Bismillahirohmanirrohim

Just another WordPress.com weblog

Yuki Cintaku

Yuki Cintaku
Memandangmu, membuat relungku sejuk
Memegangmu membuat tanganku lebih sejuk
Meraihmu, membuatmu menderita ditanganku
Kau meleleh dengan hangatnya tanganku
Kau mencair dengan tebalnya jaketku
Engkau indah
Senikmat decak Subhanaloh yang tiada putus kuucap walau lirih
Engkau cantik, secantik Bidadari yang ada dalam anganku walau ku tak pernah melihat Bidadari itu
Engkau lembut, selembut hatiku yang tersentuh menjadi sejuk walau sesungguhnya sedang beku kesepian ditinggal suamiku walaupun hanya sebulan
Tetapi Engkau lemah, menjadi nothing hanya karena kepulan aspal dijalan
Engkau lemah, mencair hanya dengan genggamanku yang sebenarnya tidak hangat
Ah, Engkau tetap turun, padahal sudah kupandangi selama dua jam dengan terus berdiri
Memandangmu turun dari atas atap rumahku
Memandangmu menjatuhkan diri berhamba, diinjak-injak oleh anak-anak sekolah di sebelah rumahku
Engkau sejuk, lemah, tiada daya
Bahkan tiada perlawanan
Engkau juga sejuk dipandang, apalagi di pegang
Engkau ternyata juga enak dicicipi untuk dirasakan
Engkau menutupi Tokyo hari ini
Engkau turun lagi buatku yang kedua di tahun ini
Ingin rasanya bisa menjadi sepertimu
Ingin rasanya bisa menjadi penyejuk hati orang-orang yang galau
Ingin rasanya menjadi penyemangat hati-hati yang sedang tidak bersemangat
Walau aku hanya tinggal memiliki satu titik semangat lagi…
Yuki, andai kau bisa kugenggam selama dan sedalam genggaman hatiku
Dapatkah  kelemahanmu menjadi titik puncak dan titik balik kejayaanmu?
TOKYO, 23 Januari 2008 , 8 AM
Dari yang lagi gendeng liat salju turun di Tokyo.
dan lagi mumet liat tumpukan pena warna merah, kuning, hijau catatan kaki dari suensei
hiks…

January 23, 2008 Posted by bainahsaridewi | Catatan Harian | | No Comments Yet

Dia Memang Orang Beruntung

Dia Memang Orang Beruntung
Tidak banyak Orang Indonesia yang bisa sekolah di Jepang. Tidak banyak juga orang Indonesia yang setelah tepat tiga tahun, bisa menyelesaikan S3 nya. Tidak banyak orang Indonesia di Jepang yang bisa merasakan salju setiap tahun bisa turun di Tokyo.
Tetapi dia, saat ini berada di Tokyo dan kembali bisa merasakan salju indah dari pembuatnya yang Maha Indah.
Dia hobinya belajar, tapi untuk penyeimbangnya, dia ternyata hobi nyanyi dangdut dan rok. Ah salah tulis, nyanyi Rock. Ah salah tulis lagi ya…
Terkejut melihatnya bergaya seperti Mikel Jeksen (biarlah salah tulis lagi), bahkan mendayu-dayu suaranya dengan lagu “Bang Toyib, Mengapa kau tak pulang…pulang..anakmu..anakmu…”
Tetapi juga penuh hafalan cerita-cerita lucu dan banyolan klasik yang sebenarnya tidak terlalu lucu tetapi buat orang-orang Indonesia yang ada di Jepang, terdengar menjadi sangat lucu sekali.
Dia memang beruntung. Meminang seorang penyiar televisi Yogyakarta yang ayu dan berwajah klasik Jowo. Menjadikannya penyejuk hati kala galaw dan gundah di dera tuntutan publikasi internationalnya saat itu. Dia juga beruntung, memiliki kedua orang tua yang sangat menyayanginya juga para menantunya. Dia memang ditakdirkan menjadi orang beruntung.
Tiga tahun lalu, aku pernah memergokinya tertidur di atas meja kerja labnya. Bangun dalam keaadaan rambut HIMKRI, alias Himpunan Mahasiswa Kriting Indonesia. Karena tak sempat pulang dari lab, tak sempat makan pagi bahkan tak sempat mandi setiap hari. Tiga tahun lalu, aku diberi tahu pertama kali bahwa bakwan yang aku goreng mengandung jumlah minyak yang banyak sekali. Dilapnya dengan tissu lalu ditunjukkannya ke muka ku si tissu itu,” Ini lihatlah minyak yang kau sumbangkan untuk kolesterolku”.
Sejak itu aku selalu mengelus bakwan gorenganku dengan tissu, walau kadang habis tissu, dengan terpaksa pakai koran bekas di kaikan.
Tiga tahun lalu, dia mengajarkan aku cara membuka jus minuman. Bukan hanya aku yang diajarinya sampe sengit dan pegel,”Begini nih Mbak, cara membuka jus apelnya, tekan, sret…srett… jangan sampai terpegang jari tangan ujung tempat keluarnya air jus, supaya tetap higienis (salah lagi ya ejaannya, ah biarlah…).
Sampai ada teman Bali ku yang sempet shock saat diajari soal perkomputeran olehnya.”Masa begini saja nggak bisa Mbak?Kacian deh lu…”
Dasar gendeng yang mendengarnya aku, maka hanya ada senyum tipis tetap manis, walau hatiku seber ruar biasa (biarlah salah menulis, yang penting, aku tetap menulis dan terus menulis).
Tetapi teman Baliku, hatinya merana mendengar ocehannya yang lucu, jujur, tapi pletak, menjitak kepala sampai bisa langsung gundul.
Dia memang beruntung, mendapati barokah anak perempuan lucu berdarah Yogya Aceh. Dan akan menimang anak perempuan lagi sesaat nanti, untuk menggenapkan sembilan bulan sepuluh hari kandungan teman televisiku yang ayu asli Jowo itu.
Dia juga beruntung, karena di Nokodai tidak mudah untuk bisa lulus tepat waktu.
Dia adalah orang yang pernah aku lihat dengan aneka rupa warna kehidupannya. Pernah lihat gilanya karena stress jurnal, stress disertasi, mbalelo nonton filem di lab rame-rame, serius berceramah,lucu bercanda, tetapi punya tanggung jawab masa depan untuk anak, istri dan keluarga besarnya.
Tiga tahun lalu, dia membawa dua sepeda, satu dikayuhnya, satu di pegang dengan tangan kanannya, lalu di belakang dibonceng televisi, termos air, karpet, futon, dan semua tetek bengek warisannya yang tak pernah lupa aku syukuri sebagai nikmat Allah saat aku datang pertama kali di Jepang. Menjemputku di kaikan, menunjukkan dan mempertemukanku dengan Sensei Jepangku untuk pertama kalinya, mengenalkan aku pada onigiri saat laparku tiba. Ya… itu.. tiga tahun yang lalu.
Pagi ini, kudapati suaranya yang masih terdengar rada gila via telepon, karena ternyata dia memang orang beruntung. Menjadi Invite Speaker (biarlah salah menulisnya, yang jelas, aku akan terus menulis) dan sudah mulai banyak cited refference dari banyak case tentang pererosian dan pergempaan serta pertsunamian.
Biarlah aku salah menuliskan ini, yang pasti aku tak akan pernah berhenti menulis, apapun yang terjadi dan apapun yang mereka katakan.
Biarlah anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu. Biarlah Sensei menggonggong, yang penting kafilah tetap berlalu. Wah kurang cocok kalimatnya.
Biarlah terus keluar tinta merah, kuning, biru, yang pasti, aku akan terus menulis dan menulis. Ya… tetap menulis walau hanya mampu menulis satu kalimat sehari.
Dia pernah mengatakan “Nulis skripsi di rugos satu huruf satu hari, kapan selesainya?”
Biarlah…biarlah… ternyata dia memang orang beruntung.
“Woi, orang pintar bisa kalah dengan orang beruntung…”
Ah, dia memang orang beruntung.
Semoga saja keberuntungannya menulariku, menulari pasukan Fuchu Koganei.
Selamat datang Bapak SBY.
Sugeng rawuh di gubuk derita lab 411 sebelah Siraki Sensei.
Tokyo, 23 Januari 2008.
BAINAH SARI DEWI

January 23, 2008 Posted by bainahsaridewi | Catatan Harian | | No Comments Yet

Salju Di Nigataa Jepang

Assalamualaikum wr wb
Afwan  baru mengudara lagi, baru mudik dari Utsunomiya University di Tochigi semalam, hehehe…maklum lah, punya banyak kampus nih.
Wah, terima kasih banyak buat kebersamaan yang tiada terlupakan.
Jazakumullah Khoiron Katsiron…
Especially Mas Budi yang buat saya dan Fira Chan, Mas Widy Mbak Antik dan Alya Chan juga Mas Bejo, memberikan tumpangan bermalam, makan malam, dan semua makanan wenaknya.
Terimakasih juga pada Mbak Antik, berkat rendang wenaknya membuat onigiri rasa rendang jadi unik. Lagi-lagi ikan pengisi onigiri dan semua menu, adalah dari beliau yang terhormat, Doktor Budi Leksono. Orang yang mabok di kereta aja bilang gini, ” Kayaknya, kamu Sensei ya?hihihi…”
Yang beneran Sensei di sebelahnya (salam kedip buat Mbakyu Yani) malah dicuekin. Gile juga ya kalo orang jepun mabok, jadi ngoceh begono. Juga kasian buat orang jepun, hanya buat ngoceh begono, dia harus meminum alkohol buat pemanasan otak. Kacian…kacian…
Saya dan Jeng Antik, masih terkesan atas kebaikan hati Mas Budi dan Mbak Titik sekeluarga. Arigatou mas, top deh pokoke.
Saya juga terharu tergugu…gugu… dengan kebaikan Mbakyu Yani, Chandra, Ipit, yang meminjamkan alat ski nya buat saya bergaya untuk foto hihi… biar gendut yang penting gaya…booo.
Ternyata bukan hanya badan saya yang gendut nan seksi ini (di dunia ini, mana ada gendut nan seksi?), tetapi ternyata kaki sayapun gendut, sampe-sampe Chandra dan Mbak Yani mumet memasukkan si kaki kanan ke dalam sepatu ski. Heran bin ajaib, kaki kiri saya masuk, kaki kanan nggak masuk di sepatu ski.
Untungnya saat memasang sepatu ski ke dalam alatnya, si alat itu match dengan sepatunya. Tentu saja berkat bantuan Mas Chondro (wih salah tulis nama nggak ya Mas?)Kenapa saya tulis begini?Karena dua tahun lalu di tempat yang sama di Nigata, sepatu ski saya tidak bisa di match kan dengan alat ski nya, pedahal wektu rental, semuanya serba ok dan match sesuai ukuran sepatu. Itulah aneh nya bagian kaki saya. (hihihi…).
Dan dari 18 orang yang berangkat, ternyata ada replikasi orang, hehehe (kedip buat Ipit). Karena dua tahun lalu, pasukan Fuchu Koganei TUAT berangkat juga dua hari setelah Mas Budi dan keluarga ke Nigata (Ini juga gara-gara lihat foto mas Budi sekeluarga di area ski loh). Dan setelh dua tahun berlalu, ternyata masih ada saya dan Ipit yang tersisa dari rombongan kami dua tahun yang lalu, yang lainnya sudah mulai mengabdi pada tanah air, tumpah darah kita, Indonesia tercinta. Merdekkaa! (Wah bener-bener nggak nyambung yah).
Yang terlihat menonjol dan cukup membahagiakan adalah kebersamaan Naki Chan dan Fira Chan. Mereka berdua asyik sekali bermain dan tertawa-tawa. Hebat ya, anak-anak ternyata ikatan silaturahminya demikian cepat dan kilat, mengalahkan orang dewasa.
Kalau saya di suruh menyebutkan dengan lancar pasukan Today, maka belum tentu bener nih.
Oya, Mas James, terima kasih sudah bantuin membuang sampah tumpukan plastik onigiri, dasar gendut, mau nyebrang jalan ajah pake takut-takut segala, hehehe…
Mas Rino, keliatannya hobi banget fotography yo?Adakah foto daku yang sedang meluncur dan terjerembab di salju dengan sorri yang daku tumpangi?
Lucunya, waktu naik sorri bareng Jeng Antik, kami meluncur dengan baik berkali kali (wah ini mah nggak lucu ya…). Tetapi waktu saya berboncengan dengan Sarah, itu yang namanya sorri tidak mau meluncur. Kalau si sorri bisa berkata, maka dia akan mengatakan “Hei penumpang, lu bedua berat amat seehhh?” hihihi…
Mbak Vinda (doeh… semoga tidak salah nyebut but but ya) dikau suka sekali warna merah ya. Jadi terkesan dengan warna merahnya. Juga jadi geli dengerin cerita Mas Rino waktu di bandara jerman, ” Ini mana majikannya?kek..kek..kek..” Biar hitam  jadilah seperti kereta, walau hitam tetap ada yang setia menanti. Bukan saya loh Mas, tapi Mbak Vi yang setia menantinya. Buat Ri, adiknya Mas Rino? selamat ya, menikmati liburan saljunya. Semoga bisa segera master di jepun supaya bisa melanjutkan napak tilas sang kakak, amin… ini doa loh, jadi di aminkan bareng-bareng yo. Buat Rion kun, wah, saya ada foto tertutup dengan butiran salju di atas plastik kereta bayi nya loh. Murni plastik dengan dua bolongan kecil yang tertutup salju rintik-rintik.
Mbak Wini, makasih, saya jadi terharu, dapat ikat rambutnya buat Fira Chan, rambutnya Fira Chan suka nakal jalan-jalan terbang keluar jilbab. Jazakillah mbak, juga dengan onigirinya pas saat Fira Chan lagi lapar-laparnya di sore hari. Aria kun asyik banget ya menikmati salju dengan ayahnya. Tahan dingin sampe berlama-lama ya di salju.Heibat nee.
Alya Chan, genki de nee. Walau sempat muntah-muntah di kereta, semoga Jeng Antik diberi kesabaran yang panjang tiada tara sebagai seorang ibu. Suhu di jepun kadang kurang bersahabat ya. Maafkanlah si suhu itu  juga maafkan daku yang tidak bisa menghandle dengan baik kondisi awal keberangkatan.
Kepada Ibu Koordinator, terimakasih banyak atas semua jerih payahnya, kepada bendahara  terima kasih atas hitung-hitungannya, sampe geli baca email hitungannya demikian rinci dan sangat amanah. Heibat-heibat… besok-besok…dijadikan bendahara lagi ajah yah…
Kalau ada yang terlewat dalam cerita indahnya silaturahim ini, afwan dimaafkan ya. Semoga tidak mengurangi maknanya buat saya pribadi.
Yang pasti, saya sangat berbahagia bisa bersama semua keluarga NOKODAI dan TODAI saat main salju.
Semoga Allah memberikan kesehatan, kebaikan, dan hikmah nikmat, atas kebahagiaan yang telah kita nikmati bersama di salju putih, indah, sejuk, dan yang pasti, jumlah persaudaraan kita semakin bertambah dan semoga tambah erat terjalin.
Akhir kata, Selamat Jalan Mas Doktor Budi Leksono, selamat mengabdi ke pangkuan Ibu Titik, eh salah…kepleset… selamat mengabdi ke pangkuan Ibu Pertiwi.
Mas James, Juga Selamat Jalan Sukses selalu dalam berkarya buat bangsa.
Wassalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.
Dewi
Fira Chan.

January 23, 2008 Posted by bainahsaridewi | Catatan Harian | | No Comments Yet

Tokyo Turun Salju

From: ind_fuchukoganei@ yahoogroups. com [mailto:ind_ fuchukoganei@ yahoogroups. com] On Behalf Of bainah dewi
Sent: Thursday, January 17, 2008 7:01 AM
To: ind_fuchukoganei@ yahoogroups. com; forester_unila@ yahoogroups. com
Subject: [ind_fuchukoganei] Salju

TOKYO TURUN SALJU

Kubuka jendela apartemen untuk mengambil sesuatu yang terjatuh dekat jendela. Tetapi saat menatap rumput dekat rumah pemilik apartemen kami, aku terkejut dan spontan berteriak pada Fira kecilku. “Fira chan, yuki furimashita yo”
Tokyo pagi ini turun barokah dapat salju dari yang Maha Putih Pemilik Salju. Dari info teman lab, dia mengatakan turunnya semalam jam satu dan hanya tiga puluh menit saja.
Subhanallah, bahagianya. Salju pertama yang kulihat pada 2006 adalah 21 Januari , agak tebal 30 cm dan bisa sempat membuat snow ball dan snow doll. Di depan kaikan dan guling-guling di kebun halaman kuda, di depan kaikan tempat tinggal kami. Norak ya, tapi kami demikian riangnya saat itu.
Salju berikutnya di Tokyo turun pertama kali pada tahun 2007 pada 22 Januari, hanya lima belas menit di siang hari jam satu. Saat aku berada di Fuchu Eki dan ternganga dengan bahagia, melihat butiran putih lembut itu turun bersama hembusan angin yang menerpa lembut ke pipi.
Dan salju itu turun pertama kali lagi di tahun 2008 pada hari ini, 17 Januari 2008. Alhamdulilah, tiga tahun berturut-turut salju turun di Tokyo . Kota yang bisa dibilang langka mengalami turun salju. Saat 2006 itu, malah staf di lab mengatakan “ Ini langka, Tokyo sudah hampir sepuluh tahun tidak turun salju, anda beruntung sekali tahun ini” katanya menimpali bahwa ini kejadian langka.
Padahal dibelahan prefektur yang lain, salju sudah setebal lutut dan ada yang sudah setinggi atap rumah. Tokyo memang sudah masuk kota panas. Mungkin dengan global warmingnya. Dan memang letaknya yang tidak berada pada dataran tinggi di kepulauan Honsu ini, yang menyebabkan salju cukup langka turun di sini.
Alhamdulillah, hari ini, saljunya bisa kami sentuh. Fira chan memegang salju yang berada di atas atap mobil pemilik apartemen kami di lantai satu dan aku memegang salju dan bahkan mencicipinya dari garden di kampusku yang setebal satu centimeter itu sambil bergumam… “Iya…benar, ini salju…”.

Tokyo 17 Januari 2008
07.00 AM
Bainah Sari Dewi

January 23, 2008 Posted by bainahsaridewi | Catatan Harian | | No Comments Yet

Gas, alangkah pentingnya Kau dalam hari-hari Kami

GAS

Posted by: “bainah dewi” bainahdewi@yahoo.com   bainahdewi

Wed Jan 16, 2008 2:49 pm (PST)

Assalamualaikum wr wb

GAS… Alangkah pentingnya Kau dalam hari-hari Kami

Hari ini ada cerita. Di apato/apartemen saya, hiter gas gak pernah saya matikan sama sekali kalau kami berada di rumah. Jadi nonstop gitu. dan gak ada masalah, berjalan seperti biasanya.
Nah, semalam sebelum saya tidur, ada yang membisikkan atau mengingatkan saya, entah lah, sukar dibedakan. Katanya, matikan hiternya wie…
Tapi peringatan itu tidak saya gubris, lah wong biasanya nyala sampai pagi dan nggak ada masalah.

Ternyata tadi pagi saat bangun, kami, saya dan Fira chan kedinginan. Hiter gas mati, gas untuk cooking mati, gas untuk shower mati. Wuih, serasa beku tangan-tangan kami dari pagi.
Untung masih ada hiter dari AC, tapi tetep aja galau, karena nggak bisa mandi dan nggak berani cuci piring karena air semua dingin kayak air es di kulkas.

Wah, ternyata saya saat antar Fira chan sekolah, bertanya pada tetangga , apakah gas nya bermasalah. Ternyata nggak bermasalah.
Telpon ke Oyaa san pemilik rumah. Gas dia juga baik2 aja. Telpon ke kantor gas, akhirnya perwakilannya datang siang hari. Ngecek, ternyata gas saya mati otomatis.
Katanya kalo over use maka gas akan mati otomatis.
Gimana nggak over use, ini badan bukan made in Jepang, tapi made in Indonesia.

Akhirnya jadi koreksi diri sih, kami terlalu nonstop pake gas dan listrik buat pemanas/heater.
Tapi yang jadi pemikiran saya, siapa semalam yang membisikkan ke kuping dan nyuruh saya mematikan hiter gas, tapi saya nggak pedulikan itu?

Saya sering mengalami hal aneh (aneh nggak ya?) begini di Jepang.
Misalnya, barang kecil saya, bros misalnya, saya banyak memandanginya hari ini lebih lama dan lebih seksama, lalu besoknya bros itu hilang. Padahal ya bros biasa, dan biasanya nggak pernah ada perhatian khusus pada barang kecil begituan biasanya.

Oya, saya juga sering terganggu kalo lewat satu apartemen yang ada tanaman bunga yang diselipkan diantara rumah dan halamannya, di dekat apartemen saya. Setiap saya lewat apartemen itu, heran sekali, mata saya selalu tertuju pada satu titik tempat itu. wihhhh… ada apa ini? Padahal banyak sudut ruang apartemen itu yang bisa dan mestinya saya lihat dan perhatikan.

Dulu pernah juga pulang jam 2 pagi dari lab, rasanya dibelakang saya ada yang ngikuti jalan saya. Ditengok berkali-kali, nggak ada orang. akhirnya saya lari, tetapi rasanya yang di belakang saya itu ikut lari juga. Wah dasar penakut ya saya, tambah kencang lari saya, rasanya yang ngikuti saya pun larinya terasa oleh saya. Bagaimana ini?

Lalu ada cerita lagi, saya punya teman orang Bali. Setiap kami membahas sesuatu, lalu saya dan dia akan berkomentar hal yang sama. Saat saya mengucapkan kalimat pendapat saya, maka dia bilang, “loh mbak wie saya mau ngomong hal itu tadi”.
Beberapa kali hal ini terjadi, tetapi respon ngomongnya selalu lebih cepat saya dari dia, dan si mbak orang Bali itu selalu bilang, “wih saya baruuu aja mau ngomong hal itu”.

Saya juga sering merasa gelisah malam sebelumnya. Gelisahnya kenapa saya nggak tahu. Tetapi kalo sudah begitu, biasanya besok nya ada saja kejadian jelek yang saya atau anak atau suami alami. wih, …

Itu aja dulu curhat saya hari ini, rada butek juga gara-gara masalah gas. Mana komunikasi kan harus dengan bahasa jepang. Bahasa Jepangku hanya terbatas dan … dan.. ribet lah pokoknya, Bahasa Inggris mah nggak laku di jepang. Hanya laku ngomong ingris kalo dg orang tertentu di jepang, misal dengan sensei di laboratory atau saat seminar international.

Jadi tambah merasa bodoh, dan tahu diri, bahwa kita itu tidak ada apa-apanya, dan bukan siapa-siapa. Karena begitu banyak kelemahan diri. Hanya karena masalah gas, waktu saya terbuang seharian ngurusin gas, nelpon pemilik rumah, tanya tetangga rumah, menunggu petugas gas datang ke rumah. Ya… nasib… nasib, lagi mau konsentrasi ngerjakan jurnal di lab dan ngeprint di apato, jadi bergeser fokus, hanya karena gas.
Oh… GAS, ternyata dikau demikian penting dalam hari-hariku dan Fira chan selama Winter ini.

Tokyo, 16 Januari 2008
Bainah Sari Dewi

Wassalamualaikum wr wb
Afwan bagi yang tidak berkenan.

Bainah Sari Dewi

January 23, 2008 Posted by bainahsaridewi | Catatan Harian | | No Comments Yet

Ketekunan

Ass.wrh wbr.,
Berikut adalah tulisan (Alm) Prof. Andi Hakim Nasution beberapa waktu dulu.
Cukup menggelitik. Maaf kalau pernah dapat sebelumnya.
IJ.
==================================
Ketekunan yang Langka
Oleh: Prof.Dr.Ir.Andi Hakim Nasoetion *

SEORANG dosen kembali dari Tokyo membawa gelar Magister Sains
Genetika Ikan. Ia melapor akan keberhasilannya itu. Yang ditanyakan rektornya ialah
apa yang membuatnya terkesan dengan program pendidikan pascasarjana
di Jepang.

Maka ia pun menggeleng-gelengka n kepalanya. Katanya, seumur-umurnya
baru pada ketika itu ia selama bangun hanya memikirkan dan berbicara
tentang ikan atau tentang genetika atau tentang genetika ikan.
Pagi hari ketika sarapan ia berbincang dengan kawan sekerjanya
tentang perilaku ikan. Di dalam laboratorium ia diajak berdiskusi
mengenai DNA oleh dosennya, dan sewaktu makan siang di sela-sela
memotong-motong filet tongkol, ia berbincang tentang daerah
penangkapan tongkol di daerah Kepulauan Aru. Malam harinya sewaktu tidur, ia bermimpi tentang
ikan. Tidak diceritakannya apakah sebelum bermimpi mengenai ikan itu
keesokan harinya ia menang undian berhadian (karena ada satu mitos
jika mimpi mendapatkan ikan akan ketiban rejeki).
Kemudian lagi rektornya bertanya kepadanya peristiwa apa yang paling
mengagetkan yang diha-dapinya di kampus asalnya sewaktu ia kembali
mengajar. Ternyata ia terkejut sekali ketika melihat warga kampus
sewaktu sedang beristirahat tidak berbincang mengenai ilmu yang
harus ditekuni-nya, melainkan mengenai upaya mengokohkan iman dan
bagaimana caranya berperilaku sesuai dengan iman mereka masing-
masing.
Tidak ada lagi yang mereka perbincangkan selain bagaimana caranya
mendukung perjuangan umat yang seiman. Kalau pun ada bedah buku di
antara sesama mahasiswa, maka pokok bahasan bedah buku itu
menyangkut masalah yang ada di luar jangkauan, seperti misalnya di
Palestina atau Bosnia. Masalah yang kalau hanya dibicarakan tidak
ada selesai-selesainya.
Ini mengingatkan rektornya akan peristiwa seorang anggota tim
olimpiade matematika interna-sional asal Denmark berbincang-bincang
dengan anggota tim dari Norwegia tentang penyelesaian sebuah masalah
matematika yang memerlukan pengetahuan tentang teori medan Galois.
Percakap-an itu mereka lakukan ketika sedang berpesiar dengan kapal
di Laut Bosporus.
Apa yang dilakukan di Jepang dan Laut Bosporus itu adalah teladan
tentang ketekunan yang diungkapkan ilmuwan biologi dan calon ilmuwan
matematika ketika mereka sudah bertekad memilih bidang ilmu itu
sebagai perhatian pokok dalam perjalanan hidup mereka. Hasilnya
adalah bahwa mereka akhirnya mendalami benar bidang ilmu genetika
atau matematika itu dan bukan hanya sekadar pengetahuan tipe-tipe
sosial.
Beberapa waktu lalu biologiawan IPB mendapatkan penghargaan akademik
dari suatu yayasan. Untuk itu ia diberi tunjangan penelitian kira-
kira 40.000 dolar AS. Orang ini dikenal sangat menekuni bidang
ilmunya. Demikian pula ada seorang dosen yang mendapat hadiah
penelitian dalam bidang ilmu serangga dan lingkungan. Ia juga selalu
tekun bekerja dalam bidang ilmunya sendiri. Sama halnya dengan dosen
Fakultas Peternakan Unsoed yang di Australia menemukan cara
penyimpanan mani beku sapi di dalam tabung sedotan yang terbuat dari
plastik setelah usahanya berkali-kali gagal. Untuk itu ia menerima
hadiah medali emas penelitian Yayasan Hewlett-Packard.
Ketekunan ketiganya itu tentu saja didampingi oleh kalayak akademik
yang tinggi. Namun kalayak akademik yang tinggi saja belum cukup
untuk membuahkan hasil penelitian yang cemerlang. Diperlukan
kreativitas dan ketekunan melakukan tugas yang tinggi. Ketiga ciri
ini yang seharusnya dimiliki oleh orang berbakat yang pekerjaannya
adalah menciptakan pengetahuan baru dan atau memperbaiki manfaat
suatu pengetahuan.
Apakah di masyarakat akademik perguruan tinggi kita suasana
ketekunan dan kesetiaan menangani tugas itu ada atau tidak ada,
dapat dirangkum dari poster-poster yang ditempelkan di mana saja di
dalam kampus yang dapat dilekati kertas. Sayang sekali, pengumuman
yang memenuhi dinding kampus bukan mengenai hal-hal yang berkaitan
dengan kemajuan ilmu yang ditekuninya, melain-kan mengenai siraman
rohani, bedah buku tentang solidaritas Palestina dan berbagai
diskusi mengenai berbagai kebobrokan yang terjadi di tanah air.
Tidak ada gagasan-gagasan ilmiah dalam bidang ilmu tertentu yang
diperbicangkan. Tentu saja kita harus peduli mengenai pemeliharaan
iman, solidaritas keimanan hingga aplikasi keimanan dalam kehidupan
sehari-hari. Namun kalau yang ditangani hanya itu saja, tidak perlu
susah-susah belajar di perguruan tinggi, kecuali kalau kita hanya
bermaksud mendapatkan gelar dan ijasah saja, bukan kemampuan dan
keahliannya. Jika hanya itu yang kita inginkan, lebih baik mengikuti
ujian persamaan B.Sc, M.Sc, Ph.D dan MBA di berbagai
yayasan “gombal”.
Bagaimana lulusan perguruan tinggi di Indonesia dapat mengimbangi
kemampuan akademik lulusan perguruan tinggi yang sudah mapan di
negara maju kalau yang ditekuninya selama belajar di perguruan
tinggi bukanlah bidang ilmunya sendiri. Apakah dengan “kematangan
bermasyarakat” dengan berkonsentrasi penuh ke kegiatan ekstra
kurikuler kita mampu menjadi ilmuwan bertaraf internasional?
Melalui media internet saya pernah diserang habis-habisan ketika
yang menjadi pemenang medali perunggu pada olimpiade matematika
tingkat Asia Pasifik dan olimpiade matematika internasional hanyalah
siswa SMU yang bertapak di Jawa. Ketika itu saya dituduh
mendiskriminasikan mereka yang berasal dari Luar Jawa. Hujatan itu
memang pantas muncul di zaman reformasi seperti sekarang. Namun
seharusnya penghujat yang notabene mahasiswa pascasarjana matematika
itu mesti menggunakan nalarnya dan bukan pemikiran dengkulnya.
Peraih medali perunggu itu ternyata adalah siswa-siswa yang dengan
kecintaan menekuni matem-atika dan kebanyakan dari mereka berasal
dari sekolah-sekolah yang diselenggarakan masyarakat (swasta), bukan
dari sekolah yang diselenggarakan negara (negeri). Atau kalau ia
berasal dari sekolah yang diselenggarakan negara, lingkungan
keluarganya adalah lingkungan yang menghargai ketekunan kerja. Siapa
mereka itu? Boleh ditebak sendiri, lingkungan keluarga yang mana
yang dapat membedakan kapan harus menekuni pelajaran tentang
keimanan dan ilmu naqliah dan kapan lagi harus tekun menuntut ilmu
aqliah.
Karena itu, hendaknya semua orang yang sedang belajar apa saja,
untuk tekun mempelajari apa yang seharusnya dipelajarinya agar
mendapatkan kelayakan profesional di dalam bidang yang diminatinya.
Jangan terjerumus ke zaman Firaun, ketika seleksi menjadi ahli bedah
otak dilakukan dengan cara berendam semalam suntuk di Sungai Nil.
Jangan juga terjerumus ke keadaan di Pakistan, ketika seorang Ph.D
Fisika Nuklir lulusan MIT AS melamar menjadi tenaga akademik.
Pertanyaan penguji bukan hal-hal yang pelik mengenai dentuman besar
(big bang). Sederhana saja, namun cukup mengejutkan karena Doktor
Fisika itu diminta melafalkan Doa Qunut. Jika ia tidak hafal doa
Qunut, maka pastilah ia seorang Wahabi.
Mari kita renungkan, apa saja yang dapat kita perbaiki mengenai
kehidupan akademik di kampus, baik oleh tenaga akademik, tenaga
administrasi maupun mahasiswa. Jika mahasiswa berlaku seperti itu,
seharusnya tenaga akademiknya merasa bersalah, karena hal itu
pertanda bahwa tenaga akademik belum dapat membawakan suasana
akademik ke dalam kampus, termasuk membawa mahasiswanya ke suasana
ingin mengetahui.
Pernah seorang dewan penyantun suatu universitas besar di Jakarta
yang diselenggarakan masyarakat bertanya pada saya, universitas apa
di Indonesia yang suasana akademiknya sudah menyamai suatu
universitas penelitian. Jawab saya dengan tegas, belum ada. Dan
ketika ia menanyakan alasannya, saya katakan bahwa di kampus saat
ini banyak mahasiswa termasuk juga mahasiswa pascasarjana serta
dosen hanya menghadiri seminar karena harus menandatangani daftar
hadir. Kalau kurang tandatangan di daftar hadir, ada kemungkinan ia
tidak boleh ikut ujian atau kredit kenaikan pangkatnya tidak cukup.
Kalau begitu halnya, di kampus kita orang hadir di seminar bukan
karena ingin tahu lebih banyak, melainkan karena takut tidak lulus
ujian atau tidak naik pangkat.*** 

January 2, 2008 Posted by bainahsaridewi | Hikmah | | No Comments Yet

Dua Pilihan

Dua Pilihan Pada sebuah jamuan makan malam pengadaan dana untuk sekolah anak-anak cacat, ayah dari salah satu anak yang bersekolah disana menghantarkan satu pidato yang tidak mungkin dilupakan oleh mereka yang menghadiri acara itu. Setelah mengucapkan salam pembukaan, ayah tersebut mengangkat satu topik:

‘Ketika tidak mengalami gangguan dari sebab-sebab eksternal, segala proses yang terjadi dalam alam ini berjalan secara sempurna/ alami. Namun tidak demikian halnya dengan anakku, Shay. Dia tidak dapat mempelajari hal-hal sebagaimana layaknya anak-anak yang lain. Nah, bagaimanakah proses alami ini berlangsung dalam diri anakku? ‘

Para peserta terdiam menghadapi pertanyaan itu.

Ayah tersebut melanjutkan: “Saya percaya bahwa, untuk seorang anak seperti Shay, yang mana dia mengalami gangguan mental dan fisik sedari lahir, satu-satunya kesempatan untuk dia mengenali alam ini berasal dari bagaimana orang-orang sekitarnya memperlakukan dia”

Kemudian ayah tersebut menceritakan kisah berikut:
Shay dan aku sedang berjalan-jalan di sebuah taman ketika beberapa orang anak sedang bermain baseball. Shay bertanya padaku,”Apakah kau pikir mereka akan membiarkanku ikut bermain?” Aku tahu bahwa kebanyakan anak-anak itu tidak akan membiarkan orang-orang seperti Shay ikut dalam tim mereka, namun aku juga tahu bahwa bila saja Shay mendapat kesempatan untuk bermain dalam tim itu, hal itu akan memberinya semacam perasaan dibutuhkan dan kepercayaan untuk diterima oleh orang-orang lain, diluar kondisi fisiknya yang cacat.

Aku mendekati salah satu anak laki-laki itu dan bertanya apakah Shay dapat ikut dalam tim mereka, dengan tidak berharap banyak. Anak itu melihat sekelilingnya dan berkata, “kami telah kalah 6 putaran dan sekaran sudah babak kedelapan. Aku rasa dia dapat ikut dalam tim kami dan kami akan mencoba untuk memasukkan dia bertanding pada babak kesembilan nanti’

Shay berjuang untuk mendekat ke dalam tim itu dan mengenakan seragam tim dengan senyum lebar, dan aku menahan air mata di mataku dan kehangatan dalam hatiku. Anak-anak tim tersebut melihat kebahagiaan seorang ayah yang gembira karena anaknya diterima bermain dalam satu tim.

Pada akhir putaran kedelapan, tim Shay mencetak beberapa skor, namun masih ketinggalan angka. Pada putaran kesembilan, Shay mengenakan sarungnya dan bermain di sayap kanan. Walaupun tidak ada bola yang mengarah padanya, dia sangat antusias hanya karena turut serta dalam permainan tersebut dan berada dalam lapangan itu. Seringai lebar terpampang di wajahnya ketika aku melambai padanya dari kerumunan. Pada akhir putaran kesembilan, tim Shay mencetak beberapa skor lagi. Dan dengan dua angka out, kemungkinan untuk mencetak kemenangan ada di depan mata dan Shay yang terjadwal untuk menjadi pemukul berikutnya.

Pada kondisi yg spt ini, apakah mungkin mereka akan mengabaikan kesempatan untuk menang dengan membiarkan Shay menjadi kunci kemenangan mereka?

Yang mengejutkan adalah mereka memberikan kesempatan itu pada Shay.

Semua yang hadir tahu bahwa satu pukulan adalah mustahil karena Shay bahkan tidak tahu bagaimana caranya memegang pemukul dengan benar, apalagi berhubungan dengan bola itu.

Yang terjadi adalah, ketika Shay melangkah maju kedalam arena, sang pitcher, sadar bagaimana tim Shay telah mengesampingkan kemungkinan menang mereka untuk satu momen penting dalam hidup Shay, mengambil beberapa langkah maju ke depan dan melempar bola itu perlahan sehingga Shay paling tidak bisa mengadakan kontak dengan bola itu. Lemparan pertama meleset; Shay mengayun tongkatnya dengan ceroboh dan luput. Pitcher tsb kembali mengambil beberapa langkah kedepan, dan melempar bola itu perlahan kearah Shay. Ketika bola itu datang, Shay mengayun kearah bola itu dan mengenai bola itu dengan satu pukulan perlahan kembali kearah pitcher.

Permainan seharusnya berakhir saat itu juga, pitcher tsb bisa saja dengan mudah melempar bola ke baseman pertama, Shay akan keluar, dan permainan akan berakhir.

Sebaliknya, pitcher tsb melempar bola melewati baseman pertama, jauh dari jangkauan semua anggota tim. Penonton bersorak dan kedua tim mulai berteriak, “Shay, lari ke base satu! Lari ke base satu!”. Tidak pernah dalam hidup Shay sebelumnya ia berlari sejauh itu, tapi dia berhasil melaju ke base pertama. Shay tertegun dan membelalakkan matanya.

Semua orang berteriak, “Lari ke base dua, lari ke base dua!”

Sambil menahan napasnya, Shay berlari dengan canggung ke base dua. Ia terlihat bersinar-sinar dan bersemangat dalam perjuangannya menuju base dua. Pada saat Shay menuju base dua, seorang pemain sayap kanan memegang bola itu di tangannya. Pemain itu merupakan anak terkecil dalam timnya, dan dia saat itu mempunyai kesempatan menjadi pahlawan kemenangan tim untuk pertama kali dalam hidupnya. Dia dapat dengan mudah melempar bola itu ke penjaga base dua. Namun pemain ini memahami maksud baik dari sang pitcher, sehingga diapun dengan tujuan yang sama melempar bola itu tinggi ke atas jauh melewati jangkauan penjaga base ketiga. Shay berlari menuju base ketiga.

Semua yang hadir berteriak, “Shay, Shay, Shay, teruskan perjuanganmu Shay”

Shay mencapai base ketiga saat seorang pemain lawan berlari ke arahnya dan memberitahu Shay arah selanjutnya yang mesti ditempuh. Pada saat Shay menyelesaikan base ketiga, para pemain dari kedua tim dan para penonton yang berdiri mulai berteriak, “Shay, larilah ke home, lari ke home!”. Shay berlari ke home, menginjak balok yg ada, dan dielu-elukan bak seorang hero yang memenangkan grand slam. Dia telah memenangkan game untuk timnya.

Hari itu, kenang ayah tersebut dengan air mata yang berlinangan di wajahnya, para pemain dari kedua tim telah menghadirkan sebuah cinta yang tulus dan nilai kemanusiaan kedalam dunia.

Shay tidak dapat bertahan hingga musim panas berikut dan meninggal musim dingin itu. Sepanjang sisa hidupnya dia tidak pernah melupakan momen dimana dia telah menjadi seorang hero, bagaimana dia telah membuat ayahnya bahagia, dan bagaimana dia telah membuat ibunya menitikkan air mata bahagia akan sang pahlawan kecilnya.

Seorang bijak pernah berkata, sebuah masyarakat akan dinilai dari cara mereka memperlakukan seorang yang paling tidak beruntung diantara mereka.

Catatan kaki:

Kita sering mengirim ribuan jokes lewat email tnp pikir panjang, namun bila kita harus mengirimkan mail tentang pilihan dalam hidup, kita seringkali ragu. Kejadian-kejadian vulgar, kasar dan mengerikan acap terjadi dalam hidup ini,namun pembicaraan tentangnya seolah tertelan waktu, baik itu di lingkungan pendidikan atau kerja.

Jika Anda berpikir untuk forward email ini, kemungkinannya Anda akan memilih daftar orang-orang dari email address Anda yang Anda pikir layak untuk menerima email Anda. Ingatlah, bahwa orang yang mengirimi Anda email ini berpikir bahwa kita semua dapat membuat perbedaan.

Kita semua mempunyai banyak pilihan dalam hidup setiap harinya untuk dapat memahami “kejadian alami dalam hidup”. Begitu banyak hubungan antar 2 manusia yang kelihatan remeh, sebenarnya telah meninggalkan 2 pilihan bagi kita:

Apakah kita telah meninggalkan cinta dan kemanusiaan atau, Apakah kita telah melewatkan kesempatan untuk berbagi kasih dengan mereka yang kurang beruntung, yang menyebabkan hidup ini menjadi dingin?

Posting by dz Australia

January 2, 2008 Posted by bainahsaridewi | Hikmah | | No Comments Yet