalah mustahil karena Shay bahkan tidak tahu bagaimana caranya memegang pemukul dengan benar, apalagi berhubungan dengan bola itu.
Yang terjadi adalah, ketika Shay melangkah maju kedalam arena, sang pitcher, sadar bagaimana tim Shay telah mengesampingkan kemungkinan menang mereka untuk satu momen penting dalam hidup Shay, mengambil beberapa langkah maju ke depan dan melempar bola itu perlahan sehingga Shay paling tidak bisa mengadakan kontak dengan bola itu. Lemparan pertama meleset; Shay mengayun tongkatnya dengan ceroboh dan luput. Pitcher tsb kembali mengambil beberapa langkah kedepan, dan melempar bola itu perlahan kearah Shay. Ketika bola itu datang, Shay mengayun kearah bola itu dan mengenai bola itu dengan satu pukulan perlahan kembali kearah pitcher.
Permainan seharusnya berakhir saat itu juga, pitcher tsb bisa saja dengan mudah melempar bola ke baseman pertama, Shay akan keluar, dan permainan akan berakhir.
Sebaliknya, pitcher tsb melempar bola melewati baseman pertama, jauh dari jangkauan semua anggota tim. Penonton bersorak dan kedua tim mulai berteriak, “Shay, lari ke base satu! Lari ke base satu!”. Tidak pernah dalam hidup Shay sebelumnya ia berlari sejauh itu, tapi dia berhasil melaju ke base pertama. Shay tertegun dan membelalakkan matanya.
Semua orang berteriak, “Lari ke base dua, lari ke base dua!”
Sambil menahan napasnya, Shay berlari dengan canggung ke base dua. Ia terlihat bersinar-sinar dan bersemangat dalam perjuangannya menuju base dua. Pada saat Shay menuju base dua, seorang pemain sayap kanan memegang bola itu di tangannya. Pemain itu merupakan anak terkecil dalam timnya, dan dia saat itu mempunyai kesempatan menjadi pahlawan kemenangan tim untuk pertama kali dalam hidupnya. Dia dapat dengan mudah melempar bola itu ke penjaga base dua. Namun pemain ini memahami maksud baik dari sang pitcher, sehingga diapun dengan tujuan yang sama melempar bola itu tinggi ke atas jauh melewati jangkauan penjaga base ketiga. Shay berlari menuju base ketiga.
Semua yang hadir berteriak, “Shay, Shay, Shay, teruskan perjuanganmu Shay”
Shay mencapai base ketiga saat seorang pemain lawan berlari ke arahnya dan memberitahu Shay arah selanjutnya yang mesti ditempuh. Pada saat Shay menyelesaikan base ketiga, para pemain dari kedua tim dan para penonton yang berdiri mulai berteriak, “Shay, larilah ke home, lari ke home!”. Shay berlari ke home, menginjak balok yg ada, dan dielu-elukan bak seorang hero yang memenangkan grand slam. Dia telah memenangkan game untuk timnya.
Hari itu, kenang ayah tersebut dengan air mata yang berlinangan di wajahnya, para pemain dari kedua tim telah menghadirkan sebuah cinta yang tulus dan nilai kemanusiaan kedalam dunia.
Shay tidak dapat bertahan hingga musim panas berikut dan meninggal musim dingin itu. Sepanjang sisa hidupnya dia tidak pernah melupakan momen dimana dia telah menjadi seorang hero, bagaimana dia telah membuat ayahnya bahagia, dan bagaimana dia telah membuat ibunya menitikkan air mata bahagia akan sang pahlawan kecilnya.
Seorang bijak pernah berkata, sebuah masyarakat akan dinilai dari cara mereka memperlakukan seorang yang paling tidak beruntung diantara mereka.
Catatan kaki:
Kita sering mengirim ribuan jokes lewat email tnp pikir panjang, namun bila kita harus mengirimkan mail tentang pilihan dalam hidup, kita seringkali ragu. Kejadian-kejadian vulgar, kasar dan mengerikan acap terjadi dalam hidup ini,namun pembicaraan tentangnya seolah tertelan waktu, baik itu di lingkungan pendidikan atau kerja.
Jika Anda berpikir untuk forward email ini, kemungkinannya Anda akan memilih daftar orang-orang dari email address Anda yang Anda pikir layak untuk menerima email Anda. Ingatlah, bahwa orang yang mengirimi Anda email ini berpikir bahwa kita semua dapat membuat perbedaan.
Kita semua mempunyai banyak pilihan dalam hidup setiap harinya untuk dapat memahami “kejadian alami dalam hidup”. Begitu banyak hubungan antar 2 manusia yang kelihatan remeh, sebenarnya telah meninggalkan 2 pilihan bagi kita:
Apakah kita telah meninggalkan cinta dan kemanusiaan atau, Apakah kita telah melewatkan kesempatan untuk berbagi kasih dengan mereka yang kurang beruntung, yang menyebabkan hidup ini menjadi dingin?
Posting by dz Australia
-
Recent
- Kuliah Inventarisasi Hutan 3
- Sensei Please Come
- Seindah namanya Intan
- Marisa-san I am Sorry to hear that…
- Mama Aku Rindu
- Biomass International Seminar 3-5 August 2009 Sheraton, Lampung, Indonesia
- Kosakata Dzaky-kun
- Kok Beda Seehhh???
- Kisah kilat doktor Tatang Sopian
- Karya yang Tak Pernah Hilang dari Sosok San Afri Awang
- Informasi Living Cost Fuchu Tokyo Jepang
- Hadiah Tulus Memang Lain
-
Links
-
Archives
- September 2009 (14)
- January 2009 (15)
- December 2008 (1)
- October 2008 (13)
- August 2008 (22)
- June 2008 (51)
- May 2008 (7)
- April 2008 (47)
- February 2008 (29)
- January 2008 (7)
- December 2007 (16)
- November 2007 (3)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS