Kuliah Inventarisasi Hutan 3
Invent Kuliah III 29 Sept 2009
Permalink: http://bainahsaridewi.wordpress.com/2009/09/29/kuliah-inventarisasi-hutan-3/
Bahan kuliah sudah di upload pada file tersebut di atas. Silakan klik link di atas ya.
Dewi
Sensei Please Come
Sensei, Please Come
Saya sangat tahu sensei sibuk sebagai posdok di Tachikawa. Bila sensei berkenan memberikan support terakhir kalinya, please datang di Udai bersama mas soni dari Fuchu. Nuri san akan ikut juga. Dan Noriko Miyamori san, Yoko san, juga Kazue suzuki san mereka orang jepang yang juga baik, dari Fuchu dan Hachioji, yang juga akan datang ke Udai tgl 30 jan.
Besar harapan saya, sensei bisa hadir di ujian saya. Buat saya, sensei bukan sekedar sensei, tapi sudah menjadi pengganti orang tua saya. Saya menyayangi Bu Agus seperti saya sayang dengan ibu saya. Sering curhat belakangan ini ke bu agus. Dan sensei juga orangyang paling berjasa membantu mengatasi keterlambatan keuangan dari baito mas soni.
Bila sensei, ada sedikit waktu di hari jumat 30 jan ini, please come udai. Lihat perjuangan anakmu yang bodoh ini berusaha mempresentasikan hasil studinya.
Wie
Tokyo 28 januari 2009
Seindah namanya Intan
Seindah Namanya, Intan…
Lagi-lagi Mbakyu Geudebleh mengucap syukur yang dalam.
Tak pernah membayangkan bahwa hanya satu buah buku Ayunan Langkah di Negeri Gempa itu menjadi sarana untuk uang sebelas ribu yen atau satu juta tiga ratus rupiah.
Buku termahal, dari harga aslinya yang hanya tiga puluh tiga ribu rupiah itu.
Subhanallah, seperti kehilangan kata-kata untuk menafsirkan hal ini. Sarana buku itu menjadi ladang amal sahabat tercinta ini.
“Kenapa ya setiap kita ketemu, saya selaluh membawa uang pas, minta nomor rekeningnya yah, untuk membayar buku ini” Spontan ditanggapi dengan senyuman dan uluran nomor rekening.
Lalu tiba-tiba datang email setelah dua hari kemudian.
” Mbakyu, sayah sudah transfer uang sekian dan sekian…” Mbakyu Geudebleh bengong sesaat, untung musim dingin. Coba kalo musim panas, bengong gitu bisa kemasukan lalat itu mulut saking takjubnya.
” Subhanallah Teteh Intan. Hatimu seperti intan. Bening dan menyergap hangat sampai ke relung kalbu” batin Mbakyu Geudebleh.
Semoga Allah SWT melancarkan semua aktifitas Teh Intan, memudahkan segala jalan rizki, dan selalu bening seperti air.
“Sodakoh tidak akan pernah membuatmu jatuh miskin, semiskin apapun dirimu…” Ucapan bijak dari orang bijak.
Sarana untuk menjadi ladang amal memang perlu. Dan buku Ayunan langkah Di negeri Gempa ini, telah membuktikannya.
Jazakumullah khoir kepada para pembeli buku ini, dimanapun, berapapun jumlah dan berapapun yen yang tersalurkan. Semua akan menjadi ladang amal ananda semua, insya allah…
TOKYO, 12 Februari 2009
BAINAH SARI DEWI
Marisa-san I am Sorry to hear that…
Marisa-san, I am sorry to hear this…
Namanya Murata Marisa-san. Dia teman lab, sekaligus sahabat lab-lah kalau boleh dibilang sahabat. Dari lima cewek di Lab Udai (Utsunomiya Daigaku) atau Utsunomiya University, Marisa-san paling senior, master tahun ke dua. Empat orang yang lainnya Master tahun pertama satu orang dan sisanya adalah yonensei (undergraduate tahun ke empat).
Penampilannya sangat cantik, untuk ukuran cewek Jepang. Matanya memang sipit dikit, tapi tinggi tubuhnya seratus tujuh puluh enam centimeter, dengan berat yang ideal. Sebagai orang yang berkecimpung di hutan, dan per satwa liaran seperti halnya Mbakyu Geudebleh, kami walaupun cewek-cewek, selalu rajin ke hutan dengan celana jean. Demikian juga Marisa-san. Hobi-nya nge-jeans dan bawa ransel.
Walau keliatan anak gunungan, karena wajahnya cantik, justru bukan machooo yang tampak, tapi unik. Cewek berambut sebahu itu hobinya yang asyik adalah tersenyum dan selalu ramah, terutama pada Mbakyu Geudebleh tentunya. Bahasa Inggrisnya-pun di atas rata-rata orang Jepun. Jadi bila komunikasi ngobrol-ngobrol biasa dengan Mbakyu Ge, dia jarang-jarang sekali buka kamus digitalnya. Walau kadang dibuka juga sih, kalau pas yang technical term banget dan dia kesulitan menerjemahkan artinya dalam bahasa Inggris.
Marisa-san juga asisten lapangannya Sensei Udai Mbakyu Geudebleh, Profesor Masaaki Koganezawa. Saat dua tahun lalu Mbak Ge ke hutan Nikko, pernah ditempatkan satu barak. Barak adalah tempat menginap di hutan. Dari barak itulah, Mbak Ge semakin dekat, sering sekali Marisa-san curhat.
Pandangan matanya teduh. Kalau boleh dibilang sendu. Tapi bukan kependekan dari sendu alias seneng duit. Tapi matanya benar-benar sendu alami. Dan belakangan Mbakyu Ge tahu, kalau Marisa-san juga menggunakan kontak lens. Saat mau tidur, dia sibuk melepas kontak lens-nya, dan merendamnya di tempat penyimpanan aman yang kecil dalam kotak ukuran diameter tak lebih dari tiga centimeter, ada sedikit air atau alkohol ya? Agar senantiasa bersih dan besok paginya bisa dipakai ulang.
Kedekatan selama di hutan, walau Mbak Ge bertemu hanya di malam hari saat akan tidur. Tetap saja membawa rasa senang, karena seharian, Mbakyu Ge hanya sendirian di hutan ngurusi Dung Beetle dan si Ee beruang Jepang-nya. Betsu-betsu kenkyu-lah (penelitian sendiri-sendiri-lah).
Mbakyu Ge memandang, dia cukup dekat dan mendapat perlakuan baik dari Sensei.
Pada tanggal 30 Januari 2009 lalu, Mbak Ge bertemu. Saat itu hapyou doktor (presentasi doktor) Mbakyu Ge. Marisa-san juga hadir, dan pada tanggal yang sama juga telah menyerahkan thesis s2 nya ke Udai.
Ada dua mahasiswa master yang akan lulus bersamanya, dirinya dan Kimura-san. Mbakyu Geudebleh memandangnya baik-baik saja, dan semangat mengerjakan thesisnya juga terhitung gambatteru hito lah (orang yang penuh semangat).
Lalu, apa yang terjadi hari ini? Mbakyu Ge datang ke Udai untuk farewell party dengan seluruh member lab. Dan dari Kei-san anak yonensei.
“Ge-san, Marisa-san tidak datang. Dia menyatakan berhenti dan tidak sanggup ujian thesis” perlahan dengan kalimat pelan sekali Kei-san menceritakan pada Mbakyu Ge.
“Usooooooo (bohong)….mengapa bisa terjadi?” mata Mbakyu Ge melotot seperti mau keluar, lalu tiba-tiba mulai berair, mengeluarkan air secara otomatis. Karena mengingat support Marisa-san padanya saat gagal submite disertasi s3 3 Juni 2008 lalu. Dia penyemangat melalui email yang selalu menguatkan.
“Sensei yasahi kara, daijoubu yoo Ge-san…(Sensei baik kok, jadi nggak apa-apa deh)” dan seabrek sms di ketai (handphone) Mbakyu Ge.
“Sensei memberikan koreksian power point sehari sebelum hapyou, dan banyak yang harus diganti dan diperbaiki dari power point-nya. Dan saat dia menyatakan tidak siap mengganti, Sensei marah” jelas Kei-san.
“Marisa-san panik, dan ikut marah juga. Lalu dia menyatakan berhenti tidak akan hapyou besok, lalu semua berantakan” Kei-san menceritaknnya tentu dalam bahasa Jepang.
“Mengapa Sensei baru kasih koreksian sehari sebelum hapyou?itu kan memang bikin panik” bela Mbakyu Ge atas perlakuan Sensei pada Marisa-san.
“Tapi Sensei juga bersikeras, kalau tidak mau mengganti dan perbaiki power point seperti permintaannya, dilarang hapyou besok itu…” kata Kei-san sambil geleng-geleng.
Jeruk di lawan jeruk ya empuk. Lah batu dilawan batu yang pecah. Hubungan harmonis asisten lapangan dan pembimbing itu, hancur dalam sehari sebelum Marisa-san mempresentasikan thesis S2-nya.
Pelajaran moral pertama, jangan menentang kemauan Sensei, apalagi di saat kritis menjelang presentasi ujian, mau ujian s1 kek, ujian s2 nek, ujian s3 kek…
Pelajaran moral kedua, diperlukan sabar lebih dalam dan sedikit lebih lama, minimal dua puluh empat jam saja, maka persoalan sebenarnya bisa diatasi.
“Marisa-san, gomenn nee, nanimo tetsudatte kurenai kara (Maafkan aku, tak bisa membantu apapun)” tambah merah mata Ge-san. Seharusnya minimal dia bisa menyemangati Marisa-san di saat-saat kritisnya.
Pelajaran moral ketiga, dekati dan ajak bicara terus dan terus dari hati ke hati, rekan sahabat, teman kita, yang akan mengikuti ujian masuk atau ujian akhir S1, S2 atau S3.
Beban stress mereka sungguhlah sebesar gunung api, yang butuh penyaluran larvanya dengan cara aman, tanpa letusan.
Saat di kereta menuju pulang ke Tokyo, bahkan sampai pulang di apato. Airmata Mbakyu Geudebleh masih terus mengalir. Mengingat semua perjuangan Marisa-san di lab wildlife management di Udai yang heroik, penuh dedikasi. Tetapi ternyata runtuh, sehari sebelum gelar master disandangnya.
Kelebihan orang Islam, kita masih ada tempat mengadu yaitu Allah SWT. Kalaupun sahabat, rekan, teman ada dimana-mana, tetapi kadang penderitaan tugas akhir itu memang benar-benar tiada tara. kalo nggak percaya, maka rasakan saja sendiri ya.
Mbakyu Geudebleh saja kapok ngambil doktor di Jepun.
Lah buat seorang Marisa-san, kemana dia mengadu? teman di lab semua sibuk persiapan lulus S1, dan dia sibuk persiapan lulus S2, dan Mbayu Ge sibuk persiapan lulus S3 saat tiga minggu lalu.
Hanya dalam hitungan minus dua puluh empat jam dari saat seharusnya Marisa-san lulus masternya, dia harus menelan pil pahit, bentrok besar dengan Sensei.
Pelajaran moral terakhir, serahkan lebih awal power point presentasi ujianmu, sehingga masih ada waktu memperbaiki bila Sensei mencoret -moret power point yang menurut versi kita adalah sangat sempurna itu.
UTSUNOMIYA UNIVERSITY
TOCHIGI PREFECTURE, 20 February 2009.at 5.15 PM
Marisa-san, I am sorry to hear this…
Mama Aku Rindu
Mamah…Aku Rindu…
Mamah, aku ingin sungkem di kakimu, saat Allah SWT mempertemukan kita nanti di Purworejo. Aku ingin langsung bersujud saat memulai tapakan pertama memasuki halaman rumah yang telah membesarkan empat anakmu.
Membayangkan pertemuan itu, serasa bumi ini bergetar dan penuh air mata.
Kerinduan ini penuh peluh dan rasa sakit.
Tak pernah kubayangkan bahwa berada di Negeri Sakura ini, akan penuh balutan nikmat luka dan air mata.
Tak pernah terbayangkan, bahwa anakmu ini demikian sengsara dalam nikmat lahir dan batin.
Dengan doamu, Allah telah menutup pintu duka, dengan penantianmu yang panjang selama empat tahun telah berbuah asa nan panjang.
Luka itu telah mulai tertutup dengan bubuk obat doamu di penghujung Januari 2009.
Saat beban terberat selama empat tahun, dipertanggung jawabkan dan anakmu menang.
Mamah, …
Membayangkan sungkem di pangkuanmu adalah sebuah harapan dan nikmat.
Menerima belaian tanganmu pada elusan di kepalaku adalah haru yang terpendam selama empat tahun.
Dalam kurun waktu ini, betapa aku semakin tahu, bahwa aku mencintaimu.
Ijinkan aku merengkuh tubuhmu yang mulai rapuh.
Memeluknya untuk melepaskan semua nikmat duka lara di Negeri Sakura.
Menghapuskan air mata perjuangan ini menjadi air mata bahagia.
Ya Rob, ijinkan aku sungkem pada Mamah. Menerima belaian lembut tangan tua-nya.
Dan ijinkan aku melihat senyum tulus mengembang dari wajah keriputnya yang telah empat tahun ini kurindukan.
Mamah… Aku Rindu…
TOKYO 26 Februari 2009 at 00.06 AM
Special pada Mamah Mertua Hajjah Rumidjah Sarwoko.
Biomass International Seminar 3-5 August 2009 Sheraton, Lampung, Indonesia
The Important Role of Asiatic Black Bear
in the Seed Dispersal Process
Bainah Sari Dewi
Forestry Departement of Faculty of Agriculture
Lampung University
Indonesia
One of the wild Asiatic Black Bears was captured using GPS collar from August 19 to October 2, 2007 in Toyama Prefecture, Japan. The bear was captured to investigate its daily movement pattern in every three days using GPS collar record attached on the neck of bear.
The result showed that food habit and movement pattern of the bears in Uozu, Toyama Prefecture were different within each three days, and one of the fleshy-fruited Cornus controversa seeds was detected as their preference food. The different movement pattern had strong influence on food availability in Toyama Prefecture. The GPS measurement indicated more than 771 location points, but only 387 locations points were successfully visited. It is shown that the Asiatic Black Bears consumed the most fleshy-fruits and moved farther compared to other wildlife. Subsequently, they are regarded as the first seed disperser.
Key words : Asiatic Black Bear, Movement Pattern, GPS, Cornus controversa.
The Important Role of Asiatic Black Bear (Ursus thibetanus)
in the Seed Dispersal Process
Bainah Sari Dewi
Forestry Departement of Faculty of Agriculture
Lampung University
Indonesia
INTRODUCTION
Diurnal activity is the behavior of an animal that is active in the daytime (sunrise to sunset). And bears are primarily diurnal throughout their range (Craighead et al. 1995; Gilbert and Lanner 1995). There are number of studies of GPS activity sensor for animal (Burnham 1998, Dussault et al. 1999, D Eon 2003, Di Orio et al. 2003, Frair et al. 2004, Cain et al. 2005, D Eon 2005, Dauwalter et al. 2006, Munro 2006, Horne et al. 2007, Lewis 2007,). But especially for the research of Asiatic Black Bear in Toyama Prefecture area, it is one of the pioneer research.
It could not observe the Asiatic Black Bear directly. The GPS-collar is very convenient to chase the action of the Asiatic Black Bear. It is the toll which can chase a detailed action (Goto 2004, Arimoto 2008, Koike 2008). I had been chased feeding behavior of the Asiatic Black Bear with GPS- collar.
In this research, I investigated the diurnal movement pattern of Asiatic Black Bear for attach the fleshy fruit to help provide information on habitat needs for maintaining a heterogeneous plant community.
METHODS
The study was conducted in August to October 2007 at Uozu, Toyama Prefecture, Japan. Toyama Prefecture is located approximately in the center of Honshu, Japan and is bordered by Niigata and Nagano Prefectures to the east, Gifu Prefecture to the south, and Ishikawa Prefecture to the west. Toyama is a topographically impressive prefecture. Mountains wall in the prefecture on three sides and the deep bay rests nestled in the crook formed by the rolling plains (Latitude: 36º16”N to 36º59”N, Longitude: 136º46”E to 137º46”E). Forest area in Uozu is Warm and Cool Temperate Deciduous Forest with an altitude and it located in the eastern part of Toyama Japan between Namerikawa and Kurobe, stretching from Toyama Bay and the Japan Sea in the northwest to high mountain ranges in the southeast. The highest mountains in Uozu are Sougadake and Kekachiyama, and the highest elevation in Uozu is 2,414 m. Several rapid rivers run through Uozu; from east to west, they are the Fuse River, the Katakai River, the Kado River, and the Hayatsuki River.
The methods to investigate the movement pattern of the Asiatic Black Bear in the Warm and Cool Temperate Deciduous Forest, Toyama Prefecture, consist of some steps. Barrel traps was set up in July 2007 to capture the bear. Two barrels were used and combined to one cage to capture for bear. The barrel has only one door and open for the gate of bear coming. By the gate which consist of VHF telemetry, I could detect the bear capture or not yet from 1-20 km in distance. In August 18 2007 one bear was captured the code UF 10 was given. On August 19 2007 on GPS collar and release, VHF Telemetry was done every 2 time a week, for checking the bear activity by GPS collar. In November 20 2007, the GPS collar was drop off and the GPS collar data was got. GPS collar was released. GPS was connected the computer, and then the data had been downloaded using GPS 3000 host programming to analysis. Then the movement pattern of bear during the period of GPS collar was analyzed..
1.Field visitation to access GPS bear locations
Firstly, GPS locations had been combined with activity value which correspond to the GPS locations. Secondly, GPS locations of bouts continuing activity value ≧14 as active locations ,and act ≦13 as inactive locations had been defined, respectively.
Active points and inactive points were selected from bear daily movement trace; active points (inactive points) is defined as area that over 2 active (inactive) locations distribute in 20-m-radius area.
It was navigated to each active and inactive points using uploaded waypoints in handheld GPS units(Garmin GPS Map60CSx)Kumadana or scars on a tree had been remained bear’s active point.
According to Koike’s study (2008) which investigated retention time of Asiatic Black Bears, bears had retention time about 7 h for minimum and 16-18 h for excreting about 50%. Activity pattern of bears is fundamentally circadian and the ratio of active bouts to inactive bouts equal 1:1 (Arimoto, 2008). Accordingly, it is suggested that bears excrete of feces over 50% of food eaten during active bouts at inactive point during night. Then, food species identified and feeding period of GPS bear (UF10) by kumadana found at active points and feces found at inactive points. I was search for kumadana over a 20-m-radius area from center of active point and for feces over a10-m-raduis area from center of inactive point.
2.Definition of core area
I defined active bouts and inactive bouts; inactive bouts is from time that activity value ≦13 last 20 minute up to time activity value ≧14 last 20 minute up, and active bouts is the remainder.
To demonstrate the movement pattern of bears for searching food, I analyzed the distribution of active locations.
The methods were following.
1)The home range of bears was divided by 50-m-mesh. Then the active GPS location which
locates at each mesh was counted.
2)I calculated ”the expected value of frequency of mesh use (E)=the number of total GPS
locations÷the number of total mesh used”.
I defined “a core area” as the area that includes the 50-m-mesh which have GPS locations more than twice of expected value (A) and the 50-m-mesh which have more than expected value neighboring to A.
3) I checked out the tree species which had bear marks at active point of each core area.
RESULT
1. Relationship between distribution of fleshy fruits on kumadana and movement patterns of the Asiatic Black Bear
An activity sensor that abstracted GPS measuring points in working hours showed repeated areas as the living spaces zone of bears. Its up loaded the bear living zone in the GPS Map 60 CSX were explored. Record of the feces and life tracks which were found within 20 meters of the living zone. I clarified the GPS collar data by direct observation to the forest and I found Mizuki (Cornus controversa) trees as the stay point of bear there. Figure 1 was shown the distribution of fleshy fruits on kumadana on of Mizuki trees.
In location map of bear in activity research area, UF10 moved from one fleshy fruit of Mizuki to other fleshy fruit of Mizuki patch and visited the one fleshy fruit Mizuki patch repeatedly (Table 1).
| A |
| C |
| B |
| D |
| E |
| F |
| G |
○ :Fleshy-fruits of Mizuki (Cornus controversa) trees
.Figure 1. The distribution of Kumadana on Mizuki trees (Cornus controversa) in UF 10 Asiatic Black Bear on activity research area in Toyama Prefecture.
Square Mesh in square of 100 meters, positions of the Asiatic Black Bear in the natural feeding habit are followed by the data track recorder on GPS radio-collars.
Table 1. The date when Black Bear (UF10) used fleshy fruit of Mizuki (Cornus controversa) trees in “Core Area (A-G)” in Toyama Prefecture between August to September 2007.
Figure 2 shows that movement pattern/ travel route of the bear UF10 with GPS-collar every three days with distribution of fleshy fruit of Mizuki on kumadana. There are some patterns; moving from the fleshy fruit tree area to the other areas, settle down in a same fleshy fruit tree area repeatedly. Every three days the movement pattern of one Asiatic Black Bear was different. Core area was described in Figure 3, or the overlapping time of “went point” and “visit point” of bear in many repeating more than 2 times visiting mesh by recorded of GPS collar data in one place area in field.
Figure 2. Movement pattern of Asiatic Black Bear UF 10 for every three days around Kumadana on Mizuki (Cornus controversa) trees in Toyama Prefecture from 18th September to 2nd October 2007
Red : 9/18-9/20, blue:9/21-23, green:9/24-26, black:9/27-9/29, yellow:9/30-10/2 on the square mass 100 meters
2. Core area in active bouts
After resizing GPS measuring points to 50 meters a mesh, recorded during August 20th until October 3rd. Figure 5 shows a frequency of visits by bear in each mesh. During this time, total number of GPS measuring points went up to 771 points and total numbers of used were 387 points.
The 50-m-mesh which have GPS locations more than twice of expected value (=771÷387) are shown by red meshes and the 50-m-mesh which have more than expected value are shown by blue meshes. A-R in Fig.2 shows core areas. The point of(A~R)there are the area which is visited repeatedly in movement pattern.
Colored by blue as more than expected rate; colored by red as more than 2 times using mesh. It was the recorded of GPS measuring points located closely. Distinguished red mesh group and blue one. It made other limits of blue ones which was connected to red ones, it called “Core Area”, and these condition was marked by the letter of A-R in Figure 3.
Consequently, core areas had been exist in movement pattern of bear necessarily.
| B |
| A |
| N |
| M |
| G |
| I |
| F |
| R |
| D |
| Q |
| H |
| C |
| J |
| O |
| P |
| K |
| L |
| E |
Figure 3. Distribution of location points of Black Bear UF10 in Toyama Prefecture from 20th August 2007 to 3rd October 2007.
Red cell shows 4 and over of location points. Blue cell shows 2-3 location points. Green cell shows 1 location point. Alphabet A to R show Core Area.
DISCUSSION
1. Food availability
The tree species that are used for movement pattern of the Asiatic Black Bear from one place to another place may be the same and difference, it can be berries seeds tree or nuts tree, but in case of “UF10 bear” study, the movement pattern showed the same tree species as berries tree/ fleshy-fruit. This bear have the different movement pattern. As mobile and opportunistic mammals, bear show changing movement pattern use in accordance with changes in resource abundance (Hazumi et al. 1997, Power 1992, Nay and Haroldson 1990, Smith et al. 1992, Reid et al. 1991, Mano 1994, Joshi et al. 1995).
Many studies on movement patterns of American Black Bear (Amstrup and Beechum 1976, Garshelis and Pelton 1981, Kasbohm et al. 1998) and brown bears or grizzly bears or sun bear (Clevenger 1996, McConney and Galetti 1999) conclude that the food availability was the most important factor that influenced bear movements. No distinct fruiting period where bear food become abundant occurred during the entire study period. Therefore, it was not possible to compare daily movement distances between fruiting season and non-fruiting season.
Amstrup and Beecham (1976) reported that the daily movements of American black bears were greater (mean = 1.5 km) in 1973 when food was sparse, than in 1974 (mean = 1.1 km), when food was diverse and abundant. Similarly, Pelton (1989) reported American black bear in Tennessee moved 2-4 times farther in lean acorn years than in mast ones, and Roggers (1976, 1977), Rogers and Applegate 1983 reported increased numbers of bears moving during scarce food years. Wong et al. (2002) strongly believe figs, has a strong influence on movement pattern of sun bears. Thus, I understood that food availability has strong influence on the movement patterns of the UF10 as Asiatic Black Bear in Toyama Prefecture.
CONCLUSION
The movement pattern of one the Asiatic Black Bear in used of GPS collar in August 20th to October 3rd 2007 that use the berries tree species. Every three days of movement pattern one the Asiatic Black Bear had been moved in different pattern. After resizing GPS measuring points to 50 meters a mesh, the data shows a frequency in used by bear in each mesh, total GPS measuring points went up to 771 points and total mesh used were 387 points, and the difference movement pattern has strong influence on food availability in Toyama Prefecture.
I understood that the Asiatic Black Bear took the action to strongly depends on fleshy fruits of some tree species in Warm and Cool Temperate Forest in Japan and play the role of seed disperser for Warm and Cool Temperate Deciduous Forest in Toyama Prefecture, Japan.
Kosakata Dzaky-kun
Kosa Kata Dzaky-kun
Kosakata anak laki-laki dari Mbakyu Sumringah ini unik. Tentu saja dengan penerjemah handal, ibunya yang suka tersenyum itu. Kebiasaan batita yang berusaha berbicara dengan jelas, dalam kapasitasnya yang berusia dua tahun, dengan kelucuan dan keluguannya. Ini beberapa kosakatanya yang sempat terekam oleh Mbakyu Geudebleh.
Cum artinya Assalamualaikum.
Num Teh De artinya miNUM TEH di rumah BuDE.
Cut Bok artinya naik perosotan di taman, meluncur dari atas sruuuuuutttt/CUT, lalu terduduk di bawah perosotan buuukkk/BOK.
Yu Yak artinya minum susu/YU, merek Bebelak/YAK. Meminum susu merk Bebelak, jadilah Yu Yak.
Bar Momo artinya Menggambar/BAR, Singa/MOMO, suara mengaumnya kan Mouuuunggg/MO, Mouuuuunnggg/MO. Jadi artinya Singa yang sedang mengaum.
Yung Wok artinya Burung/YUNG, yang berbunyi Woookk…woookkkkk/WOK, artinya burung Gagak hitam di Jepang yang bertebaran dimana-mana. Di jalan, di taman, di samping rumah, hampir di tiap sudut Jepang, kita bisa menemukan Burung Gagak ini.
Mbah : maksudnya MBAH Mbuh, panggilan pada ibunya Mbak Dina Faoziah.
”Pi Tutut” artinya kereta aPI yang berbunyi TUT …TUT…tut..tut.
Dapak-dapak : kuda. Kuda itu kan kalo berjalan tepak tepak tepak….di katakan dengan suara bayi menjadi ”DAPAK…DAPAK ….”
Puk Mama artinya TePUK MAMA alias bertepuk tangan oleh Mama. Bila telah melakukan aktifitas misalnya menggambar balon, maka Dzaky-kun akan meminta apresiasi. Bila Bude Geudeblehnya telah tepuk tangan, dan mama-nya Dzakykun masih sibuk di dapur, maka si kakkoi cilik ini akan berlari ke dapur dan meminta pada Mama-nya.
”Puk Mama… Puk Mama…Puk Mama” berulang kali, sampai sang Mama memberikan tepuk tangannya.
Buk Mama artinya GeBUK MAMA. Kalau sedang marah, Dzaky-kun akan protes pada Mbakyu Sumringah sang Mama, dengan memukulkan tangannya berkali-kali ke Mbakyu Sumringah, sambil berujar.
”Buk Mama…Buk Mama…”
Pada saat tertentu tiba-tiba setelah mendapatkan pembelajaran selama dua minggu tentang permintaan maaf bila melakukan kesalahan. Tiba-tiba si kecil Dzaky berjalan pelan-pelan dengan wajah agaknya merasa bersalah.
”Mama, JOMENG…JOMENG…” katanya pelan.
”Ada apa Ki?” tanya sang Mama dengan sabar.
”Mama JOMENG…ennih…” kata Dzaky kecil mengucapkan kata Gomen yang artinya dalam bahasa Jepang adalah Maaf, dengan modifikasi lidahnya menjadi JOMENG. Lalu sambil mengucapkannya dengan mengatakan kata ennih (Ini), berikut menunjukkan taplak meja buatan Mama, yang telah digunting-guntingnya menjadi kain kecil-kecil.
”Duh…Gusti Allah…Dzaky-kun…” gumam Mbakyu Sumringah melihat kemajuan dari didikan mengucapkan maaf saat melakukan kesalahan, walupun pada usia batita. Pembelajaran yang sangat bagus dan patut menjadi contoh, walaupun sang Mama akhirnya mengurut dada, karena taplak meja buatannya terkoyak-koyak.
Nilai sebuah taplak meja akan berbeda signifikan dengan hasil pembelajaran mengucapkan kata JOMENG yang telah berhasil ditanamkan pada seorang Dzaky-kun, anak laki-laki cilik usia dua tahun yang tinggal di Fuchu Tokyo.
Belajar sejak dini mengucapkan kata maaf, sebenarnya bukan hanya buat seorang Dzaky-kun. Karena bisa jadi kita-kita yang sudah menjadi orang tua, menjadi tante, menjadi om, Pakde, Bude, dllnya. Malah bisa jadi lebih susah meminta maaf karena jabatan, karena ketuaan, karena titel, karena harkat dan martabat.
TOKYO 28 Oktober 2008.
Revisi : INDONESIA 10 April 2009.
Kok Beda Seehhh???
Kok Beda Seeehhh???
Dalam sebuah perjumpaan di sebuah pertemuan Fahima Jepang.
“Kenalkan Kak, nama saya Wahyu, Kakak namanya siapa?”
” Nama saya Ge, Mbak Wahyu dari mana?”
“Saya dari Surabaya Kak, bulan April ini akan pindah ke Kyusu Daigaku”
Lalu mengalirlah obrolan-obrolan natural layaknya baru saling kenal, bertukar nomor telepon dan alamat email.
“Heeeeeeeeeehhhhhhhhhh, Kakak ini emailnya bainah sari dewi? Heeeehhhhhhh Kakak ini berarti penulis itu yaaa…” Nada takjub, senyum sumringah berubah menjadi sangat bahagia, seperti baru bertemu seorang artis terkenal tapi si artis menyamar jadi cewek gendut tiga drum.
“Hehhhhhhh… nggak percaya deh, bisa ketemu penulis, yang tulisannya rajin saya baca di milist” senyumnya Wahyu tambah merekah.
“Kak, saya tidak menyangka bahwa Kak Ge itu adalah Kakak…”
” Kok beda ya dengan gaya tulisannya, dengan orangnya. Wahhhh nggak percaya deh. Beda banget Kak…” Komentar Wahyu masih heran, matanya mengerjap-ngerjap bahagia.
“Mbak Wahyu, bukan orang pertama yang menyatakan keheranannya, saya sudah sering menerima keheranan ini ” Mbakyu Geudebleh mulai nyengir kuda. Pasang senyum dimanis-maniskan, pasang mimik diserius-seriuskan.Jaim Booo… jaga image…
” Nggak percaya ajah Kak, tulisan Kakak, ngocol, lucu, eh ternyata orangnya serius seperti ini” Lugu tur Burjo alias berusaha jujur Booo, Mbak Wahyu mengekspresikan penilaiannya.
“Kok beda Seeehhh???”
Dalam hati Mbakyu Geudebleh membatin, belum tahu ajah Mbak Wahyu ini aslinya saya, nek penampilan wes ketokke menengan tenan (penampilannya aja yang keliatan pendiam).
Kesan pertama memang membawa begicu.
” Axe…..” buku dijatuhkan, lalu tercium aroma wangi parfum Axe…
Lalu iklan selanjutnya .
“Kesan selanjutnya, ….”
TOKYO 10 February 2009
Kisah kilat doktor Tatang Sopian
Kilas Kilat Kisah Dadar Seorang Tatang Sopian
Suasana hening mulai mencekam ruangan ujian terbuka tertutup ala Fakultas Pertanian TUAT saat 19 January 2009 jam empat tiga puluh sore itu. Cuaca cerah, tetapi ketegangan terlihat semburat merah dari seorang Tatang Sopian, yang kala itu menggunakan setelan jas warna gelap dan dasi yang serasa mencekik leher saking tegangnya.
“Kok lama sekali si Hongaria jin ya? nggak keluar-keluar sensei tachinya…” ungkapan cemas dari seorang Tatang Sopian saat waktu ujiannya bergeser, karena para sensei belum juga keluar dari peraduan ruangan bedah dadar doktor tersebut.
Akhirnya, detik-detik itupun datang. Dengan para dayang-dayangnya, yaitu Uni Dedes, Uni Pipit Shubuh, Diajeng Lastribal, Diajeng Novemberani, Mbakyu Nuri Cucuit dan tentu saja Mbakyu Geudebleh. Maka tak lama kemudian ujian dadar doktor itu berlangsung. Jumlah yang hadir termasuk pembicara dan lima dosen penguji tersebut adalah dua puluh sembilan orang.
Ujian berlangsung lancar, dengan style super tenang dan penuh percaya diri, seorang Tatang Sopian telah mengakhiri masa studi tepat tiga tahunnya di TUAT dengan presentasi sore itu.
Ujian diwarnai oleh beberapa pertanyaan saja, lalu dilanjutkan sidang tertutup para dosen Jepun itu.
“Omedetou gozaimasu” serentak para dayang menyalami jarak jauh pada seorang Tatang Sopian sore itu.
Lalu tiba-tiba datanglah seorang Kang Saepul yang mendadak menjadi seorang penyamun di sarang enam perawan (per-empuan a-tau wan-ita).
Lalu saat para dayang berfoto dengan Doktor anyar tahun 2009 dari Indonesia yang pertama pada tahun anyar tersebut, tak lupa Kang Saepul tersenyum-senyum memperlihatkan senyum peletnya, sambil mengatakan dengan enteng.
“Ente padah, pendamping Kang Tatang semuah yah?” weleh-weleh….penghinaan sih sebenarnya. Tetapi karena yang berbicara seorang Kang Saepul, maka semua para dayang tersebut hanya nyengir kuda.
Hal mengejutkan lagi. Dering telepon memecah konsentrasi Mbakyu Geudebleh. Rupanya datang dari Mas Amung Sakti Mandraguna.
“Selamat ya Kang… Doktor….” padahal sebenarnya handphone itu belum dialihkan Mbakyu Geudebleh pada Kang Tatang Sopian yang mendadak ngetop sore itu dan sibuk menerima ucapan selamat dari dua puluh sembilan orang yang hadir.
“Mestinya suamiku mengatakan, Selamat ya Mbak Doktor….salah address nih yee…” gumam Mbakyu Geudebleh sambil ikutan senewen melihat ujian dadar doktor itu.
Melihat gaya tenangnya seorang Tatang Sopian, keliatannya patut dicontoh agar dalam ujian bersikap tenang juga seperti beliau.
Pede abis gitu lho.
“Teh Enung, lihatlah, suamimu tercinta ini dikawal para enam dayang, dan satu Bulok sesaat, …” gumam Mbakyu Geudebleh renyah.
Aksi ujian telah berakhir, lalu dilanjutkan dengan peninjauan lokasi ulet peruletan sahabat Mbakyu Nuri Cucuit. Dan sang jago karate Diajeng Novemberani itu, ternyata KO abis di hadapan seekor ulet sekecil kelinking. cek…cek…cek…
Aksi peninjauan ulet telah selesai oleh istilahnya Kang Saepul pada kami sebagai para dayang.
Lalu lanjut acara syukuran seorang Tatang Sopian di Madokasou sanggo.
“Eh mau pada kamana euy geulis?” tanya Kang Saepul mulai nyengir-nyengir laper kali dari Koganei.
Kamipun melanjutkan langkah ke Madokasou sanggo, lalu berjumpa dengan Mas Amung Sakti mandraguna, Kang Dwi Megane, dan Kang Danidewa, dan memulai party tatang sopian tanpa kehadiran yang bersangkutan.
“Cek..cek…cek… partynya eraaa…yang ujian mana, yang party di mana dan siapa?” komen sahabat dayang enam tersebut.
Tetap saja, nasi kuning dadakan, ayam goreng dadakan, sayur rasa aneh dadakan tersaji.
Alhamdulillah. Sambil makan sambil berulang kali kami mengucapkan.
“Selamat ya Doktor Tatang Sopian”
TOKYO 19 Januari 2009
Memorandum of memorium
BAINAH SARI DEWI
Teriring doa buat Mas Lesa, Uda Zetto, Mas Teguh Dartanto. Suksesssss yaw ujiannya.
Diajeng Novemberani, Kang Dwi Megane, Kang Danidewa, sukses test masuk nyah.
Karya yang Tak Pernah Hilang dari Sosok San Afri Awang
“Karya Yang Tak Pernah Hilang dari sosok San Afri Awang”
Sosok pemberontak yang tampak kalem itu, tiba-tiba secara mengejutkan datang ke Tokyo . Tepatnya setelah selesai International Conference-nya di Ehime University di Matsuyama Ken, Jepang, 2-5 February 2009.
Nama besar seorang Profesor San Afri Awang, dengan keunikan rambut gondrongnya, membuat penampilan Bapak dengan putri paling bungsu yang berusia enam tahun itu, nampak “kehutanan” sekali.
Orangutan alias orang-orang di kehutanan memang identik berambut gondrong. Dan tampilan ini menjadi ciri uniknya.
“Kalo Awang dipotong rambutnya, jadi pendek, maka kesaktiannya berbicara bisa langsung hilang” komentar dari seorang kolega dekatnya sambil bercanda.
Ketua PERSAKI Indonesia (Persatuan Sarjana Kehutanan Indonesia) itu, mampir ke Tokyo, lalu disergap dengan IASA Jepang (Indonesia Agriculture Science Association) setelah sholat jumat di masjid Turki, Yoyogi Uehara, Tokyo, 6 Februari 2009.
Malamnya, Pak Awang, begitu panggilan kerennya, juga didaulat untuk terus berbicara tentang segala rupa perkembangan tanah air di PPI Komisariat Fuchu Koganei Tokyo sampai dini hari jam empat pagi. Acara yang seyogyanya hanya sampai jam sembilan malam itu, terus melaju karena asyik.
Sungguh, mengenalnya, mendengar caranya bercerita dan mengemukakan pendapat, maka semua akan setuju seperti gaya Ketua IASA Jepang, Mas Soebedjo yang sedang S3 di Tokyo University tersebut berceloteh.
“Pak Awang memang Josss!!!”
Guru besar Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada itu mulai mengupas persoalan tanah air, seluk beluknya, sehingga para mahasiswa-mahasiswi di Tokyo , benar-benar mendapatkan pencerahan, penambahan wawasan berpikir, dorongan semangat untuk maju dan berkarya.
Petuahnya yang juga mumpuni untuk mengingatkan para pendidik bangsa adalah,
“Menjadi pendidik bangsa itu, yang dilihat karyanya. Sudah berapa buku yang berhasil ananda tulis. Karena bila kita sudah tidak lagi berada di tataran arena pendidikan, atau bablas usia. Maka karya itu tak akan pernah hilang, bila ananda bendel dalam sebuah buku” .
Pak Awang yang pada malam silaturahmi di PPI FK itu menikmati soto ayam rasa “tabrak lari” itu, memang benar-benar penulis ulung, terbukti dengan puluhan buku tentang kehutanan yang telah berhasil ditulisnya.
Pendiri FKKM (Forum Komunikasi Kehutanan Masyarakat) yang saat ini dinahkodai oleh Dr. Christine Wulandari itu, benar-benar expert membendel segala hubungan yang berkaitan dengan manusia dan hutan.
Pesan moral yang diberikan khusus kepada para lulusan Doktor dari Jepang, pada acara kumpul silaturahmi di Madokasou Fuchu Tokyo tersebut.
“Ananda harus kuasai medan perang lainnya, jangan hanya berkutat dengan expert di bidang sendiri, tapi menjadi doktor itu berarti pintu gerbang untuk ananda mampu berbicara secara konsep, sebagai mana title yang diberikan yaitu doctor of philosophy”.
Alumni Jepang terkenal kuper, alias kurang pergaulan. Terlalu focus pada keilmuannya di lab masing-masing, sehingga pengetahuan sepele atau di luar bidang ilmunya menjadi terabaikan.
Siapkan energi untuk memperhatikan keadaan sekeliling lingkungan dan merekamnya dengan baik sebagai bahan knowledge yang mampu menggugah orang, dan mengemukakan kondisi Jepang dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Demikian nasehat bijaknya yang kental.
Senjata lain yang mesti dikuasai oleh para mahasiswa salah satunya adalah bahasa. Berusahalah kuasai Bahasa Inggris dan karena berada di Jepang, maka kuasai pula Bahasa Jepang. Kalau tidak bisa kuat di writting, maka kuatkan di reading or conversation. Kalau kuat keduanya itu yang the best. Kalo keduanya lemah, jangan mimpi mau sekolah ke luar negeri. Bisa stress sendiri dan malah membuat putus asa.
“Pak Awang ini orang yang ruar biasa, saking diluar biasa, jadi Rrruar biasa….sulit mengungkapkan dengan kata-kata, jadi disimak saja semua nasehatnya” salah satu komentar dari Mohammad Dwi Wicaksono Purwokusumo, pengurus IASA Jepang itu pada saat pertemuan dengan warga PPI FK.
Yang paling menarik hati, banyak mendapatkan bocoran cerita tanah air tentang peta pemilu yang akan datang. Bahkan ada ramalan para normal, yang akan jadi presiden Indonesia yang akan datang adalah sebaris nama baru, yang justru menjadi kuda hitam dari para petarung kedudukan itu.
Sosok kontroversial sejak jaman mahasiswa itu, terus melaju dan naik ke permukaan dalam percaturan kehutanan nasional.
“Berbeda dengan yang lain, adalah light yang kongkrit dari keberadaan saya” tutur putra Banten yang sejak kecil tinggal di Talang Padang , Lampung. Lalu “menjajah” tanah Yogyakarta dengan menetap sebagai salah satu guru besar di kota pelajar tersebut.
“Memangnya yang bisa menjajah, cuma orang Jawa, Apa?” senyum simpul geli campur humornya membuat kami yang hadir nyengir kuda.
Jangan takut tampil beda, justru dengan berbeda, orang akan mudah mengenali kita dan melihat pemikiran-pemikiran kita.
Good luck Pak Awang, semoga makin bersinar dengan pemikiran-pemikiran briliannya. Terima kasih sudah mau disergap oleh warga PPI FK dan nengoki para muridnya di Tokyo . Semoga selamat kembali ke tanah air tercinta.
TOKYO 7 February 2009
-
Recent
- Kuliah Inventarisasi Hutan 3
- Sensei Please Come
- Seindah namanya Intan
- Marisa-san I am Sorry to hear that…
- Mama Aku Rindu
- Biomass International Seminar 3-5 August 2009 Sheraton, Lampung, Indonesia
- Kosakata Dzaky-kun
- Kok Beda Seehhh???
- Kisah kilat doktor Tatang Sopian
- Karya yang Tak Pernah Hilang dari Sosok San Afri Awang
- Informasi Living Cost Fuchu Tokyo Jepang
- Hadiah Tulus Memang Lain
-
Links
-
Archives
- September 2009 (14)
- January 2009 (15)
- December 2008 (1)
- October 2008 (13)
- August 2008 (22)
- June 2008 (51)
- May 2008 (7)
- April 2008 (47)
- February 2008 (29)
- January 2008 (7)
- December 2007 (16)
- November 2007 (3)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS